Bapak Tentaraku

Bapak Tentaraku
Bab 73


__ADS_3

Hallo guys!!


Terima kasih masih setia dengan Bapak Tentaraku…


*****


Malam semakin larut


"Haaaa mama ngantuk” menutup mulutnya yang menguap “mama tidur duluan ya. Lelah mama" mama menyusul ayah yang tidur di atas sofa. Sofanya begitu luas sehingga bisa muat banyak orang - orang.


"Kamu belum mengantuk sayang?" tanya Andi melirik ke arahku yang sibuk dengan handphoneku.


"Belum sayang" menguap


"Belum mengantuk tapi dia menguap" ledek Andi.


"Menguap itu bukan berarti mengantuk sayang. Tapi tubuh kita membutuhkan oksigen" aku berhenti memainkan handphone lalu menatap Andi dan tersenyum ke arahnya.


"Teori dari mana itu" tanya Andi menatapku balik.


"Iya teori biologi. Please jangan tanya siapa yang membuat teorinya. Saya tidak tahu ya bapak Andi" jelasku supaya membuat dia tidak bertanya lebih jauh.


"Makanya kalau hafal teori sekalian dihapal siapa penemu teorinya. Nanti kalau ada siswa yang tanya siapa yang membuat teorinya kamu mau jawab apa" ledeknya.


"Iya bapak Andi terima kasih atas sarannya" aku kembali memainkan handphoneku.


"Adek jangan main handphonelah. Abang mau ngomong sama siapa? Sama tembok?" Andi memprotesku memainkan handphone sehingga tidak perduli dengannya.


"Apa sih sayang, kamu ngomong saja. Adek dengerin kok" jari tanganku fokus mengscroll sosial media mataku melirik ke arahnya lalu kembali fokus ke handphoneku yang berada di genggamanku.


"Ih... enggak seru sayang kalau ngomong sama orang tapi orangnya sibuk dengan handphone"


Aku meletakkan handphoneku "kamu mau ngomong apa sih"


"Enggak... aku enggak mau ngomong apa - apa" jawabnya dengan polos.


"Dasar kampret kamu bapak Andi. Aku sudah meletakkan handphone aku ya tapi kamu malah tidak mau ngomong apa - apa. Gimana sih kamu" protesku.


"Mulutnya ya” menepuk mulutku “Aaaa" menguap "mengantuk abang"


"Jeh... jeh jangan tidur kamu. Aku kelitikin kamu kalau ya kalau ninggalin aku" ucapku sedikit mengancam.


"Orang sakit lemas bestie" ucapnya lagi.


"Pokoknya jangan tidur. Masak aku mau ditinggal sendiri sih. Sayang jangan tidurlah” teriakku sedikit.


“Jangan teriak - teriak dong. Nanti orang - orang mengiranya kamu mau ngapa - ngapain aku” protesnya mengada - ngadakan pembicaraan.


“Eh enggak ya. Aku masih polos ya tolong. Yasudah kamu tidur saja sana, bawel banget” aku kembali mengambil handphone membuka sosial media dan menscrollnya satu persatu.


Andi membaringkan tubuhnya


“Sayang selimutin”

__ADS_1


Aku meletakkan handphone di ranjangnya lalu menarik selimut menutupi badannya sampai leher.


“Gute nite” ucap Andi lalu tersenyum ke arahku.


Aku tersenyum balik ke arahnya lalu mengambil kembali handphoneku dan duduk di kursi di samping ranjangnya.


*****


Perlahan aku mulai mengantuk, meletakkan handphone di atas lemari yang berada di belakangku  lalu aku merebahkan kepalaku di samping lengannya Andi. Mataku terpejam perlahan.


Andi terbangun dari tidurnya melihat ke arahku yang tidur di kursi tepat di sampingku. Ia mengelus pelan kepalaku


“Selamat terlelap sayang” Andi memejamkan matanya kembali.


SKIP


Malam telah berganti dengan pagi. Mama dan ayah telah bangun lalu berjalan ke musholla melaksanakan shalat subuh.


Beberapa menit kemudian alarmku berbunyi di handphoneku, membangunkan aku dari tidur nyenyakku, menyuruhku untuk segera bangun dan memulai pagiku.


“Haaaa” menguap dan mengangkat kedua tanganku. Aku meraih handphone untuk mematikan alarmnya.


Aku bergegas ke kamar mandi mengambil air wudhu.


Beberapa menit setelahnya aku keluar dari kamar mandi.


Andi membuka matanya “sayang” panggilnya melirik ke arahku. Suaranya terdengar serak “kamu mau shalat” tanyanya lagi.


“Sini dulu deh” Andi bangun dari tidurnya lalu duduk bersila di atas ranjang.


“Kenapa” dengan polosnya aku berjalan mendekatinya.


Baaam Andi menyentuh tanganku yang membuat wudhuku batal.


“Yah abang” rengekku “dingin tahu jam segini kena air”


“Enggak apa - apa” dia memegang tanganku kembali


“Rese banget sih kamu” aku terlihat begitu kesal dengan tingkahnya.


“Kamu marah?? Marah sajalah sorry aku enggak peduli”


“Harus wudhu ulangkan, mana dingin banget lagi” protesku kesal dengan tingkahnya.


“Iya harus dong sayang. Kan wudhu kamu sudah batal. Gimana sih itu saja tidak tahu. Yasudah abang duluan ke kamar mandi abang wudhu dulu”


“Kamu mau shalat juga” ledekku


“Iyalah, seorang muslim itu wajib hukumnya melaksanakan shalat” jawabnya ia melepas selang infus yang masih menancap di tangan kirinya.


“Hati - hati dong sayang” aku membantunya melepaskan selang infus “aku panggilin suster ya”


“Enggak …  enggak usah sayang, abang bisa kok cuma gini doang. Lagian abang sudah sembuh untuk apa dipasang infus lagi” Andi melepas selang infusnya perlahan. Setelah itu ia turun dari ranjang dan bergegas ke kamar mandi.

__ADS_1


“Aku kerjain dia balik ah” aku berjalan ke depan pintu kamar mandi dan berdiam diri di sana menunggu Andi keluar “siapa suruh tadi dia isengin aku, memangnya dia tidak tahu apa kalau jam segini itu, kena air dinginnya subhanallah” aku terus ngedumel sendirian di depan pintu kamar mandi menunggu Andi keluar dan bersiap mengerjainnya.


Beberapa menit kemudian Andi keluar, ia baru saja melangkahkan kakinya


“1 - 0” aku memegang tangannya lalu berlari ke arah ranjang dengan tertawa terbahak - bahak. Karena lantainya licin baaam aku terpeleset dan terjatuh ke lantai “haaa abang kamu sih” rengekku merasa kesakitan, aku menyalahkan Andi pasal aku terjatuh.


Sebelum menolongku Andi tertawa terbahak - bahak melihatku jatuh “makanya jadi orang jangan jahil” dia berjalan ke arahku “lain kali jadi orang yang baik ya sayang” menyodorkan tangannya ke hadapanku.


Aku menangkap tangannya lalu berusaha bangun dengan tarikan tangannya.


“Kamu ya… aku jatuh bukannya ditolongin malah diketawain, dikira enggak sakit apa” gerutukku memegang pinggangku “sakit ini tahu enggak?”


Andi belum berhenti menertawai aku yang terjatuh “itulah akibat kalau orang jahil sama orang baik seperti aku” jelas Andi meledekku.


“Kan kamu duluan yang jahilin aku ya jadi aku balas deh” aku berusaha membela diriku.


“Yasudah sana wudhu dulu setelah itu kita shalat bareng abang imamin deh” Setelah puas menertawaiku. Andi berusaha membujukku dengan menjadi imam dalam shalat.


“Iya” aku berjalan perlahan ke kamar mandi dan mengambil air wudhu kembali “awas kamu jahilin aku lagi ya” menutup pintu kamar mandi.


Beberapa menit kemudian aku keluar dari pintu kamar mandi. Aku berusaha was - was terhadap Andi. Aku berjalan perlahan celingak - celinguk mencari keberadaan Andi. Namun, melihatku celingak - celinguk Andi yang berdiri di samping pintu sedikit tertawa


“Baaaa” dia mengejutkan aku”


“Ish abang” gerutukku “kaget” aku mengelus dadaku.


“Kenapa sayang?? Takut abang kerjai lagi ya sampai celingak celinguk gitu jalannya” dia berjalan mendekatiku.


“Sayang jangan….” aku mundur pelan - pelan sampai mentok di depan pintu “aaaa” teriakku langkah Andi sudah semakin dekat denganku.


“Awas dong” ucapnya


Aku langsung menggeser tubuhku ke samping kiri lalu berlari menghindari Andi.


Andi telah menginjakkan kakinya di kamar mandi, lalu membalikkan badannya “jangan shalat dulu sayang, tunggu abang” teriaknya lalu menutup pintu kamar mandi.


“Iya…” aku mengambil mukena lalu menggelarkan sajadah untuk Andi di depan dan untukku di belakang. “Mimpi apa nih bisa di imamin sama bang Andi, biasanya selalu shalat sendiri - sendiri, kepentok apaan ya tadi pagi dia” aku terlihat begitu bahagia saat itu, wajahku sangat sumringah.


Andi membuka pintu kamar mandi lalu keluar menghampiriku dan berdiri di atas sajadah yang telah aku gelar.


“Sudah siap sayang menjadi makmumku” menoleh ke arahku dengan tersenyum manis.


Aku menggangguknya pelan. Wajahku terlihat malu - malu dibuat olehnya.


“Allahu…. Akbar” Andi mengangkat kedua tangannya memulai shalat subuh.


Aku mengikutinya…..


#thank you atas kunjungannya.


Semoga cerita ini dapat menambah inspirasi kalian.


Di tunggu part selanjutnya ya byeeeeee.

__ADS_1


__ADS_2