
Hallo guys!!
Terima kasih masih setia dengan Bapak Tentaraku.
POV
Di ruang BK aku duduk bersebelahan dengan bu Dewi menunggu kehadiran bu Darmi dan siswa yang barusan membuat masalah denganku yaitu Rahmat Aulia siswa kelas VIII D kelas dimana aku mengajar.
Beberapa menit kemudian bu Darmi telah sampai.
“Assalamualaikum” ucapnya memasuki ruangan BK.
“Waalaikumsalam” jawabku dan bu Dewi menoleh ke arah pintu.
“Maaf bu ada apa ya saya dipanggil ke sini” bu Darmi duduk di hadapan kami, ia sama sekali belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi “tadi saya lagi mengajar di kelas VII A ditelpon ibu Remi disuruh kemari, ada apa ya bu Dewi, bu Kanza”
“Jadi begini bu” ucap bu Dewi angkat bicara “mohon maaf sebelumnya apa benar ibu wali kelas VIII D?” Tanya bu Dewi sebelum membicarakannya lebih lanjut.
“Iya, saya wali kelas VIII D sekarang”
“Jadi apa benar di kelas VIII D ibu, ada siswa yang bernama Rahmat Aulia” tanya bu Dewi lagi menatap bu Darmi.
“Eum iya Rahmat Aulia salah satu siswa di kelas yang walinya dengan saya. Ada apa bu dengan Rahmat”
Aku hanya duduk berdiam diri mendengar pembicaraan mereka.
“Tadi sewaktu ibu Kanza mengajar, awalnya semua siswa maupun siswi berbuat gaduh. Tidak ada satu pun dari mereka yang menghargai bu Kanza masuk. Namun, ketika ibu Kanza memberitahu mereka kalau bahwasannya siswa atau siswi yang masih ada membuat keributan dipersilahkan keluar kelas atau ibu Kanza sendiri yang akan keluar. Jadi semua siswa dan siswi sudah pada diam, tinggallah 3 orang siswa ya bu Za” menepuk pahaku.
Aku hanya mengganggukkan kepalaku pelan.
“Dari 3 orang ini salah satunya adalah Rahmat Aulia ini bu. Sewaktu bu Kanza menyeruh mereka bertiga ini keluar, Rahmat langsung bangun dari kursinya ia langsung menuju pintu, saat melewati meja guru ia mengucapkan kata Anjing untuk bu Kanza” jelas bu Dewi, bu Darmi begitu terkejut mendengar penjelasan dari bu Dewi mengenai siswanya, ia sampai melamun. “Dan bukan hanya sekali bahkan saat saya mau membawa dia kesini atas laporan bu Kanza dia juga mengatakan hal yang sama untuk bu Kanza lalu saya menampar dia karena sangking geramnya saya bu melihat siswa kurang ajar seperti dia”
“Ya Allah saya tidak menyangka siswa saya seperti itu” bu Darmi benar - benar tidak percaya dengan perbuatan kurang ajar yang dilakukan oleh siswanya.
“Jadi bu karena Rahmat tidak menerima saya menampar dia, dia bahkan mendorong saya sampai saya terjatuh” ucap bu Dewi lagi menjelaskan semuanya secara detail.
“Kalau boleh saya jujur, memang ada beberapa siswa di kelas saya itu yang membuat kegaduhan di dalam kelas. Cuma saya gak percaya ya kalau Rahmat ini bisa berkata seperti itu”
__ADS_1
“Jadi ibu tidak percaya dengan apa yang saya jelaskan barusan, mohon maaf ya bu saya juga guru seperti ibu walaupun saya masih honorer di sini tapi saya tidak mengada - ngada tentang kelakuan semua siswa atau pun siswi di sini. Saya berbicara apa adanya” ucap bu Dewi, nada bicaranya sedikit tinggi “mohon maaf ya bu, bukannya saya tidak sopan dengan ibu yang jelas - jelas ibu lebih tua dari saya”
“Kenapa ibu Dewi malah marah - marah ke saya. Seharusnya yang menjadi guru BK itu sebagai penenang. Bukannya malah emosi seperti ibu ini” ucap bu Darmi ia sampai berdiri dan menunjuk ke arah matanya bu Dewi.
“Saya bukannya marah” bu Dewi menurunkan nada bicaranya “saya cuma menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dan kalau menurut saya seharusnya ibu lah yang wajib mengetahui karakter dari semua siswa atau pun siswi di kelas yang ibu sebagai walinya. Bukankah wali kelas itu di sekolah seperti orang tua di rumah ya bu?”
“Iya maka dari itu saya tidak percaya kalau Rahmat Aulia berkata seperti itu untuk bu Kanza” menunjuk ke arah ku “Saya yakin pasti bu Kanza duluan yang nyinyir”
“Bu saya yang menjadi saksinya. Oke sekarang ibu boleh berbicara langsung dengan siswa ibu” bu Dewi mempersilahkan bu Darmi untuk keluar dari ruangannya. Tanpa basa basi bu Darmi melangkahkan kakinya keluar dari ruangan BK.
Setelah bu Darmi keluar aku dan bu Dewi masih duduk di kursi ruangan BK.
“Kak terima kasih ya sudah membelaku” aku memeluk erat bu Dewi yang duduk di sampingku, air mataku mulai berjatuhan dan aku melepas kembali pelukannya“aku tahu bu, saya menjadi guru masih banyak kekurangannya. Tapi saya tidak bisa menerima kalau ada orang yang berkata kasar terhadapku apalagi dia seorang siswaku”
“Kamu yang sabar ya dek” bu Dewi kembali memelukku, lalu mengelus pelan punggungku “untuk menjadi besar semua itu butuh proses. Bahkan kupu - kupu yang sangat cantik itu berasal dari ulat yang sangat gatal. Kamu harus yakin semua usaha itu tidak akan mengkhianati hasil. Dan kakak yakin kamu gak salah, kamu cuma menjadi korban dari siswa ya mungkin dia mempunyai masalah dalam keluarga, sehingga dia melampiaskannya ke kamu. Apalagi siswa kelas VIII itu kan sudah mulai masuk usia remaja, usia mulai mencari jati dirinya”
“Makasih ya kak” aku menghapus air mataku.
Sementara bu Darmi masuk ke kelas VIII D, wajahnya terlihat begitu murka.
“Kenapa kalian membuat saya malu” ucapnya sembari masuk dan memukul pintu dengan sekuat tenaganya. Semua siswa dan siswi menundukkan kepalanya. “Kenapa tidak ada yang menjawab? tuli kalian hah? Kurang ajar kalian ya. Saya tidak pernah ngomong seperti ini untuk semua siswa saya, kenapa hanya kalian yang meminta saya untuk berkata kasar seperti ini” ucap bu Darmi suaranya begitu menggelegar. “Rahmat mana Rahmat?” Ia mencari keberadaan Rahmat.
“Mana si gam itu” ia mencari keberadaan Rahmat dengan mengelilingi sekolah. Ternyata Rahmat berada di belakang parkiran siswa. Ia mencoba menenangkan dirinya dan mententramkan hati dan jiwanya. Bu Darmi langsung menghampiri Rahmat yang duduk dengan meringkukkan tubuhnya.
“Rahmat” panggilnya dengan begitu lembut. Rahmat yang mendengar ada suara yang memanggilnya ia mendongakkan kepalanya mencari sumber suara. “Bu” ia langsung berlari menghampiri bu Darmi. Ia menangis di hadapan bu Darmi.
“Kita duduk di bangku taman itu dulu ya” bu Darmi merangkul Rahmat lalu berjalan bersama ke bangku taman.
“bu maafin saya ya bu, saya sudah membuat kegaduhan di kelas saya sudah berkata kasar kepada bu Kanza sudan mengatakan anjing kepada bu Kanza dan saya sudah mendorong bu Dewi sampai terjatuh ke lantai” ucapnya dalam tangisan “saya benar - benar minta maaf ya bu. Tolong maafin kesalahan saya”
“Kamu kenapa” tanya bu Dewi yang masih merangkul bahu Rahmat.
Rahmat menangis sesegukan, bahkan ia tidak bisa berucap sepatah kata apapun dengan mulutnya “sa sa saya bu” namun, ia berusaha untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya.
“Kamu cerita sayang, kamu kenapa. Kamu boleh cerita semuanya kepada ibu”
“Saya sedih bu, ibu dan ayah saya ingin bercerai. Setiap hari saya melihat keduanya berantem di depan saya bu. Saya tidak tahu harus menceritakan ini semua sama siapa bu” Rahmat terus menangis meratapi nasibnya.
__ADS_1
“Kamu yang sabar ya, ibu selalu bersama kamu. Semua guru - guru yang lainnya juga begitu sayang kepada semua siswa dan siswi termasuk kamu. Kamu temui ibu Kanza sekarang ya, kamu minta maaf sama beliau ya sayang. Ibu Kanza juga sangat banget sama kamu ya. Kamu minta ya maaf sama beliau dan sama bu Dewi juga”
“Bu apakah bu Dewi dan bu Kanza akan marah kepada saya bu”
“Gak nak, makanya kamu sekarang temui kedua ibu itu ya” pinta bu Darmi baik - baik. Rahmat berdiri lalu mengusap air matanya. “Bu… terima kasih ya sudah menenangkan saya, sungguh bu hati saya begitu berantakan sekarang” ucapnya lagi.
“Iya nak” bu Darmi tersenyum manis menatap Rahmat “kamu di sekolah ini punya guru - guru yang sangat menyanyangi kamu, kamu tidak sendirian. Tapi dengan syarat kamu tidak boleh berbuat seperti tadi lagi ya. Kamu harus jadi siswa yang baik, berakhlak mulia ya nak. Ibu tahu kamu siswa yang pintar jadi diasah lagi ya. Ibu yakin kamu bisa menjadi siswa yang hebat. Yasudah sana temui bu Dewi dan bu Kanza, minta maaf sama mereka ya dan berjanji tidak lagi berbuat nakal”
“Iya bu” Rahmat berjalan mencari keberadaanku dan bu Dewi.
****
“Bu Dewi, kenapa ya kan kita cuma melapor sama wali kelasnya. Tapi kenapa respons bu Darmi seperti itu?” Ucapku.
“Entahlah gak ngerti sama pemikiran ibu itu, saya pun bingung”
Tok… tok… tok…
“Assalamualaikum..” Rahmat mengetuk pintunya perlahan lalu ia berjalan ke arahku dan bu Dewi. “Bu…” panggilnya air mata begitu banjir membasahi pipinya, ia berlutut di hadapan kami berdua “bu saya minta maaf ya saya sudah kurang ajar sama ibu, saya minta maaf ya bu” tangisan Rahmat semakin menjadi - jadi.
Bu Darmi masuk diam - diam dan berdiri di belakang Rahmat ia mengganggukkan kepalanya ke arahku dan bu Dewi seakan memberi kode untuk segera memaafkan Rahmat.
“Sudah ya nak” aku membangunkan Rahmat “sudah ya ibu dan bu Dewi sudah memaafkan kamu, ya kan bu Dewi”
“Iya” jawab bu Dewi singkat.
“Kamu duduk di situ dulu ya” ucapku menyuruh Rahmat duduk di sofa.
“Kamu sebenarnya kenapa Rahmat, kenapa nak” tanya bu Dewi dengan sangat lembut.
Tangisan Rahmat terdengar kembali “bu maafin saya ya bu, saya telah membuat kegaduhan, saya telah mengatakan kata - kata kasar kepada ibu dan mendorong ibu. Maafin saya ya bu. Saya saya sedih bu bapak dan ibu saya mau bercerai” sontak tangisan Rahmat menjadi besar.
“Iya bu Dewi, bu Kanza sebenarnya Rahmat seperti terkena tekanan batin kedua orang tuanya ingin bercerai dan di rumah mereka selalu bertengkar bahkan di depan Rahmat sendiri” jelas bu Darmi.
“Oh kasian kamu ya nak” aku mendekatinya lalu merangkul bahunya “kamu yang sabar ya” aku mengelus pelan punggungnya memberinya ketenangan…..
#thank you atas kunjungannya.
__ADS_1
Semoga cerita ini dapat menambah inspirasi kalian.
Di tunggu part selanjutnya ya byeeeeee.