Bapak Tentaraku

Bapak Tentaraku
Bab 89


__ADS_3

Hallo guys!!


Terima kasih masih setia dengan Bapak Tentaraku.


****


Perlahan mataku mulai lelah dan akhirnya aku memilih untuk tidur. Namun, pikiranku masih terngiang - ngiang tentang dokter Elita dan Andi. Pikiran negatif itu semakin menjadi - jadi berputar di otakku, sehingga membuat aku tidak bisa tertidur.


“Haaa” rengekku “aku tidak mau memikirkan itu semua, tolonglah otak jangan membuatku memikirkan hal itu lagi, aku ingin tidur” aku memukul - mukul pelan kepalaku “kenapa sih?” aku menangis sesegukan “sumpah aku tidak mau memikirkan itu semua, itu semua terasa sangat sakit bagiku. Memang itu semua tidak benar tapi yang namanya perasaan overthingking harus bagaimana” aku terus menangis dalam sepinya malam. Sengaja aku menutup wajahku agar tidak ada seorang pun merasakan sedihnya hatiku.


*****


Sementara Andi yang sedang duduk di meja piket. Isi otaknya juga sedang memikirkanku.


Aku memang sangat mencintai Kanza, bagaimana ya keadaan aku besok kalau tidak bisa lagi aku menatap matanya. Apa aku sanggup menjalankan ini semua. Ini semua memang keinginanku, tapi semenjak ada Kanza pikiranku telah terbagi untuknya. Sayang…aku mohon kamu terus menunggu abang ya, batinnya.


“Kenapa Ndi” bang Adam datang lalu menepuk pundak Andi yang sedang melamun.


“Ah enggak bang” ucap Andi tidak mengatakan apa yang sebenarnya sedang ia pikirkan.


“Pasti kamu lagi memikirkan Kanza kan” tanya bang Adam, duduk di depan Andi.


“Iya bang, rasanya sungguh berat untuk meninggalkannya. Ditambah lagi, tadi ada sedikit masalah”


“Masalah apa?” melirik wajah Andi.


“Tadi aku dan Kanza jalan - jalan ke pantai. Waktu saya mau ke kasir bertemulah dengan dokter yang merawat Andi dulu di rumah sakit Citra Medika bang. Memang pada akhirnya dokter itu sempat mencari - cari perhatian dari aku. Entah dia suka sama aku entahlah waallahu alam. Jadi setelah bertemu dengan aku, bertemu lagi dengan Kanza dan dia mengobrol dengan Kanza bahwa sebelumnya dia sudah bertemu dengan aku dan mengobrol banyak. Gak marah lah si Kanza itu”


“Hati - hati, sekarang sedang banyaknya pelakor alias perusak hubungan orang”


“Aku… sumpah loh gak ada di pikiran aku itu berkenalan atau dekat dengan wanita lain. Rasanya Kanza itu wanita yang selama ini aku cari - cari. Dan aku harus menjaganya dengan baik. Karena kamu bang aku bisa bertemu dengan wanita seistimewa Kanza”


“Kalau memang Kanza itu istimewa jadi tidak alasan bagi kamu untuk meninggalkannya” menatapa tajam wajah Andi.


“Aku terus berusaha seperti itu bang dan akan terus berusaha untuk bisa selalu di samping dia. Tapi bagaimana dengan keadaan yang akan aku hadapi besok?”


“Bagi aku itu bukan meninggalkan. Itu adalah bagian dari proses menuju satu level yang lebih tinggi” Bang Adam terus memberikan semangat untuk Andi “kalau kamu bisa melewati ini, inshallah semua rintangan ke depannya pasti bisa kamu hadapi. Percayalah Allah tidak pernah tidur. Tapi kalau kamu meninggalkan Kanza dengan alasan wanita lain, itu saya dulu yang akan berhadapan dengan kamu. Yasudah saya mau ke kamar mandi dulu” Adam berjalan ke dalam kantor.


“Aku harus bisa melewati ini semua” Andi menghirup dalam - dalam lalu melepaskannya kembali “kamu wanita hebat jadi pantas aku perjuangankan. Karena mendapatkan dia itu seperti surah Al Fatihah, baru mulai saja sudah Alhamdulillah. Jadi syukur yang mana lagi yang harus aku ucapkan” Andi mengambil handphonenya yang berada di dalam saku celananya, ia mencari kotakku lalu mengirimku sebuah pesan.

__ADS_1


Via chattingan


Andi


Sayang tidur yang nyenyak ya. Oh iya besok kita bertemu ya.


****


Sementara aku, karena kelelahan menangis akhirnya aku tertidur.


Krrrrriiiiiiiing…… bunyi alarm yang berdering di handphoneku. Aku membukakan mataku yang sembab lalu mematikan alarm yang sedari tadi berbunyi, memanggilku menyuruhku agar segera bangun. Aku duduk melamun di atas ranjang, entah apa yang sedang aku pikirkan.


“Aaaa… gak semangat banget hari ini” aku mengambil handphone lalu melihat notifikasi pesan dari Andi.


Via Chattingan


Aku


Iya abang


Tak lama setelah aku membalas pesan dari Andi, segera Andi menelponku. Kriiiing…. Kriiiiing…. Kriiiiing.


Via telpon


Aku


Andi


Sayang… waalaikumsalam. Kamu baik - baik saja kan sayang. Abang kangen banget sama kamu. Nanti setelah kamu pulang mengajar kita bertemu ya.


Aku


Iya sayang. Yasudah adek mau shalat subuh dulu ya. Abang juga ya shalat dulu.


Andi


Abang sudah kok sayang, abang masih duduk di piket ini nanti jam 8 baru boleh turun.


Aku

__ADS_1


Baiklah sayang


Aku mematikan panggilannya.


“Aku rasa bang Andi tahu deh apa yang aku rasakan” ucapku, lalu meletakkan handphone dan bergegas ke kamar mandi.


Setelah beberapa menit di kamar mandi aku keluar, mengambil mukena lalu memakainya dan menggelarkan sajadah.


“Allahu…. akbar” mengangkat kedua tangan memulaikan shalat.


Sepuluh menit kemudian


“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh” menoleh ke arah kanan “Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh” menoleh ke arah kiri “Alhamdulillah” aku mengangkat kedua tanganku “ya Allah hamba memohon berserah diri kepadamu dari semua permasalahan yang terjadi di dalam hidupku. Jika memang ini semua menjadi takdir atasku berikanlah dan perluaskanlah kesabaranku dalam menghadapinya” aku menyapukan kedua tanganku ke wajah.


Aku melipat kembali mukena dan sajadah lalu meletakkannya di atas rak. Aku mengambil handuk meletakkannya di atas bahu kananku, melangkahkan kakiku ke dalam kamar mandi.


SKIP


Aku membuka pintu kamar mandi, melangkahkan kakiku, lalu mengenakan seragam sekolah. Aku memakai sedikit make up dengan hanya beberapa produk.


Setelah semuanya selesai seperti biasa aku memakai parfum di beberapa titik di tubuhku. Aku mengambil tas lalu keluar dari kamar.


“Hai ma” sapaku melihat mama yang sedang sarapan bersama ayah.


“Sarapan dulu sini” mama meletakkan piring di tempat biasa aku duduk.


“Iya ma” jawabku sedikit melesu, aku berjalan tanpa gairah.


“Anak ayah pagi - pagi harus semangat dong tidak boleh lesu seperti ini” ayah menyuruhku untuk semangat. Tapi bagaimana dengan hati aku, bagaimana dengan isi pikiranku yang begitu kacau. Aku ingin sekali menangis di depan mereka, ingin memberi tahu mereka bahwa aku sedang tidak baik - baik saja. Tapi, aku rasa semua ini harus aku pendam sendirian, aku tidak ingin mereka ikut terluka seperti perasaanku.


“Iya ayah semangat kok ini” bibirku bisa saja menunjukkan senyuman di depan semua orang. Aku mengambil nasi lalu memakannya secara perlahan.


Setelah selesai sarapan


“Ma, ayah kakak berangkat ya” aku bersalaman dengan ayah dan mama. Setelah itu aku berjalan ke garasi, aku memakaikan helm di kepalaku lalu menyalakan mesin motor dan menancap gas perlahan.


“Gak boleh galau lagi Kanza” ucapku sedikit berteriak di atas motor. “Hadapi semuanya dengan senyuman” aku mencoba menenangkan diriku bahwa semua yang terjadi haruslah dihadapi….


#thank you atas kunjungannya.

__ADS_1


Semoga cerita ini dapat menambah inspirasi kalian.


Di tunggu part selanjutnya ya byeeeeee.


__ADS_2