
**
Perasaanku kini semakin lega. Andi hanya bermaksud menjagaku tidak sedikit pun marah denganku seperti yang aku pikirkan.
“Asik banget main handphone” goda bu Dewi yang melihatku sibuk dengan handphone. “Chat dari siapa sih sampai senyum - senyum sendiri gitu”
“Biasalah chattingan sama abang, siapa lagi” jelas bu Fizza mencoba menggodaku juga.
“Huu sirik saja kalian, kalian chattingan terus sama abang masing - masing” jawab bu Susi yang membelaku dari perjulitan bu Dewi dan bu Fizza.
“Aku sih punya babang, bu Fizza mana babangnya” goda bu Dewi.
“Aku… alhamdulillah sampai sekarang masih mempertahankan status kejombloanku. Jomblo Fi sabilillah” jawabnya membela dirinya membuatku tersenyum.
“Keep sampai halal ya bestie” seru ku menyemangati kejombloan bu Fizza.
“Iya dong bestie” jawabnya.
Bel ganti pelajaran berbunyi.
“Yah…. sudah masuk” seru bu Fizza yang masih ingin duduk bersantai, namun apalah daya tugas seorang guru harus mengajari anak didiknya walau dalam keadaan apapun tetap harus dilakukan.
“Daa bu Fizza” aku melihat kepergian bu Fizza.
“Kamu gak masuk” tanya bu Juli yang baru bergabung dengan aku, bu Susi dan bu Dewi.
“Bu Kanza biasa jam terakhir” jawab bu Dewi yang sudah sangat hafal dengan jadwal mengajarku.
“Duh bu Dewi hafal banget ya”
Dua jam telah berlalu bel pelajaran terakhir berbunyi.
“See ye bu Kanza” seru bu Fizza yang kembali dari kelasnya.
“Uuu saranghae” aku membuatkan finger heart untuknya.
“Semangat” balasnya lagi mengacungkan jempol kanannya.
Aku terus berjalan menuju kelas VIII C.
“Assalamualaikum” seruku memberikan salam.
“Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh” jawab semua siswa.
Tumben mereka baik, batinku.
Aku berjalan ke meja guru meletakkan beberapa buku dan absen yang kubawa.
“PRnya bagaimana apa sudah selesai, yang sudah selesai silahkan dikumpulkan” tanyaku.
“Kami sudah bu” jawab beberapa siswa
“Kami belum bu” jawab beberapa siswa lainnya.
“Baik lah kalau begitu sekarang yang sudah silahkan dilanjutkan tugas B di halaman 68 dan yang belum selesai PR berarti double ya A dan B”
“Baik bu”
Mereka semua mengerjakan semua tugas yang telah aku berikan. Mereka tampak diam tanpa bersuara beda seperti biasanya yang super ribut.
**
Tanpa terasa dua jam pelajaran telah habis. Bel pulang telah berbunyi. Siswa - siswi kelas VIII C bersiap - siap pulang, mereka telah siap dengan tas di bahunya.
“Bersiiiiiiiaaaap….. grak” teriak ketua kelas memerintahkan seluruh siswa dan siswi bangun.“Beri salam” membuat tanda hormat dengan tangan kanannya.
“A….ssalamualaikum…. warahmatullahi…wabarakatuh” seru semua siswa dan siswi memberi salam serentak.
__ADS_1
“Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh” jawabku. “Keluarnya satu - satu ya”
Mereka berjalan satu persatu dengan tertib. Setelah semuanya keluar aku berjalan keluar kelas menuju kantor utama untuk fingerprint pulang.
SKIP
Di rumah
Aku memarkirkan motor putih kesayanganku, meletakkan helm yang kulepas dari kepala di spion motor. Aku masuk ke dalam kamar mengganti pakaian kerja dengan pakaian rumah.
Triing, bunyi notifikasi yang masuk di handphoneku.
“Siapa ya” aku mengecek notifikasinya. “Oh iya aku lupa hari ini janjian mau makan es krim sama bang Andi” aku baru mengingat hari ini ada janjian dengan Andi setelah aku membaca pesan darinya.
Iya sayang jam 4 sore kan, balasku.
Aku bergegas ke kamar mandi mengambil air wudhu lalu menunaikan shalat zuhur. Selesai shalat aku melipat kembali mukena dan sajadah meletakkannya kembali di tempatnya.
Aku menelpon mama yang masih berada di tempat saudaraku.
Via telpon
Aku
Assalamualaikum ma
Mama
Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Gimana anak gadisnya mama.
Aku
Baik ma, tapi kangen sama mama sama ayah. Mama sama ayah kapan pulangnya.
Mama
Aku
Yah
Mama
Kamu gak apa - apa kan kalau mama dan ayah belum bisa pulang dulu.
Aku
Iya ma, gak apa - apa kok.
Mama
Bagus deh, jadi tenang mama.
Aku
Keadaan Bunda Mera sekarang gimana ma
Mama
Itulah sayang, belum ada perubahan. Bunda masih di rawat di rumah sakit.
Aku
Semoga cepat sembuh ya ma, salam untuk bunda Mera.
Mama
Iya sayang, kamu baik - baik di sana ya, Andi ngejagain kamu kan walaupun gak bisa menginap di rumah.
__ADS_1
Aku
Iya ada ma, nanti sore bang Andi ngajak kakak keluar. Katanya biar gak bosan.
Mama
Iya pergi saja, jangan pulang malam - malam ya, gak enak dilihat tetangga.
Aku
Iya mamaku sayang.
Panggilan itu berakhir. Aku merebahkan tubuh yang lelah di atas kasur kesayangan, menarik selimut dan memejamkan mata. Tak lupa sebelumnya aku selalu memasang alarm untuk bersiap \- siap jalan sama Andi.
Triiiing…. Bunyi alarm menunjukkan pukul 15.30 sore. Aku segera bangun untuk bersiap - siap. Aku pergi ke kamar mandi untuk mandi dan mengganti pakaian setelahnya.
Aku telah siap dengan kemeja putih dan celana berwana coklat, aku memakaikan make up tipis di wajahku dan menyemprotkan parfum kesukaanku.
Sementara Andi yang baru selesai mandi memilih memakai kaos putih berlengan pendek dan jeans hitam. Andi menyisir rambutnya dengan rapi, memakaikan parfum dengan banyak semprotan.
“Uuuh biar wangi”
Andi keluar dari kamarnya menuju halaman rumah.
“Mau kemana bang” tanya mama yang keluar dari kamarnya.
“Biasa ma, anak muda” jawab Andi santai
“Jumpa si adek” tanyanya lagi.
“Iyalah ma mau jumpa siapa lagi” jawab Andi “ma minta uang” goda Andi.
Mamanya mengambil dompet di kamarnya “ni bang” memberikan uang 2000 an. Andi mengambil pemberian mamanya “mama tahu kamu minta uang recehkan” tertawa melihat tingkah anaknya.
“Ah mama… kirain dikasih beneran” melihat uang 2000 an di tangannya.
“Masa sultan minta uang sama mama” ledeknya lagi.
“Aamiin…., Andi berangkat ya” Andi mencium tangan mamanya.
“Iya, nanti bawa oleh - oleh ya” tersenyum ke arah Andi.
“Iya mamaku sayang” mencium pipi anak laki - lakinya yang sudah sangat dewasa yang sebentar lagi akan menjadi seorang suami.
Andi keluar dari rumah menuju garasi, Andi masuk ke dalam mobilnya, menyalakan mesin lalu menancap gas dengan santai tapi dengan kecepatan maksimal.
Selang beberapa menit kemudian Andi sampai di gerbang rumahku. Bunyi klakson mobilnya terdengar di telingaku. Aku segera keluar kamar menuju pintu gerbang. Aku masuk ke dalam mobil menutup pintunya perlahan.
“Wangi sekali” Andi mengendus bauku “mau kemana neng” mengangkat kedua alisnya.
“Iih apa sih” tersenyum salting ke arahnya. “Mau ngedate ya harus wangilah biar cowoknya nempel terus kaya perangko” jawabku membalas candaanya.
“Genit kamu ya sekarang” meneput jidatku.
“Kan ditepuk lagi jidatku” memegang jidat
“Sakit ya sayang” memegang jidatku “rasain” bukannya kasian Andi malah tertawa kencang, Andi menyalakan mesin mobilnya menancap gas perlahan.
“Kita kemana dulu sayang” tanya Andi yang matanya fokus ke depan, ia tidak sedikit pun melirikku.
Aku tidak menjawab pertanyaannya. Aku terdiam di tempat duduk.
“Sayang kok gak dijawab” tanyanya lagi tidak mendengar perkataan yang keluar dari mulutku.
__ADS_1