
Hallo guys!!
Terima kasih masih setia dengan Bapak Tentaraku.
****
Selesai meneguk air yang aku berikan, Andi duduk di kursi menenangkan dirinya.
“Abang kenapa?, kelihatannya capek banget”
“Abang bertemu dokter gila itu” ucapnya napasnya masih sedikit ngos - ngosan lagi.
“Dokter Elita maksud abang?” Tanyanyaku tertawa licik.
“Siapa lagi??”
“Memangnya dia ngapain kamu?”
“Dia… eum apa ya tadi”
“Apa kamu mau menyembunyikannya kepadaku” aku menarik bagian leher dari baju koas yang dipakai Andi.
“Enggak sayang, abang tidak bermaksud seperti itu. Dia tadi seperti biasa mencegat langkah abang, dia mau pegang - pegang abang”
“Sungguh” aku menatap Andi tajam, setelah itu aku melepaskan bajunya “awas saja kalau kamu berani membohongi” aku memelototkan Andi.
“Siapa juga yang mau membohongi kamu, sungguh memang aku tidak suka jika bertemu dengan kuntilanak itu” Andi menelan ludahnya.
“Tidak boleh seperti itu sayang, memanggil orang lain dengan sebutan kuntilanak”
“Iya memang ada nama yang lebih bagus lagi”
“Tidak boleh sayang”
“Kalau dia tidak pantas abang sebut kuntilanak, mungkin dia pantas abang sebut nenek lampir”
“Sayang iih” aku mencubit lengan Andi.
Andi tertawa ngakak.
“Ah capek” Andi mengelus perutnya “berarti packingan barangnya sudah semua sayang?”
“Sudah dong”
“Yasudah ayo kita pulang” Andi bangun dari kursi lalu merangkulku.
“Apa sih abang, malu”
“Malu sama siapa?? Sama tembok”
__ADS_1
Aku menolak rangkulan dari Andi, aku mengambil beberapa barang lalu berjalan keluar ke arah pintu.
“Ayo sayang” aku berhenti di depan pintu lalu memanggil Andi. Andi mengambil tas yang berisi baju - bajuku lalu berjalan menghampiriku.
Aku dan Andi berjalan beriringan ke arah parkiran dengan membawa beberapa barang di tangan masing - masing.
Di tengah perjalan aku dan Andi bertemu dengan dua orang gadis yang menjadi fansnya Andi.
“Pak! Bukannya cewek bapak tadi dokter cantik itu ya. Kenapa sekarang malah sama wanita ini?” Tanya salah satunya, ia begitu julid melihat ke arahku. Seakan jijik dengan wajahku yang masih dipenuhi beberapa luka bekas kecelakaan yang terjadi kepadaku.
“Iya loh pak, saya jadi iri dengan pacar dokter bapak tadi yang super cantik. Bukan seperti wanita ini” ucap gadis satunya yang ikut menjelekkanku.
“Maaf ya ini istri saya” Andi merangkul bahuku, memberiku ketenangan “dan tolong jangan menghina istri saya, sungguh kamu tidak punya hak berkata seperti itu” Andi menekan suaranya.
“Iya pak mending bapak sama dokter cantik tadi, bapak kan tentara, ganteng, cool pakai mobil lagi. Bapak lebih cocok dengan wanita cantik seperti dokter itu”
Aku menatap tajak wajah Andi.
“Memangnya kamu siapanya saya? Beraninya mengatur hidup saya” Andi benar - benar sangat emosi dengan dua perempuan muda itu. Andi menggenggam tanganku dan kamu berdua kembali melanjutkan perjalanan.
“Siapa sih cewek - cewek tadi, berani - beraninya mereka berbicara seperti itu. Teman bukan saudara bukan. Mana kurang ajar sekali mulut mereka. Ingin rasanya abang menggampar mulutnya.
“Mungkin memang benarkan dengan ucapan mereka, memang dokter Elita itu cantik kan sayang?”
“Secantik apapun wanita di luar sana, abang tidak menginginkannya. Abang cuma mau hidup dan mati bersama kamu”
“Bagaimana kalau adek meninggal duluan?”
“Tidak boleh seperti itu sayang, jaga ucapannya. Jika memang adek yang akan meninggal duluan. Adek izinkan kok untuk abang menikah lagi dan mencintai wanita lain” ucapku dengan lembut.
“Tolong jangan berkata seperti itu”
“Iya abang, adek berbicara apa adanya. Abang harus melanjutkan kehidupan abang, karena kehidupan abang tetap harus berjalan. Lagian adek cuma berkata abang boleh mencintai wanita lain setelah adek meninggalkan, bukannya abang melupakan adek dari hati abang. Abang cukup menyimpan adek di hati terdalam abang”
“Abang tidak mau mendengar hal ini” Andi berjalan meninggalkanku. Aku berusaha mengejarnya.
“Kenapa tinggalin adek?” Tanyaku menyamakan gerakan langkah kakiku.
“Abang tidak mau adek berkata seperti itu. Itu sangat menyakiti hati abang” jelasnya menghentikan langkah kakinya.
Aku meletakkan barang ke lantai lalu mengambil tangannya dan menggenggamnya dengan erat.
“Kita tidak bisa menentukan takdir kita, kita bakalan seperti apa ke depannya. Tapi aku ingin menjalankan seluruh takdir hidupku bersama kamu. Aku ingin langkah kaki mu dan langkah kakiku terus beriringan, aku juga ingin di setiap langkah kaki kita, kita berpegangan tangan dan kita saling melengkapi satu sama lain” ucapku, mataku terlihat berkaca - kaca.
“Aku juga menginginkan hal itu terjadi dalam hidup kita. Makanya kamu jangan pernah menyuruh aku untuk mencintai wanita lain, itu sangat menyakiti perasaan aku. Memangnya kamu bisa? Melihat aku bersama wanita lain? Apa kamu ingin menyakiti diri kamu sendiri? Apa kamu ingin menyakiti hati aku juga? Apa kamu menginginkan hal itu terjadi?” Andi melemparkan pertanyaan bertubi - tubi.
“Aku akan mencintai kamu hidup dan matiku” jawabku singkat, padat dan jelas.
“Lantas, kenapa kamu terus berkata seperti itu jika kamu mencintaiku?”
__ADS_1
“Sudahlah sayang, aku tidak ingin membahasnya lagi. Aku minta maaf aku telah berkata salah” ucapku yang ingin menyudahi perdebatanku dengan Andi.
“Iya oke” Andi mengelus pelan kepalaku. Andi mengambil tanganku lalu menggenggamnya. Ia mengambil kembali tas dan aku juga mengambil kembali barang - barang bawaanku. Aku dan Andi melanjutkan perjalanan ke parkiran mobil.
# di parkiran
Aku masuk ke dalam mobil begitu juga dengan Andi yang masuk melalui pintu sebelahnya. Andi memasangkan seat belt untukku dan untuk dirinya sendiri. Setelah ia menyalakan mesin dan menancap gas perlahan.
Di tengah perjalanan
“Sayang…” panggilku cukup mendayu “apa adek boleh makan bakso?” Tanyaku dengan lembut.
“Kamu mau bakso?” Andi melirik ke arahku lalu melihat kembali ke jalanan “boleh sayang, ke tempat biasa saja kita berarti ya” Andi begitu hafal dengan tempat bakso favoritku.
SKIP
#tempat bakso
Andi memarkirkan mobilnya di parkiran toko, kemudian membuka seat beltnya lalu membantuku melepaskan seat beltku.
“Ayo turun sayang” ucapnya membukakan pintu untuk dirinya sendiri. Ketika aku ingin membuka pintu “sayang jangan turun dulu” Andi berlari kecil ke depan pintu sebelahku setelah menutup pintu sebelahnya. “Silahkan turun tuan putri” mengulurkan tangannya.
Aku menyambut tangannya “terima kasih bapak tentara”
“Kenapa bapak tentara? Biasanya pangeran?”
Aku keluar dari mobil dengan menggenggam tangan Andi “kamu lupa kamu lagi memakai seragam tentara”
“Astagfirullah” ia menepuk jidatnya sendiri “abang lupa lagi pakai seragam ini. Tapi yasudah lah biarin saja. Lagian abang ganteng” merapikan kerah bajunya.
“Ganteng kok, ganteng banget malahan” ucapku memujinya.
“Nah kan kamu mengakuinya juga sayang”
Aku dan Andi berjalan ke dalam warung bakso.
“Abang pilihin tempatnya” ucapku.
“Dimana ya?” matanya melirik ke sana kemari “di sana saja sayang” menunjuk ke salah satu tempat duduk.
Aku dan Andi berjalan ke tempat duduk tersebut. Andi menarik kursi “silahkan sayang” aku duduk di kursi.
“Terima kasih abang” ucapku dengan tersenyum manis ke arah.
Andi menarik kursi lalu duduk di atasnya “sama - sama sayangku, cintaku, bohateku” membalas senymanku.
Waiters datang menghampiri lalu meletakkan buku menu.
#thank you atas kunjungannya.
__ADS_1
Semoga cerita ini dapat menambah inspirasi kalian.
Di tunggu part selanjutnya ya byeeeeee.