Bapak Tentaraku

Bapak Tentaraku
Bab 115 : Mengurus Pernikahan bagian 1


__ADS_3

Hallo guys!!


Terima kasih masih setia dengan Bapak Tentaraku


*****


“Terus sayang??” Tanyaku lagi.


“Terus apa? jangan terus - terus nanti tertabrak”


“Jangan dong”


Waiters akhirnya membawa mie pesanan kami. Ia meletakkan mangkok mie ayam di depan Andi dan meletakkan mangkok yang berisi bakso telur di hadapanku. Ia seakan tahu dengan kesukaan kami masing - masing.


Aku mengambil saos, cabai, aku menaruhkan ke dalam mangkok mienya.


“Hmm” berdehem melihat isi mangkokku yang sudah berwarna gelap kemerahan “mulai lagi ya makan pedasnya” ucap Andi.


Aku hanya bisa menyengir mendengar ocehan Andi.


“Makan terus” tambahnya lagi.


“Sekali - kali pun” jawabku tanpa dosa.


“Iya sekali - kali, kamu ngomong seperti itu seperti abang baru kenal saja dengan adek. Kita sudah lama sayang. Abang sudah hafal dengan semua kebiasaan kamu, apa yang kamu suka. Apa yang kamu tidak suka. Semua tahu abang”


“Baguslah kalau kamu tahu”


Setelah selesai menikmati bakso. Aku dan Andi berjalan - jalan di pinggiran pantai.


Hari semakin sore. Akhirnya aku dan Andi memilih untuk pulang. Andi mengantarkanku kembali ke rumah.


****


Dua hari kemudian. Andi datang menjemputku ke rumah. Kami berdua pergi ke koramil tempat Andi bekerja.


#di koramil


Andi memarkirkan mobilnya di parkiran koramil, membuka pintu lalu melangkahkan kakinya keluar dari mobil. Sama halnya dengan Andi, aku juga membuka pintu mobil lalu melangkahkan kakiku keluar dari mobil. Aku mengikuti Andi berjalan ke dalam kantor “Ayo sayang, ruangannya di sebelah sana” menunjuk ruangan pengajuan nikah.


Andi mengetuk pintu “permisi pak”


“Oh pak Andi, silahkan masuk” ucap tentara yang bertugas di ruangan tersebut.


Aku dan Andi masuk ke dalam ruangannya lalu duduk di hadapan bapak tentara tersebut.


“Pak! Saya ingin mengajukan surat nikah” ucap Andi menjelaskan maksudnya.


“Oh iya pak, silahkan diisi terlebih dahulu formulirnya” menyerahkan lembaran formulir “setelah diisi formulirnya, silahkan bapak dan ibu melengkapi persyaratan yang diminta, di halaman ketiga dari formulirnya sudah tercantum di sana, bapak dan ibu silahkan melihatnya”


“Baik pak” ucap Andi menganggukkan kepalanya.


Aku dan Andi mulai mengiisi formulirnya, setelah itu kami melengkapi semua persyaratannya. Mulai dari kartu tanda penduduk masing - masing, kartu keluarga dan akta kelahiran serta pas photo.

__ADS_1


“Sudah pak” Andi menyerahkan kembali formulir dan persyaratannya kepada bapak tentara tersebut.


“Iya pak” mengambil berkasnya “silahkan ditunggu sebentar ya pak, saya akan membuat surat pernyataan yang akan dibawakan ke kodim”


“Baik pak” mengulurkan tangannya bersalaman dengan bapak tentara yang bertugas.


“Ayo sayang, kita tunggu di luar saja” ucap Andi mengajakku menunggu di luar. Aku menganggukkan kepalaku lalu berjalan mengikuti langkah kakinya.


Aku dan Andi berjalan lalu duduk di kursi panjang.


Bang Adam datang menghampiri kami yang sedang duduk berduaan.


“Ada apa dek, kenapa di sini?” Tanyanya basa basi belum sempat aku dan Andi menjawabnya, bang Adam menjawab pertanyaannya sendiri yang diajukan untukku dan Andi“oh abang lupa ini kan ruangan pengajuan nikah” menunjukku ruangan yang sebelumnya kami datangi.


Aku dan Andi saling tersenyum.


“Iya abang, doain ya semoga semuanya berjalan dengan lancar”


“Amiin, berarti ini baru permulaan ya. Tenang saja sebentar lagi pak Agus mengeluarkan surat pernyataan yang harus dibawa ke kodim. Di sana nanti tinggal isi formulir seperti di sini juga dan ada sedikit tes untuk calon pengantin pria atau pun pengantin wanita” jelas bang Adam berdasarkan pengalamannya terdahulu.


“Tes bentuk apa bang” tanyaku yang sama sekali tidak tahu apa - apa.


“Tes fisik saja, tapi… kalau abang tidak salah di sana pasti dites kesiapan untuk pernikahan begitu cuma ditanya - tanya apa ini kemauan sendiri atau bukan, tes tulis sedikit”


“Tes tulisnya bagaimana bentuknya bang?” Tanyaku yang ingin tahu, wajah aku terlihat sedikit cemas.


“Sudah… tidak apa - apa, tidak susah - susah tesnya. Pasti kalian dapat menjalankan dan menjawabnya, abang yakin. Karena hal yang paling utama ditanyakan tentang kemauan menikahnya, umur calon pengantin wanitanya apa sudah cukup umur atau masih di bawah umur” jelas bang Adam.


“Kalau umur sih bang alhamdulillah sudah sama - sama matang. Saya sudah 29 bang, kalau adek 25 ya dek pas ya” melirik ke arahku.


Tak lama setelah perbincangan itu, pak Agus memanggil Andi kembali ke dalam ruangannya”


“Pak Andi silahkan masuk” ucap pak Agus berdiri di depan pintu ruangannya.


Aku, Andi dan bang Adam melirik ke arah pintu.


“Oh iya pak” Andi bangun dari kursinya lalu berjalan memenuhi panggilan pak Agus ke ruangannya.


“Abang ke ruangan dulu ya” ucap bang Adam yang juga meninggalkanku.


“Iya bang” ucapku tersenyum ke arahnya melihat ia pergi meninggalkanku.


Aku duduk sendirian di kursi panjang menunggu Andi.


Sementara Andi di dalam ruangan pak Agus.


“Bagaimana pak? Apa sudah selesai?” Tanyanya.


“Iya sudah” menunjukkan surat pernyataan “tinggal ditanda tangani saja oleh kalian berdua”


“Baik pak, saya panggil calon istri saya dulu” ucap Andi berjalan ke arah pintu lalu memanggilku, ia melambaikan tangan kanannya ke arahku. Melihat Andi melambaikan tangan, aku berjalan menghampirinya.


“Kenapa bang?” Tanyaku.

__ADS_1


“Masuk dulu, kita tanda tangani surat pernyataannya”


“Iya abang” aku mengikuti langkah Andi masuk ke dalam ruangannya. Aku dan Andi duduk di hadapan pak Agus.


“Tanda tangannya di halaman ini ya” menunjukkan halaman yang memerlukan tanda tanganku dan Andi “dan di halaman terakhir ini juga” ucapnya lagi menunjukkan halaman yang perlu ditanda tangani.


Andi mengambil pulpen lalu menanda tangani kedua halaman tersebut, setelah itu ia menyerahkan pulpennya kepadaku. Aku mengambil pulpen lalu menanda tangani kedua halaman dari surat pernyataan tersebut.


“Sudah pak” aku merapikan suratnya lalu menyerahkan kepada pak Agus.


Pak Agus mengambil suratnya dari tanganku lalu menanda tanganinya di bagian namanya.


“Suratnya sudah selesai, kalian boleh melanjutkan ke kodim untuk proses selanjutnya. Nanti bawa saja ke ruang pengajuan pernikahan. Boleh temui bapak Ikbal di sana”


“Baik pak” Andi mengambil surat pernyataannya “terima kasih ya pak” Andi mengulurkan tangannya berjabat tangan dengan pak Agus.


“Terima kasih ya pak” ucapku kembali.


Aku dan Andi berjalan ke pintu meninggalkan ruangan.


“Kita langsung ke sana sayang?” Tanyaku menemani iringan langkahku dan Andi.


“Iya, kamu tidak ada jadwal mengajarkan?” Tanya Andi memastikan kegiatanku.


“Ada sih sayang, tapi adek sudah cari guru penggantinya”


“Oke… berarti kita langsung ke sana terus sekarang biar cepat prosesnya”


“Iya sayang”


Aku dan Andi keluar dari kantor lalu bertemu kembali dengan bang Adam yang duduk di luar kantor bersama beberapa tentara lainnya.


“Bagaimana dek, apa sudah selesai berkasnya” tanya bang Adam melirik ke arahku dan Andi.


“Sudah bang, sekarang kami mau langsung lanjut ke kodim”


“Oke.. oke selamat ya”


“Selamat ya pak Andi, sudah menjadi calon pengantin” ucap pak Rendy berjabat tangan dengan Andi.


“Iya pak selamat menempuh hidup baru” ucap pak Akbar berjabat tangan dengan Andi dan tersenyum ke arahku.


“Terima kasih bapak - bapak semuanya atas dukungannya” ucap Andi.


“Iya pak, semoga segala urusannya dapat dipermudahkan”


“Iya pak, terima kasih semuanya. Saya permisi dulu, yuk sayang”


“Permisi ya pak” aku berjalan mengikuti langkah Andi.


#thank you atas kunjungannya.


Semoga cerita ini dapat menambah inspirasi kalian.

__ADS_1


Di tunggu part selanjutnya ya byeeeeee.


__ADS_2