Bapak Tentaraku

Bapak Tentaraku
Bab 47


__ADS_3

Hallo guys!!


Terima kasih masih setia dengan Bapak Tentaraku.


****


Andi masih terlelap tidur di atas ranjangnya. Aku menarik selimut menutupi tubuhnya. Aku menggenggam erat tangannya. Perlahan aku mulai tertidur di kursi merebahkan kepala di samping lengannya.


SKIP


Malam telah berganti pagi. Suasana hari ini benar - benar sangatlah sejuk, bahkan dinginnya sampai menembus tulang. Aku terbangun dari tidurku merapikan selimut di atas tubuh Andi. Aku melangkahkan kakiku menuju pintu kamar, berjalan ke musholla.


***


Aku mengambil air wudhu, setelah itu melaksanakan shalat subuh di dalam musholla yang berada sepuluh langkah dari tempat wudhu. Memakaikan mukena dan menggelarkan sajadah.


Sepuluh menit kemudian, aku telah melaksanakan shalat subuh, mengangkat kedua tanganku sembari memohon kepada Allah


“Ya Allah berikanlah keberkahan dan kemudahan dalam hidupku, Ya Allah berilah keselamatan, kelancaran rezeki dan kesehatan untukku, untuk kedua orang tuaku, untuk bang Andi dan kedua orang tuanya. Ya Allah….. berikanlah kesembuhan untuk bang Andi. Aaaaamiiiiin” mengusap kedua tanganku di wajah.


Setelah itu aku melipat kembali mukena dan sajadah lalu memasukkannya kembali ke dalam tas kecil khusus mukena. Aku berjalan kembali ke dalam kamar Andi.


Mama dan ayah terbangun dari tidurnya lalu dengan segera pergi ke musholla melaksanakan shalat subuh. Cekreekkk…. bunyi gagang pintu yang kubuka. Aku berjalan ke arah ranjang Andi. “Sayang” aku membelai rambutnya perlahan. Andi masih memejamkan matanya obat yang disuntikkan semalam masih terasa di dalam tubuhnya.


Dua puluh menit kemudian mama kembali ke dalam kamar sendirian lalu berdiri di sampingku.


“Ma…” panggilku dengan lembut. “Adek pamit pulang dulu ya ma, karena hari ini adek banyak sekali jam masuknya. Karena kalau adek suruh guru lain yang menggantikan pasti tidak ada yang mau menerimanya karena terlalu banyak jam yang harus dilaksanakan”. Jelasku, sebenarnya aku tidak ingin meninggalkan Andi sedetik pun. Namun, apa boleh buat tugasku sebagai pendidik tidak dapat ditinggalkan begitu saja. Aku mempunyai tanggung jawab yang cukup besar.


“Iya sayang, tidak apa - apa. Nanti selesai pulang sekolah kan kamu bisa ke sini lagi bantuin mama jagain abang” jawab mama yang begitu paham dengan pekerjaanku.


“Adek pamit ya ma” mencium tangannya, aku mengambil tas lalu berjalan ke pintu. Aku berjalan menuju parkiran mengambil motorku yang dari semalam terparkir di sana. “Pak motor yang ini ya” aku memberikan uang parkiran kepada penjaga parkir yang membantuku mengambil motor.


“Terima kasih dek” ucapnya setelah mengambil uang parkiran.


Aku memakaikan helm lalu menancap gas pelan.


SKIP


Aku telah sampai di gerbang pagar rumahku. Aku memarkirkan motor di dalam garasi “assalamualaikum” mengetuk pintu.


“Waalaikumsalam” mama keluar membukakan pintu. “Bagaimana keadaan Andi, apa sudah mendingan” pertanyaan pertama mama setelah bertemu denganku.

__ADS_1


“Tadi waktu kakak pulang, bang Andi masih tertidur ma mungkin pengaruh obat yang disuntikkan semalam” jelasku kepada mama mengenai kondisi Andi.


“Kasian banget mama sama dia, sudah mau seminggu dia di rumah sakit”


“Iya ma, semalam kakak gak tega lihat dia kesakitan seperti itu ma”


“Yasudah kamu siap - siap terus, ke sekolah kan hari ini” mama menyuruhku untuk segera bersiap - siap berangkat ke rumah sekolah.


“Iya ma, malah full lagi jamnya hari ini”


“Sudah semangat, nikmati prosesnya jalankan saja. Usaha tidak akan mengkhianati hasil” mama memberiku semangat untuk tidak pantang menyerah apapun yang menjadi rintangan dalam hidup ini. “Kalau kamu mau sukses kamu harus merasakan dulu pahitnya perjuangan” tambahnya lagi.


“Iya ma, terima kasih untuk semua nasehatnya” memeluk mama.


“Duh anak gadis mama, sebentar lagi kamu bakalan jadi istri orang duuuh” mama juga memelukku erat.


Aku berjalan menuju kamar, kemudian mengambil handuk dan langsung mandi di kamar mandi.


Lima belas menit kemudian aku keluar dari kamar mandi lalu memakai seragam sekolah, aku mengenakan sedikit make up daily ke sekolah daaaan tak lupa menyemprotkan parfum ke sekujur tubuh.


“Biar wangi kaya barbie aduuhaii” bernyanyi dengan nada ngasal.


“Sayang sarapan dulu” suruh mama.


“Kalau enggak sarapan gak usah ke sekolah hari ini” tegas Ayah. Aku sering mengabaikan sarapan ketika berangkat ke sekolah.


“Iya ayah” aku duduk di samping ayah lalu mengambil piring dan menaruhkan nasi goreng buatan mama.


“Nah gitu dong makan pagi dulu sebelum kemana - mana” tegas Ayah kepadaku.


“Apa susahnya sih makan sudah siapin juga, apa perlu mama suapin lagi. Malu tahu bentar lagi jadi istri juga” tambah mama.


“Iya mama, ayah, inikan lagi makan ya jangan marahin lagi” nyenyir kuda andalanku.


“Iya” jawab mama dan ayah cuek.


“Senyum dong ma ayah, jangan cemberut pagi - pagi” godaku.


Aku, mama dan ayah melanjutkan makan sampai tak tersisa. Menurutku dan ayah masakan mama benar - benar enak, tak tertandingi oleh masakan siapapun.


Selesai sarapan aku membereskan piring kotor lalu membawanya ke dapur.

__ADS_1


“Ma.. ayah aku berangkat ya” mencium tangan mama dan ayah.


“Iya hati - hati ya” jawab mama.


Aku berjalan ke luar rumah mengambil motor kesayanganku yang terparkir di garasi. Aku memakaikan helm di kepala lalu menancap gas perlahan.


****


Selang beberapa menit kemudian aku telah sampai di parkiran sekolah, memarkirkan motor dengan rapi dan melepaskan helm di kepalaku, lalu berjalan ke kantor utama melakukan fingerprint.


Setelah selesai melakukan fingerprint aku berjalan ke kantor ku.


Aku mengambil kursi lalu bergabung dengan pak Said, bu Fizza, bu Dewi, bu Juli dan bu Susi.


“Gimana bu Kanza” tanya pak Said.


“Alhamdulillah baik pak” jawabku dengan lembut.


“Pak Said padahal cocok banget kan bu Kanza sama pak Haris” seru bu Susi yang masih mengingat tentang perjodohanku dengan pak Haris sebelumnya.


“Iya, pak Haris bodoh gak mau sama bu Kanza” jawab pak Said tanpa basa - basi.


“Sudahlah pak Said, bu Susi namanya juga tidak berjodoh. Kalau berjodoh pasti saya dan pak Haris sudah bersama sekarang” jelasku yang tidak ia melihat pak Said dan bu Susi berlarut - larut dengan perjodohan itu.


“Iya sudah lah pak Said dan bu Susi lagian sekarang kan dek Kanza sudah punya bapak tentara itu” bela bu Juli.


“Oh calonnya bu Kanza tentara, baru tahu saya” ucap pak Said.


“Memangnya bapak tidak tahu?? Kalau bu Kanza dipinang oleh bapak tentara??, itulah ditolak oleh PNS disambut oleh Tentara, asseeeek” ucap bu Fizza.


“Gak tahu” pak Said menggelengkan kepalanya.


Kriiiing bel masuk berbunyi. Semua siswa dan siswi yang berdatang masuk ke dalam kelasnya masing - masing. Sama halnya guru yang mengajar di jam pertama masuk ke dalam kelas masing - masing.


“Yang ada jam masuk, yang ada jam masuk” seru pak Said “saya hari ini diamanahkan oleh bapak kepala sekolah, guru yang ada jam dipersilahkan masuk kelas secepatnya biar bisa mencapai kurikulum” ucap Pak Said dengan penuh candaan.


#thank you atas kunjungannya.


Semoga cerita ini dapat menambah inspirasi kalian.


Di tunggu part selanjutnya ya bye.

__ADS_1


__ADS_2