
Hallo guys!!
Terima kasih masih setia dengan Bapak Tentaraku.
Aku berjalan ke parkiran sekolah untuk mengambil motor
“Enggak pergi ke tempat takziah bu Za?” Tanya bu Nina yang berjalan ke arahku bersama bu Leni.
“Enggak bu, saya mau ke rumah sakit” jawabku sedikit berbohong padahal sebenarnya aku ingin ke rumahnya Andi yang baru saja pulang dari rumah sakit.
“Oh siapa yang sakit?” Tanya bu Leni.
“Tunangannya saya bu, kalau begitu saya duluan ya bu” aku memasangkan helm lalu menyalan mesin motor dan menancap gas perlahan.
SKIP
Aku telah sampai di rumah memarkirkan motor di garasi, membuka helm lalu meletakkannya di spion sebelah kanan.
“Duh kuncinya kemana sih” aku mengobek - ngobek isi tas ku “nah ini dia” aku mengambil kunci dan membukanya “assalamualaikum…” ucapku walaupun tidak ada satu pun orang di rumah. Aku bergegas masuk ke kamar untuk bersiap - siap berangkat ke rumah Andi.
“Ah… malas banget ketemu sama bang Andi” gumamku yang duduk di ranjang. Baru kali aku benar - benar malas untuk bertemu dengan dia, biasanya aku begitu semangat kalau ingin bertemu dengan tunanganku itu.
“Bagaimana pun aku harus bertemu dengan dia” aku bangun dari tempat tidur mengganti baju dan merapikan make up ku, memakaikan parfume lalu mengambil tas dan berjalan keluar kamar. Setelah mengunci pintu aku mengambil motor, memasangkan helm dan menancap gas dengan kelajuan cepat.
****
Andi merebahkan tubuhnya di atas sofa ruang tamu
“Bang… mama ke toko ya, kamu kalau butuh apa - apa panggil kak Nia saja di belakang” ucap mama yang keluar dari kamar sementara ayah setelah pulang dari rumah sakit tadi langsung berangkat ke toko untuk membuka toko, sedangkan mama mempunyai anak buah jadi mama bisa berangkat ke toko walaupun agak siangan.
“Iya ma, bosen banget sendirian” jawab Andi lesu.
“Lagian adek nanti ke sini kan? tunggu saja” ucap mama mengelus kepala anak bontotnya itu yang super manja.
“Adek nanti pulang sekolah baru ke sini” lirih Andi.
“Atau kamu mau ikut ke toko? Eh tapi jangan deh” ucap mama yang tidak yakin dengan tawarannya.
“Enggak mau juga ma, abang mau di rumah saja. Toko abang pun sudah jarang abang kunjungi, nanti mama tolong mampir ke sana ya cek sebentar bisa kan ma”
__ADS_1
“Bisa dong nanti setelah mama ke toko, mama pergi ke tokonya kamu, yasudah mama pergi ya anak bontot mama yang super manja ini” mama mencium kedua belah pipi Andi muuuuuuach muuuuuuach “mama pergi ya sayang”
“Iya ma”
Mama berjalan ke arah pintu. Sementara Andi di ruang tamu masih merebahkan tubuhnya “ngapain ya” Andi bangun berjalan ke ruang televisi.
Sampai di ruang televisi, ia menyalakan televisi mengambil remote kontrol lalu memasang musik BTS favoritnya yaitu lagu mic drop, ia menyetel volumenya keras - keras.
“Eaaa mic mic bungee brigth light jeonjin….” mengikuti liriknya “did you see my bag, did you see my bag, did you see my bag…….”
****
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih dari tiga puluh menit akhirnya aku sampai di rumah mewah keluarga Andi. Aku memarkirkan motor di halamannya, membukakan helm lalu aku berjalan ke pintu utama.
“Assalamualaikum” aku mengetuk pintu dan memencet bel yang terpasang di sana. Aku memencet belnya hingga beberapa kali. “Kemana sih, kok enggak ada yang membuka pintunya” gumamku. Aku mengambil handpone dari dalam tasku, mencari kontak Andi lalu melakukan panggilan.
Tut….. tut….. tut… tut “yah enggak di angkat lagi” tidak menyerah aku memencet belnya lagi
Mbak Nia yang sedang mencuci piring mendengar bunyi bel “Siapa yang datang ya” merintikkan air dari tangannya. “Oh iya aku lupa Dek Kanza kan mau ke sini” ia berlarian ke pintu utama. Cekkkreeek “sudah lama dek”
“Kemana saja sih kak sudah setengah jam aku berdiri di sini” gumamku.
Aku melangkahkan kakiku ke dalam rumah “assalamualaikum” ucapku.
“Waalaikumsalam” jawab kak Nia yang berada di belakangku “kakak ke dapur lagi ya, oh iya adek mau minum apa?” Tanyanya sebelum melanjutkan langkahnya.
“Apa saja deh kak” jawabku pasrah.
“Oke nanti kakak antar ke sana, jus tomat mau adek soalnya tadi ibu suruh membuatnya”
“Ah jangan kak, adek kurang suka sama tomat” jawabku menolak tawarannya.
“Eum… kalau thai tea ala - ala kakak mau?” Tanyanya lagi memberi tawaran baru.
“Mau banget kak, yang dingin ya kak” ucapku sambil nyenyir kuda andalannya bang Andi, aku paham betul bagaimana wajahnya kalau lagi nyengir kuda.
Kak Nia berjalan ke dapur sementara aku berjalan ke ruang televisi menemui Andi.
“Abang….” Panggilku, aku melihat dia sedang berjoget - joget ria dengan musik yang begitu keras, Andi menoleh ke belakang menyadari kedatanganku “adek” ia mengecilkan volume televisinya.
__ADS_1
Tanpa berbasa - basi aku duduk di sofa.
“Duduk dulu kamu” ucap Andi sedikit tegas ia mematikan layar televisinya.
“Iya… kenapa abang mau ngomong apa?” Tanyaku wajahku terlihat begitu lesu.
“Laki - laki yang kamu jumpai di parkiran rumah sakit tadi siapa?” ucap Andi nada bicaranya sedikit tinggi.
“Siapa? Maksud kamu Joni?. Sama dia tadi adek ada mengobrol sebentar” jelasku dengan keadaan sebenarnya yang terjadi.
“Siapa dia? Kenapa kamu terlihat begitu akrab dengan dia hah?” wajah Andi terlihat benar - benar emosi, wajahnya terlihat memerah begitu juga dengan kedua telinganya “siapa dek laki - laki itu? kamu marah sama abang? karena dokter Elita tadi menanyakan abang, makanya kamu balas semuanya dengan dekat sama cowok lain, iya?”
“Jadi… kamu nuduh aku seperti itu” menunjukkan diriku sendiri, aku menjadi sangat emosi dengan tuduhan yang dilemparkan Andi untukku “aku memang marah sama kamu ya gara - gara dokter ganjen dan sok cantik itu, tapi aku enggak ada niat sedikit pun untuk dekat dengan cowok lain. Lagian si Joni itu teman sekolah aku dan dia teman sekelas aku, tadi aku tidak sengaja bertemu dengan dia di parkiran. Kalau kamu memang tidak percaya dengan penjelasanku. Boleh kok, silahkan tanyakan saja sama dia” jelasku panjang lebar.
“Bisa ya kamu berasalan dia teman sekolah kamu lah, teman sekelas kamu lah bisa ya kamu” Andi tidak percaya denganku ia masih berdiri teguh dengan pikirannya.
“Jadi mau kamu apa? kamu berubah sekarang ya” air mataku terjatuh mengalir di pipiku “terserah deh mau kamu apa, aku tidak sanggup memikirkannya lagian aku tidak berbuat apa - apa malah kamu tuduh aku seperti itu” aku berdiri di hadapannya
“Aku bukannya menuduh kamu ya” berdiri di hadapanku “aku lihat semuanya dengan mata kepalaku sendiri” teriak Andi.
“Kalau kamu melihatnya kenapa kamu tidak datang menemuiku dan dia langsung. Kenapa harus menuduh aku seperti ini” aku menantangnya balik.
“Iya untuk apa, untuk melihat keakrapan kalian berdua”
“Sumpah ya, egois banget kamu sekarang. Aku tidak menyangka kamu bakalan seperti ini dan menilai aku seburuk ini”
Kak Nia berjalan dengan membawa minuman lalu ketika mendengar kami sedang berantem ia memutarkan balikkan badannya tidak jadi menemui kami.
“Kenapa mereka berantem sih, nanti saja deh mengantar minumannya. Gak enak juga kalau harus mengganggu mereka” ia berjalan ke dapur kembali.
****
“Ya aku begini karena kamu”
“Kamu ya yang melukai hati aku” aku duduk kembali di sofa “kamu yang begitu akrab dengan dokter itu tapi kamu malah menuduh aku seperti itu dan mengatakan aku dekat dengan cowok lain. Kamu enggak bisa lihat apa perjuangan aku setiap hari nungguin kamu sembuh, kamu harapan aku kamu semangatnya aku” aku bergumam sendirian mengutarakan isi hatiku….
#thank you atas kunjungannya.
Semoga cerita ini dapat menambah inspirasi kalian.
__ADS_1
Di tunggu part selanjutnya ya byeeeeee.