Bapak Tentaraku

Bapak Tentaraku
Bab 109 : Pantai


__ADS_3

Hallo guys!!


Terima kasih masih setia dengan Bapak Tentaraku.


*****


Aku telah selesai bersiap - siap, mengambil tas lalu berjalan ke pintu dan membuka pintu. Ketika sedang keluar dari pintu kamar, Andi juga keluar dari pintu kamarnya. Baaam….


Aku melirik ke arahnya, baju yang aku kenakan dan yang dia kenakan sama - sama berwarna putih dan kami juga sama - sama memakai celana jeans.


“Adek ikutin abang?” ucap Andi melihat penampilanku dari atas sampai bawah.


“Dih gak ada ya, abang itu yang mengikuti adek” jawabku mengelak.


“Mana ada” ucapnya lagi.


“Alah gak mengaku lagi” ledekku “abang kan ngefans berat sama adek, jadi wajarlah kalau bisa samaan bajunya” ucapku menyudutkan Andi.


“Bukan… bukan, kita kan sehati” ucapnya sedikit tertawa “jadi wajar tanpa janjian kita tetap bisa samaan bajunya, celananya”


“Hana bantah (tidak membantah)” ucapku pasrah.


Kak Anti yang menggendong baby Ziya dan bang Riza datang menghampiri kami.


“Ciieee couplean ini” ucap kak Anti meledekku dan Andi.


“Kan kakak sama juga couplean sama ayang” ucapku meledek kak Anti balik.


“Lagian kakak kan cuma sama warna bajunya saja, celananya beda warna” menunjukkan celanannya yang berwarna hitam dan celana bang Riza yang berwarna coklat tua.


“Iya… kalian itu dari baju, celana, sampai tas samaan warnanya” ucap bang Riza menambahkan.


Aku memperhatikan tasku sementara Andi tidak memakai tas. Bang Riza hanya menambahkan apa yang tidak ada hanya untuk memojokkan aku dan Andi.


“Biasa kak, bang sehati” ucap Andi membela dirinya “iya kan sayang” mengedipkan mata kearahku.


“Enggak… dia kak” menunjuk ke arah Andi yang berdiri di samping kananku “yang ngefans sama aku kak” aku tidak membela Andi, aku berada dipihakku sendiri.


Andi mendekatiku “kenapa kamu tidak membela suamimu” bisiknya.


Aku cengengesan mendengar bisikannya.


Beberapa saat kemudian, ayah dan mamanya Andi beserta ayah dan mamaku keluar dari kamar mereka masing - masing. Mereka telah siap untuk berangkat. Seperti sebelumnya orang tuanya Andi berada di mobil kak Anti dan orang tuaku berada di mobil Andi.


SKIP


#Tebing pantai Lampuuk


Suasana pantai saat itu sangatlah indah, deburan ombak yang terdengar nyaring, hari cerah yang tidak terlalu panas. Sangat cocok untuk menikmati keindahannya.


Andi memarkirkan mobilnya di parkiran. Setelah itu semuanya turun dari mobil.


“Uuu” menghirup udara pantai “seger banget anginnya” ucapku merentangkan kedua tanganku.


“Awas hati - hati sayang nanti kamu dibawa angin terbang” ucap Andi meledekku.


“Untuk apa juga ada kamu” ledekku balik.


Setelah rombongan kak Anti sampai. Semuanya berjalan ke balai tempat makan.


Waiters datang menghampiri lalu meletakkan buku menu dan secarik kertas dan pulpen.


Mamanya Andi dengan sigap mengambil pulpen dan kertas tersebut, lalu pertanyaan pertama ia tanyakan kepada besannya.


“Besan mau pesan apa?” tanyanya kepada mama dan ayahku.


“Kami ikan bakar saja” ucap mamaku yang begitu cinta dengan ikan bakar yang ada di pantai tebing itu.


Mama Andi menulis pesanan mamaku.


“Ayah mau makan apa?” Lalu tanyanya kepada suaminya.


“Ayah mau ikan bakar juga ma”


“Oke” tulisnya lagi.

__ADS_1


“Kalian anak kecil mau makan apa?”


“Seafood ma” ucapku dan Andi barengan.


“Ciee jawab saja harus samaan ya pak, bu” ucap kak Anti kembali meledekku dan Andi.


“Biasa kak, sehati” ucap Andi memberikan jawaban yang sama seperti sebelumnya.


“Seafood ya berarti kalian berdua?” Tanya mama sekali lagi untuk memastikan.


“Iya ma..” ucapku dengan lembut kepada calon mama mertuaku itu.


“Oke” menulis di kertasnya lagi.


“Kalian anak kecil satu lagi, mau pesan makanan apa?” melirik ke arah Kak Anti dan bang Riza.


“Apa bang?” tanya kak Anti kepada suami tercintanya.


“Abang mau ayam bakar saja” jawabnya yang sedang menggendong Ziya.


“Ma abang mau ayam bakar, kakak mau ikan bakar juga”


“Oke… berarti sudah fiks semua ya pesanannya” ucap mama memastikan semua telah memesan sesuai keinginan masing - masing.


Waiters datang kembali, mengambil buku menu dan selembar kertas yang berisi semua pesanan.


“Sudah semua ya bu?”


“Iya dek”


“Silahkan ditunggu ya pak, buk. Kami akan segera membuat pesanannya” berjalan meninggalkan kami semua.


****


“Abang” ucapku memanggil Andi dengan suara sangat pelan.


“Apa” jawab Andi mengikuti caraku memanggilku.


“Kita jalan - jalan ke sana yuk, foto - foto” aku menunjuk ke arah tebing.


“Ayo” jawab Andi tanpa berpikir panjang.


“Sayang foto yuk” ajak Andi.


“Ayo”


“Ambil handphone adek saja”


“Oke”


Kami berdua mulai berfoto dengan berbagai macam gaya.


“Abang fotoin adek sendiri dong, fotonya harus kelihatan tebingnya ya sayang”


“Oke” Andi mengambil handphone dari tanganku. Cekkreek, satu gaya, dua gaya, tiga gaya yang kubuat untuk foto terlihat bagus.


“Coba adek lihat sayang” aku berlari kecil menghampiri Andi, lalu mengambil handphone dan melihat hasil cepretan Andi. “Cantik banget, pandai ya abang fotonya”


“Iya dong, abang kan mengerti sedikit - sedikit tentang fotografi” ucap Andi membanggakan dirinya.


“Kak, mas” seseorang datang menghampiri kita berdua “boleh saya ambilkan fotonya, saya menyewa jasa foto atau bisa dikatakan fotografer keliling” ucapnya dengan lembut.


“Boleh mas” ucap Andi lalu memberikan handphoneku kepadanya.


Foto ke 1


Andi berdiri di belakang, aku di depan. Hasil fotonya terlihat blur di bagian Andi.


Foto ke 2


Dengan gaya dan angle yang sama, kali ini hasil fotonya blur di bagian aku.


Foto ke 3


Aku dan Andi sama - sama berdiri dan membentuk simbol love dengan tangan kami yang tersambung.

__ADS_1


Foto ke 4


Aku dan Andi bergaya hadap - hadapan.


“Seru ya sayang” ucapku kegirangan.


“Iya berasa lagi preweed”


“Aaaamiiin”


Foto ke 5


Aku duduk di tepi pantai dan Andi datang membawa bunga. Bunganya adalah ranting kayu patah yang ditemukan Andi di pinggiran air laut.


Foto ke 6


Aku berdiri, Andi jongkok di depanku, seperti orang yang melamar kekasihnya. Walaupun sebenarnya aku telah dilamar olehnya dan sudah menjadi miliknya walaupun belum sah, masih ada pembatas diantara kami berdua.


Foto ke 7


Aku dan Andi duduk berdua membelakangi kamera.


“Ah capek” aku menghampiri fotografernya. Andi ikut berlari mengejarku. Fotografernya menangkap moment itu, dimana Andi terlihat sedang mengejarku.


“Mas terima kasih ya, berapa kami harus membayar jasa mas, sudah capek - capek memotret kami berdua” ucap Andi.


“Seratus ribu saja pak”


“Baiklah” Andi mengeluarkan pecahan seratus ribu dari dompetnya “sekali lagi terima kasih ya mas” ucap Andi sekali lagi.


“Iya mas, terima kasih juga rezekinya” ia pergi meninggalkan kami berdua.


Selagi kami melihat - lihat hasil jepretan fotografernya kak Anti dan bang Riza datang menghampiri kami berdua.


“Dek tolong fotokan aku dan Anti” ucap bang Riza menyuruh diantara aku dan Andi.


Aku bangun lalu “bang fotokan” aku malah menyuruh Andi yang memotretnya.


Andi mulai memotret kak Anti dan suaminya.


Foto 1


Kak Anti berdiri dan bang Riza juga berdiri, wajah mereka terlihat sangat kaku, persis seperti foto orang yang sedang membuat kartu tanda penduduk.


“Abang, kakak bergaya dong” teriakku yang berdiri di samping Andi.


“Tidak bisa bergaya kakak” teriak kak Anti.


“Dek tolong, turun tangan” suruh Andi kepadaku.


“Kak…” aku berlari menghampri kak Anti “kakak pegang lengannya bang Riza, kepala kakak miringkan ke bahunya. Abang senyum ya” ucapku kepada bang Riza “Sayang sudah” teriakku. Andi mulai memotretnya.


Foto ke 2 dengan gaya pilihanku telah berhasil.


Foto ke 3


Kak Anti memeluk erat bang Riza. Maklum sudah sah, jadi bisa berpelukann seperti teletubis.


Foto ke 4


Kak Anti dan bang Riza duduk di pasir dengan membelakangi kamera.


Foto ke 5


Masih dengan gaya yang sama, bedanya kepala kak Anti dimiringkan ke pundaknya bang Riza.


“Capek” ucap kak Anti bangun dari pasir lalu menyapu pasir yang menempel di celananya.


“Coba abang lihat” bang Riza menghampiri adik iparnya itu. Andi menyerahkan handphoneku kepadanya.


“Kirim ya” ucap kak Anti lalu mengirimkan semua foto - fotonya dari galleryku.


Kami berempat kembali ke tempat makan.


#thank you atas kunjungannya.

__ADS_1


Semoga cerita ini dapat menambah inspirasi kalian.


Di tunggu part selanjutnya ya byeeeeee.


__ADS_2