
Hallo guys!!
Terima kasih masih setia dengan Bapak Tentaraku.
Keadaanku benar - benar masih ngedrop, aku belum menunjukkan tanda - tanda akan bangun. Mama terus menangis di sampingku. Rasanya aku seperti biasa melihat mama. Namun, aku tidak berkata apa - apa, aku hanya bisa melihatnya menangis menatapku.
“Kak… ini mama, kamu bangun ya nak. Mama sayang sama kamu. Kamu sayang sama mama dan ayah juga kan. Kamu bangun ya, kamu jangan meninggalkan mama. Kamu putri satu - satunya yang mama miliki di dunia. Kamu yang akan menemani mama selalu. Kamu bangun ya, mama sangat berharap kamu terus bangun” air mata terus mengalir di kedua pipi mama.
SKIP
Mama dan ayah Andi telah sampai di parkiran rumah sakit. Ayah memarkirkan mobilnya di parkiran lalu berjalan beriiringan dengan mama menunju UGD.
“Sus pasien atas nama Kanza Aulia dimana?” Tanya mama kepada suster penjaga.
“Sebentar ya bu saya cek dulu” ucapnya lalu membuka buku pasien. “Eum…. ruangannya di paling ujung ya bu” menunjuk jalannya.
Mama dan ayah berjalan ke ruang yang terletak di ujung.
“Assalamualaikum” mama membuka pintu lalu masuk ke dalamnya ikuti oleh ayah yang berjalan di belakang mama. “Bu..” mama bersalaman dengan mamaku dan bercipika cipiki. Ayah juga mengulurkan tangannya bersalaman dengan mamaku. “Bu bagaimana keadaan adek?” Tanya mama melihat aku yang terbaring tidak berdaya, mataku masih terpejam dan tidak ada gerakan sama sekali.
“Masih seperti ini bu, dokter pun belum masuk sedari tadi saya di sini”
“Ya Allah adek kenapa kamu jadi begini sayang” mama Andi mengelus pelan kepalaku.
“Ma ayah keluar ya, ayah tidak bisa melihat seperti ini” calon ayah mertuaku tipikal orang yang sangat lemah atau gampang sedih. Salah satunya ia tidak bisa melihat keadaan seseorang yang terluka.
“Iya yah” ucap mama melirik ke arah ayah. Ayah berjalan keluar meninggalkan ruangan. “Dia tidak bisa melihat seperti ini bu” ucap mama Andi menjelaskan kepada mamaku perihal kenapa ayah langsung keluar “ayah punya penyakit jantung. Kalau ada sesuatu yang ia lihat ada terluka langsung dia bisa sedih, saya takut akan berakibat pada jantungnya. Makanya pun kemarin waktu abang sakit. Ayah selalu datang menemaninya tapi ya gitu bu dia duduk saja di sofa”
“Iya bu tidak apa - apa, dari pada dari pada kan mending kita menghindar”
“Bu.. saya permisi ke musholla dulu ya, saya belum shalat asar”
“Iya bu”
Mama Andi berjalan membuka pintu lalu keluar meninggalkan ruangan.
Beberapa menit kemudian Ayahku dan Andi telah sampai di rumah sakit. Ayah turun dari motor yang telah diparkirkan oleh Andi, calon menantunya.
Ayah dan Andi berjalan ke ruang UGD dengan tergesa - gesa.
__ADS_1
Semoga adek sudah sadar, batin Andi.
“Assalamualaikum” ucap Andi membuka pintu lalu berjalan masuk ke dalam ruangan disusulin ayah yang berjalan di belakangnya.
“Ma.. bagaimana keadaan adek sekarang?”
“Masih sama seperti tadi abang” mama menggeleng - gelengkan kepalanya.
“Adek” Andi berjalan mendekatiku “sudah ya dek, kamu bangun ya sayang. Di sini sudah ada mama, ayah dan abang di sini kamu bangun ya sayang. Kamu sayang sama kami kan, kamu bangun ya”
Tok… tok… tok… suara ketukan pintu.
“Permisi…” dokter dan 1 suster masuk ke dalam ruangan. “Saya periksa dulu ya pasiennya” ucapnya lalu berjalan mendekatiku, sementara ayah, mama dan Andi mundur ke belakang. Dokter memasangkan stetoskop di telinganya lalu mengarahkannya ke bagian dada bagian kiri dan dada bagian kananku, ia mendengarkan detak jantungku. Setelah itu, ia membuka kelopak mataku lalu menyenternya dengan senter kecil.
“Sudah dok?” Tanya Andi berjalan mendekati ranjang.
“Sudah pak”
Mama dan ayah berjalan mendekati ranjang.
“Bagaimana keadaan putri saya dok?” Tanya mama.
“Tapi kenapa saat ini dia belum sadar juga?”
“Itu karena ada benturan di kepalanya yang membuat sarafnya terkejut jadi untuk sementara waktu biarkan sarafnya mengalami masa pemulihan”
“Jadi berapa lama dok, Kanza akan sadar” tanya Andi memastikan.
“Saya tidak bisa memberi jaminan. Tapi, inshaallah Kanza akan segera siuman” dokter tidak bisa memberikan sebuah jaminan yang pasti kapan Kanza akan sadar. “Yang penting, ibu, bapak perbanyak berdoa demi kesembuhan Kanza. Kalau begitu saya permisi dulu” dokter dan suster keluar meninggalkan ruangan.
“Kamu cepat sadar ya sayang” ucap Andi mengelus tanganku. “Ma… apa mama dan ayah tidak ke sini”
“Ada, ada mereka keluar ke mushollah”
“Oh, Andi pikir mereka belum ke sini”
“Sudah, tadi sudah masuk ke sini”
Tok… tok… tok, suara ketukan pintu.
__ADS_1
“Assalamualaikum” ucap mama berada di balik pintu lalu melangkahkan kakinya ke dalam ruangan, ia berjalan mendekati ranjang. “Bagaimana keadaan adek?” tanyanya memperhatikanku.
“Ma adek” Andi memeluk mamanya “adek belum sadar sejak dari tadi”
“Abang… sabar abang, kamu berdoa untuk kesembuhan adek” mengelus punggung Andi “kamu jangan bersedih begini dong, nanti adek ikutan sedih melihat kamu seperti ini”
Andi terus saja menangis dalam pelukan mama. Hatinya benar - benar hancur melihat wanita yang dicintainya tak kunjung sadar.
****
Malam semakin larut, belum ada tanda - tanda dariku untuk siuman. Tubuhku masih terbaring kaku. Peralatan medis masih setia mendampangiku mulai selang infus dan selang oksigen yang membantu dalam pernapasanku.
Mama dan ayah Andi sudah pulang duluan. Tinggal mama dan ayahku beserta Andi. Mama dan ayah sudah terlelap tidur, sementara Andi masih menjagaku. Ia masih menungguku untuk bangun.
“Bismillah rahman rahim Allaahu Laailaaha illa huwal hayyul qayyuum. Laa ta'khudzuhu sinatuw walaa nauum. Lahuu maa fissamaawaati wamaa fil ardhi. Mangdzalladzii yasyfa'u 'indahuu illai bi idznih. Ya'lamu maa baina aiydiihim wamaa kholfahum walaa yukhiithuuna bisyayin min 'ilmihii illaa bimaa syaaa a. wasi'a kursiyyuhus samaawaati wal ardho. Walaa yauduhuu khifdhuhumaa wa huwal'aliyyul 'adhiim” Andi membaca ayat kursi di dekat telingaku, ia mengulanginya hingga beberapa kali.
Andi terus saja memohon kepada Allah untukku segera bangun.
“Sayang… buka dong matanya. Minggu depan abang sudah mau berangkat. Tapi, kenapa abang harus melihat kamu seperti ini. Apa kamu gak mau abang pergi? Sayang bangun dong. Kamu harus sembuh kamu harus mendukung abang. Abang butuh kamu di sini. Abang butuh kamu” Andi menggenggam erat tanganku. Perlahan matanya mulai terpejam, ia merebahkan kepalanya di dekat lenganku.
SKIP
Malam telah berganti, cahaya rembulan kini mulai hilang berganti dengan cahaya mentari. Andi terbangun dari tidurnya, ia masih melihatku dengan mataku yang masih terpejam.
Andi segera pergi ke musholla menunaikan shalat subuh.
Sampai di musholla ia mengambil air wudhu, setelahnya ia menunaikan shalat subuh.
Sepuluh menit kemudian, Andi telah selesai. Ia mengangkat kedua tangannya sembari berdoa kepada Allah.
“Ya Allah hamba mohon kepadamu, sadarkanlah dan sembuhkanlah calon istri hamba, hamba tidak ingin melihat ia kesakitan aaammmiiin” Andi menyapukan tangannya ke wajah.
Setelah selesai shalat ia berjalan kembali ke ruangan UGD….
#thank you atas kunjungannya.
Semoga cerita ini dapat menambah inspirasi kalian.
Di tunggu part selanjutnya ya byeeeeee.
__ADS_1