
Hallo guys!!
Terima kasih masih setia dengan Bapak Tentaraku.
****
Di Koramil
“Pak Andi belum masuk juga” tanya komandan kepada beberapa anggota yang piket.
Semua berdiri “siap! belum pak” jawab salah satunya.
“Apa dia masih sakit?”
“Siap! iya pak, kemarin saya dan anggota lain enam orang sudah menjenguk pak Andi di rumah sakit”
“Di rumah sakit mana?”
“Siap! di rumah sakit Citra Medika”
“Baiklah” komandan berjalan kembali ke kantornya. Para anggota piket duduk kembali di meja piket.
“Kemarin siapa saja yang datang menjenguk” tanya pak Deril.
“Saya, pak Wahyu, pak Dani, pak Agung siapa lagi ya kemaren?? Oh pak Adam dan istrinya eum pak Rendi” jawab pak Aris
“Istrinya pak Adam sepupunya pak Andi kan”
“Iya saya juga baru tahu kemaren”
“Saya sudah lama tahunya, pak Adam dan istrinyalah yang menjodohkan Bu Kanza dan pak Andi”
“Oh iya??” “Oh jadi mereka berdua dijodohkan??. Tapi menurut yang saya lihat semalam cocok sih pak Andi dan bu Kanza. Pak Andi kan orangnya baik banget dan saya melihat bu Kanza itu baik juga orangnya tidak sombong lagi”
“Iya seperti itu lah orang baik pasti akan bertemu dengan orang baik pula. Saya belum ke sana ini, gak enak kan sama pak Andi tidak menjenguknya sakit”
“Datang saja pak, ke rumah sakit Citra Medika”
“Itulah rencananya nanti malam saya sama istri mau ke sana”
Komandan keluar lagi dari dalam kantornya
“Dimana tadi pak Andi di rawat??” Semua Anggota berdiri.
“Siap! di rumah sakit Citra Medika ruang VIP 3 pak” jawab pak Aris.
__ADS_1
“Oke terima kasih” ia kembali ke dalam kantornya lagi. Semua anggota duduk kembali.
****
Di Kantin rumah sakit
Ayah, mama dan kak Anti duduk bersama si sebuah meja mereka telah memesan beberapa minuman dingin.
“Ma sebenarnya ada apa sih” tanya kak Anti yang penasaran.
“Sebenarnya” air mata mama keluar.
“Kenapa mama menangis” kak Anti mengusap air mata mama “mama cerita dulu”
“Kenapa sih ma” tanya Ayah.
“Sebenarnya abang sakit parah, ada tumor di kepalanya” jawabnya sekali nafas.
“Hah” mulut ayah terbuka.
“Apa benar ma??” Anti juga ikut syok mendengarnya. “Jadi bagaimana ma??. Apa yang harus kita lakukan” air mata membasahi pipinya “Anti tidak mau melihat abang kesakitan seperti ini. Ayah” memegang lengan ayah “apa yang harus kita lakukan yah??”
Ayah hanya mengelengkan kepalanya hatinya benar - benar syok mendengar kondisi Andi.
“Tadi dokter menyarankan sama mama untuk segera dioperasi karena itu sedikit lagi akan menjadi tumor ganas dan kalau sampai tumornya menjalar kemana - mana pasti akan lebih sulit pengangkatannya” jelasnya.
“Ayah bagaimana??” Tanya mama melihat ayah sedari tadi hanya termenung matanya berkaca - kaca.
“A…ayah” mulutnya seakan berat untuk mengeluarkan kata - kata “aa…yah.. lakukan saja yang terbaik untuk Andi” ucapnya terbata - bata.
“Mama bingung harus ngomong ini sama Andi gimana, mama takut kalau dia akan ngedrop”
“Adek tahu masalah ini ma??” Tanya Anti lagi.
“Tahu… maka dari itu dia selalu saja menghibur Andi dan dirinya sendiri. Mama kasian melihat adek sepertinya dia terpukul sekali mengetahui keadaan abang”
“Sayangnya adek ke abang luar biasa ya. Kakak selalu berdoa abang bisa mendapatkan seorang wanita yang bisa menyayanginya dengan begitu tulus. Mungkin doa kakak sudah dikabulkan Allah sekarang. Makanya Allah mengirimkan Kanza mendampingi abang”
“Iya sayang, mama juga melihat itu. Dia menjaga abang di sini tanpa merasa lelah”
“Iya ma, maaf juga ya ma. Anti tidak bisa ikut menjaga abang. Kasian Zia kalau dibawa ke rumah sakit ini saja kakak tinggalin dia sama dek Mir”
“Iya tidak apa - apa, bahaya buat Zia kalau harus ke rumah sakit. Yah… ayo kita ke kamarnya abang”
“Duluan saja ya ma ayah, kakak bayar dulu sekalian beli cemilan buat adek dan abang”
__ADS_1
Ayah dan mama berjalan ke ruang Andi.
Cekreek…. Bunyi suara pintu kamar. Aku dan Andi melirik ke arah pintu melihat siapa yang datang. Mama dan ayah menghampiri aku dan Andi.
“Ayah” panggil Andi.
“Kamu bagaimana abang”
“Sudah baik - baik kok ayah, ayah apa abang sudah boleh pulang, ma??. Abang bosen di sini tidak bisa kemana - mana”
“Nanti ya sayang, kamu istirahat dulu di sini beberapa hari lagi” jawab mama.
“Iya deh ma”
“Yah ma silahkan duduk” aku mengambil kursi satunya lagi.
“Iya” ayah duduk di salah satu kursinya
“Terima kasih sayang” mama duduk di sebelah ayah. Sedangkan aku berdiri di sebelah kiri Andi di dekat tiang infus.
“Mama dan ayah ada yang mau dibicarakan sebentar”
“Apa yah” tanya Andi penasaran.
“Sebenarnya, ada tumor di kepala kamu” ucap ayah, air mata mengalir di pipinya.
“Apa yah” Andi syok mendengar tentang kondisinya “jadi karena ada tumor makanya abang sakit kepala, begitu maksud ayah” air mata terlihat mengalir di pipinya, ia menatap ke arahku. Aku ikut menangis melihat dan mengangguk pelan.
“Besok kamu dioperasi ya sayang, biar kamu sembuh kamu mau kan” ucap mama dalam tangisannya.
Deraian air mata membasahi pipiku, Andi dan kedua orang tuanya keadaan saat itu benar - benar mencekam. Sebenarnya aku tidak ingin hal ini terjadi, tetapi siapa yang bisa melawan takdir.
“Aku akan temani kamu sayang, kamu mau ya di operasi biar kamu gak kesakitan lagi” aku menggengam tangannya. “Kamu mau kan sembuh demi aku, mama dan ayah, mau sayangkan”
Andi mengangguknya pelan. “Ma, ayah” melirik ke arah keduanya mereka masih menangis air matanya tidak bisa dihentikan “maaf abang ya ma ayah sudah membuat kalian berdua sedih, maafin abang ya” menggenggam tangan kedua orang tuanya. Andi berbalik ke arahku “maaf abang ya sayang, sudah membuat kamu khawatir, harusnya abang menjadi lelaki yang kuat yang bisa selalu menjaga kamu tapi maaf sayang abang harus mengidap penyakit ini” menggenggam erat tanganku.
“Abang…” tanganku menggenggam erat tangannya “abang jangan ngomong begitu ya, kita bisa melewati semua ini sama - sama, adek akan temani abang”
“Terima kasih ya sayang, abang tidur sebentar ya abang lelah” ucapnya lalu memejamkan matanya. Aku mengusap air matanya.
Mama dan ayah keluar dari ruangan menenangkan dirinya. Sementara aku merapikan selimut Andi setelah itu aku berjalan ke sofa duduk di sana sendirian aku meringkuk badanku. Air mata kembali turun di pipiku. Kini dadaku benar - benar sengkak rasanya sangatlah sesak. Aku bingung harus menghadapinya dengan cara apa atau bagaimana. Aku harus berpura - pura tegar di depan Andi padahal hatiku sangatlah hancur.
#thank you atas kunjungannya.
Semoga cerita ini dapat menambah inspirasi kalian.
__ADS_1
Di tunggu part selanjutnya ya bye.