
Hallo guys!!
Terima kasih masih setia dengan Bapak Tentaraku.
****
Aku berjalan sendirian menulusuri parkiran khusus motor yang berada di sebelah utara parkiran mobil, pikiranku benar - benar kacau saat itu. Di pikiranku masih terngiang - ngiang bagaimana centilnya dokter Elita berbicara dengan Andi.
“Apa mungkin ya, dokter Elita itu benar - benar menyukai bang Andi” aku menendang batu kecil di pinggiran parkiran. “Tapi… kenapa harus Andi, dia kan milikku. Memangnya laki - laki di dunia ini cuma satu??“ terus menendang batu alhasil baaaam…..
“Siapa yang menendang sih” ucap seorang cowok yang berdiri di depan motornya yang terparkir “kamu ya” melirik ke arahku dengan tatapan tajam.
“Ah maaf” aku datang menghampirinya.
Cowok tersebut membukakan helmnya “Kanza… kamu Kanza kan??”
“Kamu Joni??, ya ampun Jon kemana saja” ternyata cowok yang terkena batu karena tendanganku itu adalah Joni Dafan, ia adalah teman sekelasku sewaktu SMP dan SMA.
“Ada nih aku” jawabnya kocak “kamu yang kemana saja, tidak pernah terlihat. Sudah selesai kuliahnya” tanyanya.
“Alhamdulillah sudah, kalau kamu sendiri??”
“Sudah juga, sekarang apa kegiatannya” tanyanya lagi.
Selagi aku mengobrol dengan Joni, mobil Andi dan orang tuanya lewat melintasi area parkiran motor.
Itu adek kan?? Lagi mengobrol sama siapa dia??, batinnya. Andi melihatku dari balik kaca jendela mobilnya.
Wajah Andi langsung berubah 360 derajat saat melihatku mengobrol begitu akrab dengan seorang pria dan Andi tidak mengenali pria tersebut yang membuatnya menjadi curiga dan berpikir yang aneh - aneh.
****
“Aku?? Jadi guru honorer sih di SMP kita dulu, kalau kamu?” aku menanyanya balik perihal kegiatannya setelah kuliah.
“Aku sekarang masih cari - cari tempat honor sih yang cocok dan menerima aku pastinya. Oh ya kamu di sini habis ngapain? Menjenguk siapa? malah lesu gitu lagi jalannya terus pakai tendang - tendang batu, untung yang kenanya aku coba kalau orang lain”
“Haha maaf ya aku tidak sengaja. Eum Aku habis menengok tunangan aku sakit” jawabku.
“Roni sakit??” Tanya Joni. Roni adalah teman sekelasnya Joni semasa SMA dari kelas XI, mereka berdua merupakan teman akrab dan Joni mengetahui tentang jalinan hubunganku dengan Roni selama ini.
“Kok Roni?? Bukan?? Bukan Roni. Aku sudah lama putus dari Roni” jelasku mengenai hubunganku dengan Roni beberapa tahun yang lalu.
__ADS_1
“Loh kok bisa?” Tanya Joni heran, karena ia berpikir hubunganku dengan Roni sebelumnya cukup akrab.
“Ya seperti itulah, sudah diambil orang” jawabku cengengesan.
“Mungkin belum jodoh, aku pikir kalian sudah ke jenjang berikutnya eh tidak tahunya malah sudah berakhir hubungannya, maaf ya aku tidak tahu” ucap Joni yang tidak ingin melukai perasaanku.
“Yasudah aku duluan ya” aku berpamitan dengan Joni kemudian melanjutkan perjalananku mengambil motorku.
SKIP
Aku telah sampai di tempat aku memarkirkan motor, lalu mengambil helm dan memakainya setelah itu aku menyalakan mesin dan menancap gas.
Setengah jam kemudian aku telah sampai di depan gerbang rumahku, aku memarkirkan motor di garasi, membuka helm meletakkannya di spion dan aku berjalan masuk ke dalam rumah.
“Kamu enggak sekolah?? Kenapa telat sekali pulang dari rumah sakitnya?” Tanya ayah yang melihatku berjalan masuk ke kamar.
“Iya ayah, tadi urusin bang Andi pulang dulu. Setelah ini kakak langsung ke sekolah karena jam terakhir yah hari ini jadi tidak apa - apa kalau misalkan telat sedikit” jelasku yang berdiri di depan pintu kamar.
“Oh oke, ayah keluar dulu ya” ayah lalu pergi begitu saja meninggalkan aku.
Aku membukakan pintu kamar, melemparkan tas ke tempat tidur dan memilih duduk sebentar.
Karena tidak sanggup memikirkannya lagi aku mengambil handuk, melangkahkan kakiku ke kamar mandi membuka kran shower. Rintikan air yang keluar dari shower perlahan turun membasahi kepalaku.
“Aaaaaa….” Teriakku bersama derasnya rintikan air mengalir di sekujur tubuhku, aku menyapukan air yang hinggap di wajahku. “Aku enggak mau begini, aku enggak mau hatiku terluka lagi”
Sepuluh menit kemudian aku keluar dengan memakai handuk di badanku, aku mengenakan seragam sekolah, kemudian aku berjalan ke depan cermin mengenakan sedikit make up “aku tidak bisa seperti ini, aku harus menjadi wanita kuat, aku harus menunjukkan kepada dunia kalau aku bisa melewati ini semua” bergumam sendirian di depan cermin. “Sebenarnya… aku rapuh tapi kalau Allah menyuruhku untuk kuat, kenapa tidak” itulah kata - kata motivasi yang terlintas di benakku. “Aku yakin aku bisa, kaepjjang” bahkan aku mengingat kata - kata kaepjjang dari Suga yang bisa diartikan seperti fighting atau semangat.
Triiiiiingg…. Suara notifikasi pesan masuk di handphonenku. Aku menoleh badanku ke belakang lalu berjalan mengambil handphoneku yang berada di atas ranjang, aku membuka isi chatnya.
Via chattingan
Andi
Nanti pulang sekolah adek kesini ya
Aku
Iya bang
Aku berjalan kembali ke cermin, mengambil parfume lalu menyemprotnya dan mengambil sedikit lotion lalu mengolesnya di kedua tanganku.
__ADS_1
“Aku kira bang Andi tidak menyuruhku lagi untuk bertemu dengannya” aku tersenyum menampakkan gigiku ke hadapan cermin.
Aku keluar dari kamar berjalan ke garasi mengambil motor, tak lupa aku mengunci pintu. Aku memakaikan helm di kepalaku lalu menyalakan mesin dan menancap gas.
SKIP
Aku telah sampai di sekolah, setelah memarkirikan motor dengan aman aku berjalan ke kantor tempat para teman - temanku berkumpul.
“Kenapa terlambat sekali hari ini?” tanya pak Said.
“Ah biasa pak hari ini jam terakhir” jawabku singkat lalu mengambil kursi dan duduk di samping bu Juli.
“Ciiiiee pak Said perhatian banget sama buk Kanza” ledek bu Fizza.
“Kan kekasih yang tak sampai bu Fizza” sambung bu Dewi lalu melirik ke arahku.
“Apa sih kalian ini, yang sudah berlalu biarlah berlalu yang terpenting hubungan kita sekarang sudah baik - baik saja, ya kan pak” ucapku melirik ke arah pak Said.
“Hari ini jam terakhir kita takziah ya ke rumahnya ibu Nuri” ucap bu Juli.
“Oh ya berarti enggak masuk dong” jawabku yang merasa kecewa karena terlanjur pergi ke sekolah padahal jam terakhir ditiadakan.
“Kenapa bu Kanza kok kecewa begitu mendengarnya” tanya bu Juli yang memperhatikan raut wajahku.
“Ah enggak bu” jawabku mengelak.
“Oh ya apa pak Andi sudah dibawa pulang?” tanya bu Fizza mengalihkan pembicaraan.
“Sudah bu, Alhamdulillah dia sudah bisa pulang tadi pagi, saya habis dari sana tadi bantuin dia” jelasku. Ketika mendengar nama Andi raut wajah pak Said langsung berubah.
Tak terasa bel ganti pelajaran berbunyi teeeeeeeeeet… suara belnya lain dari pada biasanya yang membuat siswa dan siswi langsung berhamburan keluar kelas dari kelas masing - masing untuk pulang lebih cepat dari biasanya mereka telah siap dengan tas masing - masing di punggungnya.
“Kalian pergi semua kan ke tempat bu Nuri” tanya bu Dewi kepada kamu semua.
“Saya enggak bu, saya mau ke rumahnya bang Andi” jawabku yang bangun dari tempat duduk “ aku titip ini saja ya” aku menitipkan amplop kepada bu Dewi untuk diberikan kepada bu Nuri “ya sudah saya duluan ya” aku berjalan ke parkiran mengambil motor, memasangkan helm lalu menancap gas.
#thank you atas kunjungannya.
Semoga cerita ini dapat menambah inspirasi kalian.
Di tunggu part selanjutnya ya byeeeeee.
__ADS_1