
Hallo guys!!
Terima kasih masih setia dengan Bapak Tentaraku.
******
Jam menunjukkan pukul 8.30 Triiiing….. triiiiiiing….. triiiiiing bunyi alarm begitu kencang terdengar di telingaku. Aku segera bangun mengambil handuk lalu melangkahkan kakiku ke kamar mandi karena masih setengah tidur alhasil aku menabrak pintu kamar mandi
“Aw…” ringisku memegang dahiku. Aku segera masuk ke dalam kamar mandi tanpa menghiraukan dahiku.
Beberapa menit kemudian aku keluar dari kamar mandi, memakai seragam sekolah lalu memakai sedikit make up.
Kriiing … kriiiing… kriiing… suara handphoneku kembali berbunyi aku melangkahkan kaki ke arah meja mengambil handphone yang terletak di atasnya.
Via telpon
Aku
Assalamualaikum
Andi
Waalaikumsalam.. sayang abang mau on the way ke sana ya. Kamu sudah siap - siap kan?
Aku
Iya sayang ini lagi siap - siap, abang sampai ke sini adek sudah siap.
Andi
Dandan yang cantik ya sayangku, cintaku, bohateku.
Aku
Memangnya selama ini aku enggak cantik
Andi
Cantik sih, yasudah abang mau keluarin mobil dulu dari garasi
Aku mematikan panggilannya lalu berjalan ke arah cermin melanjutkan make up ku yang tertunda sebentar. Setelah selesai memakai make up aku memakaikan parfume
“Semprot yang banyak Za” ucapku menyemprotkan parfum ke sekujur tubuhku.
Beberapa menit kemudian, handphoneku berdering kembali.
Via telpon
Andi
Sayang… abang sudah di depan rumah kamu ini, kamu keluar terus ya
__ADS_1
Aku
Iya abang, ini adek lagi jalan keluar
Aku menutup panggilannya, mengambil tas lalu aku berjalan keluar kamar menuju pintu utama, memakai sepatu lalu aku mengunci pintu dan berjalan terburu - buru ke gerbang. Aku membuka pintu mobil sebelah kiri lalu perlahan melangkahkan kaki masuk ke dalamnya.
“Wangi sekali” ucap Andi menghirup aroma tubuhku.
Aku menutup pintu
“Kan jalan sama ayang jadi harus wangi dong, nanti kalau tidak wangi dikatain gembel lagi. Soalnya ayang aku cerewet sekali orangnya” ucapku sedikit meledek.
“Memangnya abang cerewet ya sayang?” Andi menyetirkan mobilnya.
“Iya dong, cerewet banget malahan” ledekku lagi “tapi walaupun dia cerewet begitu, dia sayang banget sama aku begitu pun aku. Aku juga sayang banget sama dia” aku melirik ke arah Andi yang matanya terfokus ke depan.
“Bisa saja ya kamu” wajah Andi terlihat salting, tangan kirinya mengelus pelan kepalaku “nah itu kamu tahu kalau aku sayang banget sama kamu, makanya kamu jangan pernah macam - macam di belakang aku ya” mengelus kepalaku pelan.
“Siapa juga yang mau macam - macam. Aku itu wanita setia” ucapku membanggakan diriku.
“Setia?? Setiap tikungan ada maksud kamu”
“Hah!!! Pinter banget sih kamu” aku mencubit pipinya Andi “by the way sayang pipi kamu sudah kembali tembam ya” aku memegang pipinya lagi.
“Iya, sudah bisa kamu cubit - cubit lagi kan”
“Tahu saja sih kamu. Sayang adek pengen deh makan - makan sama kamu. Makan sate gitu”
“Terserah sama abang deh kan abang yang sibuk. Sibuk piket lah sibuk jaga kantor biar gak hilang lah”
“Tapi kan sesibuk - sibuk sibuknya abang, abang pasti meluangkan waktu untuk kamu sayang”
“Hmmm… by the way any way bus way abang suka sate ayam? sate sapi? sate kambing? apa sateyusnya sama aku?” tanyaku begitu serius dan ujung - ujungnya ambyar.
“Sateyusnya sama kamu lah” ucap Andi sambil tertawa “sudah pandai ya ngegombalnya, belajar dari mana sih sayang” Andi mengambil tanganku lalu menggenggamnya dengan erat “aduh meleyot nih abang”
“Biasa lah” ucapku menyombongkan diri.
Tanpa terasa, aku dan Andi telah sampai di gerbang sekolah, Andi menarik rem tangan memarkirkan mobil di pinggiran jalan. Aku mengambil tas dan bersiap - siap turun.
“Adek sekolah dulu ya” aku mengambil tangan kanan Andi lalu mencium punggung tangannya.
“Metuah…” ucapnya dengan tersenyum manis.
Aku membalasnya dengan nyengiran tengil. Aku membuka pintu mobil melangkahkan kakiku keluar.
“Nanti pulangnya kamu telpon abang ya”
“Iya abang, kamu hati - hati ya. Have a nice day ya sayang” aku menutup pintu mobil lalu Andi membukakan kaca jendela mobil. Aku melambaikan tanganku, Andi membalas lambaian tanganku lalu menutup kaca mobil kembali dan menancap gas.
Aku berjalan memasuki gerbang sekolah, melewati kantorku menuju kantor utama untuk melakukan finger print.
__ADS_1
“Kenapa jalan kaki bu Kanza?” tanya bu Dewi yang duduk di teras kantor ia memerhatikanku.
“Tadi diantar bu, aku ke sana dulu ya finger print” aku berjalan ke kantor utama dengan terburu - buru.
Aku melakukan finger print dengan jari jempolku
Terima kasih, ucap finger print, setelah selesai melakukan finger print sebagai absen datang aku berjalan kembali ke kantor.
Aku meletakkan tas di atas meja lalu mengambil kursi dan bergabung dengan bu Dewi, bu Fizza dan bu Juli yang duduk di teras kantor.
****
Andi telah sampai di kantornya, ia memarkirkan mobilnya di halaman koramil. Setelah itu, ia keluar dari mobil berjalan ke dalam kantor tak lupa ia melakukan absen datang dengan finger print.
“Pak Andi di panggil komandan” ucap pak Danni menghampiri Andi yang sedang duduk di kursi panjang.
“Kenapa ya?” tanya Andi heran.
“Kurang tahu juga saya pak, mending bapak segera ke ruangan komandan” pak Danni pergi meninggal Andi.
Dengan sigap Andi berjalan ke dalam ruangan menemui pak Rusdi.
“Permisi pak” Andi mengetuk pintu pelan.
“Silahkan masuk” ucap pak Rusdi dari dalam ruangan.
Andi berjalan masuk ke dalam ruangan setelah pak Rusdi mempersilahkannya “silahkan duduk”
“Siap pak” Andi duduk di hadapannya.
“Ini surat pemanggilan latihan” ucap pak Rusdi menunjukkan sebuah amplop berisi surat panggilan tugas.
Andi mengambil amplopnya lalu membaca suratnya.
Minggu depan selama dua tahun, batinnya
“Izin pak, apa panggilan latihan ini langsung dilakukan minggu depan. Bagaimana dengan rencana pernikahan saya pak” tanya Andi wajahnya terlihat begitu cemas.
“Sepertinya kamu harus menunda pernikahannya, tidak ada cara lain. Karena surat perizinan nikah maksimal dua bulan baru selesai dan sekarang kamu baru lulus di tahap 1 yaitu surat syarat nikah yang di keluarkan dari koramil ini kan?” ucap pak Rusdi.
“Siap ndan, terima kasih infonya saya mohon izin” Andi bangun dari kursi lalu berjalan keluar dari ruangan. Perasaan Andi benar - benar kacau, ia harus menunda pernikahannya denganku dalam jangka waktu dua tahun ke depan.
Andi duduk di kursi panjang “ya Allah bagaimana ini? apa adek bisa mengerti dengan ini semua. Apa dia mau menunggu aku selesai latihan. Kalau aku tidak mengambil kesempatan ini, semuanya bisa hangus tapi kalau aku mengambil kesempatan ini bagaimana dengan rencana pernikahanku dengan Kanza” Andi benar - benar bingung dengan keadaan saat ini yang ia rasakan.
“Kalau seandainya aku bukan tentara pasti syarat menikah itu gampang diurus. Tapi… karena aku seorang anggota abdi negara aku harus bisa menyelesaikan berbagai persyaratan itu. Karena aku ini menjadikan Kanza itu sebagai istriku yang sah baik secara agama, adat maupun negara. Bagaimana pun aku harus berdiskusi dengannya atau pun dengan semua anggota keluarga aku dan dia. Nanti setelah selesai dia mengajar aku harus menghubungi dia dan mengajaknya membicarakan ini semua” ucap Andi lalu berjalan ke luar kantor dan duduk bersama anggota yang berada di luar.
#thank you atas kunjungannya.
Semoga cerita ini dapat menambah inspirasi kalian.
Di tunggu part selanjutnya ya byeeeeee.
__ADS_1