Bapak Tentaraku

Bapak Tentaraku
Bab 31


__ADS_3

POV


Deg! Aku melihat Andi duduk bersebelahan dengan seorang wanita. Suhu badanku terasa panas dingin, kakiku terasa bergetar. Namun aku memaksakan diri berjalan ke arah mereka menunjukkan kalau aku baik - baik saja di depan mereka, aku tidak ingin mereka mengetahui kerapuhan hatiku. Aku menarik kursi dan duduk di depan Andi.


“Kamu pesan dulu saja” seru Andi.


“Iya” jawabku cuek. Aku memesan coklat dingin untuk menenangkan perasaanku. “Kamu mau ngomong apa”


“Aku jatuh cinta dengan Lia, maaf kalau aku tidak lagi mencintaimu” jelasnya melirik ke arahku.


Perasaanku seperti tersambar petir, jantungku seakan berhenti berdetak. Aku benar - benar tidak percaya omongan itu keluar dari mulutnya Andi. Air mataku perlahan jatuh.


“Maksud kamu apa” tanyaku memastikan.


“Iya seperti yang aku bilang tadi, aku sudah tidak mencintaimu lagi” jelasnya sekali lagi. Lia memegang erat lengan Andi.


Aku berusaha damai dengan perasaanku. Aku baik - baik saja, batinku.


“Jadi kenapa kamu bertunangan denganku kalau kamu tidak mencintaiku kamu malah mencintai perempuan lain, maksud kamu apa membuat seperti itu kepadaku. Apa aku punya salah sama kamu”


“Ya gimana ya, perasaan itu benar - benar datang dengan sendirinya”


“Kamu tahu gak arti tunangan itu apa, aku rasa kamu belum paham dengan istilah tunangan. Aku rasa kamu gak tahu juga seperti apa komitmen itu”


“Iya… terus aku harus bagaimana, aku juga gak ngerti sama perasaanku. Yang jelas sekarang aku mencintai Lia” jelasnya mempertegas.


Aku tidak tahu harus mengatakan apa lagi dadaku benar - benar sengkak. Ya Allah aku harus bagaimana, batinku.


“Iya gak apa - apa, kalau memang kamu sudah tidak mencintaiku lagi, aku ikhlas mungkin kamu bukan jodohku. Aku berterima kasih karena kamu pernah menyayangiku”


Andi tersenyum ke arahku.


“Aku akan melepas cincin ini” aku memegang cincin di jari manisku, berusaha melepasnya.


“Jangan” teriak Andi “kamu kan ditunangkan oleh mama secara baik - baik, jadi sebaiknya kamu temui mama untuk membicarakan hal ini”


“Iya baiklah” aku tidak jadi melepas cincin di jari manisku.


“Bang, habis ini kita kemana lagi” tanya Lia yang dari tadi tidak melepas genggamannya dengan Andi.


Mereka terus saja memperlihatkan kemesraannya di hadapanku.


***


Tiba - tiba lampu dalam ruangan cafe mati lalu terdengar suara musik yang cukup keras. Lima menit kemudian musik itu mati, lampu pun hidup kembali.


Aku melihat ke arah belakang


Salah satu waiters membawa sebuah kue yang di atasnya terdapat lilin. Dia berjalan ke arahku.


“Selamat ulang tahun sayang” ucap Andi tiba - tiba.


Air mataku kembali terjatuh. Ini maksudnya apa, batinku. Andi dan Lia tertawa dengan keras.


“Aku berhasil yeee” Andi meloncat - loncat dan tertawa terbahak - bahak.


Aku memasangkan wajah bingung. Waiters meletakkan kue itu tepat di hadapanku.


“Kok bingung sih sayang” tanya Andi. “Abang cuma ngerjai kamu tahu, dikira selingkuh beneran ya kali”

__ADS_1


“Iya kak, kenalin aku Lia sepupunya bang Andi”


“Hah” mataku melotot ke arahnya.


“Aku sengaja ngerjain kamu, hari ini kamu ulang tahunkan”


“Oh ya” aku lupa dengan hari ulang tahunku, aku sibuk dengan kegalauanku.


“Selamat ulang tahun ya sayangku, calon istriku, calon ibu persit ini. Semoga ditahun ini kamu akan menjadi pribadi yang lebih baik lagi, menjadi calon istri yang baik, yang bisa mengurus rumah tangga kita yang paling penting bisa mengurus aku dan Safa calon anak kita” nyengir kuda.


“Ya ampun” air mataku terjatuh lagi kali ini bukan karena kesedihan tapi karena rasa terharu.


“Bang aku pulang ya, tugas aku sudah selesai kan, selamat ulang tahun ya kak” memelukku “maaf sudah mengerjai kakak”.


“Makasih dek, iya gak apa -apa tapi lain kali jangan ya”


“Iya kakak, itu bang Andi yang maksain aku” Lia mengambil tas lalu berjalan ke luar cafe.


“Hehe sayang” Tersenyum ke arahku.


Lia meninggalkan aku dan Andi.


“Sayang duduk dulu” Andi mengajakku duduk kembali.


“Kamu jahat banget sih jadi orang, kamu gak tahu itu trauma aku , kamu mau buat aku trauma lagi” aku sangat marah dengan Andi yang telah mengerjaiku.


“Gak sayang, maaf ya”


“Gak mau lah” jawabku masih kesal dengan perbuatan yang dibuat Andi. “Seharusnya kalau kamu mau ngerjain aku gak kek gini caranya, ini terlalu menyakitkan tahu gak” aku balik marah dengan Andi.


“Ih maafin lah” rengek Andi.


“Kok kamu beneran marah sih sayang, aku kan gak ada niat selingkuh dari kamu. Lagian Lia kan sepupu aku” jelas Andi sejelas - jelasnya, raut wajahnya berubah menjadi khawatir setelah aku memarahinya.


“Iya tapi kan kamu bisa pakai cara lain buat ngerjain aku, kamu benar - benar gak ngerti sama perasaan aku. Aku kecewa sama kamu” wajahku terlihat sangat menegangkan.


“Sayang…., aku mohon maafin aku ya janji besok - besok gak akan seperti itu lagi”


“Kalau besok kamu gak akan begini lagi, kenapa hari ini kamu melakukan ini semua”


“Ya Allah sayang, please lah” memasang wajah melas.


Aku tersenyum kecil melihat Andi yang memohon maaf kepadaku. Aku melihat wajahnya yang sangat takut akan kemarahanku, tawaku pecah.


“Kamu ngerjai aku” Andi mendengar tawaku.


“Kamu lucu sayang, wajah kamu itu loh sayang gemes banget” aku tidak bisa berhenti menertawai Andi. Dia berhasil mengerjaiku namun aku juga berhasil mengerjainnya balik.


“Jahat banget sih kamu” menarik hidungku.


“Dia mah…. Main - main tarik hidung aku, gimana kalau hidung aku gak mancung lagi nanti” aku memegang hidung.


“Memangnya hidung kamu mancung sayang, bukannya pesek” gerutuknya.


“Iya mancung dong sayang, mancung yang tertunda” jawabku diiringi tertawa.


“Oh iya sayang aku punya hadiah buat kamu” mengeluarkan sebuah kotak kecil lalu memberinya kepadaku.


“Apa ini sayang” tanyaku, penasaran dengan isi di dalam kotaknya.

__ADS_1


“Buka saja sayang” menyodorkan kotak kecil di hadapanku.


Aku membuka kotak yang berisi sebuah cincin dengan desain yang cukup mewah. “Wow sayang bagus banget, adek suka”


“Itu abang sendiri yang mendesainnya, tapi yang buat bukan abang sih” Andi mendesain sebuah cincin yang simpel tapi elegant, ukurannya pas di jari tengahku menemani cincin tunangan darinya. “Abang pakein ya” mengambil cincin di kotak lalu memasangnya di jari tengahku. “Wow cantik banget sayang di jari kamu”


“Makasih ya sayang” melihat jari tanganku sendiri memutar - mutarnya di hadapan wajahku.


“Sa…yang … sayang” panggilnya dengan sangat mesra.


“Apa…”


“Potong dong kue nya pengen abang, ngiler lihatnya”


Aku tertawa dengan omongan Andi, aku sudah menjawabnya dengan cukup serius namun dia malah membuat candaan.


“Iya abang, dasar anak hutan gak bisa lihat makanan enak langsung keluar itu ingusnya”


“Eh enggak ya” mengelap hidungnya yang tidak ada ingusnya.


Aku mengambil pisau lalu memotong kue meletakkannya di atas piring lalu memberikannya kepada Andi.


“Suapin dong” membuka mulutnya lebar - lebar.


“Gak ah… malu, itu banyak orang” aku menolak menyuapinya.


“Kok malu sih, kan kita gak mencuri”


“Duh receh banget sibapak” aku mengambil secuil kue lalu menyuapnya ke dalam mulut Andi.


“Ya Allah ini buat nyangkut di gigi saja enggak ada” gerutuknya kesal dengan potongan kue yang aku masukkan ke dalam mulutnya.


“Ya udah ni amp…” aku menyuapnya lagi kali ini dengan ukuran yang lebih besar sedikit dari sebelumnya.


“Sayang ah…, ini mulut aku udah bukanya lebar banget loh kira - kira 20 cm lah kamu malah nyuapinnya kecil banget” protesnya.


“Uluuluulu….” Aku mencubit pipinya “sayang pipi kamu jadi tembam sekarang ya, sudah berapa hari ya aku gak ketemu sama kamu”


“Masa sih, tapi pasti aku tambah ganteng sekarang kan, terus kamu makin cinta deh sama aku”


“Yee siapa bilang”


“Kamu gak dengar tadi aku sendiri yang bilang”


“Gak ada yang muji kamu ya sayang, makanya muji diri sendiri”


“Gak juga, kan aku memang ganteng dari”


“Sedotan” jawabku memotong omongannya.


“Kamu ya” menarik hidungku lagi.


“Sayang pulang yuk sudah mau malam ini”


“Iya ayuk”


#thank you atas kunjungannya.


Semoga cerita ini dapat menambah inspirasi kalian.

__ADS_1


Di tunggu part selanjutnya ya bye.


__ADS_2