
Hallo guys!!
Terima kasih masih setia dengan Bapak Tentaraku.
*****
“Kamu mau pesan apa sayangku” ucap Andi dengan begitu lembut, ia menatap wajahku.
“Seperti biasa sayang, bakso telur”
“Abang pikir kamu mau ganti menu lain” cengengesan melirik ke arahku.
“Itu saja sayang, karena bakso telur itu segalanya”
“Segalanya untuk menghasilkan pipi seperti bakpau ini ya sayang” mencubit pipiku.
“Jangan….” Aku memegang pipiku “Nanti kempesy”
“Abang isi gas helium nanti” nyengir kuda andalannya.
“Abang pikir pipi adek balon bisa diisi gas” ucapku dengan gaya ibu - ibu kost yang paling judes sedunia.
“Enggak… nanti ada cara lain untuk mengembangkan kembali pipiku kalau kempes” tambah Andi dengan nada bicaranya yang genit.
“Pastikan pasti” aku menunjuk manja wajahnya “pasti travelling itu otak”
“Eh tidak ya” cengengesan “kamu iya, abang ngomongnya lain kamu mikirnya lain”
“Ah tahu lah gelap”
“Suka banget sayang sama yang gelap - gelap” Andi tambah meledekku.
“Apa sih” gerutukku.
“Yasudah” senyum “jadi minumnya apa?”
“Biasa” jawabku cuek.
“Es jelok?? Dingin”
“Kan es sayang, ya pasti dinginlah. Memang ya ternyata bapak Andi ini orangnya tidak pinter - pinter amat ya”
“Wesh jangan salah sayang, tapi setidaknya abang lebih pinter sama kamu”
__ADS_1
“Apa anda bisa membuktikannya bapak Andi?” Aku menantang Andi.
“Nanti ya, sekarang kita makan dulu. Pak” memanggil pemilik warung dengan melambaikan tangannya.
Waiters datang menghampiri lalu mengambil kembali buku menunya.
“Sayang…” panggilku cukup mendayu “adek mau jalan - jalan begitu”
“Aneuk manyak nyo ban puleh saket ka dikalei jak maen (anak kecil ini, baru sembuh sakitnya sudah mintanya jalan - jalan). Kamu mau kemana sayang?”
“Abang kan nanti mau pergi lama itu, adek maunya kita bisa jalan - jalan dulu”
“Boleh, bagaimana kalau kita mengajak keluarga kita semua” ucap Andi memberikan ide cemerlang.
“Jangan sayang, nanti kita harus menyewa mobil truk” nyengir kuda andalan Andi.
“Enggak semua keluarga juga sayangku, cintaku, bohateku” Andi terlalu gemas denganku. “Maksud abang, abang mengajak mama, ayah, kak Anti dan suaminya dan adek mengajak mama dan ayah”
“Oooooo” ucapku bibirku membentuk bulat seperti huruf o.
“Heh” Andi menghela napasnya dengan sangat berat.
“Kalau begitu sih owkeh” aku menyetujui usulan yang diberikan Andi.
Selang beberapa menit kemudian makanannya datang. Aku mengambil mangkokku yang berisi bakso telur dan Andi dengan mie ayamnya. Aku mulai meraciknya dengan beberapa sendok cabai dan saus dan lagi - lagi Andi memarahiku karena aku terlalu banyak memasukkan cabai.
“Gak pedas sayang” mengaduk isi mangkoknya lalu mencicipinya.
“Iya mulut kamu tidak pedas, karena mulut kamu itu sudah terbiasa makan pedas tapi kamu tidak memikirkan nasib organ pencernaan kamu? lambung kamu? usus kamu? Katanya kamu guru IPA pasti paham dong?”
Aku hanya mengangguk setiap omongan Andi, aku terlalu bersemangat menyeruput mie bakso kesukaanku itu.
“Sayang makan terus nanti dingin, kalau lagi makan jangan berbicara nanti masuk setan ke dalam mulut kamu. Nah, itu yang lebih berbahaya” aku mencari alasan agar Andi tidak lagi menceramahiku. Sungguh kalau dia sudah mengomel - ngomel itu bisa menghabiskan 24 sks.
“Ish dibilangin juga ya, bandel banget. Maklum lah anak pertama keras kepala”
“Kalau kepalanya tidak keras bisa bocor sayang” jawabku yang membuat Andi semakin kesal. Aku kembali menyeruput mienya dan menggigit baksonya. Andi memperhatikan setiap suapanku.
“Kalau sudah ketemu bakso, sudah deh aku jadi nomor sekian di mata kamu” memandang wajahku yang sedang menikmati bakso. Aku dengan nakalnya mengambil sesendok sambal lalu menambahkan ke mangkoknya Andi. Mata Andi masih menatap wajahku tanpa sadar ia menyendok kuah lalu terambil sambal yang aku masukkan sebelumnya.
Ukhuk…ukhuk…ukhuk….
“Minum… minum sayang” aku memberikan gelas minumannya, Andi meneguk minumannya. “Hati - hati minumnya” aku bangun dari kursiku lalu berjalan ke belakangnya. Aku mengelus pelan bagian pundaknya “lain kali jangan makan yang terlalu pedas ya sayang, kamu tidak kuat” Aku duduk kembali ke kursiku. Aku mengambil sedikit kuah mie yang ada di mangkok Andi “nah kan kamu pedas banget kuahnya” ucapku yang berpura - pura pedas setelah mencicipi mie ayam Andi.
__ADS_1
“Perasaan tadi tidak pedas deh, tapi kenapa tiba - tiba jadi pedas. Kamu” melirik ke arahku yang sibuk menyeruput kuah “pasti kamu mengerjai abang kan? Ngaku kamu?”
“Aku” menunjukkan diriku sendiriku “fitnah ya kamu nuduh - nuduh aku. Aku kan wanita sederhana, baik hati dan tidak sombong” lirihku.
“Awas kamu ya” Andi kembali memakan mienya “sebenarnya abang suka banget makanan pedas dulu, cuma abang sudah pernah terkena penyakit lambung jadi abang sekarang sudah berhenti makan makanan pedas. Abang mau menjaga kesehatan abang, apalagi sekarang ada orang yang menyayangi abang. Jadi abang tidak mau melihat orang yang abang sayang dan menyayangi abang sedih karena abang meninggal duluan” ucap Andi tiba - tiba, sampai membuatku berhenti menyeruput mienya yang hanya tinggal beberapa suapan lagi.
“Kenapa abang berbicara seperti itu sih?” Tanyaku, aku mendadak menjadi sedih mendengar setiap kata yang keluar dari mulutnya.
“Enggak… abang cuma ngomong yang sebenarnya. Abang ingin menjaga kesehatan tubuh abang, supaya abang bisa lebih lama lagi hidup bersama dengan orang yang abang sayang dan menyayangi abang” ucap Andi sekali lagi.
Aku meneteskan air mata “maafin adek ya kalau adek selalu membangkang omongan abang, sungguh adek tidakk bermaksud seperti itu dan jujur adek tidak pernah berpikir seperti itu”
Andi tertawa ngakak mendengar ucapanku “kalau abang ngomong seperti itu baru kamu mau mendengar ya” ucapnya ketawa Andi begitu keras terdengar.
“Apa sih, kamu tidak jelas sayang”
“Kamu yang tidak jelas. Kamu kalau abang kasih tahu apapun sampai berbusa - busa mulut abang kalau caranya dengan membentak - bentak kamu pasti kamu tidak akan mendengarkan. Tapi alhamdulillah kalau kamu abang kasih dengan cara seperti ini baru kamu bisa memikirkannya. Kamu suka kelembutan sayang ya” Andi mengelus pelan kepalaku.
“Jadi abang mengerjai adek”
“Tidak mengerjai sih, itu memang faktanya kan??”
“Iya deh” aku kembali menghabiskan sisa mie baksoku yang sedari tadi seakan terus memanggil - manggilku.
“Jadi, kalau hari minggu ini kita jalan - jalan. Bagaimana menurut kamu?” Tanya Andi menatapku setelah menyeruput es jeruknya.
“Boleh sayang, lebih cepat lebih baik”
“Abang sih kalau bisa hari ini terus abang perginya”
“Kan tidak bisa seperti itu terus sayang, kita harus konfirmasi dulu sama orang tua kamu dan orang tua adek. Belum lagi dengan kak Anti dan suaminya yang super sibuk”
“Iya sih, nanti pokoknya kita harus mengajak terus mereka”
“Siap abang”
Setelah menghabiskan mie masing - masing, Andi berjalan ke kasir untuk membayar pesanannya. Andi kembali ke meja di mana aku berada. Setelah itu, aku dan Andi berjalan ke parkiran mobil.
SKIP
Andi dan aku memasang seat belt masing - masing. Andi menyalakan mesin lalu menancap gas perlahan.
#thank you atas kunjungannya.
__ADS_1
Semoga cerita ini dapat menambah inspirasi kalian.
Di tunggu part selanjutnya ya byeeeeee.