
Hallo guys!!
Terima kasih masih setia dengan Bapak Tentaraku.
“Kenapa mesti malu” tanya Andi melirik ke arahku, dia begitu nakal menatap wajahku “nanti juga kamu bakalan berhadapan dengan si angry bird ini” Andi tidak memindahkan tangannya, ia masih saja meletakkan tangannya di atas sesuatu yang dia sebut angry bird itu.
“Ish” aku melotot ke arah Andi “ngomong apa sih kamu, gak sopan banget ada kak Anti itu” protesku melirik ke arah kak Anti lalu menatap tajam wajah Andi.
“Oh…. jadi kalau enggak ada kak Anti boleh ngomongnya sayang, begitukan maksud kamu?” Andi mencoba menggodaku dia terlihat begitu genit di hadapanku.
“Sorry guwe enggak mau jadi nyamuk” teriak kak Andi di tengah - tengah antara aku dan Andi.
“Keluar sana, aku ingin membahas sesuatu yang penting sama adek” Andi mencoba mengusir kakaknya.
“Kak…. jangan….” aku memegang lengan kak Anti menghentikan langkahnya agar tidak keluar “kakak jangan keluar adek takut” aku merangkul erat lengan kak Anti. Langkah Andi terus mendekati tubuhku, Lalu aku berdiri tegap di hadapan Andi daaaaaaan “bismillahi rahman rahim Allaahu Laailaaha illa huwal hayyul qayyuum. Laa ta'khudzuhu sinatuw walaa nauum. Lahuu maa fissamaawaati wamaa fil ardhi. Mangdzalladzii yasyfa'u 'indahuu illai bi idznih. Ya'lamu maa baina aiydiihim wamaa kholfahum walaa yukhiithuuna bisyayin min 'ilmihii illaa bimaa syaaa a. wasi'a kursiyyuhus samaawaati wal ardho. Walaa yauduhuu khifdhuhumaa wa huwal'aliyyul 'adhiim” bacaku dengan cepat lalu menyapukan tanganku ke wajahnya Andi “jin… jin… setan….. setan… keluarlah jangan ganggu bang Andi, dia masih polos dan masih suci” ucapku mataku merem melek.
Andi tertawa terbahak - bahak mendengar aku membacakan ayat kursi untuknya “abang enggak kesurupan sayang, kenapa mesti di ruqyah sih?” ucapnya dengan tawanya yang semakin keras.
“Ada - ada saja kamu dek” ucap kak Anti yang juga ikut menetawaiku, dia bahkan sampai mengeleng - gelengkan kepalanya.
Aku menggaruk kepalaku karena salah tingkah ditertawakan oleh Andi dan kak Anti.
“Sumpah ngakak banget abang sama kamu sayang. Jangan - jangan setelah kita nikah nanti waktu malam pertama, waktu kita mau begituan kamu malah ruqyah in abang lagi” ledek Andi tidak berhenti tertawa.
“Ya habisnya kamu genit banget sama aku, makanya aku ruqyah biar keluar jin jin atau setan setan yang merasuki kamu” jelasku dengan polosnya “iya itu nanti lah kan sudah sah beda ceritanya”
“Iya iya dek, kakak setuju banget memang banyak banget setan di tubuh si abang” kak Anti ikutan meledek adiknya.
“Kompak ya, kalau urusan ngatain aku bisa kalian ya, bisa kompak begitu. Tapi untunglah aku itu sabar banget orangnya jadi aku akan membiarkan kalian mengatai aku” ucap Andi tidak membantah ledekkan dari aku atau pun kak Anti.
“Nah gitu dong” kak Anti mengacungkan jempolnya.
“Tapi sebagai permintaan maafnya kalian berdua harus pijitin aku” Andi memegang lengannya.
“Wait… yang mau minta maaf siapa ya. Siapa kak?” aku melirik kak Anti.
“Ya kalian berdualah, kalian kan banyak salah sama aku. Jadi aku saranin kalian berdua minta maaf sekarang sama aku, mumpung sekarang aku lagi baik” ucap Andi yang menginginkan aku dan kak Anti meminta maaf pada dirinya.
__ADS_1
Ckkrrkk…. suara pintu terbuka “Assalamualaikum” mama dan ayah memasuki ruangan “sudah beres packing barang - barangnya”.
“Sudah ma, tinggal kulkas dan sofa yang tinggal” ucap Andi penuh semangat.
“Kulkasnya mau kamu bawa pulang juga bang?” tanya mama heran.
“Iya, mau abang letakkan di kamar” jawab Andi dengan tengilnya.
“Astagfirullah masyallah allahu akbar. Kenapa anak hamba senorak ini ya Allah” ucap mama.
Aku, kak Anti dan ayah tertawa ngakak melihat Andi.
“Sepertinya dokter ada salah suntik obat deh buat kamu bang” ucap Ayah di sela tertawanya.
“Iya yah, benar banget dokter Elita kan suka sama abang jadi dijampi - jampi sedikit biar si abang gila” ucap kak Anti ngasal.
“Huust…. Kamu kak, jangan berbicara seperti itu. Nanti kalau dokter Elita dengar bagaimana?? bisa dituntut kamu” ucap mama memberi peringatan agar kak Anti tidak mengasal dalam berbicara apalagi sampai menuduh orang lain berbuat jahat.
“Setan kali ma, kalau dokter itu bisa sampai mendengar omongan kita” kak Anti terlihat begitu kesal dengan sosok dokter Elita tersebut.
“Abang enggak kuat jalan, kak adek tolong” Andi berpura - pura lemas supaya dapat digotong olehku dan kak Anti.
“Manja banget sih kamu” ucap kak Anti.
“Iya padahal yang paling gede badannya dia” ledekku.
“Lemes bestie belum disemangati ayang” ucap Andi.
“Ayang siapa, dokter Elita maksud kamu” tanyaku sinis.
“Ish apa pula dokter itu, ya kamu lah sayangku, cintaku bohateku” ucap Andi dengan nyengir kuda andalannya yang selalu membuatku terpana dengan giginya yang rapi.
Aku tersenyum terpaksa ke arah Andi. Lalu Aku berdiri di sebelah kanan Andi, merangkul pinggangnya, tangannya merangkul bahuku dan kak Anti berada di sebelah kiri Andi ia juga merangkul pinggang Andi dan tangan Andi merangkul bahu kak Anti. Kami semuanya berjalan ke arah parkiran mobil. Sampai di lobi….
“Pak Andi” dokter Elita yang sedang berjalan berhenti lalu menyapa Andi “sudah mau pulang ya” tanyanya yang hanya melirik ke arah Andi.
“Iya dok” jawab Andi singkat.
__ADS_1
Dari samping kanan aku mencubit pinggang kirinya Andi dan dari samping kiri kak Anti mencubit pinggang kanannya.
“Auu…” ringis Andi melirik ke arahku lalu melirik ke arah kak Anti dan kami berdua memelototi Andi.
“Kenapa jalannya masih di rangkul, belum sehat betul pak?? Sebaiknya bapak menginap lagi untuk dirawat lagi dengan lebih baik” ucap dokter Elita yang melihat Andi di rangkul oleh ku dan kak Anti.
“Abang sudah sehat betul kok dok” ucap kak Anti dengan sinisnya.
“Jadi kenapa di rangkul??” tanya dokter Elita lagi melirik ke arah kak Anti.
“Biasa dok dia lagi kambuh manjanya sama kakak dan TUNANGANnya” ucap kak Anti sedikit membesarkan suaranya.
“Oh begitu, kalau begitu saya lanjut ke ruang pasien dulu” ucap dokter Elita lalu berjalan ke hadapan Andi “cepat sembuh ya pak Andi” mengelus pundak Andi dan Andi membalasnya dengan senyuman mataku melirik tajam raut wajah Andi yang tersenyum.
Dokter Elita berjalan membelakangi Andi, aku dan kak Anti ke ruang pasien, setelah lima langkah berjalan ia menoleh ke belakang melihat Andi, Yah… saya tidak bisa berjumpa lagi dengan pak Andi dong. Nanti kalau saya merindukan dia saya harus bagaimana, batinnya.
**
Wajahku terlihat benar - benar marah, padahal sebelumnya aku menolak untuk percaya kalau dokter Elita menyukai Andi, tapi detik ini juga aku melihat semuanya dengan mata kepalaku sendiri dokter Elita bahkan menyentuh Andi di depan mataku.
Kami bertiga melanjutkan perjalanan, hatiku menjadi amburadul, pikiranku kosong. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya sedang aku pikiran.
*****
Sampai di parkiran mobil, aku dan kak Anti membawa masuk Andi ke dalam mobil yang telah dibukakan pintu pada barisan kedua oleh ayah.
“Bang adek pulangnya pakai motor ya, tapi adek pulang dulu ke rumah, nanti sore adek baru ke rumah abang, ya ma” aku bersalaman dengan mama dan ayah lalu berjalan ke parkiran motor.
“Iya dek, abang tunggu ya kedatangannya” ucap Andi yang sudah di dalam mobil.
“Ma… kakak bawa mobil juga tadi sambilan antar bang Riza, jadi kakak pulangnya pisah ya” kak Anti berpamitan dengan mama dan ayah lalu berjalan ke arah mobilnya.
#thank you atas kunjungannya.
Semoga cerita ini dapat menambah inspirasi kalian.
Di tunggu part selanjutnya ya byeeeeee.
__ADS_1