Bapak Tentaraku

Bapak Tentaraku
Bab 40


__ADS_3

Hallo guys!!


Terima kasih masih setia dengan Bapak Tentaraku.


***


Aku keluar dari toilet. Aku melihat mama dan ayah yang sudah terlelap tidur di atas sofa. Aku berjalan ke ranjangnya Andi. Aku memperhatikan wajah tampannya, matanya terlelap tidur. Aku mengambil kursi duduk di sampingnya, merebahkan kepalaku dekat dengan lengannya.


Pertengahan Andi membuka matanya. “Sayang” mengelus kepalaku.


“Hah” bangunku melihat ke arahnya “kenapa sayang”


“Maaf ya jadi kebangun kamunya”


“Gak apa kok, kamu kenapa, haus atau mau ke kamar mandi” tanyaku menggenggam tangannya.


“Iya” tersenyum menatapku.


“Iya apa nih” tanyaku bingung.


“Mau ke kamar mandi” ucapnya malu.


“Yaudah ayo aku bantu”


“Bantu apa” tanyanya dengan nada meledek.


“Bantu pegangin” jawabku polos.


“Pegangin apa tu” ucapnya ditambah sedikit tertawa.


“Iih apa sih” mukaku memerah kayak tomat baru matang “aku pegangin tiang infus, lagi sakit juga pikirannya kemana-mana, sorry ya adek kan masih kecil, masih suci lagi jadi gak tahu apa - apa”


“Masak sih” ledeknya lagi.


“Mau aku bantuin gak nih, kalau gak aku mau tidur lagi” ucapku sedikit mengancam.


“Alah adek ini, itu saja ngambek” mencolek daguku. “Yaudah ayok anterin aku ke kamar mandi”


“Gak ah malas” ucapku kembali mengambil posisi tidur.


“Serius sayang, kebelet ni” memegang celananya.


“Apa lagi tu pegang - pegang, gak jelas” protesku.


“Siapa suruh kamu lihat, inikan khusus untuk orang dewasa. Kamu kan masih kecil kenapa harus lihat” Andi terus saja meledekku. Untung saja dia sedang sakit, kalau tidak aku pasti akan membalas semua perbuatannya.


“Heeh” aku menyerah dengan ocehannya. “Jadi gak ke kamar mandinya” aku bangun dari kursi berdiri di sampingnya.


“Jadi dong” mengedipkan matanya.


“Kamu sudah om - om genit lagi” tangan kiriku memegang tiang infus sedangkan tangan kananku merangkul Andi, aku menuntun langkahnya ke depan pintu kamar mandi. “Masuk om, aku tunggu di luar” suruhku kepadanya. Andi melangkahkan kakinya ke dalam kamar mandi.


“Gak sekalian masuk, sekalian pegangin” Andi terus saja menggodaku.

__ADS_1


“Iiiih” gerutukku, wajahku benar - benar kesal. “Ledek terus tunggu ya waktu kamu sembuh kupijak - pijak kakimu Andi” serasa keluar tanduk di kepalaku.


Andi hanya tersenyum melirikku. Ia lalu masuk ke kamar mandi. Aku menunggunya di depan kamar mandi.


“Iiii….. tutup pintunya”


“Iya sabar sih, aku gak mau pamer sama kamu juga”


“Iih… dasar”


Lima menit kemudian, ia keluar lagi. “Sudah sayang” tersenyum melirikku.


“Senyum - senyum dikira manis kali ya” ledekku, tangan kiriku memegang tiang infus sedangkan di sebelah kananku aku berniat merangkulnya tapi ia malah mendorong kepalaku masuk ke ketiaknya.


“Bau abang” gerutukku kesal.


“Enggak ya, enak saja kamu” protesnya tidak terima ledekanku.


“Heh sudah malam ngapain ribut-ribut kalian berdua sih” mama terbangun karena kebisingan aku dan bang Andi.


“Maaf ma, mama jadi kebangun” jawabku melirik ke arah mama yang tertidur di atas sofa. Mama melanjutkan tidurnya.


“Kamu sih bang, berisik banget kayak orang hutan. Sumpah deh” aku lanjut merangkul pinggangnya membawanya ke ranjang.


“Kok abang sih sayang, kamu tu yang orang hutan” lagi - lagi dia memprotesku.


Sampai di ranjang. Andi merebahkan tubuhnya. “Terima kasih ya sayang” ucapnya lembut “sekarang kamu tidur lagi ya” aku duduk di atas kursi yanh berada tepat di samping ranjangnya, aku merebahkan kepalaku di samping lengannya. Andi mengusap kepalaku.


“Tidur terus sayang, jarang - jarang kamu tidur di samping orang keren kayak aku ganteng lagi” ucapnya, tangannya terus mengelus kepalaku.


Beberapa menit kemudian aku terlelap tidur.


“Sayang… terima kasih ya kamu selalu ada untukku kamu bukan lagi seperti tunanganku, tapi kamu sudah melebih jiwaku” ucap Andi di tengah tidurku, ia masih membuka matanya dan tangannya masih mengelus kepalaku. “Tidur yang nyenyak ya sayang” Andi mencoba memejamkan kedua matanya.


SKIP


Keesokan harinya aku terbangun dari tidurku, kepalaku masih berada di dekat Andi. Tangan Andi merangkul leherku. Aku memindahkan, aku keluar dari kamar berjalan sendirian di pagi buta itu ke mussola.


Sampai di musolla aku mengambil wudhu, setelahnya aku melaksanakan shalat subuh.


Sepuluh menit kemudian aku telah selesai shalat subuh, mengangkat kedua tanganku memohon kepada Allah.


“Ya Allah ya tuhanku berikanlah kemudahan untukku, kedua orang tuaku, bang Andi dan kedua orang tuanya. Ya Allah berikanlah untuk kami rezeki yang berlimpah. Ya Allah berikanlah kesembuhan untuk bang Andi” aku menyapukan kedua tangan di wajahku.


Selesai shalat aku melipatkan kembali mukena dan sajadah lalu meletakkan kembali di tempatnya. Aku kembali ke ruangan tempat Andi di rawat. Cekreek…. aku membukakan pintu. Aku melihat Andi masih tidur di ranjangnya.



Mama terbangun lalu membangunkan ayah “yah bangun shalat subuh dulu”


“Ii.. iya” ayah membuka matanya.


“Sudah shalat sayang” tanya mama kepadaku yang duduk di samping ranjang Andi.

__ADS_1


“Sudah ma”


“Ayah sama mama shalat dulu ya”


“Iya ma”


Ayah dan mama keluar dari ruangan menuju musholla yang sebelumnya aku pergi.


**


Andi membuka matanya.


“Sayang” panggilnya dengan suara agak serak.


“Iya uwan sayang”


(Uwan itu jawaban kalau ada orang yang memanggil)


“Haus sayang”


Aku mengambil air memberikannya kepada Andi “ini sayang minum dulu” menegakkan kepala Andi. Andi menegukkan minumannya cepat. Ia benar - benar haus seperti orang yang baru selesai berlari.


“Pelan - pelan sayang bek teurhoek entek (tersendak)” ucapku.


“Haaa….” Andi memberiku botol minuman kosong.


“Habis ngapain sih kamu, kayak capek banget” tanyaku lagi.


“Gak tahu haus abang, pengen minum banyak. Abang mau air es gitu deh”


“Sayang… masih subuh ini, mana ada air es. Kalau ada pun gak boleh minumnya kalau sekarang”


“Iya maka dari itu abang minta minum yang biasa” jawabnya.


Selesai shalat mama dan ayah kembali ke kamar.


“Sayang…” aku memanggil Andi. “adek pulang dulu ya mau sekolah, karena kalau di sana gak boleh kita gak masuk. Pasti kepala sekolahnya marah - marah gak jelas. Kalau suruh ganti sama orang pun banyak banget prosesnya”


“Iya sayang, kamu sekolah saja dulu nanti balik ke sini lagi nanti sore”


“Iya, cepat sembuh ya sayang” mengelus kepalanya. “Ma ayah, adek pulang dulu ya mau sekolah”


“Iya dek, nantik ke sini lagi kan”


“Iya ma” jawabku


“Itu gak usah ditanyakan lagi ma, pasti itu kan mereka berdua sepaket dimana - mana, kemana - mana selalu berdua”


Aku tersenyum mendengar ucapan ayah. Aku keluar dari kamar menuju parkiran. Aku mengambil motorku yang dari semalaman terparkir di sana. Aku memakaikan helm di kepala, lalu menyalakan mesin dan menancap gas.


#thank you atas kunjungannya.


Semoga cerita ini dapat menambah inspirasi kalian.

__ADS_1


Di tunggu part selanjutnya ya bye.


__ADS_2