Bapak Tentaraku

Bapak Tentaraku
Bab 70


__ADS_3

Hallo guys!!


Terima kasih masih setia dengan Bapak Tentaraku.


*****


Perlahan tubuh Andi kembali segar, raut wajahnya sudah ceria seperti biasanya.


"Sayang kamu sudah makan" tanyaku memperhatikan wajahnya Andi yang duduk di atas ranjang.


"Tadinya sih mau makan, cuma" jawabnya terpotong.


"Cuma apa" tanyaku penasaran


"Cuma nasinya tadi hangat pas aku mau mengambilnya, kayaknya demam deh dia" ucapnya dengan nada serius.


"Astagfirullah bapak Andi, sepertinya kamu perlu diruqyah deh" ucapku karena geram dengan candaannya.


Andi tertawa ngakak melihat raut wajahku.


"Apa sayang?? yang perlu diruqyah itu kamu bukan aku"


"Kok aku" menunjuk diriku sendiri.


"Yakan kamu suka BTS di BTS kan ada Jin" ucapnya sembari nyengir kuda andalannya.


"Beda server kali, ah sudah ah. Aku ambilin nasi kamu makan dulu ya" aku bangun mengambil nasi yang sudah tersediakan di atas meja.


"Boleh asal kamu mau suapin" mode manjanya keluar.


"Bapak itu sudah bapak - bapak ya bukannya anak kecil lagi. Jadi malu sedikit ya" ledekku memberikan kotak nasi kepadanya.


"Aku kan masih kecil" bergaya imut.


"Kecil dari mananya, badan kamu saja segede itu" ledekku lagi.


"Please tolong jangan bawa - bawa badan, biar gede kayak gini nyaman di peluk tahu" jelasnya


"Masa sih" lagi - lagi aku meledeknya


"Iya dong mau mencobanya" mengedipkan matanya ke arahku.


"Dasar genit kamu ya" mencubit pinggangnya "aku itu yakin deh sepertinya dokter ada salah kasih obat buat kamu. Aku yakin banget"


"Tidak apa - apa yang penting aku bisa sembuh dan dekat lagi sama kamu. Kamu kangen gak sih sama aku?"


"Memangnya harus ya kangen sama kamu" aku mencoba membuat Andi merasa jengkel.


"Oh gitu" dia mencubit lenganku


"Sakit oii" aku membalas mencubit lengannya.


"Masa orang sakit disakitin sih" gerutuknya


"Dari pada bapak ngomel - ngomel terus, mending bapak makan dulu ini, nasinya tidak demam lagi seperti bapak bilang tadi. Nasinya sudah sembuh sudah boleh dimakan. Kamu mau sembuh juga seperti nasi ini kan?" aku menyendokkan nasi lalu memasukkan ke dalam mulut Andi belum sempat Andi menjawab pertanyaanku mulutnya dipenuhi nasi yang aku suapin.


"Eueueueu" perlahan Andi mengunyah nasi.


"Ni aaamp lagi" aku menyuapinya lagi.

__ADS_1


     Sedikit demi sedikit nasi yang ada di dalam kotak perlahan habis


"Wah pintar anak aku ya bund" aku menyuapi nasi suapan terakhir.


"Wah aku pintar ya mama" Andi menepuk tangannya persis seperti anak kecil.


"Heh aku bukan maknya kamu ya" gerutukku


"Apa juga" tanyanya melirik ke arahku


"Calon mama dari anak - anak kamu assseeek" jawabku dengan PD nya.


"Bisa ya bisa, tapi kapan ya kita nikah"


"Entah kan semuanya sama abang kapan siapnya abang ya di hari itulah kita nikahnya" jelasku


"Abang bukannya tidak siap sayang, masalahnya bukan kita pergi ke kua terus kita daftar kita nikah tapi urusan berkas - berkas itu loh sayang, apalagi kemaren abang koma dua bulan makin terhambat kan prosesnya belum lagi pemanggilan latihan yang kemaren itu"


"Sabar sayang semuanya akan indah pada waktunya. Aku yakin kita bisa melewati ini semua" aku berusaha memberinya semangat bagaimana pun aku hanya ingin bersamanya selamanya.


"Iya sayang kalau abang bersama kamu inshaallah abang bisa melewati rintangan hidup ini apapun itu ya kan sayangku, cintaku, bohateku"


"Iya" aku bangun dari kursi, baam aku menepuk jidat Andi lalu aku pergi begitu saja membuang sampah di luar pintu.


"Untung aku lagi sakit, sabar saja deh" mengelus dahinya yang sama sekali tidak sakit.


Aku masuk kembali "kenapa mukanya gitu" tanyaku melirik wajah Andi.


"Tidak apa - apa, kenapa memangnya wajah aku ganteng?? Sudah banyak orang yang mengatakannya"


"Jampoknya keluar gais"


"Permisi..." dokter Elita bersama dua suster yang membantunya memasuki ruangan. "Saya periksa dulu ya pak" ucapnya berjalan mendekati ranjang Andi.


"Iya dok" Andi menganggukkan kepalanya, perlahan aku sedikit mundur ke belakang dan duduk di sofa.


Dokter Elita memasangkan stetoskop di telinganya lalu memeriksa detak jantung Andi di dada sebelah kiri dan dada sebelah kanannya.


"Tarik napasnya" perintah dokter Elita.


Andi menghirup napasnya secara cepat


"Keluarkan..." perintah dokter Elita lagi


Andi menghembuskan napasnya perlahan


"Oke sekali lagi" dokter Elita memindahkan stetoskopnya ke sebelah kiri dada Andi "tarik napasnya pak"


Andi menghirup napasnya dalam - dalam.


"Buang" perintah dokter Elita lagi


Andi membuang napasnya perlahan. Dokter Elita memindahkan stetoskop dari dada Andi lalu melepasnya dari telinganya dan menggantunggnya kembali di lehernya. Setelah itu suster memasang alat tensi darah di lengan Andi.


Dokter Elita melihat tensi darah Andi lalu suster melepaskan alat tensi darahnya kembali "Alhamdulillah keadaan pak Andi sudah membaik sepertinya besok bapak sudah boleh pulang" ucap dokter Elita memberikan kesimpulan setelah melakukan chek up pada Andi.


Dari kejauhan aku begitu bahagia mendengar Andi dinyatakan sembuh dan sudah bisa pulang ke rumah. Aku berjalan menghampiri mereka.


"Abang sudah dibolehkan pulang besok siang ya nona cantik" seru dokter Elita mencoba menggodaku.

__ADS_1


"Alhamdulillah dok" ucapku raut wajahku terlihat sangat bahagia.


"Jangan sedih lagi ya nona manis. Bapak tahu tidak pak kemaren waktu bapak dari mulai operasi sampai bapak ditanyakan koma, nona manis ini tidak berhenti menangis" ledeknya lagi lalu melirik ke arahku, membuat wajahku memerah seperti tomat yang baru matang.


"Dok salting dia dok" ledek Andi. Kedua suster cengengesan melihat wajahku.


"Sampai merah begitu wajahnya pak" ucap dokter Sinta ikut - ikutan.


"Ah sudahlah aku malu" aku menutup wajahku dengan kedua tanganku.


Setelah menggodaku dokter Elita dan kedua suster yang membantunya keluar dari ruangan melanjutkan aktivitasnya. Cekkkrreeeek suara pintu tertutup.


"Seru ya dok pasangan itu" ucap suster Devi.


"Iya saya suka sama mereka, mereka begitu ramah banget lagi" jawab dokter Elita.


"Itu mereka sudah menikah atau belum sih dok" tanya suster Sinta


"Belum, mereka baru tunangan sih" jawab dokter Elita


"Tapi perfect banget kalau dapat pasangan seperti bu Kanza dan pak Andi" tambah suster Devi yang berjalan di samping suster Sinta, sementara dokter Elita berjalan di depan mereka.


"Iya kan pak Andi itu tentara kan, perfect banget tahu gak sih kalau dapat suami tentara soalnya mereka itu diwajibkan untuk setiap pada pasangannya"


"Kebayang deh kalau bisa jadi istri dari mereka jadi ibu persit uuuww" tambah suster Devi.


Dokter Elita tersenyum - senyum mendengar kedua susternya membicarakan pak Andi. Diam - diam dokter Elita menyukai sosok laki - laki seperti Andi. Seorang tentara, badannya kekar dan akhlaknya begitu bagus. Dokter Elita sangat bersemangat jika sudah menangani Andi.


******


"Bang ada ya dokter seramah itu seperti dokter Elita" seru yang begitu nyaman dengan pelayanan yang diberika dokter Elita kepada Andi. Menurut penglihatanku dokter Elita bukan tipekal dokter yang sombong karena jabatannya.


"Ya ada itu dokter Elita buktinya" jawab Andi enteng.


"Sayang aku mau tanya deh"


Andi duduk di atas ranjang bersiap mendengar pertanyaan dariku.


"Mau menanyakan apa sayang"


"Menurut abang wanita seperti apa yang membuat laki - laki itu berpikir bahwa wanita ini pantas diperjuangin?" tanyaku yang tiba - tiba entah dari mana pertanyaan itu muncul begitu saja di benakku.


"Kalau menurut abang ya" Andi menatapku "wanita itu seperti kamu"


"Aku?" menunjukkan diriku sendiri "kenapa aku?"


"Sssst" Andi meletakkan jari telunjuknya di bibirku "kamu dengar abang jelasin"


Aku mengangguknya pelan


"Tahu kan awal mula kita bertemu karena siapa, dijodohkan kan?" tersenyum ke arahku "jujur abang langsung jatuh cinta waktu pertama sekali ngobrol sama adek, tidak tahu sih kenapa perasaan itu muncul waktu itu. Karena abang rasa kamu itu perempuan yang abang cari - cari selama ini. Yang pertama kamu mau berkenalan dengan abang, kamu tidak memandang abang siapa"


Aku berdiam diri menatap wajah Andi, aku memperhatikan setiap gerakan bibirnya.


#thank you atas kunjungannya.


Semoga cerita ini dapat menambah inspirasi kalian.


Di tunggu part selanjutnya ya byeeeeee.

__ADS_1


__ADS_2