Bapak Tentaraku

Bapak Tentaraku
Bab 65


__ADS_3

Hallo guys!!


Terima kasih masih setia dengan Bapak Tentaraku.


*******


Sementara aku yang masih duduk di samping ranjang Andi, aku terus mengajaknya berbicara "Sayang..." mengelus tangan Andi "kamu bangun ya, kamu masih sayang sama aku kan??. Kamu tidak mau kan melihat aku sedih. Aku mohon kamu bangun ya aku mohooon banget" air mata terus mengalir di pipiku.


Cekkkreeeek.... Suara gagang pintu yang terbuka.


Mama masuk menghampiriku "kamu harus kuat ya sayang, kamu harus menunggu abang sadar. Mama yakin abang pasti akan bangun"


"Hari ini sudah lebih dari 2 bulan ma, tapi abang belum menunjukkan tanda - tandanya kalau ia akan bangun"


"Mama akan menunggu abang bangun kapan pun itu" ucap mama lalu mengelus kepala Andi.


Perlahan tangan Andi mulai bergerak


"Ma... maa maa jari tangan abang bergerak" ucapku melihat pergerakan tangannya.


Mama langsung memperhatikan jari tangannya setelah mendengar ucapanku.


"Alhamdulillah abang sudah menunjukkannya"


"Aku panggil dokter dulu ya ma" aku berlari ke arah pintu mencari keberadaan dokter.


"Terima kasih sayang kamu sudah bangun, kamu buka ya mata kamu" ucap mama yang terus mengelus kepala Andi.


****


"Sus tolong Sus bang Andi sudah sadar" napasku terengah - engah.


"Iya sebentar saya panggil dokternya dulu" suster berjalan ke ruang dokter.


Aku, dokter Elita dan dua suster berlarian ke ruangan Andi.


Cekreeeek..... suara gagang pintu berbunyi. Dokter segera masuk lalu memasang stetoskop di telinganya kemudian mendengar detak jantung Andi lalu menyenter ke bola mata Andi.


"Alhamdulillah bu, Pak Andi sudah menunjukkan tanda - tanda masa komanya telah selesai”.

__ADS_1


"Alhamdulillah terima kasih ya Allah terima kasih atas segala rahmat-Mu" mama mengusap wajah dengan kedua tangannya kemudian memelukku "akhirnya abang sadar sayang, terima kasih ya nak kamu sudah selalu mendoakan abang dan menunggu abang setiap harinya"


"Iya ma, aku bersyukur banget akhirnya abang sadar" aku begitu bahagia dengan berita hari ini, aku sudah lama menunggu hal ini terjadi dan hari ini berita ini benar - benar terjadi.


Tiba - tiba saja tubuh Andi kejang - kejang. Dokter segera menanganinya


"Dok ... dok... bang Andi kenapa" aku menangis melihat kondisi Andi, baru saja aku bahagia melihat ia tersadar dari komanya tapi detik ini ....


"Bu maaf kondisi pak Andi ngedrop"


Aku dan mama begitu syok mendengar penjelasan dari dokter Elita.


Andi segera dilarikan ke ruang ICU. Dokter berlari mengikuti suster yang mendorong ranjang Andi. Sementara aku dan mama ikut berlarian mengejar mereka.


"Silahkan tunggu di luar ya bu" suster menyuruhku dan mama menunggu di luar ia segera menutup pintu ruang ICU.


"Ma bagaimana ini" aku menangis tersedu - sedu, lututku terasa melemas hingga baaaam... aku tersungkur ke lantai.


"Bangun sayang kamu harus kuat" mama membangunkan aku lalu menuntunku duduk di kursi panjang.


Aku terus menangis air mataku tak bisa kuhentikan untuk sekarang. Hariku benar - benar mengejutkan baru saja aku bahagia Andi tersadar dari komanya tapi sekarang aku harus melihat ia kesakitan lagi. Rasanya aku ingin berteriak sekencang - kencangnya untuk menghilangkan rasa sesak di dadaku.


Dokter terus memasang bantuan alat medis mulai dari Elektrokardiogram, selang oksigen dan lainnya yang dapat membantu Andi.


“Sus… sus cepat ambil alat pemacu jantung” dokter Elita terlihat begitu panik ia langsung mengambil alat pemacu jantung yang telah disiapkan oleh suster.


Perlahan tubuh Andi mulai normal tidak lagi kejang - kejang seperti beberapa menit yang lalu dan detak jantungnya kembali normal.


"Syukurlah" dokter Elita menghela napas lega "sus pak Andi dibiarkan dulu seperti ini dengan alat - alat medis ini. Saya keluar dulu karena ada pasien yang harus dioperasi sekarang" dokter Elita keluar meninggalkan ruangan.


******


“Dok bagaimana keadaan putra saya” mama menghampiri dokter Elita ketika keluar dari pintu.


“Alhamdulillah bu, tadi denyut jantungnya sempat melemah tapi syukurlah sekarang pak Andi sudah membaik kita hanya perlu menunggu respon tubuhnya” jelas dokter Elita.


“Apa kami boleh menjenguknya” tanya mama lagi.


“Boleh bu, ada suster di dalam. Kalau begitu saya permisi dulu karena ada pasien yang harus dioperasi” dokter Elita berjalan meninggalkan mama dan aku yang masih duduk di kursi panjang.

__ADS_1


Aku harus kuat ya Allah, batinku. Aku berjalan ke tempat mama berdiri di depan pintu ruangan ICU.


“Ma… apa bang Andi baik - baik saja” tanyaku tang tahu keadaan Andi.


“Alhamdulillah sayang abang sudah membaik, kita masuk sekarang ya dokter sudah mengizinkan kita masuk menjenguk abang” mama dan aku masuk ke dalam ruang ICU.


Aku begitu sedih melihat Andi yang terbaring lemas dan tubuhnya banyak dipasang alat medis. Aku berjalan mendekatinya.


“Sayang” aku hanya memegang tangannya, aku tidak bisa mengenggam erat tangannya karena di jari telunjuknya ada alat medis seperti jepitan jemuran. “Kamu bangun ya sayang, sudah cukup kamu begini”


Jari jemari Andi bergerak dengan sangat pelan aku menyadari gerakan itu


“Ma… jari tangan abang bergerak lagi”


Mama melihat gerakan tangannya. “Abang bangun ya” lalu mama membaca ayat kursi sebagai doa yang paling mujarab.


Bismillah rahman rahim Allaahu Laailaaha illa huwal hayyul qayyuum. Laa ta'khudzuhu sinatuw walaa nauum. Lahuu maa fissamaawaati wamaa fil ardhi. Mangdzalladzii yasyfa'u 'indahuu illai bi idznih. Ya'lamu maa baina aiydiihim wamaa kholfahum walaa yukhiithuuna bisyayin min 'ilmihii illaa bimaa syaaa a. wasi'a kursiyyuhus samaawaati wal ardho. Walaa yauduhuu khifdhuhumaa wa huwal'aliyyul 'adhiim” mama membaca ayat kursi di dekat telinga Andi mengulangnya hingga beberapa.


Andi mulai membuka matanya, bola matanya terlihat melirik ke setiap arah.


“Sayang” mama melihat tatapan Andi, mama langsung menangis terharu “Alhamdulillah ya Allah akhirnya kamu sadar, ya Allah terima kasih engkau telah mendengar doa hamba” mama terlihat sangat bahagia kali ini iya menangis karena bahagia.


Deg! Jantungku terasa sengkak aku tidak menyangka aku bisa melihat Andi bisa menatapku lagi, aku memeluk tubuhnya yang terbaring “ya Allah terima kasih engkau telah mengabulkan doa - doa hamba selama ini” aku begitu bersyukur melihat Andi tersadar dari komanya yang lebih dari dua bulan itu.


“Ma… sayang…” panggil Andi suaranya terdengar begitu serak.


Begitu suster melihat Andi membuka matanya ia langsung memanggil dokter Elita.


Beberapa menit kemudian dokter Elita telah selesai melakukan operasi ia langsung ke ruang ICU setelah suster menghampirinya.


“Saya periksa dulu ya pak” dokter Elita memasang stetoskop di telinganya lalu mengarahkannya ke dada sebelah kanan dan dada sebelah kiri Andi “alhamdulillah pak Andi sudah normal detak jantungnya pun normal alhamdulillah ini semua mukjizat dari Allah dan dari doa - doa ibu dan calon istrinya” dokter Elita menepuk pundakku. “Sus tolong semua alat ini dilepas ya” menunjuk ke beberapa alat di tubuh Andi “tinggal infus dan oksigen saja” setelah mengarahkan susternya dokter Elita berjalan keluar ruangan.


“Dok.. terima kasih ya” ucapku.


“Jangan berterima kasih kepada saya, berterima kasihlah kepada Allah yang menciptakan segalanya. Saya hanya bisa membantu dengan semua kemampuan saya” dokter Elita keluar.


Suster melepas semua alat medis yang terdapat di tubuh Andi sesuai dengan arahan dokter Elita kepadanya.


#thank you atas kunjungannya.

__ADS_1


Semoga cerita ini dapat menambah inspirasi kalian.


Di tunggu part selanjutnya ya byeeeeee.


__ADS_2