Bapak Tentaraku

Bapak Tentaraku
Bab 46


__ADS_3

Hallo guys!!


Terima kasih masih setia dengan Bapak Tentaraku.


****


“Jadi kamu mencoba menggodaku bapak Andi” tanyaku menatap tajam mata Andi.


“Enggak, siapa juga yang mau menggoda kamu. Tanpa aku goda pun kamu sudah tergoda dengan ketampanan aku iya kan” Andi menarik kepalaku dekat dengan kepala, posisinya hidung aku dan hidungnya hampir kenak.


Aku menutup mataku, tidak mau menatap mata Andi yang berjarak cukup denganku.


Cekkkrrrk…. bunyi gagang pintu yang terbuka. Aku dan Andi sama - sama terkejut, mata kami langsung tertuju melihat siapa orang dibalik pintu. Wajahku langsunh mundur dari dekat wajahnya.


Deg!!! Yang datang adalah seorang suster yang akan mengecek keadaan Andi.


“Permisi” melangkahkam kakinya “maaf pak saya mau periksa bapak dulu” ucapnya membawa beberapa alat check up.


“Iya” jawan Andi gugup. Andi dan aku saling menatap satu sama lain lalu membuat senyuman tipis di mulut masing - masing.


Suster memasang tetoskop di telingannya lalu mendengar detak jantung Andi di dadanya.


“Tarik nafas pak” memeriksa dada di sebelah kanan.


Andi menghirup napasnya dalam - dalam lalu membuangnya lagi secara perlahan.


“Taris nafasnya lagi pak” memeriksa di dada sebelah kirinya.


Andi menghirup lagi nafasnya dalam - dalam lalu membuangnya lagi secara perlahan.


“Bagaimana pak, apa ada keluhan lain”


“Gak sus, cuman bagian kepala saya di sebelah sini semalam sakit” Andi menunjuk bagian kepalanya yang sakit.


“Sekarang bagaimana pak, apa yang dirasakan” tanya suster lagi nada bicaranya begitu lembut.


“Sekarang sudah enggak sih sus” jawab Andi cepat. Ia menjelaskan keadaanya.


“Baiklah besok hari senin, dokter akan masuk inshaallah akan diperiksa sedetailnya lagi” jelas suster yang menjelaskan bahwa dirinya tidak berwenang memeriksa pasien lebih lanjut.


“Baik sus” jawab Andi mengangguk.


Suster akhirnya keluar dari ruangan.


“Kamu mau ngapain tadi hah” aku menatap Andi.


“Mau ngapain emang” Andi malah menanyaku balik.


“Ngaku kamu”


“Enggak…. Enggak mau ngapa - ngapain” jawabnya tertawa.


“Halah….”


“Terus mata kamu tadi kenapa merem melek gitu”


“Ya habisnya aku takut bibir kamu monyong - monyong lagi tadi” jelasku.


“Masak sih” Andi terus saja tertawa “Sayang lapar” Andi mengalihkan pembicaraan.


“Lapar ya makanlah” jawabku “kamu mau makan apa”


“Pengennya nasi gitu sayang, tapi janga, Aw…..” tiba - tiba Andi meringis kesakitan ia memegang kepalanya.


“Kamu kenapa” aku memperhatikan Andi yang kesakitan.


“Haaaaa, gak tahu sayang sakit banget”


“Sini aku elus ya” Andi merebahkan kepalanya di atas bantal, aku mengelus kepala perlahan.


Lima belas menit kemudian


“Sudah sayang, sudah sembuh” ucapnya raut wajahnya kembali segar.


“Besok waktu dokternya masuk, kita periksa lebih detail ya sayang”


Andi mengangguknya pelan.


“Kamu mau istirahat dulu apa mau makan dulu” aku memberikan Andi dua pilihan.


“Makan sayang, lapar banget abang. Dengar ini suara perut abang cacing - cacingnya lagi pada konser apa lagi pada demo ini” ucapnya kocak.


“Tahu sekali kamu ya sayang, kegiatan para cacing - cacingnya” ledekku.


“Oh tahu dong, kemaren saja abang jumpa mereka” jawabnya mengarang.


Aku tertawa terbahak - bahak dengan jokes yang dibuat Andi. Menurutku Andi cocok sekali menjadi seorang komedian. Memang wajahnya sangar, lengannya dipenuhi otot tapi kelakuannya super menggemaskan.


“Yasudah adek ke kantin ya beliin makanannya dulu” aku mengambil tasku.


“Terima kasih sayangku, cintaku, bohateku” duduk di atas ranjang.


“Iya nyonya”


“Nyonya apa nyonya Andi ya”


“Ah….” Aku beranjak pergi meninggalkan ruangan.


Dua puluh menit kemudian aku kembali ke ruang Andi, tanganku membawa banyak makanan dan minuman untukku dan Andi. Cekreeek…. Aku membuka gagang pintu.


“Sayang” panggilku melihat Andi tiduran.


“Hmmm” matanya masih terpejam.


“Bangun dong, adek bawain makanan ini” aku menyuruh Andi untuk segera bangun.


Akhirnya Andi membuka matanya kemudian ia duduk di atas ranjang “beli apa sayang” tanyanya.


“Ini sayang, kamu makan yang ini ya” aku meletakkan sekotak nasi putih, ikan goreng dan sayur bening di hadapannya, di sampingnya aku menaruh avocado jus “biar tambah stamina sayang”


“Waw” melihat makanannya “terima kasih calon istri” ucapnya sambil nyengir.


Andi melahap makanannya pelan - pelan, aku juga ikut bersamanya makan mie goreng.


“Adek mau??“ melirik mie ku.


“Jangan” menutup bungkusannya.

__ADS_1


“Pelit”


“Orang lagi sakit gak boleh makan mie” jelasku.


“Dikit saja, secuil” memperagakan dengan tangannya.


“Iya” aku menaruh sebiji mienya.


“Ya ampun” menepuk jidatnya “sebiji doang dikasih. Ini ni kalau sudah ketemu sama mie sudah deh yang lain cuman numpang”


Aku menyengir ke arahnya “yaudah ini” aku menaruh sebiji lagi mienya.


“Gak usah sayang, gak usah” memasang wajah cemberut.


“Iiih abang gemas deh” mencubit pipinya.


“Aw” menghela nafasnya.


Aku dan Andi kembali mengunyah makanan masing - masing.


Waktu terus berlalu. Tak terasa hari semakin sore.


Tok…tok…tok… suara ketukan pintu.


“Assalamualaikum…” mama dan ayahnya Andi memasuki kamar.


“Waalaikumsalam” jawabku dan Andi kompak.


Mama berjalan ke ranjang Andi “gimana abang sudah mendingan” mengelus kepalanya.


“Sudah ma” jawabnya pelan.


“Tapi bang Andi kepalanya sempat sakit gitu ma” jelasku.


“Hah??, dimana sakitnya bang??, apa sekarang masih sakit?? Dokter ada masuk sekarang??” Mama sangatlah khawatir dengan apa yang baru saja aku beritahukan bahkan ia melemparkan pertanuaan bertubi - tubi.


“Sekarang enggak lagi sih ma” Andi memegang kepala.


“Dokter baru besok masuknya ma, karena kan hari ini minggu” jelasku lagi.


“Yasudah berarti besok kita suruh check sama dokter, mama gak mau anak mama kenapa - napa” air mata terlihat di pipi mama.


“Kok mama menangis sih, abang gak apa-apa kok. Percaya deh” Andi menenangkan mama dan mengatakan kalau ia baik - baik saja.


“Iya sayang” menghapus air matanya.


Tok…tok…tok suara ketukan pintu terdengar kembali.


“Siapa ma” tanya Andi melirik ke arah pintu.


“Assalamualaikum” pak Wahyu membukakan pintu ia diikuti lima anggota tentara lainnya.


“Waalaikumsalam, masuk pak” seru mama berjalan ke arah pintu lalu mengulurkan tangannya bersalaman dengan satu persatu anggota tentara yang datang.


Satu persatu anggota tentara yang datang bersalaman dengan ayah, Andi dan terakhir denganku.


“Silahkan duduk pak” ucapku mempersilahkan mereka semua duduk di sofa. Kemudian aku meletakkan air mineral dan beberapa snack “silahkan ya pak” ucapku lagi sembari tersenyum lalu aku berjalan duduk di samping ranjangnya Andi.


“Bagaimana keadaan Andi” ucap pak Wahyu yang merupakan sahabat dekatnya Andi.


“Alhamdulillah sudah lumayan, mungkin besok sudah bisa pulang” jawab mama.


Tok…tok…tok suara ketukan pintu terdengar kembali.


“Masuk bang, kak” seru ku.


Kak Yuni dan bang Adam masuk ke dalam kamar lalu bergabung dengan anggota tentara lainnya.


“Abang aku duduk dekat kak Yuni ya” bisikku.


“Iya sayang”


Aku berjalan duduk di samping kak Yuni.


“Heeiii, di sini dong” Kak Yuni menyuruhku dengannya. “Sekarang gak bisa jauhan ya sama mamas” bisiknya.


“Ah apa sih kak, kan karena kakak dan bang Adam juga yang membuat aku dekat dengan bang Andi” jelasku.


“Iya kan kakak akan kasih yang terbaik untuk adiknya kan??”


Aku tersenyum manis ke arah kak Yuni “terima kasih ya kak” memeluknya.


“Oh jadi kalian berdua yang jodohin Andi dengan Kanza” mama mendengar pembicaraanku dengan kak Yuni.


“Iya ma” jawabku dengan senyuman.


“Iya bu, Kanza ini sepupunya saya dan kebetulan juga bang Adam” menepuk lengan bang Adam yang duduk di sampingnya “suami saya sahabat dekatnya Andi yasudah kami jodohkan mereka berdua karena menurut saya dan bang Adam mereka berdua sangatlah cocok dan Alhamdulillah perjodohannya langgeng, semoga lancar sampai hari H” jelasnya secara detail.


“Aaaamiiin” aku mengaminkan doanya kak Yuni.


“Aaaamiiin” mama juga mengaminkan doa yang sama.


Lima belas menit kemudian Kak Yuni, bang Adam, pak Wahyu dan beberapa anggota Tentara lainnya berpamitan pulang.


“Cepat sembuh ya bro” ucap pak Wahyu lalu berjalan keluar kamar “pamit ya pak, buk, dek” tersenyum.


“Terima kasih ya” balas Andi dengan senyuman.


“Cepat sembuh ya pak” ucap pak Dani.


“Terima kasih ya” balas Andi dengan senyuman.


“Cepat sembuh ya pak” ucap pak Agung bersalaman dengan Andi.


“Terima kasih ya” balas Andi dengan senyuman.


“Cepat sembuh ya” ucap pak Aris bersalaman dengan Andi lalu berjalan keluar mengikuti pak Dani dan pak Agung.


“Terima kasih ya” balas Andi dengan senyuman.


“Semoga cepat membaik ya pak biar bisa beraktifitas lagi seperti biasanya” ucap pak Rendi yang juga mengulurkan tangannya bersalaman dengan Andi.


“Terima kasih ya” balas Andi dengan senyuman.


“Ndi cepat membaik ya biar bisa jagain kantor lagi bareng aku, aku sepi gak ada kamu” bang Adam mencoba menggoda Andi.


“Iya itu bang, sayangkan kantor kalau lama - lama gak dijagain sama dia” menambah menggoda Andi.

__ADS_1


“Cepat sembuh ya dek, kalau pesan kakak biar bisa jagain bidadari ini” merangkulku.


“Apa sih kak” aku merasa salting mendengar ucapannya.


“Iya kak, bidadari aku nih gaes” ucapnya sembari tertawa.


“Yasudah aku pamit ya” ucap bang Adam lalu bersalaman dengan ayah dan mama setelah itu meninggalkan ruangan bersama istrinya.


Allahu akbar…. Allahu akbar…. Suara kumandang azan magrib mulai terdengar.


“Yah ayo kita ke musholla” mama mengajak ayah untuk melaksanakan shalat. “Adek mau ikut sekalian?? atau tunggu mama dan ayah duluan??”


“Adek shalat di sini saja ma, kasian bang Andi kalau ditinggal sendirian” aku memilih shalat di ruangan sekalian bisa menemani Andi.


Mama dan ayah keluar dari ruangan menuju musholla. Sementara aku berjalan ke kamar mandi “bang aku wudhu dulu ya” ucapku.


Setelah mengambil air wudhu aku keluar dari kamar mandi melewati ranjang Andi, Andi mengulurkan tangannya ingin mengerjaiku.


“Hei…. Hei… stop it… jangan kena aku nanti batal” Andi berusaha sekuat tenaga ingin menyentuh lenganku untuk membatalkan wudhu ia tertawa ngakak.


“Jangan bandel sayang, air dingin banget” Andi tidak menghiraukan ku ia terus berusaha mendekatiku baaam…. tangannya bersentuhan dengan tanganku.


“Abang……” teriakku “rese banget dia ih” gumamku, wajahku terlihat sangat kesal bagaimana tidak aku harus mengulangi mengambil air wudhu sementara air di kamar mandinya terasa begitu dingin ditambah cuaca yang sedang mendung. “Aku gak akan maafin kamu ya” menunjuk ke arahnya. Bukannya minta maaf ia justru tertawa terbahak - bahak.


“Awas kamu Andiii….” teriakku lagi “untung ya kamu lagi sakit untung banget, kalau tidak???” aku menggepalkan tangan kanan bersiap meninju Andi.


“Huuu… takut ada singa cewek ngamuk” ia menutup wajahnya dengan selimut seakan ingin berlindung dibaliknya. Aku kembali masuk ke dalam toilet mengambil air wudhu.


Setelah itu aku berjalan perlahan menjauh dari ranjang Andi dan sedikit berlari.


“Yee berhasil… berhasil… berhasil” ucapku kegirangan. “Kamu gak akan bisa ke sini” memeletkan lidahku.


Andi hanya tersenyum melihat tingkahku yang menurutnya sangatlah imut, sementara aku melihatnya sangatlah kesal. Benar kata kak Anti kalau Andi itu anaknya super jahil dan sekarang akulah yang menjadi satu \- satunya bahan kejahilannya.



Aku mengambil mukena lalu memakaikannya dan menggelar sajadah berdasarkan arah kiblat. Setelah itu aku langsung melaksanakan shalat magrib.



Sepuluh menit kemudian, selesai shalat aku mengangkat kedua tanganku sembari memohon kepada Allah


Ya Allah, ya Tuhanku berikanlah keberkahan umur untuk kedua orang tuaku, untukku, untuk calon suamiku dan untuk kedua orang tuanya. Berikanlah kami kesehatan dan selamatkan kamu dari siksaan api neraka. Ya Allah berikanlah kesembuhan untuk calon suami, dia sungguh sangatlah baik kepadaku dia sungguh menyayangi berikanlah ya Allah untukknya segera, batinku “aaaaamiiin” aku mengusap kedua tanganku ke wajah.


Setelah itu aku melipat kembali mukena dan sajadah lalu memasukkannya kembali ke dalam tas mukena dengan rapi.


“Abang…” panggilku cukup mendayu.


“Apa” jawabnya cuek.


“Apa itu adek mama sayang, kamu ada apa tidak pasti tidak ya” aku berjalan ke arahnya lalu duduk di kursi biasa. Aku merebahkan kepalaku di samping lengannya. Andi mengusap kepalaku pelan.


“Aw…” ringisnya tiba - tiba ia langsung memegang kepalanya, menjambak rambutnya.


“Kamu kenapa kamu kenapa??” tanyaku panik, aku ikut mengelus kepalanya “aku panggilin suster ya” aku berlari ke pintu mencari keberadaan suster di meja piket namun sayang tidak ada satu orang suster pun yang stay di sana. Aku benar - benar marah, aku kebingungan berlari ke sana kemari mencari suster tapi tidak ada satu pun suster yang aku temui ditambah sekarang masih waktunya magrib.


“Kenapa sayang” mama melihat ku berlarian, ia dan ayah langsung menghampiriku.


“Ma bang Andi kepalanya sakit lagi” jelasku air matak mulai berjatuhan “aku sudah cari suster tapi enggak tahu mereka semua ada dimana”


“Yasudah kamu dan mama kembali ke kamar, ayah mau cari susternya sekali lagi”


“Ayo sayang” mama merangkulku berjalan beriringan ke kamar Andi.


Cekkreeek…. membuka pintu kamar. Aku dan mama masih melihat Andi yang menjambak - jambak rambut.


“Abang… abang jangan ditarik - tarik rambutnya” mama berusaha melepas tangan Andi yang menarik rambutnya sendiri.


“Ma sakit banget ma” Andi menangis sejadi - jadinya.


Wajahku terlihat sangat bingung, aku tidak tahu ingin melakukan apa lagi. Air mataku terus berjatuh aku tidak tega melihat Andi meringis kesakitan di depanku.


“Kamu tahan dulu ya” mama mengelus kepalanya “ayah sedang mencari suster ke depan sana, kamu tiduran dulu ya” mama berusaha menenangkan Andi.


“Ma sakiiit banget ma sayang tolong aku” Andi terus berteriak kesakitan.


Aku berdiri di sampingnya menggenggam tangannya sebelah “sayang jangan gini” aku juga ikut menangis melihat keadaannya.


Ceekrreek…. Suara pintu terbuk. Ayah datang bersama dua orang suster yang berjalan beriringan bersamanya.


“Maaf pak saya periksa dulu” Suster mengecek keadaan Andi “pak saya suntik obat tidur ya di dalamnya ada pereda sakit juga” suster mengambil suntikan, menyuntik lengan Andi. Setelah itu kedua suster berjalan ke luar.


Perlahan Andi mulai tenang. Tubuhnya menjadi lelah akhirnya ia tertidur pulas.


“Alhamdulillah abang sudah tidur” aku menghapus air mataku, lalu aku mengusap air matanya juga. “Kamu tidur ya” mengelus rambutnya perlahan.


Mama dan Ayah juga terlihat sudah tenang. Mereka berdua duduk di sofa sementara aku masih duduk di samping ranjangnya Andi. Andi tertidur pulas setelah disuntik suster.


“Sayang” mengelus rambutnya “cepat baikan ya, kamu cepat sembuh. Aku sayang banget sama kamu” jari jemariku terus mengelus kepala Andi perlahan.


Aku beranjak dari tempat duduk mengambil handphone yang ada di atas lemari, aku keluar dari ruangan mencari kontak mama yang tersimpan di hanphoneku.


Via telpon


Aku


Assalamualaikum ma…


Mama


Waalaikumsalam


Aku


Mama…, kakak nginap di sini ya. Bang Andi tadi kesakitan parah di kepalanya.


Mama


Iya nak


Aku


Iya ma


Panggilan berakhir aku kembali ke dalam kamar dan duduk di samping Andi.


#thank you atas kunjungannya.

__ADS_1


Semoga cerita ini dapat menambah inspirasi kalian.


Di tunggu part selanjutnya ya bye.


__ADS_2