
Hallo guys!!
Terima kasih masih setia dengan Bapak Tentaraku.
Tok… tok… tok… suara ketukan pintu, aku dan Andi dengan kompak melihat ke arah pintu melihat siapa yang datang.
“Assalamualaikum” ucap seseorang di balik pintu.
“Waalaiakumsalam” jawabku dan Andi kompak.
Orang yang datang adalah mamanya Andi “bagaimana sayang keadaan kamu?” tanyanya berjalan mendekati ranjang tempat aku berbaring “ambil ini dong abang jangan dilihatin saja” protesnya. Dengan segera Andi mengambil bawaan dari tangan mamanya.
“Alhamdulillah sudah mendingan ma” jawabku mengulurkan tangan bersalaman dengan calon mama mertuaku, yang sungguh baik kepadaku dan menganggapku seperti anaknya sendiri. Sungguh beruntungnya aku bisa mendapatkan pangeran yang superbaik seperti Andi dan mendapatkan calon mertua seperti mamanya. Wanita mana yang tidak iri. Aku sangat sangat bersyukur bisa bertemu dengan mereka dan mereka menjadi bagian hidupku.
“Ma… abang boleh ambil ini” menunjuk kotak kue.
“Jangan… itu semua untuk adek” jawab mama.
“Ma… kata ayah kita tidak boleh pelit” ucap Andi mencari alasan agar mamanya mengizinkan ia ikut menikmati makanan yang dibawa mamanya.
“Pandai sekali ya kamu abang” ucap mama meledeknya “adek mau roti ya, mama ada bawa roti coklat untuk kamu”
“Iya ma” aku memeletkan lidahku ke arah Andi.
“Ma… abang loh yang anak kandungnya mama” protesnya, merengek seperti anak balita yang berumur 4 tahun.
“Tapi adek anak kesayangan mama” balas mama merangkulku yang sedang duduk di atas ranjang.
“Ngambek saja lah abang” Andi memasang wajah cemberut yang membuat aku dan mama cengengesan melihatnya.
“Sudah ah, itu buat kamu. Tapi jangan dihabisin tinggalin untuk adek. Biasanya kan kamu kalau makan pasti rakus, makanya perutnya jadi buncit kaya begitu” menujuk ke arah perut buncit Andi.
“Adek ma yang rakus” menunjuk ke arahku, lalu tanpa dosa ia menggigit roti yang ada di tanganku.
“Dih gak mau, setelah ngatain orang, makan makanan orang” protesku lalu menggigit dan mengunyah roti.
“Dikit, icip. Siapa tahu rotinya basi kan” jawab Andi membuat pembelaan untuk dirinya sendiri.
“Sayang, mama tidak bisa lama - lama ya, mama harus ke toko lagi. Mama gak bisa kalau cuma andelin anak buah” ucap mama berpamitan pergi.
“Iya ma, terima kasih ya ma sudah dijengukin dibawain makanan lagi. Gak kayak yang di sebelah ma” melirik ke arah Andi “pelit”
“Iya pelit banget” bisik mama ke telingaku.
“Gosip terus gosip”
“Mama pamit ya” mama berjalan ke arah pintu, lalu membukanya dan berjalan keluar meninggalkan ruangan.
****
“Sayang mau mie itu” aku menunjukkan bungkusan mie.
“Kamu tidak boleh makan mie dulu sayang”
“Boleh dikit saja”
“Iya” Andi lalu mengambil bungkusan mie lalu membukanya.
“Suapin” pintaku kepadanya.
__ADS_1
Andi mengambil sumpit lalu menyuapi mienya ke dalam mulut mungilku.
“Duh manjanya”
“Kan gak apa - apa sama kamu”
“Awas saja kalau sama yang lain kamu begini”
“Memangnya kenapa?” Tanyaku menantangnya.
“Bakalan aku coret dari kartu keluarga dan kamu tidak akan mendapatkan harta gono gini” Andi terus menyuapi mienya ke dalam mulutku.
“Duh kejamnya kejamnya kejamnya, sungguh kejam kau meninggalkanku tanpa perasaan” aku bernyanyi dengan sangat fals.
“Malah nyanyi”
“Hiburan sayang, bah bek meugok - gok tuot (lututnya bergoyang)”
“Ulee adek singet (kepala miring)” ledek Andi.
“Bah beu singet (biar pun miring) tapi kamu cinta kan? Kamu cintakan sama aku? Kenapa kamu cinta sama aku?”
“Dih” ucapnya dengan begitu cuek.
“Sayang kamu tahu gak?” Ucapku berniat menggombalin Andi.
“Gak tahu” jawabnya ketus.
Aku tidak menyerah dengan jawabannya yang ketus, aku tetap berusaha menggombalin dia “Kenapa minyak goreng itu namanya bimoli?”
“Kenapa?” Tanya Andi balik, karena otaknya tidak akan mau memikirkan jawabannya.
“Kalau mau senyum, senyum saja kali pak. Gak usah ditahan - tahan begitu. Aku tahu kok kalau kamu klepek - klepek” ucapku yang terus saja menggodanya.
“Ikan kali abang, klepek - klepek”
“Sayang tahu gak?” aku memulai kembali aksiku.
“Abang gak tahu, gak tahu abang”
“Ish” aku begitu kesal dengannya “dengar dulu bohitek (telur bebek)”
“Apa nona manis” mencolek daguku.
“Eum apa tadi, kan lupa” aku memukul lengannya “kan jadi lupa aku, mau bilang apa tadi” aku berusaha berpikir dengan keras apa yang mau aku omongin barusan.
“Belum lagi jadi nenek sudah pikun” ledeknya.
“Ssst….” Melekatkan jari telunjukku di bibirnya.
“Ape nih pegang - pegang” ucap Andi sedikit berteriak “tolong ya aku masih suci”
“Ish…” wajahku terlihat begitu kesal, karena Andi telah menggagalkan aksiku yang kedua kali untuk menggombalinnya.
Andi tersenyum melihat wajahku yang terlihat kesal.
“Apa sayangku, cintaku, bohateku kamu mau ngomong apa sayang?, jangan ngambek begitu dong. Nanti tidak manis lagi istri aku ini” ucap Andi meredakan rasa kesalku.
“Eum… oh ini” aku sudah mengingat kembali apa yang ingin aku katakan sebelumnya “alah tapi gak asik lagi, lain kali saja deh”
__ADS_1
“Apa sayang, serius abang mau mendengarnya”
“Eum gak jadi sayang”
“Ayolah sayang” Andi mengedipkan matanya.
“Genit. Ini sayang adek mau bilang ini sayang. Di dunia ini tidak ada yang sempurna, lantas dari mana kamu berasal?”
“Ooooooooooooh adek mau bilang itu” ucapnya tertawa ngakak, yang membuat diriku semakin kesal. Aku menelan ludahku sendiri. Wajahku rasanya ingin keluar tanduk “ya Allah abang, kok gitu responsnya, gak gitu konsepnya sayang. Adek berusaha dengan sekuat tenaga, hati jiwa dan raga untuk mengeluarkan kata - kata romantis seperti itu untuk abang, tapi abang malah responsnya seperti ini, kecewa adek mechop - chop (menusuk) jantung hati” aku mengomeli Andi habis - habisan.
Andi tertawa ngakak dengan semua ocehanku “sayang kamu lucu deh kalau mengomel seperti itu” Andi memandang setiap sisi wajahku, menurutnya aku benar - benar lucu saat mengomel atau sedang cerewet.
“Sayang iih, malah begitu dia”
“Apa sih sayang. Serius abang bilangnya kamu imut banget seperti marmut” Andi mengakhir katanya dengan tertawa ngakak.
“Tunggu pembalasan aku ya Andi”
“Panggil apa kamu barusan”
“Andi”
“Coba ulang”
“Andi A - N - D - I Andi” aku mengeja setiap huruf dari namanya.
“Gak boleh seperti itu ya sayang, itu tidak sopan namanya. Abang bukan teman adek, abang kekasih adek. Jadi tidak sewajarnya adek memanggil abang dengan sebutan nama” protesnya sedikit memarahiku.
“Iya maaf” aku menundukkan kepalaku, alasannya simpel karena aku tidak ingin Andi memarahiku.
“Jangan pernah lagi memanggil abang dengan sebutan nama ya sayang. Kamu cukup panggil abang dengan sebutan abang atau sayang. Kan harus ada perbedaan antara pasangan dan teman - teman abang”
Aku menganggukkan kepalaku menyetujui omongan Andi.
“Metuah sayang” Andi mengelus kepalaku “ini amp lagi mienya” Andi mulai menyuapiku lagi. Aku membuka mulutku lebar - lebar, namun bukannya memasukkan mienya ke dalam mulutku ia malah memasukkan mienya ke dalam mulutnya sendiri. Aku menghela napasku, meredakan kekesalanku.
“Ciee kenapa?, kesal ya sayang?, kesal saja sana” bukannya minta maaf Andi malah terlihat begitu menyebalkan.
“Enggak” jawabku menggelengkan kepalaku “i am fine”
“Gak bisa bahasa inggres sayang”
“Abang ulok (lawak) sekali”
“Sayang… abang gak pakai ulok - ulok (batu uleken) lagi, sekarang zamannya sudah canggih sudah pakai mesin namanya blender” ucap Andi yang terus saja membuat level kekesalanku bertambah.
“Mau abang apa sih”
“Mau….”
“Mau apa?”
“Mau mencintai kamu seumur hidupku”
#thank you atas kunjungannya.
Semoga cerita ini dapat menambah inspirasi kalian.
Di tunggu part selanjutnya ya byeeeeee.
__ADS_1