
Hallo guys!!
Terima kasih masih setia dengan Bapak Tentaraku
*****
Andi merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Aku membereskan alat kosmetik dan handuknya meletakkannya kembali ke tempat semula.
“Sudah bisa sayang jadi istri sholehah” ucapnya menggodaku.
“Ih apa sih, kamu selalu ya godain aku. Gak bisa apa lihat aku tenang sedikit”
“Aku gak godain kamu loh sayang, kan aku ngomongnya fakta. Fakta itu hal yang benar - benar terjadikan”
“Iya sih” aku mengangguknya pelan tanganku masih memegang handuknya yang basah.
“Nah apa juga kamu membantahnya”
“Ah sudahlah aku mau beresin ini dulu” aku meletakkan handuknya di senderan sofa lalu memasukkan kembali kosmetiknya ke dalam tas.
Cekkrreek… suara gagang pintu yang terbuka.
“Assalamualaikum” ucap ayah dan mama yang baru kembali.
“Waalaikumsalam” jawabku dan Andi kompak.
“Mama dan ayah dari mana” tanya Andi
“Ini mama sama ayah tadi keluar shalat subuh eh setelah kami berdua keluar dari musholla malah bertemu dengan teman lama mama jadi ngobrol - ngobrol gitu jadi lama deh” jelasnya “oh iya ini mama beli sarapan kita makan sama - sama yuk”
“Abang boleh makan” ia berharap mendapatkan sarapan yang dibawakan mama karena ia sungguh bosan dengan makanan rumah sakit.
“Yah mama gak beliin untuk abang, gimana dong??”
“Yah mama ini” wajahnya sedikit cemberut.
“Ada kok gak usah cemberut gitu mukanya nanti gak ganteng lagi kamu”
“Itu dengar dek, mama saja mengatakan kalau abang itu ganteng. Cuma kamu doang yang tidak mengakui kegantengan abang”
“Mama hoaks itu ngomongnya, biar gak enakan sama abang” jawabku memojokkan dirinya.
“Mama adek bilang mama hoaks, marahin ma”
“Iya memang mama hoaks” bukannya membela putranya mama malah membela aku.
“Dengar tu sayang” memeletkan lidahku. “Ma yang mana makanan buat abang” tanyaku membuka kantong bawaan mama.
“Yang ini sepertinya sayang” menunjuk kotak makanan yang dikaretin. Aku mengambil kotak tersebut lalu memberikannya kepada Andi “makan dulu sayang”
Andi menyenderkan tubuhnya di bantal. Aku membuka kotaknya.
“Abang makan sendiri apa adek suapin” tanyaku.
“Eum makannya disuapin kamu saja kayanya enak”
“Oke” aku mulai menyuapi Andi. “Eh sayang bukannya kamu di suruh puasa ya”
“Oh iya gimana dong”
Cekrekkk suara gagang pintu yang terbuka
“Permisi Assalamualaikum” suster datang ke arah ranjang Andi.
“Sus, apa bang Andi boleh makan dulu sedikit. Karena semalam dokter bilangnya harus puasa dulu nanti siang akan dilaksanakan operasi” tanyaku aku meletakkan kembali sendoknya.
__ADS_1
“Itulah yang mau saya konfirmasikan, tadi berdasarkan jadwal dokter yang bertugas di bidang operasi pak Andi operasinya akan dilaksanakan nanti malam. Jadi dokter mengatakan kalau puasa untuk operasi bisa dilakukan 6 sampai 8 jam” jelasnya.
“Oh berarti sayang kamu makan dulu, terima kasih ya sus untuk penjelasannya”
“Baiklah ada yang mau ditanyakan lagi”
“Tidak sus”
“Kalau seperti saya permisi dulu, kalau ada apa - apa boleh ke ruang piket suster ya” suster berjalan keluar dari ruangan.
“Ayah kita pulang sebentar yuk” ajak mama “mama mau persiapkan semuanya”
“Iya ayo ma, ayah juga sudah gerah”
“Sayang kalau mama dan ayah pulang sebentar boleh ya”
“Terus ma acara pengajiannya kapan”
“Nanti selesai shalat zuhur saja kita yasinannya” mama dan ayah membawa barangnya lalu berjalan ke luar ruangan.
“Hayyo tinggal kamu sendirian”
“Yee emangnya kenapa, kamu mau ngapain aku memangnya”
“Mau apa ya” nada bicaranya sedikit genit
Aku tersenyum licik kearahnya
“Mau apa kamu hah” mendekatkan wajahku ke wajahnya.
“Gak mau apa - apa, cuma mau mencintai kamu seumur hidupku” jawabnya tersenyum nyengir
“Bisa ya gombalnya” aku menarik hidung “sayang bakpaunya mana”
“Pipi kamu kempes ya sekarang” aku baru menyadari bahwa Andi kurusan.
“Iya sayang” memegang pipinya.
“Iya nanti setelah sembuh kita makan - makan lagi ya yang banyak biar kamu gendut lagi” ucapku
“Kamu suka cowok gendut ya”
“Enggak juga, tapi aku gak mau melihat kamu kurusan”
“Aciiee”
“Aku mau mandi dulu ya, gerah banget”
“Oh pantesan dari tadi sekayak bau apa gitu, ternyata oh ternyata bau itu berasal dari kamu”
“Apa sih, orang aku masing wangi begini” aku membela diriku yang walaupun tidak mandi masih bisa wangi cuma bau asem - asem sedikit saja. Aku berjalan ke arah kamar mandi.
“Sayang” panggil Andi. Aku menoleh ke belakang melihat kearahnya “boleh ngintip gak”
“Hei kamu” melempar handuk ke arahnya “mau aku cubit kamu hah”
“Ah takut ada nenek sihir ngamuk”
“Apa kamu bilang” aku berjalan mendekatinya lalu baaam satu cubitan mendarat di pinggangnya “kamu itu lagi sakit gak boleh genit”
“Jadi kalau tidak sakit boleh ya sayang genitnya” dia terus berusaha menggodaku.
“Bandel banget sih kamu, sama saja tidak boleh” ucapku sedikit menjewer telinganya.
“Maa…. aku disakitin. Ma…. tolong abang” rengeknya entah sama siapa ia meminta bantuan.
__ADS_1
“Nangis nangis, sudah gedek masih cengeng” ledekku.
“Mandi sana kamu, kamu bau” menutup hidungnya.
“Iya” aku mengambil kembali handuk yang aku lempar sebelumnya. Lalu berjalan ke kamar mandi “awas ya jangan ngintip” aku memberinya peringatan.
“Dikit boleh kali”
“Wanda… Andriansyah…” teriakku.
“Jangan teriak - teriak sayangku cintaku bohateku” ucapnya dengan manis.
Aku masuk ke kamar mandi.
“Ah bosan sendirian” Andi mengambil handphone di atas lemari dan itu adalah handphoneku. “Handphone adek sepertinya ini” Andi membuka password handphonenya lalu menscroll media sosialku.
Dua puluh lima menit kemudian aku keluar dari kamar mandi telah siap dengan baju dan celana lain.
“Leh mandi ka wangi hana bau lagei bang Andi (selesai mandi sudah wangi tidak bau lagi seperti bang Andi)” aku bernyanyi kegirangan dengan nada meledek Andi yang tangannya masih mengscroll sosial media.
Andi melirik ke arahku.
“Haaaaa leh mandi ka wangi hana bau lagei bang Andi” nyanyiku sekali lagi.
“Berisik” menutup kupingnya.
“Iya gak usah di dengar” aku terus bernyanyi dengan nada yang sama. “Aku make up dulu biar cetar membahana badai” aku duduk di kursi biasa di samping ranjangnya Andi. Lalu membuka tas make up ku. Andi meletakkan kembali handphonenya di atas lemari. Aku melihat handphonenya “kamu pakai handphone adek??”
Andi mengangguknya pelan
“Pasti habisin paket data aku kan”
Andi menggangguknya lagi lalu ia duduk di atas ranjang memperhatikanku.
“Ini apa sayang” memegang cushion
“Cushion”
“Pakainya dimana” tanya lagi
“Di mukalah” jawabku ketus
“Ini apa sayang” tanya lagi memegang maskara.
“Itu maskara sayangku, dipakainya di sini ini” menunjukkan bulu mata.
“Ini sayang” mengambil lipstik
“Itu lips cream”
“Terus ini” setelah meletakkan lips cream ia mengambil liptins
“Itu liptins”
“Ooooooo” jawabnya dengan nada panjang “pengen dong dimake up in” ujarnya.
“Serius abang mau dimake up in, adek mau adek make up in ya mumpung gak ada orang juga”
“Jadi kamu mau bereskprimen di muka abang”
#thank you atas kunjungannya.
Semoga cerita ini dapat menambah inspirasi kalian.
Di tunggu part selanjutnya ya bye.
__ADS_1