Bapak Tentaraku

Bapak Tentaraku
Bab 117 : Andi dan Kanza Bersatu


__ADS_3

Warning!!!!


Ini episode terakhir.


Siapkan mental kalian…


kita akan berbahagia hari ini.


#ruang bimbingan


Aku dan Andi masuk ke dalam ruang bimbingan. Kami duduk bersama peserta lain mendengar arahan dari kepala KUA.


Setelah semua arahannya selesai aku, Andi dan semua calon pengantin lainnya diarahkan ke beberapa meja untuk menjalankan tes agama dan lainnya.


#meja 1


Aku dan Andi duduk bersebelahan. Di meja ini tempat tes mengaji.


"Silahkan bu membaca Al Quran" suruh petugas kepadaku.


Aku membuka Al Quran lalu mulai membacanya, aku membuka Al Quran di halaman yang terdapat ayat kursi.


Bismillah rahman rahim Allaahu Laailaaha illa huwal hayyul qayyuum. Laa ta'khudzuhu sinatuw walaa nauum. Lahuu maa fissamaawaati wamaa fil ardhi. Mangdzalladzii yasyfa'u 'indahuu illai bi idznih. Ya'lamu maa baina aiydiihim wamaa kholfahum walaa yukhiithuuna bisyayin min 'ilmihii illaa bimaa syaaa a. wasi'a kursiyyuhus samaawaati wal ardho. Walaa yauduhuu khifdhuhumaa wa huwal'aliyyul 'adhiim" aku membacanya sedikit berirama sebagaimana yang pernah aku pelajari saat belajar mengaji dulu saat kecil.


"Alhamdulillah, ibu bisa membaca Al Quran dengan begitu lancar. Tajwidnya benar, makharijul hurufnya pun benar. Silahkan pak, sekarang giliran bapak" ucapnya lagi menyuruh Andi.


Andi mulai membaca Al Quran di ayat yang sama dengan yang aku bacakan.


Bismillah rahman rahim Allaahu Laailaaha illa huwal hayyul qayyuum. Laa ta'khudzuhu sinatuw walaa nauum. Lahuu maa fissamaawaati wamaa fil ardhi. Mangdzalladzii yasyfa'u 'indahuu illai bi idznih. Ya'lamu maa baina aiydiihim wamaa kholfahum walaa yukhiithuuna bisyayin min 'ilmihii illaa bimaa syaaa a. wasi'a kursiyyuhus samaawaati wal ardho. Walaa yauduhuu khifdhuhumaa wa huwal'aliyyul 'adhiim" Andi membacanya dengan begitu merdu, bahkan aku sendiri tidak pernah mendengar Andi mengaji semerdu ini.


Subhanallah, batinku. Aku begitu terharu dengan Andi, rasanya aku benar - benar tidak salah memilih calon imam untuk masa depanku. Sungguh aku begitu bangga memilikinya.


"Alhamdulillah, lantunan ayat yang dibacakan oleh bapak pun begitu merdu. Semua makharijul hurufnya pun benar dan tajwidnya pun tepat, panjang pendeknya, dengungnya pun sempurna. Saya menjadi tidak tahu ini mau komen apa, lanjut saja pak, buk ke meja selanjutnya" ucapnya cengengesan.


Aku dan Andi melangkah ke meja selanjutnya. Setelah menunggu banyak antrian, akhirnya kini giliran aku dan Andi.


"Silahkan pak" melirik Andi "calonnya yang mana?"


"Ini pak" ucap Andi menunjuk ke arahku.


"Betul ini pasangan bapak? jangan sampai salah ambil pasangan itu pak" ucapnya membuat candaan yang membuat semua peserta yang mengantri di meja kedua cekikikan.


"Alhamdulillah tidak salah pak, sudah saya ikat pakai rantai pak biar tidak salah ambil" jawab Andi membalas candaannya.


"Baiklah baiklah, sengaja saya bercanda seperti ini biar suasananya tidak tegang sekali, seperti bapak itu" menunjuk ke salah satu peserta yang wajahnya terlihat sangat tegang. "Oke pak berarti ini ya pasangannya" menunjuk ke arahku. Ia menanyanya sekali lagi, untuk memastikan bahwa Andi tidak salah mengambil pasangannya.


"Iya pak" Andi menganggukkan kepalanya. Ia merasa jawabannya sudah sangat tepat.


"Buk na neteoh manoe wajeb droneuh (bu, apakah kamu bisa melaksanakan tata cara mandi wajib)" tanyanya kepadaku. Sontak membuatku kaget, wajahku terlihat sangat malu. Aku hanya mengganggukkan kepalaku pelan sembari melirik ke arah Andi.


"Alhamdulillah kalau bisa jangan malu - malu seperti itu ibu. Bukan kah dalam sebuah pernikahan itu pastinya nanti akan ada hubungan wajib yang dilakukan oleh suami istri atau bahasa lainnya bersetubuh" ucapnya menjelaskan tanpa ada kata yang disamarkan, ia begitu terang - terangan menjelaskannya tanpa ada rasa malu - malu. Namun, wajahku tak bisa menahan rasa malu mendengar setiap ucapan petugasnya. "Jadi setelah kita berhubungan intim kita harus mandi, mandinya bukan mandi seperti biasa ya. Mandi itu dinamakan mandi wajib, mandinya ada niatnya sendiri. Coba pak bacakan niatnya" menunjuk ke arah Andi.


MasyaAllah untung bukan menyuruh saya. Ayo abang semangat, batinku, melirik ke arah Andi lalu tersenyum - senyum.


Melihatku tersenyum bapak petugasnya malah "setelah bapak, ibu ya yang membacakan niatnya"


Jantungku langsung dag dig dug. Ya Allah kena juga aku, batinku.


"Bismillahirahmanirahim, Nawaitul ghusla liraf'il hadatsil akbari minal jinabati fardlo lillahi ta'ala" ucap Andi dengan begitu lancar.


"Artinya pak"


"Sahaja aku mandi wajib untuk menghilangkan hadast besar dari jinabah, karena Allah ta'ala" jawab Andi.


"Jinabah artinya apa?" Tanya melirik Andi.


"Bersetubuh pak"


"Sudah lulus, sekarang giliran ibu" menunjuk ke arahku.


"Waduh" ucapku yang sudah berkering dingin.


"Silahkan bu, jangan malu - malu. Yang lain juga akan seperti itu saya tanyakan" ucap bapak petugas meja kedua.


"Sudah sayang, baca saja kamu kan bisa. Tunjukin dong mode ibu gurunya jangan malu - malu" bisik Andi di telingaku.


Akhirnya aku membuka suara "Bismillahirahmanirahim, Nawaitul ghusla liraf'il hadatsil akbari minal jinabati fardlo lillahi ta'ala" ucapku sedikit gugup.


"Nah apa juga yang tidak bisa" teriak bapaknya yang membuat aku terkaget mendengar suaranya yang sedikit keras "oke oke kalian sudah lulus, terakhir silahkan menuju ke meja ketiga, silahkan silahkan. Peserta berikutnya"


Aku dan Andi bangun lalu berjalan ke meja ketiga meja terakhir. Aku dan Andi mulai mengantri.


"Ini meja terakhir berarti ya sayang" tanyaku yang duduk di samping Andi, sedikit berbisik - bisik.


"Iya sepertinya sayang, semoga saja"


"Iya sayang, sumpah malu banget adek kalau ditanya - tanya masalah begituan"


"Ya namanya juga untuk orang dewasa yang ingin menikah, ini bagus lagi kalau sampai ditanya cara melakukan hubungannya bagaimana? Apa yang harus kita jawab"


"Ish gila kamu sayang. Memangnya kamu tahu cara melakukannya"


"Wesh Andi" menepuk dadanya.


"Suaranya dipelankan sedikit, malu"


"Oh iya"


"Jadi kamu tahu kan cara melakukannya?" ucapku sekali lagi, kali ini untuk menggoda Andi. Aku bahkan sampai mengedipkan mataku kearahnya.


"Sabarlah dululah sayang, nanti selesai menikah langsung kita gas. Abang tunjukkan keperjakaan abang" bisiknya di telingaku.


"Apa sih kamu" aku menepuk kakinya Andi, jawaban Andi sungguh membuatku malu.


"Jiah malu - malu dia, nanti ya angrybirdnya lagi mempersiapkan dirinya untuk bertemu kamu"


"Siapa angrybird?"


"Itu" bisiknya lagi ke telingaku, lirikan matanya menuju ke sesuatu yang ada dibalik celananya.


"Kampret kamu sayang" bisikku lagi di telinganya.


"Sabar ya" sekarang malah Andi yang menggodaku sampai membuat wajahku memerah menanggung rasa malu.


****


"Peserta berikutnya" ucap petugas meja ketiga.


"Ayo sayang, jangan asik menggoda aku kamu" aku bangun dari kursi lalu berjalan ke arah meja ketiga yang diikuti oleh Andi.


Aku dan Andi duduk di hadapan meja ketiga. Jantungku kembali deg degan, aku berusaha menenangkan diriku untuk menghadapi pertanyaan seperti apalagi yang harus kujawab.


"Baiklah... sebelumnya perkenalan nama saya ibu Liliana, jadi di tes ketiga untuk calon pengantin pria dan calon pengantin wanita yang akan segera menikah, ya saya tanya - tanya dulu di sini. Santai saja ini pertanyaan semacam untuk tes kepribadianlah dari masing - masing pasangannya"


Aku dan Andi hanya menganggukkan kepala sebagai jawabannya.


"Sebelumnya saya mau tanya terlebih dahulu kepada ibu" menunjuk ke arahku.


"Iya bu, silahkan"


"Apa di samping ibu ini calon suami ibu?"

__ADS_1


"Iya bu, calon suami saya" jawabku singkat.


"Eum... bagus. Kalau seperti itu siapa nama calon dari suami ibu ini beserta bin?"


"Namanya Wanda Andriansyah bin Zaini Husain" jawabku dengan lancar.


"Apa benar pak, nama bapak seperti yang telah disebutkan oleh calon istri bapak"


"Benar bu" jawab Andi dengan tegas.


"Baik, syukurlah kalau benar. Sekarang giliran bapak" menunjuk ke arah Andi "bapak, apakah wanita yang ada di samping bapak ini adalah seorang wanita yang telah terpilih menjadi calon istri bapak?" tanyanya kepada Andi.


"Iya bu"


"Baiklah kalau begitu silahkan bapak sebutkan siapa nama dari wanita di sebelah bapak ini beserta nama walinya"


"Namanya Kanza Auliya binti Lukman" ucap Andi yang sudah hafal dengan namaku dan nama ayahku yang menjadi calon mertuanya.


"Alhamdulillah, berarti kalian sudah mengetahui nama dari masing - masing pasangan kalian. Baiklah apa saya boleh tanya lagi?"


Aku dan Andi menganggukkan kepala lagi sebagai jawaban iya.


"Saya ingin bertanya, kalian berdua ini akan melakukan sebuah pernikahan, apakah dipaksa oleh pihak lain atau memang berdasarkan keinginan dari kalian berdua?" Ucapnya mengajukan pertanyaan lagi.


"Keinginan kami berdua" jawab Andi.


"Iya bu keinginan kami berdua" tambahku menatap ibu Liliana.


"Alhamdulillah berarti tidak ada paksaan untuk hubungan kalian berdua, berdasarkan data kalian juga" melihat - lihat berkas biodata kami "kalian juga sudah cukup umur untuk melangsungkan sebuah pernikahan. Selamat pak, buk kalian lulus. Semua rangkaian tesnya sudah kalian jalankan. Berarti tiga hari ke depan kalian bisa melangsungkan pernikahan di mesjid Nurul Mukmin ya?"


"Iya bu" jawabku.


"Semoga pernikahan kalian sakinah mawaddah warahmah, nanti bapak penghulunya akan hadir ke sana, beserta ada surat - surat dan buku nikah yang akan kalian tanda tangani di hari H esok. Sekali  lagi saya ucapkan selamat"


"Terima kasih bu" ucapku mengulurkan tangan bersalaman dengannya. Aku dan Andi bergegas pergi meninggalkan kantor KUA.


Perjalanan hari ini kami lanjutkan, setelah selesai mengurus semua berkas dan serangkaian tes di kantor urusan agama. Aku dan Andi melanjutkan mencari souvenir pernikahan, fitting baju dan lainnya.


SKIP


Tiga hari kemudian. Hari ini adalah hari yang aku tunggu - tunggu selama ini. Hari dimana aku akan menjadi istri Andi. Seorang tentara yang gagah berani, seorang laki - laki yang berhasil membuatku jatuh cinta.


Malam harinya semua orang - orang berdatangan, semua keluarga dari berbagai daerah berkumpul di rumahku. Suasana malam itu benar - benar riang gembira.


Aku bersama sepupuku menemaniku memakai inai di tangan dan kakiku oleh tukang inai yang telah aku sewa sebelumnya.


Satu jam kemudian, ia telah mengukir inai dengan indah di kedua tanganku dan juga kedua kakiku.


#jam 05.00


Suara alarm berbunyi memanggilku, menyuruhku untuk segera bangun, menyambut hari kebahagianku.


Aku bangun dari tidur nyenyakku lalu merapikan tempat tidur.


Suara ketukan pintu terdengar di telingaku, aku berjalan ke arah pintu lalu membuka kuncinya.


"Mama"


"Ciee calon pengantin baru, mama pikir kakak belum bangun mau mama bangunkan" ucap mama berdiri di depan pintu.


"Masuk ma, Sudah dong ma"


"Shalat subuhnya sudah sayang?" tanya mama.


"Belum ma, ini mau wudhu dulu"


"Oke, setelah shalat kamu langsung mandi ya, MUA nya sebentar lagi ke sini kan?


"Mama keluar dulu ya, mau lihat - lihat suasana di depan"


"Iya ma"


Mama keluar meninggalkanku di kamar. Aku berjalan ke kamar mandi.


Beberapa menit kemudian, aku keluar dari kamar mandi, mengambil mukena lalu memakainya dan menggelarkan sajadah. Aku mulai melaksanakan shalat subuh.


"Allahu akbar" ucapku mengangkat kedua tangan memulai takbiratul ihram.


Lima menit kemudian.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatah" menoleh ke arah kanan. "Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatah" menoleh ke arah kiri. "Alhamdulillah" aku mengangkat kedua tanganku "ya Allah, hari ini adalah hari yang aku tunggu - tunggu selama ini, hari dimana aku akan menikah dan bersanding di atas pelaminan dengan bang Andi, laki - laki yang sangat aku cintai. Ya Allah terima kasih engkau telah mendatangkan hari ini, aku mohon ya Allah lancarkan hari ini. Lancarkan dan mudahkanlah langkah bang Andi datang ke sini aaamiiiin" menyapukan kedua tangan ke wajah.


Aku melepas mukena lalu melipatnya dan meletakkannya kembali ke rak bersama sajadah. Aku mengambil handuk lalu berjalan ke kamar mandi.


Beberapa menit kemudian, aku keluar dari kamar mandi, aku memakai baju kaos menunggu kedatangan MUA yang akan meriasku.


Tok... tok... suara ketukan pintu kembali terdengar.


"Masuk" ucapku yang sedang memakai skincare di wajahku.


Seseorang masuk ke dalam kamar "sayang makan dulu ini, supaya kamu tidak pusing nanti sewaktu dimake up in" ucap mama membawa sepiring nasi dan segelas air mineral lalu meletakkan di atas meja "makan dulu ya"


"Iya ma, terima kasih ya ma" aku berjalan ke dekat meja, mengambil piring nasi lalu mulai memakannya. Sementara aku makan, mama keluar dari kamar.


Selesai makan dan minum, aku berjalan keluar kamar, aku melangkahkan kakiku menuju ke dapur untuk meletakkan piring bekas makananku. Setelah meletakkan piring, aku memilih berjalan - jalan sebentar melihat persiapan resepsiku yang sebentar lagi.


"Kamu ngapain di sini" ucap bunda Rita menghampiriku.


"Melihat - lihat sebentar bunda" ucapku dengan lembut.


"Sebaiknya kamu masuk ke kamar, menunggu di kamar"


"Baik bunda" aku menghentikan langkahku melihat - lihat keadaan acara, lalu melanjutkan berjalan ke kamar.


Beberapa menit setelah aku bersantai - santai di dalam kamar, para MUA yang akan meriasku datang. Mereka mulai memakaikan alat - alat make up satu persatu di wajahku.


SKIP


Aku telah selesai memakai gaun putih, riasan wajah dan selendang di kepalaku.


Ini aku, batinku melihat hasil riasan di depan cermin.


#di Mesjid Nurul Mukmin


Para undangan dan ustadz - ustadz telah berhadir. Andi datang bersama orang tuanya beserta keluarga dan para sahabatnya. Ia telah siap dengan baju nikahan berwarna putih, celana berwarna putih dan kain songket yang dililitkan di pinggangnya. Andi tampak begitu tampan dengan pakaian itu.


Jam menunjukkan pukul 08.00.


Semua telah berkumpul di Mesjid, penghulu, wali yaitu ayahku, tamu undangan yang beberapa diantaranya akan menjadi saksi dalam pernikahanku. Aku dan Andi telah duduk di tempat masing - masing yang telah disediakan.


Andi duduk di depan ayahku yang menjadi wali. Setelah pembukaan oleh bapak penghulu dari kantor KUA, kemudian bacaan lantunan ayat suci Al - Quran barulah hal yang paling menegangkan terjadi.


"Bagaimana nak, apa sudah siap?" Tanya ayah menatap Andi.


"Alhamdulillah siap yah"


Ayah mengulurkan tangannya, Andi menyambut tangan ayah.


"Wanda Andriansyah" panggil ayah dengan lembut.


"Na lon ayah" jawab Andi.

__ADS_1


"Bismillahi rahmani rahim, lon tuan penikah aneuk lon tuan yang bernama Kanza Auliya binti Lukman dengan ananda Wanda Andriansyah bin Zaini Husain dengan mahar 16 mayam mas, dibayar tunai" menghentakkan tangannya.


"Ulon tuan teurimeng nikah ulon tuan dengan Kanza Auliya binti Lukman dengan mahar yang telah disebutkan, dibayar tunai" ucap Andi dengan begitu lancar, ia mengucapnya dengan sekali napas.


"Bagaimana para saksi?" Tanya bapak penghulu.


"Sah"


"Alhamdulillah"


Seorang ustadz membaca doa setelah selesai pernikahan.


Kini aku dipanggil untuk menemui Andi yang beberapa detik lalu sudah menjadi suamiku. Aku mencium tangan Andi, lalu Andi mencium dahiku. Setelah itu, kami semua berfoto - foto.


Beberapa menit kemudian, setelah acara foto - fotonya selesai. Aku kembali ke rumah, sementara Andi menunggu semua keluarganya yang lain untuk proses intat linto baro. Sementara menunggu keluarga dan para sahabatnya berkumpul, Andi mengganti pakaian pernikahan dengan baju adat aceh berwarna maroon lengkap dengan kain songket di pinggangnya senada dengan yang ku kenakan.


#di kamarku


Aku kembali di makeup, kali ini aku mengganti baju pernikahan dengan baju adat aceh yang berwarna maroon, aku dipakaikan sunting di kepala dan berbagai pernak pernik lainnya.


Tukang henna membuat manik - manik di henna yang sebelumnya telah diukir di tanganku.


"Kak kita foto dulu ya" ucap Mua nya.


"Iya kak"


Mereka memotret hasil make up yang sudah mempercantik wajahku.


SKIP


Jam menunjukkan pukul 11. Andi telah bersiap dengan semua keluarganya dan para sahabat - sahabatnya, mereka semua telah berkumpul di halaman Mesjid dengan membawa hantaran, tebu, kelapa yang sudah tumbuh dan lain - lainnya.


Mereka berjalan berderetan satu persatu, Andi berada paling depan ia dipayungi dengan payung khusus pengantin oleh dua orang sahabatnya yaitu pak wahyu dan teman semasa kecilnya Faras.


Kedatangan Andi telah disambut oleh tarian ranup lampuan.


"Pengantin perempuan menyambut pengantin pria" ucap Mc mengarahkan acara.


Aku berdiri di depan pintu lalu Andi dengan perlahan berjalan ke arahku.


"Pengantin perempuan mencium tangan pengantin pria" ucap Mc lagi.


Aku mengambil tangan Andi lalu membungkukkan badanku mencium tangannya. Para fotografer mengabadikan moment itu.


"Selanjutnya acara makan - makan, pengantin pria dan pengantin wanita dipersilahkan masuk ke dalam untuk menikmati hidangan yang telah disiapkan khusus"


Aku dan Andi berjalan beriringan masuk ke dalam rumah, lalu duduk di atas pelaminan untuk acara makan - makan.


"Para tamu undangan, sebanyak 20 orang dipersilahkan menikmati hidangan di dalam. Sementara yang lainnya dapat menikmatinya di luar sebagaimana telah dihidangkan oleh pemilik acara" ucap mc lagi.


Selesai acara makan - makan, aku dan Andi akan berjalan ke pelaminan. Saat berjalan ke pelaminan para anggota pedang pora menyambut kedatangan kami. Acara itu terlihat begitu meriah, aku sampai terpukau dengan semua gerakan yang ada di pedang pora.  Aku dan Andi berjalan perlahan di tengah - tengah para anggota pedang pora, saat aku dan Andi berjalan mereka menurunkan pedang satu - persatu yang sebelumnya di angkat seperti membentuk sebuah gerbang.


Akhirnya aku dan Andi telah sampai di pelaminan. Setiap moment itu, tak luput diabadikan oleh photografer tanpa ada yang tertinggal.


"Oke.. jadi untuk hari ini pengantin pria dan pengantin wanita kita sangat cantik dan tampan ya. Sebelumnya perkenalkan nama pengantin pria kita hari ini adalah Mayor Wanda Andriansyah atau biasa dipanggil dengan sebutan bapak Andi, beliau lahir di Indra Puri pada tanggal 9, bulan maret, tahun 1993, beliau merupakan anak laki - laki satu - satunya dari dua bersaudara. Sekarang ia bertugas di Koramil 03. Nah jadi mayor Andi ini, alhamdulillah telah menemukan tambatan hatinya, seorang perempuan cantik, manis dan wajahnya yang adem. Ssst..." meletakkan jari telunjuk di bibirnya "kalian jangan sampai jatuh cinta kepada ibu Kanza ya, dia sudah menjadi miliknya bapak Wanda Andriansyah yang tampan rupawan. Oke - oke sekarang kita berkenalan dengan ibu cantik ini. Nama lengkap ibu cantik ini adalah Kanza Auliya S. pd. seorang sarjana di bidang pendidikan biologi, ia lahir di banda aceh pada tanggal 24, bulan september, pada tahun 1997.


"Kini kita memasuki acara peut capli, untuk memperkenalkan anggota keluarga dari pengantin wanita" ucap mc "mohon kepada anggota keluarga dari pengantin wanita dapat naik ke atas panggung pelaminan" perintahnya.


Satu persatu anggota keluargaku naik ke atas panggung pelaminan.


"Oke... jadi ini sudah ada perwakilan dari anggota keluarga ibu Kanza Auliya. Ini dengan siapa?" Tanyanya.


"Saya Hafnidar, bunda dari Kanza"


"Yang ini?"


"Saya Ramlah, nenek dari Kanza"


"Yang ini?" ucap mc lagi.


"Saya Rasyidah, bundanya Kanza juga"


"Dan yang terakhir ini?"


"Saya Rita, bundanya Kanza juga"


"Bagaimana tengku linto (pengantin pria), apa sudah kenal dengan semua bunda dan neneknya Kanza?"


Andi hanya menganggukkan kepalanya.


"Saya persilahkan kepada tengku linto untuk bersalaman dengan semua bunda - bunda dan neneknya dara baro (pengantin wanita)” perintah mc.


Andi bangun lalu bersalaman dengan satu persatu bunda dan nenekku, mereka semua menyematkan amplop di tangan Andi.


Setelah acara peut capli selesai, mereka semua turun dari panggung pelaminan, tinggallah aku dan Andi berdua bersama fotografer yang mengarahkan kami berdua untuk berfoto dengan berbagai gaya, sesekali datang keluarga dan sahabat - sahabat untuk berfoto bersama denganku dan Andi.


SKIP


Hari semakin sore, acaranya pun selesai. Aku dan Andi masuk ke dalam kamar untuk mengganti pakaian. Andi mengunci pintu kamar.


“Wah ini kamar adek selama ini” ucap Andi membuka kopiah aceh lalu meletaknya di atas meja.


“Iya dong” ucapku membuka sunting satu persatu “abang bantuin dong buka ininya” ucapku meminta bantuan Andi.


“Buka apa? jangan buka dulu. Tidak enak masih ada  keluarga kita di luar” ucap Andi cengengesan, ia membuka baju pengantinnya “huuuft…. lega”


“Ish pikirannya ya, itu nanti saja pikirinnya. Adek minta tolong cabutin suntingnya sayang” jelasku. Tanganku masih berusaha mencabuti suntingnya.


“Oh bilang kek” tertawa ngakak.


“Kamu sih”


“Iya abang bantuin kok” Andi mulai membantuku mencabuti sunting yang ada di atas kepalaku.


Setelah semua pernak pernik di atas kepalaku telah habis aku membuka baju dan celanaku tinggallah underwear, yang membuat mata Andi tercengang.


“Heiii kenapa matanya seperti itu”


Andi tersadar dari lamunannya “Wow mataku ternodai”


“Apa sih, sudah halal ya sayang bebas mau ngapain saja” ucapku lantang tanpa malu - malu, biasanya aku pasti akan terlihat malu - malu kalau Andi sudah berbaur pada hal - hal yang sedemikian. Namun kali ini, akulah yang terlebih dahulu yang menggodanya. Aku mengambil baju dan celana di dalam lemari lalu memakainya.


Aku berjalan mendekatinya “aku boleh memeluk kamu sebentar” belum lagi Andi menjawabnya, aku sudah duluan memeluknya dengan erat. Aku merasakan kehangatan saat memeluknya. Perlahan air mataku turun membasahi pipiku.


“Kenapa menangis sayang” Andi melepas pelukannya lalu mengusap air mataku “jangan menangis”


“Aku terharu, sekarang aku sudah menjadi istri kamu. Kamu telah menepati janji kamu untuk menjadikan aku sebagai satu - satunya perempuan yang mendampingimu. Terima kasih ya sayang”


Andi memelukku lagi “aku sangat mencintaimu, ini adalah impianku dari sejak pertama kali bertemu dengan kamu. Kamu satu - satunya wanita yang selalu abang harap bisa menemani abang sepanjang hidup abang” mempererat pelukannya lalu Andi mencium keningku.


Setelah bermanja - manja dengan Andi yang kini sudah menjadi suamiku. Aku dan Andi keluar dari kamar, kami berdua bergabung dengan keluarga lainnya untuk membuka semua kado dari tamu undangan.


Beberapa jam kemudian, kami semua terlelap tidur.


Menikah itu sekali, mencintai seseorang dengan tulus adalah sebuah harapan dan dicintai oleh seseorang adalah sebuah anugerah luar biasa yang didapatkan. Jangan pernah mengabaikan orang yang mencintaimu dan jangan pernah mengejar orang yang telah mengabaikan cintamu.


Cinta yang indah itu perlu ada hubungan timbal balik dari kedua belah pihak.


Dan kamu sangat beruntung apabila dicintai oleh seseorang.


Terima kasih guys untuk semua perjalanan kita sampai sekarang. Author minta maaf apabila ada kesalahan atau ada kata - kata yang menyinggung. Akhir kata author ucapkan terima kasih.

__ADS_1


Sampai jumpa di BAPAK TENTARAKU season 2. Hadirnya baby Safa dan baby Utan.


__ADS_2