Bapak Tentaraku

Bapak Tentaraku
Bab 60


__ADS_3

Hallo guys!!


Terima kasih masih setia dengan Bapak Tentaraku.


****


“Setiap hari ibu ingatkan hargai siapapun guru yang masuk” mengelilingi mereka “ini kalian selalu membuat keributan. Kalian perlu tahu ya setiap guru itu berangkat ke sekolah pagi - pagi untuk mengajari kalian ke sini. Tapi apa yang kalian buat, kalian menyakiti hatinya. Tidak semua guru bisa sabar menghadapinya. Guru di sekolah itu seperti orang tua kalian di rumah. Jadi kalau kalian menyakiti hatinya itu sama juga seperti kalian menyakiti ibu dan ayah kalian di rumah”


“Bu maafkan kami ya” seru beberapa diantara mereka.


“Baik… ibu maafkan. Ini terakhir kaliannya kalian tidak menghargai guru. Ini teakhir kalinya kalian buat keributan seperti ini paham kalian. Kalau kalian masih mau sekolah di sini hargai siapapun guru yang masuk ke kelas kalian” ucapku sedikit teriak.


“Baik bu, kami janji” ucap mereka serentak.


“Sekarang juga kalian duduk dan langsung mengambil buku”


“Baik bu” mereka semua duduk di kursinya masing - masing lalu mengambil buku paket.


“Sekarang coba buku halaman 102 yang latihan bab. Silahkan dibuat di bulu latihan masing - masing”


Mereka semua mengerjakannya tanpa ada yang membantahnya.


Aku berjalan dan duduk kembali di kursi guru lalu memanggil absen.


“Arina” panggilku berdasarkan nama urut di absen.


“Hadir bu” jawabnya


“Anita”


“Hadir bu”


“Bani”


“Hadi bu”


“Dinda Miranda Salsabila”


“Hadir ibu”


“Ferdianto”


“Hadir bu”


“Firmansyah”


“Hadir bu”


“Hasbullah”


“Hadir bu”


“Maharani”


“Hadir bu”


Aku telah selesai memanggil absen satu persatu.


“Ada yang sudah siap” tanyaku.


“Belum bu” jawab mereka


“Lanjut terus waktunya masih banyak”


Kriiiing bel istirahat berbunyi.


“Bu kami belum siap”


“Yasudah tidak apa - apa, kalian lanjut di rumah ya minggu depan dikumpulkan”


“Baik bu” mereka semua berlarian keluar kelas membeli jajan. Serelah mereka semua keluar aku ikut keluar.


Aku berjalan ke kantor lalu mengambil kursi dan bergabung dengan bu Fizza, bu Juli, bu Dewi dan pak Jamal.


“Selamat datang ibu Kanza” seru bu Fizza kepadaku yang baru datang.


Aku tersenyum manis ke arahnya.

__ADS_1


“Hari ini saya ada bawa rujak buah mangga” seru bu Dewi lalu mengambilnya di dalam kantor. Setelah itu meletakkanya di hadapan kami.


Aku dan yang lainnya menikmati rujak buah mangga.


“Enak banget” seru bu Juli.


“Iya manisnya dan pedasnya pas banget” seruku.


“Ah terima kasih” ucap bu Fizza kegirangan karena hasil buatannya disukai banyak orang.


Tak terasa bel pulang berbunyi. Aku mengambil tas lalu berjalan mengambil motor di parkiran.


SKIP


Aku telah sampai di rumah lalu memarkirkan motor di garasi dan berjalan masuk ke dalam kamar.


Aku bersiap - siap dengan mengganti seragam sekolah.


“Ma aku ke rumah sakit ya”


“Iya kamu hati - hati ya perginya”


“Iya mama” mencium tangan mama.


Aku berjalan ke parkiran mengambil motor lalu memasangkan helm dan menancap gas dengan cepat.


*****


Di rumah sakit


Aku memarkirakan motorku di parkiran rumah sakit, melepaskan helm lalu berlarian melewati lobi. Beberapa menit kemudian aku mengetuk pintu kamarnya.


“Assalamualaikum….” Ucapku membukakan pintu.


“Waalaikum salam” jawab mama yang duduk di samping ranjangnya Andi “kamu sendirian sayang” tanyanya melirik ke arahku.


“Iya ma…” aku berjalan mendekati ranjang Andi “bagaimana keadaan abang ma”


“Masih seperti ini sayang, belum ada perubahan. Kamu duduk di sini saja, mama mau pulang sebentar ya”


“Iya ma” aku menggantikan mama menjaga Andi.


“Sayang” panggilku dengan lembut lalu aku mengelus kepalanya, sampai sekarang Andi tak kunjung sadar “sayang bangun yuk, adek menunggu kamu di sini. Kamu bangun dong” tak terasa air mataku mulai berjatuhan.


Tak ada pergerakan sedikitpun dari Andi. Ia tidak menunjukkan kalau dia akan bangun.


“Yasudah kamu tidur yang nyenyak ya. Kamu lelah ya makanya mau tidur”


Kriiiiing…. bunyi notifikasi panggilan di handponeku.


Via telpon


Aku


Assalamualaikum


Dewi


Waalaikumsalam, kamu dimana Za??


Aku


Di rumah sakit ini lagi jagain bang Andi


Dewi


Sama siapa di sana??


Aku


Aku… sendirian


Dewi


Aku dan Laras ke sana sekarang ya


Aku

__ADS_1


Iya


Panggilan itu berakhir. Aku merebahkan kepalaku di samping lengan Andi.


Beberapa jam kemudian


“Assalamualaikum”


“Waalaikumsalam, masuk”


Dewi dan Laras berjalan masuk menghampiriku


“Maafin kita berdua ya baru sekarang bisa menemani kamu” memelukku


“Iya tidak apa - apa kok” melepaskan pelukannya


“Maafin aku juga ya Za, kemaren aku ikut mamaku ke tempat nenek”


“Iya terima kasih juga sudah datang ke sini”


“Iya dong, kami berdua datang ke sini untuk menemani kamu”


“Oh iya bang Andi lagi tidur ya” tanya Laras.


“Bang Andi koma, sudah dari semalaman dia tak kunjung sadar seteleh operasi”


“0perasi??” Seru mereka berdua kompak.


“Iya bang Andi mengidap tumor di kepalanya”


“Astgfirullah”


“Kamu yang sabar ya beb” mereka berdua memelukku.


Beberapa jam kemudian mereka berdua pulang meninggalkanku sendirian menjaga Andi.


**********


Hari demi demi hari telah kulalui, sekarang hari ke 59 Andi masih terbaring di rumah sakit dengan keadaannya yang tak kunjung sadar. Aku berjalan di tengahnya badai sendirian. Biasa Andi selalu menampingku menerjang badai itu.


Sudah hampir dua bulan Andi masih terbaring di rumah sakit. Aku selalu mendampinginya setiap hari tak pernah lelah mengajaknya berbicara. Aku menaruh harapan besar kepadanya.


“Sayang…” panggil mama yang juga selalu menemani Andi setiap hari. Aku dan mama selalu bergantian menjaga Andi.


“Uwan ma” jawabku lembut.


“Kamu yang sabar ya sayang, mama yakin bang Andi akan bangun dan akan bersama kita lagi” air mata keluar dari matanya membasahi pipinya. “Terima kasih ya sayang, kamu sampai detik ini masih perduli sama abang”


“Ma…. jangan ngomong seperti itu ya. Adek sayaaaang sekali sama abang. Adek gak tahu” air mataku mulai berjatuhan “adek tidak tahu kalau seandainya bang Andi meninggalkan adek ma”


“Mama percaya kok, abang akan bangun”


“Iya ma adek juga percaya. Abang orang yang kuat, abang sayang kepada kita semua jadi abang tidak mungkin akan meninggalkan kita. Abang pasti tidak mau melihat kita sedih ma” aku memeluk mama dengan erat.


Cekkreeeek…. Suara gagang pintu yang terbuka.


“Permisi Assalamualaikum” dokter Elita dan dua susternya masuk, lalu berjalan mendekati ranjang Andi. “Maaf saya periksa dulu keadaan pak Andi” aku dan mama berjalan mundur ke sofa.


Dokter Elita memeriksa denyut jantung Andi di layar monitor Elektrokardiogram.


“Denyut jantungnya normal” ucap dokter Elita lalu suster mencatatnya.


Dokter Elita telah mengecek semua kesehatan Andi.


“Bu Alhamdulillah denyut jantung pak Andi normal dan yang lainnya juga normal”


“Alhamdulillah” ucap mama


“Dok, kira - kira bang Andi kapan ya bisa sadar”


“Untuk kepastiannya saya tidak tahu tapi perbanyak berdoa saja semoga Allah cepat mengabulkannya. Saya permisi dulu”


“Terima kasih dok”


Dokter dan suster berjalan keluar.


#thank you atas kunjungannya.

__ADS_1


Semoga cerita ini dapat menambah inspirasi kalian.


Di tunggu part selanjutnya ya bye.


__ADS_2