
Hallo guys!!
Terima kasih masih setia dengan Bapak Tentaraku.
****
Suasana di dalam mobil benar - benar terasa hening yang biasanya dipenuhi canda tawa tapi kali ini tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutku atau pun Andi. Namun, Andi masih berusaha membujukku.
“Sayang…., kamu masih marah? Jangan marah lagi dong. Abang gak bisa begini. Maafin abang. Kamu jangan diamin abang kek gini” Andi masih fokus menyetir mobilnya, matanya terlihat berkaca - kaca.
Aku sama sekali tidak menjawab apa - apa. Bagiku ini sangat menyakitkan.
“Sayang…” Andi memegang tanganku dengan tangan sebelah kirinya. “Please lah, jangan marah lagi” Andi mengerem mobilnya mendadak di pinggiran jalan. “Sayang….” Tubuhnya mengarah ke hadapanku “sayang…” ia mengambil kedua tanganku lalu menggenggamnya dengan erat, air mata mulai terjatuh mengalir di kedua pipinya “sayang… maafin abang. Sungguh apa yang dikatakan oleh dokter Elita itu tidak semuanya benar, iya… tadi memang abang menabrak dia dan abang minta maaf. Tapi dia sama sekali tidak terjatuh apalagi abang memegang tangannya untuk menahan dia. Itu sama sekali tidak benar sayang” jelas Andi sedaetail - detailnya sesuai dengan fakta yang sebenarnya.
Aku masih saja mendiami nya.
“Sayang jawab dong” Andi menghirup ingusnya. “Maafin abang” Andi benar - benar ingin meminta maaf kepadaku.
“Tadi kenapa abang tidak berkata apa - apa di depan dokter itu, abang malah diam saja” ucapku membuka suara.
“Abang cuma tidak mau kita semua berantem. Lagian itu semua tidak benar, mungkin dia sengaja berkata seperti itu untuk memanas - manaskan kamu, supaya kita berantem” jelas Andi “jadi sayang, untuk apa kita perduli sama manusia seperti itu, itu sama saja akan memperusak hubungan kita. Kamu percaya kan sama abang, kalau abang tidak seburuk itu”
“Aku memang tidak melihat keadaan sebenarnya. Tapi, kali ini aku berusaha untuk mempercayaimu dan aku harap kamu tidak mengkhianati kepercayaan yang aku berikan” ucapku. Aku seakan ingin menyudahi rasa sesak di dadaku.
“Jadi adek maafin abang?” Andi mempererat genggaman tangannya.
Aku hanya menggangguknya pelan “tolong kamu jaga kepercayaan aku. Karena kepercayaan itu sangat susah dibangun lagi kalau sudah hancur” aku memberi peringatan untuknya.
“Terima kasih sayang, abang boleh peluk kamu sebentar” ucapnya.
Aku menggangguk kepalaku. Andi memelukku, ia menangis sejadi - jadinya di dalam pelukanku “kamu satu - satunya wanita yang sangat aku sayangi. Hati abang sangat sakit kalau melihat kamu marah sama abang”
“Sudah sayang ya” aku mengelus pelan punggung Andi “sudah ya, jangan dibahas lagi. Yang sudah lalu biarlah berlalu. Kita berdoa saja semoga untuk ke depannya tidak ada lagi kejadian seperti ini, baik yang terjadi kepada abang ataupun yang terjadi kepada adek. Kita harus sama - sama menjaga kepercayaan pasangan kita.”
Andi mempererat pelukannya lalu beberapa detik kemudian ia melepasnya kembali “makasih sayang sudah memenangkan abang. Kamu tahu obat yang paling mujarab untuk abang”
“Apa abang?”
“Pelukan kamu”
“Ah itu mah kamu yang genit” ledekku.
“Iish pikirannya, gak ada ya abang seperti itu” ucap Andi membela dirinya.
“Masa sih” aku meledeknya lagi.
“Iya dong, abang gak pernah berpikiran jelek seperti itu. Apalagi osum kek gitu. Ish bukan Andi banget seperti itu” ucap Andi membela dirinya.
“Iya percaya deh yang masih polos”
__ADS_1
“Oh iya dong, abang masih polos masih suci lagi”
“Sae mas ku” aku mencolek dagu Andi.
“Berarti masalah kita sudah selesai ya sayang. Kamu percaya sama abang. Abang jangankan mau berdekatan dengan wanita lain, untuk sekedar kenal saja abang tidak mau. Bagi abang satu wanita itu sudah cukup”
“Terima kasih ya abang, sudah setia sama adek”
“Tanpa kamu minta pasti abang akan melakukan hal itu, kita lanjut pulang ya” Andi mulai menancap gasnya lagi.
*****
Aku dan Andi telah sampai di depan gerbang rumahku. Andi memarkirkan mobilnya. Aku membuka pintu mobil “sayang masuk dulu yuk”
“Abang langsung ke kantor ya, sayang” Andi menarik tanganku “kamu jangan marah lagi sama abang ya, maafin abang telah melukai hati kamu ya” Andi mencium tanganku.
“Iya. Kamu hati - hati ke kantornya ya. Jaga kantornya baik - baik ya” ucapku sedikit meledeknya. Aku melangkahkan kakiku keluar dari mobil. Sementara Andi menancap gasnya lagi.
Aku berjalan menuju ke dalam rumah.
“Assalamualaikum” membuka pintu.
“Waalaikumsalam” jawab mama “dari mana saja, kok baru pulang jam segini?” tanya mama yang sedang duduk santai di kursi.
“Jalan - jalan ma bareng abang. Yasudah kakak ke kamar dulu ya mau mandi”
“Oke” mama meneguk minumannya.
Beberapa menit kemudian, aku keluar lalu mengenakan pakaian rumahan.
“Huuft capek” merebahkan tubuhku di atas kasur, mengambil handphone lalu menscroll media sosial. “Ini kan akunnya dokter Elita” tak sengaja aku melihat story dokter Elita yang lewat di beranda sosial mediaku “ini maksudnya apa?” Aku membaca storynya yang berisi ternyata pangeran itu semakin hari semakin membuatku jatuh cinta. “Ini maksudnya untuk abang, jadi dia benar - benar menyukai abang?” Perasaanku kini bercampur aduk, aku merasa dokter itu benar - benar mempunyai rasa untuk Andi “kenapa laki - laki yang menjadi milikku sih, memangnya dia tidak bisa menemukan laki - laki lain” air mataku perlahan keluar, aku sangat takut dokter itu akan berbuat nekat dan aku akan kehilangan orang yang aku cintai.
Kriiiing…. Kriiiing… kriiiing dering telponku
“Abang” aku menjawab panggilannya.
Via telpon
Aku
Abang…
(Suaraku terasa serak)
Andi
Kamu kenapa sayang, kamu kenapa nangis?
Aku
__ADS_1
Ah gak apa - apa sayang
(Aku menghapus air mataku, menghirup ingus lalu aku mencoba menenangkan diriku)
Andi
Serius sayang kamu kenapa, gara - gara abang tadi ya sayang. Maafin abang ya. Kamu jangan menangis lagi dong. Abang jadi tidak tenang di sini, abang gak bisa ke sana, abang gak bisa tinggalin kantor kalau abang piket.
Aku
Iya abang, adek gak apa - apa kok. Kamu tenang saja ya
Andi
Kamu sedang tidak membohongi abang kan?
Aku
Enggak sayang
Andi
Besok kita ketemu ya, abang kangen sama kamu
Aku
Baru juga ketemu tadi, sudah kangen saja
Andi
Iya mau bagaimana lagi, sudah kangen begini. Yasudah abang gak bisa lama - lama telponnya ya sayang. Kamu makan, shalat jangan nangis lagi, abang gak akan ninggalin kamu.
Aku
Iya abang
Andi
Ya sudah ya, assalamualaikum
Aku
Waalaikumsalam
Aku mematikan panggilannya lalu aku membaringkan tubuhku di atas ranjang.
“Ya Allah sebeginikah rasa cinta itu. Belum lagi aku melihat kepergian dia selama dua tahun, aku sudah mendapatkan masalah seperti ini”
#thank you atas kunjungannya.
__ADS_1
Semoga cerita ini dapat menambah inspirasi kalian.
Di tunggu part selanjutnya ya byeeeeee.