Bapak Tentaraku

Bapak Tentaraku
Bab 83


__ADS_3

Hallo guys!!


Terima kasih masih setia dengan Bapak Tentaraku.


****


Satu jam pelajaran telah berlalu, semua siswa dan siswi telah selesai menulis catatan seperti apa yang aku perintahkan sebelumnya.


"Sudah selesai catatannya?" tanyaku kepada mereka semua.


"Sudah bu" jawab beberapa siswa


"Bu saya belum" jawab Rinda.


"Bu saya juga belum" jawab Susi dan beberapa siswa dan siswi lainnya.


"Baiklah, lanjutkan saja menulisnya kita kan punya satu jam pelajaran lagi" ucapku memberi waktu tambahan untuk mereka.


"Baik bu" ucap mereka yang masih menulis.


"Ya lain jangan ribut ya, dibaca - baca dulu yang sudah ditulis, nanti yang tidak paham boleh ditanyakan kepada ibu sewaktu ibu terangkan" ucapku memberi peringatan.


Kriiiiing..... bel pulang berbunyi semua siswa dan siswi berhamburan keluar kelas mereka telah siap dengan tas di punggung mereka masing - masing.


"Hei mau kemana" larangku "shalawat dulu baru boleh keluar" ucapku lagi. Mereka semua duduk dengan tenang lalu bershalawat bersama.


“Shallallah ala muhammad


Shallallah alaihi wasallam


Shallallah ala muhammad


Shallallah alaihi wasallam


Shallallah ala muhammad


Shallallah alaihi wasallam


Shallallah ala muhammad


Ya Rabbi salli alaihi wa sallam” ucap mereka dengan kompak. Setelah itu mereka jalan satu persatu dengan tertib bersalaman denganku dan keluar meninggalkan kelas.


Semua siswa dan siswi kelas VIII C telah keluar, aku juga mengambil langkah meninggalkan ruangan. Aku berjalan menuju kantor utama dan melakukan finger print sebagai absen pulang.


“Terima… kasih” ucap mesin finger print setelah aku melakukan finger print dengan menggunakan jempol tangan kananku. Aku berjalan duduk di kursi panjang, mengambil handphone dari dalam tasku. Aku mencari kontak Andi lalu menghubunginya.


Via telpon


Aku


Assalamualaikum abang


Andi


Waalaikumsalam sayang, sudah siap ya kamu?


Aku


Iya abang, adek sudah selesai ini. Kapan abang jemputnya?


Andi


Sebentara ya sayang abang ambil kunci mobil di ruangan abang dulu, setelah itu abang langsung kesana

__ADS_1


Aku


Iya sayang, adek tunggu di pagar ya


Aku mematikan panggilannya. Setelah itu aku berjalan ke depan gerbang sekolah.


*****


Andi yang sedang duduk di kursi bersama anggota tentara lainnya segera bangun setelah menerima panggilan dariku.


“Pulang pak” tanya pak Danni.


“Iya pak, mau makan siang sebentar” jawab Andi yang bangun dari kursinya “saya duluan ya” Andi berjalan ke dalam ruangannya.


“Pak Andi masuk latihan bulan ini ya?” tanya pak Danni kepada anggota lainnya.


“Oh ya… terus bagaimana? katanya kan dia mau menikah” tanya pak Zakir


“Itulah, surat syarat nikah kan minimal dua bulan baru keluar” ucap pak Tarmizi.


“Mungkin ditunda dulu menikahnya. Ya mau bagaimana lagi, kewajiban kita sebagai anggota tentara harus siap kapan pun dan harus meninggalkan siapapun kalau ada tugas. Apalagi pak Andi mau naik pangkat kan?” jelas pak Zakir.


“Dua tahun berarti ya pelatihannya?” Tanya pak Danni.


“Iya dua tahun” jawab pak Zakir.


Andi berjalan menuju ruangannya, setelah mengambil kunci mobil dari dalam tasnya ia berjalan kembali keluar.


“Duluan ya pak” pamit Andi kepada anggota tentara lain yang masih duduk bersama. Andi berjalan ke parkiran mobil, membuka pintu pengemudi lalu masuk ke dalamnya, Andi mulai menyalakan mesin mobilnya lalu menancap gas perlahan.


*****


“Pulang sama siapa dek” tanya bu Juli yang memberhentikan motornya di sampingku, ia melihatku berjalan kaki ke depan gerbang.


“Biasa kak, bu Kanza hari ini diantar sama ayang” ledek bu Dewi yang berada di atas motornya di belakang bu Juli.


“Apa sih bu Dewi, dari tadi pagi ibu ledekin aku terus” ucapku sedikit tertawa. “Makanya bu Dewi cari ayang dong biar ada yang antar jemput” ledekku lagi.


“Gak deh, nanti saja. Tunggu dijodohin orang tua” ucapnya enteng. Ibu Dewi ini sedikit anti dengan cowok, jika diantara kami semua memiliki pasangan pasti ibu Dewi lebih memilih untuk sendiri alias menjomblo.


“Jangan kelamaan jomblo bu Dewi” ledek bu Juli melirik ke arah bu Dewi.


“Kenapa malah saya yang diserang ini, dasar enggak jelas kalian berdua. Yasudah saya duluan ya. Ayo bu Juli jangan gangguin bu Kanza menunggu ayangnya” bu Dewi menancap gas motornya lagi, meninggalkanku. Sama halnya dengan bu Dewi, bu Juli juga melanjutkan perjalanannya.


“Duluan ya dek” pamit bu Juli.


Kriiiing…. Kriiiiiing…. Kriiiiiing, bunyi notifikasi panggilan di handphone, aku mengambil handphone yang berada di dalam tasku.


Via telpon


Aku


Assalamualaikum abang


Andi


Abang sudah di gerbang ini, tapi abang sedikit ke belakang ya parkir mobilnya, banyak motor wali siswa itu di depan.


Aku


Iya abang, adek ke sana sekarang


Aku mematikan panggilannya, lalu berjalan ke keluar gerbang menemui Andi. Setelah sampai aku membuka pintu mobil lalu masuk ke dalamnya.

__ADS_1


“Haa panas banget” aku merasa gerah dengan cuaca hari ini. Aku mengipas - ngipas dengan tanganku.


“Gerah banget ya sayang, duh kasian istri aku pasti kecapean banget ya habis mengajar” Andi mengusap dahiku yang seolah - olah ada keringat. “Abang jalan terus ya, kita makan siang bareng” Andi menyetir mobilnya perlahan.


SKIP


Aku dan Andi telah sampai di mahacorner cafe. Andi memarkirkan mobilnya dengan aman lalu menarik rem tangan, mematikan mesin mobilnya lalu membuka pintu mobil dan ia keluar setelah itu menutupnya kembali, sama halnya dengan Andi aku juga membuka pintu sebelahnya lalu melangkahkan kakiku keluar dan menutup pintunya kembali.


Aku dan Andi berjalan bersama masih lengkap dengan seragam kerja kami. Kami berdua memilih tempat duduk di pinggiran dinding cafe.


“Abang… kalau jalan seperti ini malu deh adek, adek masih memakai seragam sekolah lagi” ucapku “tuh kan orang - orang pada lihatin kita semua”


“Apa sih, kerjaan kita kan halal untuk apa harus malu. Lagian kita kan tidak ada niat mau pamer seragam ke sini, kita ke sini mau makan siang. Perduli banget sama omongan orang lain” gerutuk Andi.


“Iya… yasudah jangan marah - marah dong bapak tentara, senyum dong kan senyum kamu itu manis” aku berusaha membujuk Andi untuk tersenyum manis.


“Hana mereumpek senyum nyan abang (tidak sempat mau senyum - senyum)” ucapnya dengan ketus lalu sedikit tertawa melirik ke arahku “lagian kerjaan bagus - bagus malah malu”


“Enggak malu sama kerjaannya sayang, tapi adek bilang malu kalau kita berseragam seperti ini untuk jalan - jalan” jelasku dengan sangat lembut.


“Tidak mau mikir abang, cacing - cacing di perut abang sedang demo ini” ucapnya.


Waiters cafe menghampiri meja kami lalu meletakkan buku menu dan ia pergi ke meja selanjutnya. Andi mengambil bukunya lalu melihat menu - menunya.


“Kamu mau makan apa sayang?” tanya Andi melirik ke arahku “jangan mie” ucapnya tiba - tiba sebelum aku memilih.


Aku terkekeh dengan kelakuannya “siapa juga yang mau makan mie” ucapku.


“Kamulah mie mie mie mie mie, apa - apa mie, kemana - mana mie” gerutuknya.


Bukannya takut aku malah tertawa lepas melihat ekspresi wajahnya “enggak sayang, yasudah abang mau makan apa?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.


“Abang ini saja nasi ayam geprek, apa sih ini ayamnya digeprek gitu?” Andi menunjuk gambar ayam geprek “adek mau yang mana” tanyanya.


“Adek” aku mengambil menu dari tangannya, tak sengaja aku menyentuh tangannya.


“Hei… modus apa ini” ledeknya menunjukkan tangannya.


“Apa sih, kesentuh dikit saja pun” rengekku lalu aku mengambil tangannya lalu menggenggamnya. Aku melirik ke arahnya inginmelihat ekspresi wajahnya.


Andi tidak berekspresi apa - apa, wajahnya terlihat begitu datar, ia sama sekali tidak protes aku menggenggam tangannya.


“Bek tahe entek dicok cewek le gop (jangan melamun nanti pacarnya di ambil orang)” ledekku dengan jokes norak.


“Abang banyak pikiran sayang” jawab Andi membuka suaranya.


Aku menulis di kertas menu pesanan yang ingin kami pesan


“Abang mau pesan apa lagi” tanyaku sebelum menyerahkan kertasnya ke waiters.


“Enggak sayang”


Waiters mengambil kembali buku menunya “silahkan ditunggu ya pak bu” ucapnya lalu pergi meninggalkan kami.


“Kamu kenapa sih sayang?” tanyaku memandang wajah Andi yang duduk di sampingku.


Andi mengeluarkan sebuah amplop “ini” ia memberinya kepadaku. Aku mengambil amplop itu lalu membukanya…….


#thank you atas kunjungannya.


Semoga cerita ini dapat menambah inspirasi kalian.


Di tunggu part selanjutnya ya byeeeeee.

__ADS_1


__ADS_2