Bapak Tentaraku

Bapak Tentaraku
Bab 48


__ADS_3

Hallo guys!!


Terima kasih masih setia dengan Bapak Tentaraku.


“Saya nanti jam kedua” jawabku yang masih stay bersama mereka.


“Saya juga, nanti setelah istirahat” ucap bu Fizza.


“Yah saya jam pertama sendirian dong” ucap bu Juli yang bangun dari tempat duduknya, kemudian masuk ke dalam kantor mengambil absen dan buku paket lalu berjalan ke dalam kelas.


“Pak Said gak ada jam” tanyaku.


“Ada, tapi malas banget saya masuk lokal itu siswa suka sekali membuat keributan. Saya tidak bisa mengajar di kelas itu” jelasnya.


“Kelas mana pak Said, biar saya” tanya bu Susi sebagai guru BP.


“Itu kelas VII d” jawabnya.


“Bapak masuk saja dulu, nanti saya lihat dari belakang siapa saja siswa atau siswi yang membuat keonaran akan saya panggilkan ke ruang BP”


“Baik ibu Susi” pak Said mengambil buku paket dan absennya lalu berjalan ke kelas VII d diikuti oleh bu Susi dari belakang.


“Assalamualaikum” ucap pak Said memasuki ruangan. Tidak ada satu pun siswa yang menghiraukannya bahkan menjawab salam darinya. Mereka sibuk dengan urusan masing - masing, ada yang berjalan kesana kemari, makan jajanan dan mengobrol satu sama lainnya. Pak Said hanya bisa duduk berdiam diri memperhatikan mereka. Bu Susi yang semula melihat kelakuan mereka dari balik jendela berjalan memasuki ruang kelas dengan wajahnya yang benar - benar marah.


Semua mata siswa dan siswi tertuju ke arah bu Susi. Tanpa basa basi bu Susi langsung mengomeli mereka “kalian tahu siapa di depan” semua siswa dan siswi diam dan duduk di kursinya masing - masing. “Ini depan kalian guru, guru ini sama seperti ibu kalian di rumah. Kenapa kalian semua tidak menghargai guru yang masuk di kelas kalian. Sudah banyak laporan yang ibu terima” Ucap bu Susi dengan suara lantang, membuat siswa dan siswi tidak ada yang bersuara satu pun “kenapa diam??kalian ke sini sekolah jauh - jauh dari rumah untuk belajar tapi sampai di sini kalian malah membuat keributan, mengganggu guru mengajar. Mulai besok seluruh siswa dan siswi di kelas ini kalau masih ada yang membuat keributan dan tidak menghargai guru yang masuk, besok juga saya akan kasih surat skors. Tahukan kalian arti diskors kan??? Diskors artinya kalian tidak boleh sekolah selama waktu yang tidak tentukan. Paham kalian!!” Teriak bu Susi.


“Paham bu” jawab mereka serentak.


“Maaf pak silahkan dilanjutkan” bu Susi keluar dari ruangan. Pak Said memberikan mereka pelajaran. Tidak ada satu pun siswa atau siswi yang membuat keributan lagi. Mulai detik itu, mereka semua menjadi siswa dan siswi yang taat dan tidak lagi membantah.


Krrriiiiiing….. bel istirahat berbunyi. Semua siswa dan siswi berhamburan keluar dari kelas masing - masing untuk membeli berbagai macam jajanan. Sama halnya guru juga keluar dari masing - masing kelas mengajar.


Pak Said mengambil kursi dan bergabung dengan guru lainnya.


“Bagaimana pak Said??” Tanya Bu Susi.


“Alhamdulillah tadi sudah aman bu” jawabnya sembari membuka handphonenya.


Aku mengambil handphone dari saku rok kemudian menghubungi calon mertuaku.


****


Kini Andi telah bangun dari tidurnya. Perlahan ia membuka matanya melihat di sekitarnya. “Ma” panggilnya dengan suara serak.

__ADS_1


“Abang” mama berjalan mendekati ranjang Andi “bagaimana kepala kamu apa masih sakit” mengelus kepala Andi.


“Masih ma, berat banget rasanya kepala abang” jelasnya. “Adek mana ma”


“Adek… nanti ke sini lagi dia. Tadi pagi pamit sama mama mau mengajar dulu”


“Oh iya… aw” ringis Andi memegang kepalanya “ma… ma… tolong ma, sakit banget kepala abang” memegang kepalanya rasanya benar - benar seperti dijambak, ditarik, ditekan dalam waktu yang sama. Air mata keluar membasahi pipi Andi “ma..” menangis tersedu - sedu “ma… sakit banget ma”


“Mama lihat suster dulu ya” lutut mama terasa sangat lemas ia benar - benar khawatir sekarang. Mama keluar dari pintu mencari keberadaan suster di meja piket. “Sus… sus tolong anak saya kambuh lagi sakit kepalanya”


“Pasien laki - laki yang semalam ya bu??? Bu sebentar lagi dokter masuk ya bu” Mama kembali ke dalam ruangan.


“Abang… tahan ya, sebentar lagi dokter akan masuk. Kamu tahan ya sayang” memeluk Andi “mama elus - elus dulu ya kamu sabar ya”


Andi terus mengerang kesakitan “ma…” tangisannya tidak bisa dihentikan sama sekali.


Lima menit kemudian dokter bersama dua orang suster masuk.


“Maaf bu saya periksa dulu” ucap dokter menyuruh mama sedikit menjauh dari Andi sementara.“Boleh tiduran pak” Andi membaringkan tubuhnya tangannya masih memegang kepalanya.


Dokter mulai mengecek keadaan Andi, pernapasannya, detak jantungnya.


“Bu” memanggil mama. Mama berjalan mendekati dokter “sepertinya anak ibu perlu kita lakukan ct scan untuk mengetahui lebih jelas atau lebih pasti mengenai apa yang sebenarnya terjadi” jelas bu dokter.


“Sus… tolong pasien ini dibawa ke ruang laboratorium” perintah dokter kepada dua sustes yang menjadi asistennya.


“Baik dok” dokter meninggalkan ruangan. Sementara kedua suster mendorong ranjang Andi membawanya ke ruang laboratorium.


Kriiiiing….. bunyi handphone mama.


Via telpon


Mama


Assalamualaikum


Aku


Waalaikumsalam, ma keadaan bang Andi bagaimana??


Mama


Buruk sayang

__ADS_1


Aku


Hah?


(Hatiku benar syok mendengarnya)


Mama


Tadi pas abang bangun, kepalanya sakit lagi. Mama panggilkan dokter kata dokternya perlu di lakukan ct scan dulu untuk mengetahui lebih pasti penyakitnya. Mama khawatir banget ini sama abang, mama takut dia kenapa - kenapa.


Aku


Ya Allah ma…. Ma sebentar lagi adek ke sana ya. Selesai keluar kelas adek berangkat ke sana.


Mama


Iya sayang


Panggilan itu berakhir. Mama berjalan menuju laboratorium menunggu Andi diperiksa.


***


“Siapa yang sakit bu Kanza” tanya bu Juli yang mendengar pembicaraanku di telpon.


“Itu bu, tunangan saya sakit. Gak tahu sih sakit apa belum ada kejelasan. Cuma kemaren dia sempat pergi membantu warga desa Tanjung itu loh bu yang terkena banjir” jelasku.


“Lalu”


“Ia entah bagaimana, tangannya sobek terkena parang gitu katanya. Dua hari di sana baru mereka semua pulang. Waktu pulang dia demam gitu bu, dibawa lah ke rumah sakit ini sudah hampir seminggu semalam waktu saya di sana dia merasa kepalanya sakit banget gitu sampai dipukul - pukul kepalanya sangking gak tahannya dia” jelasku lebih detail.


“Ya Allah kasian banget” ucap bu Susi yang ikut mendengar ceritaku “jadi sekarang kondisi dia bagaimana” tanyanya lagi.


“Tadi waktu saya telpon mamanya sekarang dia lagi di ct scan”


“Oh ya Allah” ucap bu Juli.


“Itulah aku khawatir banget sama dia sekarang” mataku berkaca - kaca “ada jam lagi sekarang setelah istirahat” keluhku.


“Eum pergi saja dek, kelas berapa masuknya biar kakak saja yang gantikan. Kamu ke rumah sakit saja, mungkin dia butuh kamu menemainya” seru bu Susi yang ingin membantuku menggantikan jam mengajar.


#thank you atas kunjungannya.


Semoga cerita ini dapat menambah inspirasi kalian.

__ADS_1


Di tunggu part selanjutnya ya bye.


__ADS_2