
Hallo guys!!
Terima kasih masih setia dengan Bapak Tentaraku.
Ternyata bungkusan yang pertama yang dimakan Andi, diam - diam dia menyisihkan toge ke pinggiran bungkusan tanpa sepengetahuanku. Dia benar - benar tahu kalau aku tidak menyukai toge, pantas mienya tinggal setengah bungkus karena setengahnya lagi berisi toge, sayuran yang tidak aku sukai.
“Abang mie kamu kok ada togenya” tanyaku heran karena biasanya mie goreng itu banyak toge, di bungkusan yang aku pegang itu tidak ada satu biji pun toge yang aku dapatkan.
“Masak sih coba lihat” melirik ke bungkusan mie yang berada di tanganku, Andi memasang wajah tidak tahu apa - apa.
“Jangan dekat sekali, nanti habis mie aku” gerutukku.
“Aish abang punya mie sendiri ini” menunjukkan mie di genggamannya. “Tapi masa iya tidak ada togenya ini di bungkusan kamu, abang saja isi togenya banyak banget”
“Iya memang tidak ada sayang” jawabku dengan polos.
“Coba lihat di belakang bungkusnya barang kali ada” ucapnya lalu fokus menyuap mienya lagi ke dalam mulutnya.
Dengan polosnya aku membuka belakang bungkusan
“Buseet… ini dia togenya” ucapku. Andi melirik ke arahku setelah menyeruput mienya lalu tertawa ngakak melihat wajahku yang begitu polos. “Ukhuk… ukhuk… ukhuk…” Andi menertawaiku sampai batuk - batuk.
“Batuk pak Haji” aku mengelus punggungnya “ini minum dulu” aku menyodorkan minuman ke arahnya, Andi meneguk minumannya perlahan.
“Ya lagian kamu lucu mienya tidak ada toge diheranin, orang dimakan terus mienya dia malah sibuk nyari toge. Gak mati ketawanya aku. Memang istri aku ini polosnya subhanallah” mengelus kepalaku setelah itu tertawa lagi dengan kerasnya.
“Sssst, diam kamu” aku meletakkan jari telunjuk di mulutku sendiri “abang jangan tertawa lagi malu tahu, kamu ah begitu”
“Togenya kemana??” Andi terus saja tertawa ngakak sehingga mie di bungkusannya terbengkalai “togenya kemana” melirik ke arahku mulutnya tidak bisa berhenti menertawaiku “togenya sudah abang sisihkan tadi” ucapnya keceplosan.
“Aaaaaa” teriakku “ternyata si tukang jahil ini baik banget” ucapku memberantakkan rambut Andi.
Andi berhenti tertawa setelah mendengar aku berteriak, sangking puasnya dia tertawa ngakak sampai air mata keluar dari matanya.
“Kamu tertawa apa menangis sih sampai keluar air mata begitu” ledekku. Andi buru - buru menghapus air mata di matanya.
“Togenya kemana” ledeknya lagi “ah…. capek tidak mau tertawa lagi abang, capek” menyuapkan mienya lagi ke dalam mulutnya.
“Abang hana jeulas (tidak jelas) abang hana jeulas oh abang hana jeulas” teriakku tidak jelas.
__ADS_1
“Yang jelas cuma adek” teriaknya lagi.
Aku dan Andi menghabiskan mie dari bungkusan masing - masing yang berada di tangan kami.
“Haaaa, kenyang” seruku melipat bungkusan mie.
“Togenya kemana” ledek Andi lagi, lalu melipat bungkusan mienya.
“Ternyata kamu romantis juga ya pak Tentara” aku dengan sengaja memuji - muji Andi.
“Oh kamu baru sadar ya nona manis seperti dipanggil dokter El”
“Oh… aku sungguh terpana dengan keromantisanmu sehingga membuat aku semakin mencintaimu bapak Andi” ucapku dengan begitu serius padahal aku hanya menguji kepedeannya.
“Kamu ngomongnya seperti di serial barbie itu loh. Oh pemaisuri ku engkaulah bidadariku engkaulah tambatan hatiku. Maukah engkau menikah dengan pria tampan sepertiku” Andi ikut - ikutan ngomong dengan menggunakan nada bicara sepertiku.
“Oh tidak bisa kamu bagaimana pangeran kodok di mataku. Sedangkan aku putri jelita dari istana ini”
“Ah kampret” gerutuk Andi menjitak dahiku.
“Nah kan, memang kamu ini tidak cocok jadi pangeran jadi kunti cocok kamu atau genderuwo”
“Dikira kuntilanak ada yang cowok” protes Andi.
“Yakan tentara sayang. Prinsip tentara itu harus tegas ngomongnya harus lantang tidak boleh menye - menye”
“Kamu” aku memegang kerah bajunya, lalu aku menariknya sehingga wajahnya berjarak 2 cm dengan wajahku “kamu di kantor boleh kamu sebut kalau kamu tentara, tapi kalau kamu di depan aku, kamu tunangan aku. Paham kamu!!” Aku sedikit mengancam Andi “tolong dibedakan ya” aku melepas kembali kerah bajunya dan sedikit mendorongnya menyingkirkan wajahnya dari hadapan wajahku.
“Wow ternyata ibu Kanza lebih galak dari pada pak Rusdi ya” ledeknya cengengesan.
Aku melirik wajahnya tajam.
“Ngeri cok” ledek Andi lagi “iya maaf ya sayang seharusnya abang bisa menempatkan itu semua dengan baik”
“Iya lagian kan kamu bayi gedeknya aku” raut wajah aku yang semula terlihat seperti ingin menelan Andi hidup - hidup, sekarang berubah seperti peri yang baik hati terlihat kalem dan anggun.
“Tadi abang takut banget lihat lirikan wajah kamu seperti itu. Rasanya kayak kamu itu mau menelan abang tahu gak. Bikin ketar - ketir saja sih kamu”
Aku tertawa ngakak mendengar ocehan Andi. “Tapi kamu paham kan, di depan aku kamu jangan bawa - bawa tentara. Kamu cukup jadi diri kamu sendiri”
__ADS_1
“Iya tuan putri” Andi membuat tanda hormat dengan tangan kanannya “bidadari aku galak ya ges” ucapnya sembari nyengir kuda andalannya.
Ckkkreeek suara pintu berbunyi mama dan ayah Andi masuk ke dalam lalu menghampiri aku dan Andi.
“Sudah habis mie nya” tanya mama setelah meletakkan tasnya di sofa. Sementara ayah tiduran di atas sofa menghilangkan penatnya setelah seharian berjualan dan membuat pesanan emas pelanggannya.
“Sudah ma, adek yang menghabiskan” Andi menunjuk ke arahku.
“Gak ma, tadi malahan abang tidak mau berbagi sama adek. Terus satu bungkusnya lagi di umpetin sama abang” aku mengadu kepada calon mama mertuaku itu.
“Abang kok kamu nakal banget sih. Kan mamanya belinya dua bungkus itu buat kamu satu buat adek satu” mama memukul pelan pahanya Andi.
“Enggak ma, tadi abang buka bungkus mienya dulu mau memastikan ada toge tidak. Adek kan tidak suka makan toge” jelas Andi “jadi abang sisihkan dulu togenya baru abang kasih buat adek”
“Adek tidak suka toge”
“Iya ma, makanya abang sisihkan dulu buat dia makan ini” menunjuk ke arahku.
“Mama enggak tahu maaf ya sayang”
“Tidak apa - apa kok ma”
“Lain kali kalau mama beli lagi mama suruh tidak memakai toge untuk kamu ya sayang”
“Iya ma, terima kasih ya ma” aku memeluk mama yang duduk di sampingku.
“Kan abang yang sisihkan togenya abangnya tidak dipeluk”
“Ma lihat itu abang genit bangetkan” ledekku mengadu ke mama.
“Kalau mau peluk seperti mama ini” mama memelukku lagi “makanya buruan nikah nanti bisa bebas peluknya dimana saja dan kapan saja” ledek mama “urusin cepat itu berkas - berkasnya”
“Iya ma. Tapi ma abang takut kalau misalnya abang duluan dipanggil latihan. Jadi surat untuk pengajuan nikahnya tidak bisa dikeluarkan”
“Iya berarti adek harus menunggunya. Karena kan adek sendiri sudah tahu kalau menikah sama kamu itu resiko seperti apa. Ya kan dek. Kamu harus lebih bisa mengerti dan sabar ya sayang. Bukannya kami yang mau menunda - nundakannya”
“Iya ma paham kok, dengan bang Andi begini saja” menunjuk cincin di jari manisku “ini saja sudah menjadi bukti kalau bang Andi mau serius dengan adek” jelasku.
#thank you atas kunjungannya.
__ADS_1
Semoga cerita ini dapat menambah inspirasi kalian.
Di tunggu part selanjutnya ya byeeeeee.