
Hallo guys!!
Terima kasih masih setia dengan Bapak Tentaraku
******
Mereka semua memotong - motong dahan kayu yang kecil sedangkan pohonnya dipotong dengan mesin gergaji untuk lebih cepat. Tak sengaja lengan Andi tergores dengan parang yang ia pegang ketika memotong dahan kayu.
“Aw” ringis Andi melihat tangannya yang dipenuhi darah.
“Pak Andi” pak Dani datang mendekatinya “ommak kenapa ini” melihat darah memenuhi lengan Andi. “Mari pak kita ke sana dulu ada tim medis di sana” pak Dani merangkul Andi. Andi menutupi luka dengan tangan kanannya menghentikan darah yang terus keluar.
“Kenapa pak” tanya tim medis melihat Andi dan pak Dani berjalan ke arah mereka.
“Ini tadi tergores parang” jelas pak Dani. Andi dirangkul oleh tim medis ke ranjang. Luka di tangan Andi diberikan alkohol untuk membersihkan darahnya kemudian memberikan obat merah lalu menutupnya dengan balutan perban putih.
“Bapak pusing pak” tanya tim medisnya lagi.
“Iya buk, agak pusing sedikit” jawab Andi memegang kepalanya.
“Ini pak minum ini dulu” tim medis menyodorkan air kacang hijau kemasan.
“Terima kasih bu” Andi meneguk minumannya, ia masih duduk di atas ranjang memulihkan staminanya setelah kehilangan banyak darah.
**
Aku masih saja menunggu balasan pesan dari Andi. Perasaanku benar - benar tidak enak, hatiku sangat gelisah. Aku merasakan kalau Andi sedang tidak baik - baik saja.
Ya Allah bang Andi kenapa ya, ada apa sama dia, batinku.
Aku kembali mengecek handphone berharap ia membalas pesanku. Aku berusaha menelpon dia, namun panggilannya terus saja berada di luar jangkauan. Hatiku menjadi semakin gelisah.
“Kenapa dek” tanya bu Susi yang memperhatikanku.
“Ini kak bang Andi tunangannya aku tidak mengangkat telponku sudah dari tadi, pesanku pun tidak dibaca olehnya” jelasku kepada bu Susi yang tinggal berdua denganku di kantor.
“Mungkin lagi sibuk, dia tentarakan mungkin iya lagi sibuk di kantornya”
“Apa iya ya kak, tapi aku khawatir banget sama dia takut terjadi sesuatu sama dia” jelasku lagi.
“Sudah sabar saja dulu, inshallah dia gak apa - apa”
**
Sembari memulihkan staminanya Andi mengambil handphone yang berada di saku celananya. Mengecek notifikasi.
“Yah gak ada sinyal” gerutuknya. “Ini pasti siadek sudah khawatir sama aku, kalau aku gak kasih dia kabar”
“Gimana pak Andi sudah mendingan” tanya pak Dani melihat keadaan Andi yang masih duduk di ranjang tim media.
“Sudah, tapi masih agak sedikit pusing lagi” jawabnya tentang kondisi yang dia rasakan. “Pak.. apa handphone bapak ada sinyal” tanyanya lagi.
Pak Dani mengambil handphonenya lalu mengecek sinyal. “Gak ada juga pak Andi”
__ADS_1
“Yah, sama juga pak handphone saya gak ada sinyalnya juga. Saya mau menghubungi tunangan saya”
“Memangnya gak dihubungi pas ke sini tadi”
“Gak pak, saya kira di sini ada sinyalnya tadi” jelas Andi.
“Sudah pak, sebentar lagi juga kita akan pulang”
“Iya pak”
“Saya kesana dulu lagi ya, bapak cepat pulih” pak Dani menepuk bahu Andi pelan lalu pergi meninggalkannya.
Komandan datang menemui Andi setelah mendengar Andi terluka.
“Pak Andi kenapa” tanyanya dengan suara lantang.
“Siap, saya terkena goresan parang pak” Andi bangun dari ranjang berdiri tegak di hadapan komandan.
“Kamu saya tugaskan ke sini untuk membantu warga, kenapa di sini kamu malah tidak berhati - hati” tegasnya tanpa suara lemah lembut.
“Siap, saya salah pak” jawab Andi kaku.
“Kamu istirahat lima menit lagi, setelah itu lanjutkan membantu warga” tegasnya lagi memberi waktu istirahat untuk Andi. Pak Rusdi seorang komandan yang sangat tegas ia tidak mau anak buahnya manja, semua kegiatan yang dilakukan anak buahnya harus maksimal tidak boleh sedikit pun minus.
“Siap ndan”
Komandan Rusdi pergi meninggalkan Andi. Selang beberapa menit kemudian Adam datang menemui Andi melihat keadaannya.
“Tadi tergores parang bang, mungkin karena air laut pasang ya makanya darahnya banyak banget” jelas Andi.
“Tapi gak dalam kan lukanya” Adam memastikan luka Andi tidak terlalu parah.
“Gak bang, lumayan sih tapi gak sampai di jahit, cuma dikasih obat merah” menunjukkan lengannya yang telah diperban.
“Oke saya kembali ke warga ya”
“Saya ikut bang, tadi komandan sudah ke sini takut gak enak”
“Sudah mendingan kamu”
“Sudah bang” Andi dan Adam jalan beriiringan ke tempat warga.
**
Bel pulang berbunyi. Semua siswa dan siswi keluar dari kelasnya. Semua guru juga keluar dari kelas dari kelas masing - masing.
“Mari buk kita pulang” ajakku kepada bu Juli, bu Dewi dan bu Susi.
“Iya mari bu” jawab bu Dewi
Aku, bu Juli, bu Dewi dan bu Susi berjalan bersama ke kantor utama untuk melakukan fingerprint sebelum pulang. Setelah itu, aku mengambil motor yang terparkir di parkiran, memakai helm lalu menyalakan mesin.
“Saya duluan ya” pamitku kepada beberapa guru yang juga sedang mengambil motornya.
__ADS_1
“Ya bu Kanza”
SKIP
Aku telah sampai di rumah memarkirkan motor di garasi dan masuk ke dalam rumah. Aku menemui mama yang sedang memasak.
“Masak apa hari ini ma” tanyaku.
“Banyak tuh, ada sayur bayam, ikan goreng, tempe goreng dan ayam kecap”
“Uuh pasti enak banget” mencium pipi mama.
“Kamu ganti baju dulu setelah itu bantu mama letakkan ini semua ke meja makan, karena nanti kakek Abu mau ke sini”
“Iya mama” aku berjalan masuk ke kamar, bersih - bersih lalu mengganti pakaian rumahan.
Aku keluar dari kamar berjalan ke dapur, menggangkat satu \- persatu piring makanan yang telah dimasak mama, meletakkannya di atas meja makan. Aku menyusunnya dengan rapi.
“Kakek Abu kapan datangnya ma” tanyaku masih mengangkat beberapa piring.
“Tadi sebelum kamu pulang” jawab mama yang masih menggoreng tempe kesukaanku.
“Oh terus sekarang kakek abu kemana ma” tanyaku lagi, meletakkan minuman.
“Tadi katanya ke tempat bunda Rita, tadi kakek abu syok banget pas tahu Saskia melakukan semua itu untuk kamu, dia gak nyangka banget”
“Sudahlah ma gak usah bahas Saskia lagi” mood aku berubah setelah mama menyebutkan nama Saskia, aku sangat trauma dengan apa yang telah dia lakukan kepadaku rasanya aku tidak ingin dekat lagi dengannya.
“Maaf ya sayang”
“Iya gak apa - apa ma, aku masih trauma ma sama dia aku takut dia melakukan hal jahat lagi sama aku” jelasku pelan - pelan kepada mama.
Ketukan pintu terdengar dari pintu utama.
“Assalamualaikum….”
“Waalaikumsalam….” Jawabku berjalan ke pintu utama “kakek” aku melihat kakek Abu, mengulurkan tanganku. “Masuk kek, kita makan siang dulu”
“Iya” kakek Abu mengikuti langkahku ke ruang makan.
“Kita makan dulu kek” seru mamaku yang sudah selesai mempersiapkan sajian makan siangnya. Ia telah duduk bersama ayah.
Kakek Abu dan aku menarik kursi lalu duduk. Kami semua mengambil sesendok nasi dan beberapa lauk, kemudian menikmati makanannya.
“Alhamdulillah sudah kenyang” kakek Abu memegang perutnya.
Aku dan mama membereskan kembali piring\-piring kotor dan sisa makanan. Sementara ayah dan kakek abu bersantai di halaman depan rumah.
#thank you atas kunjungannya.
Semoga cerita ini dapat menambah inspirasi kalian.
Di tunggu part selanjutnya ya bye.
__ADS_1