
Hallo guys!!
Terima kasih masih setia dengan bapak tentaraku.
*****
“Terima kasih ya kak” ucapku. Aku mengambil tas lalu berjalan ke parkiran, sampai di parkiran aku mengambil helm lalu memasangnya di kepalaku lalu menghidupkan mesin dan menancap gas. “Aku duluan ya” pamitku kepada guru - guru yang menjadi sahabatku.
“Iya” jawab mereka serentak melambaikan tangannya.
“Eh kelas berapa ya tadi dek Kanza, lupa lagi saya tanya”
“Lihat di roster pelajaran saja bu Susi” jawab bu Dewi. Bu Susi mengecek ruang aku mengajar. “Oh ini dia di kelas VIII C”
“Sayangkan bu Kanza kayaknya panik banget tadi dia” ucap bu Juli.
“Gimana gak khawatir kak, tunangannya dia yang sakit. Setahu saya mereka berdua sangat akrab jadi wajarlah kalau ada satu diantara mereka yang sakit pasti yang satunya akan merasakannya juga” jelas bu Dewi.
“Iya Alhamdulillah banget ya buk Kanza bertemu dengan laki - laki sebaik itu” ucap bu Juli “bu kanza juga terlihat tulus banget lagi sama dia” tambahnya.
“Tapi sayang ya bu Susi bu Kanza gak jadi istrinya pak Haris. Kalau ia beruntung sekali pak Haris mendapatkan bu Kanza” ucap pak Said yang masih mengingat perjodohanku dengan pak Haris. “Bodoh sekali pak Haris kita kasih orang yang baik gak mau”
“Pak Haris cari yang seperti artis mungkin. Makanya dia tidak mau dengan wanita yang baik - baik” tambah bu Susi yang juga ikut kesal seperti pak Said.
“Tapi ngomong - ngomong kita sepertinya perlu deh menjenguk tunangannya bu Kanza” ucap bu Dewi.
“Iya gak enakkan kalau kita tidak datang menjenguknya”
“Bagaimana kalau pulang sekolah besok, tapi kita datangnya waktu ada bu Kanza di sana”
“Iya boleh saya setuju”
****
Aku telah sampai di halaman rumah sakit setelah memarikirkan motorku. Aku berlarian mencari ruangan lab.
Aku melihat mama yang duduk termenung sendirian di depan ruangan laboratorium.
“Ma…” panggilku duduk di sampingnya. “Aku memeluk ma. Mata mama terlihat sangat sembab.
“Abang masih di dalam ya???”
“Iya dek” jawabnya.
Setengah jam kemudian, dokter keluar dari pintu ruangan lab yang sebelumnya tertutup rapat lalu berjalan begitu saja meninggalkan ruangan.
“Keluarga pak Andi” ucap suster yang keluar bersama dokter.
“Saya mamanya sus” ucap mama berdiri.
“Dokter ingin berbicara dengan ibu di ruangannya” pintanya. Mama mengangguknya pelan “mari bu saya antarkan” mama berjalan mengikuti langkah suster.
Pintu laboratorium terbuka kembali. Dua orang perawat laki - laki mendorong ranjang Andi. Aku menghentikannya “maaf pak mau dibawa kemana pasien ini?”
“Kembali ke ruangnya bu” jawab salah satu dari mereka. Kedua perawat itu kembali mendorong ranjang Andi. Aku mengikuti mereka dari belakang.
__ADS_1
Andi kini berada di ruangannya. Kedua perawat itu meninggalkan aku dan bang Andi.
****
Di ruang dokter.
Membukakan pintu “Dok ini mama dari pasien Andi”
“Oh silahkan masuk bu” suruhnya “silahkan duduk” mama duduk di depan dokter.
“Bu ini hasil dari CT scannya” menunjukkan kertas print out hasil CT scan. “Jadi di sebelah sini bu” menunjukkan di gambarnya “ada tumor jinak tapi hampir termasuk dalam tumor ganas yang bersarang di sini” jelas dokter.
Air mata mama tiba - tiba saja keluar dari matanya tanpa ada yang memerintahkan. Hatinya benar - benar syok. Ia tidak percaya dengan apa yang barusan di dengarnya.
“Jadi bagaimana itu dok?? Apa bisa disembuhkan?” Tanya mama, ia berusaha tenang.
“Jalan satu - satunya dengan cara operasi bu, tapi kalau saran dari saya tumor ini harus kita musnahkan sebelum dia menjalar kemana - mana. Kalau sampai menjalar kita tidak bisa melakukan operasi sekali saja tapi harus dibarengi dengan kemo” jelasnya secara detail.
“Lakukan saja dok secepatnya. Saya ingin melihat anak saya sembuh dan baik - baik saja, kira - kira kapan ya dok bisa dilakukan operasinya”
“Sepertinya besok bu, karena kita juga harus mengecek kondisi dari pak Andi dulu”
“Baik dok, saya permisi” merapikan kursinya kembali.
Mama kembali ke ruangan, kakinya terasa begitu lemas. Ia tidak menyangka putranya bisa mengidap penyakit separah ini.
“Assalamualaikum” membukakan pintu.
“Waalaikumsalam” ucapku melirik ke arah pintu “mama” aku berjalan mendekatinya melihatnya yang tidak bergairah bahkan jalannya sampai sempoyongan. Aku merangkul mama berjalan ke sofa. “Kenapa ma??”
“Abang… sayang. Abang… ternyata ada tumor di dalam kepalanya” ucapnya dibarengi tangisan.
“Kata dokter besok abang mau dioperasi. Mama mau kabarin ayah dan kak Anti dulu sebentar” mama keluar ruangan.
Andi masih memejamkan matanya, pengaruh obat penenang membuat dia tidak sadarkan diri. Aku duduk di sampingnya mengelus pelan rambutnya “sayang” air mataku turun “kenapa begini, kamu kenapa harus begini, kenapa kamu harus mengalami sakit separah ini” aku menggenggam tangannya “kamu janji ya harus kuat, kamu lawan penyakit kamu. Aku janji kok akan selalu menemani kamu melewati ini semua” menghapus air mataku.
Perlahan Andi membuka matanya “sayang” panggilnya dengan suara serak setelah melihat ke arahku.
“Kamu kok nangis, abang tidak kenapa - napa kok. Tadi abang cuma tidur sebentar. Kamu baru pulang sekolah ya. Ini masih pakai seragam sekolah”
“Iya abang” aku tersenyum ke arahnya.
“Kamu bawa baju gantikan, ganti dulu sana. Kamu gak gerah??”
“Iya sebentar lagi ya sayang, aku masih ingin duduk di samping kamu” ucapku mengambil tangannya lalu aku menggenggamnya erat.
“Kenapa erat sekali digenggamnya abang enggak pergi kemana - mana kok” menatapku.
“Aku genggam sebentar ya”
“Iya boleh” angguknya pelan.
“Kamu haus, minum ya” aku mengambil minuman dengan tangan sebelah kiri, tangan sebelah kananku masih menggenggam erat tangannya.
“Sayang….” Panggilnya
__ADS_1
“Abang gak kemana - mana loh” melirik genggaman tanganku.
“Ah apasih” aku melepas tanganku.
“Ciee malu, genggam saja lagi” dalam keadaan seperti ini dia masih saja bisa bercanda.
“Gak deh, nanti kamu julitin aku lagi, masalah banget aku” protesku.
“Serius genggam saja” Andi menggemgam tanganku.
“Abang cepat sembuh dong” air mataku turun lagi.
“Iya abang janji kok akan segera sembuh, kamu jangan nangis abang gak bisa melihat kamu nangis seperti ini. Jangan menangis lagi ya” tersenyum ke arahku.
Sementara mama di luar.
Mama duduk sendirian di kursi panjang di depan kamar Andi. Mama mencari kontak ayah di handphonenya
Via telpon
Mama
Ayah…
(Panggilnya suaranya terdengar serak)
Ayah
Kenapa ma, abang kenapa
Mama
Yah… ayah ke sini temani mama. Mama gak bisa di sini sendirian hadapin ini.
Ayah
Kenapa sih ma??? abang kenapa??? Apa terjadi sesuatu sama abang??
Mama
Pokoknya ayah ke sini secepatnya ya. Gak usah urusin toko dulu. Ayah tutup saja tokonya.
Ayah
Iya ma… ayah sekarang ke sana.
Mama
Nanti kalau ayah kesini, jangan bahas ini di depan abang ya. Permasalahan ini cuma mama dan adek yang mengetahuinya.
Ayah
Iya, ayah ke sana sekarang.
#thank you atas kunjungannya.
__ADS_1
Semoga cerita ini dapat menambah inspirasi kalian.
Di tunggu part selanjutnya ya bye.