
Hallo guys!!
Terima kasih masih setia dengan Bapak Tentaraku.
*****
"Permisi" penjaga warung meletakkan semangkok mie ayam, mie bakso telur dan dua minuman es jeruk yang begitu segar tak lupa air mineral sebagaimana yang telah aku dan Andi pesan sebelumnya. Setelah meletakkan semua pesanan ia pergi meninggalkan kami. Aku menggeserkan mangkok mie ayam ke hadapan Andi dan segelas minuman.
"Silahkan sayangku" aku mengambil sendok dan garpu memulai menikmati bakso telur kesukaanku. Aku meletakkan saos dan sambal yang merah merona.
"Sayang jangan tarok cabenya banyak - banyak" Andi melarangku menaruhkan banyak cabe dan saos ke dalam kuah bakso.
"Gak banyak kok sayang" ucapku menutup sambal.
"Gak boleh ya kamu makan sepedas itu, gak suka abang" Ucap Andi memarahiku.
"Sayang ini gak pedas loh" ucapku menyeruput kuah. Ukhuk.... Ukhuk... ukhuk...
"Nah kan apa abang bilang" Andi memberikan aku minuman lalu mengelus pundakku perlahan. "Bandel sih abang bilang jangan makan terlalu pedas"
Aku hanya bisa menyengir ke hadapannya "ternyata abang galak juga ya" ucapku sedikit meledek.
"Makanya ya kalau dibilangin sama calon suami itu didengar" Andi menepuk jidatku "Abang larang kamu untuk kebaikan kamu, untuk kesehatan kamu. Ini malah ngeyel kalau dibilangin"
"Iya yasudah atuh, ayo makan lagi" aku mencoba mengalihkan pembicaraan supaya Andi tidak lagi memarahiku.
"Iya.... Panas ya abang ceramahin" ledeknya.
"Gak panas, tapi..... kasian baksonya dibiarin begitu saja nanti keburu dingin"
"Hmmm... kalau sudah sama bakso, sudah deh dunia milik berdua sama bakso yang lain numpang termasuk abang" ucap Andi menyeruput es jeruk. Menurutku Andi itu orang yang sangat pencemburu banget bahkan dia bisa cemburu dengan bakso yang tentu saja adalah sebuah makanan. Sungguh dia manusia terunik yang aku kenal dan bisa membuatku jatuh cinta kepadanya di setiap hari dengan keanehan yang ia miliki.
"Apa sih sayang, masa cemburu sama bakso sih. Gini ya abang sesayang sayangnya aku sama kamu aku lebih cinta sama bakso" ucapku tertawa ngakak. Andi meletakkan sendoknya lalu melirik ke arahku. Wajah Andi terlihat begitu kesal "ups.." aku menutup mulutku "maksud adek secinta cintanya aku sama bakso aku lebih mencintai kamu"
"Ya benar" Andi mencoba menggodaku "yang betoi adek peunget (yang benar adek bohongnya)"
"Iiish.... Kan iya abang lebih dari segala - galanya" ucapku begitu yakin.
"Sayang mantan kamu kan itu" ucap Andi tiba - tiba.
"Mana - mana" aku melirik ke sana kemari mencari keberadaannya.
"Nah kan??" Wajah Andi berubah 360 derajat.
"Hahahah" aku tertawa ngakak melihat wajahnya "kamu pasti mau bilang aku masih ingat sama mantan aku itu kan?"
__ADS_1
"Hmmm ciee yang celingak celinguk mencari mantannya ciee" Andi terus saja meledekku.
"Abang cemburu ya, sudah sayang tidak usah cemburu. Hatiku cuma satu, sudah seluruhnya untuk kamu. Jadi, untuk apa kamu cemburu denganku?"
"Cieee"
"Sudah ah abang. Ingat gak kata kak Anti, kalau kita ingin bahagia dengan pasangan kita jangan pernah sekalipun membiarkan orang lain masuk ke dalam hubungan kita"
"Iya sayang, abang percaya kok sama kamu. Abang juga telah menyerahkan seluruh hati abang untuk kamu. Ini bukan lebay atau sekedar gombal sih, tapi itu sungguh adanya"
"Iya abang... duh gemes deh sama abang" aku mencubit kedua pipinya.
"Sayang... jam berapa sudah?"
Aku melihat jam yang ada di tangan kiriku "jam 5 sayang"
"Pulang yuk, abang mau masuk piket nanti terlambat" Andi terburu - buru "abang bayar dulu ya, adek tunggu di sini dulu jangan kemana - mana, nanti hilang susah abang mau nyari kamu dimana"
"Iya abang. Lagi buru - buru juga masih sempat - sempatnya bercanda"
"A...abang bayar dulu ya" Andi berjalan tergesa - gesa dan baaaam dia menabrak seorang wanita "maaf - maaf"
"Pak Andi" ucap wanita itu yang tidak lain adalah dokter Elita.
"Dokter" ucap Andi menyapanya.
"Alhamdulillah baik dok" Andi berusaha menghindari dokter Elita.
"Dengan siapa pak Andi di sini?" Tanyanya lagi, bola matanya tak berhenti menatap wajah Andi.
"Dengan tunangan saya dok, saya tinggal dulu ya dok" Belum sempat dokter Elita menjawabnya Andi keburu pergi meninggalkannya.
"Ah kenapa pula ketemu dokter itu di sini sih, kalau Kanza lihat bagaimana? Pasti bisa salah pahamkan. Dia pegang - pegang aku lagi" Andi terus berjalan mencari keberadaan kasir. Setelah membayar ia segera kembali menemuiku. "Sudah sayang, ayo pulang" ucapnya tergesa - gesa. Ia mengulurkan tangannya ke hadapanku.
"Iya" aku bangun dari kursi lalu menyambut tangannya.
Selagi berjalan ke parkiran.
"Oh ada adek Kanza juga di sini" sapa dokter Elita melirik ke arahku yang berada di samping Andi.
"Iya dok" aku langsung buru - buru menggandeng tangan Andi, mata dokter Elita melirik gandengan tanganku yang menggandeng tangan Andi. "Sama siapa ke sini dok?" tanyaku basa basi, sementara Andi begitu paham ia hanya diam saja membiarkan aku yang berbicara dengan dokter Elita.
"Sama keponakan di sana" menunjuk ke salah satu kursi pengunjung "tadi saya sudah bertemu dengan pakAndi dan mengobrol"
"Oh ya" aku melirik wajah Andi lalu melepas pelan gandenganku.
__ADS_1
Mampus pasti mereka marahan, batin dokter Elita.
"Iya barusan saja saya bertemu dengan pak Andi dan tidak sengaja pula pak Andi menabrak saya. Untung pak Andi baik orangnya langsung menangkap saya dan saya tidak jadi terjatuh ke pasir ini" ucap dokter Elita memanaskan suasana.
Aku menatap tajam wajah Andi. Andi terlihat begitu gugup.
"Yasudah kami duluan ya dok, abang mau masuk piket soalnya" aku kembali menggandeng tangan Andi.
"Iya hati - hati ya pak Andi nyetirnya, sayang dek Kanza" Ucap dokter Elita melambaikan tangannya ke arah Andi. Semoga saja mereka berantem hebat, batinnya.
****
Aku dan Andi melanjutkan perjalanan ke parkiran. Aku menghentakkan tangan Andi yang semula aku menggandengnya.
"Sayang" panggil Andi gugup.
"Jadi tadi kamu diam - diam bertemu dokter ganjen itu" tanyaku wajahku benar - benar kesal.
"I.. i.. iya tapi abang tidak sengaja bertemu dengannya dan abang tadi hampir menabrak dia" jelas Andi.
"Hampir?? Bukannya kamu tadi langsung memegang tangan dokter itu supaya dia tidak terjatuh" tanyaku, wajahku terlihat begitu kesal.
"Enggak sayang, dia emang gak jatuh tapi abang tidak sama sekali memegang tangan dia"
"Ah sudahlah. Kita pulang saja" aku membuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya.
"Sayang" Andi berjalan ke sebelahnya membuka pintu mobil dan melangkahkan kakinya ke dalam. "Kamu jangan marah dong. Abang tahu abang salah abang ketemu sama dokter itu. Tapi itu, benar - benara tidak sengaja sayang. Abang pun tadi langsung buru - buru ke kasir"
Aku hanya berdiam diri mendengarkan penjelasan dari Andi.
"Sayang kok kamu diem saja sih, kamu jangan marah sama abang dong" Andi berusaha membujuk aku.
"Mending sekarang kamu nyalain mobil dan kita pulang. Aku tidak mau membahas ini semua. Aku pengen pulang. Aku capek" ucapku sedikit membentak.
"Iya, tapi maafin abang"
"Abang.... tolong nyalain mobilnya aku mau pulang aku capek" ucapku sekali lagi mempertegas.
Andi menyalakan mesin mobilnya lalu menancap gas.
Abang mau pergi, tapi kenapa aku harus menghadapi masalah seperti ini sih, batinku. Mataku terfokus ke depan kaca depan, aku sama sekali tidak melirik Andi yang menyetir mobilnya. Perlahan air mata keluar dari mataku membahasi pipiku.
"Sayang" Andi memanggilku lagi. Aku masih berdiam diri tidak sama sekali mengubris panggilan Andi.
#thank you atas kunjungannya.
__ADS_1
Semoga cerita ini dapat menambah inspirasi kalian.
Di tunggu part selanjutnya ya byeeeeee.