Bapak Tentaraku

Bapak Tentaraku
Bab 54 : Pelukan dari Andi


__ADS_3

Hallo guys!!


Terima kasih masih setia dengan Bapak Tentaraku.


****


Aku memejamkan mataku. Beberapa menit kemudian aku benar - benar tertidur di samping lengannya.


Kriiiiiing, bunyi notifikasi panggilan di handphoneku. Aku terkejut dan langsung bangun mencari sumber suara.


Via telpon


Aku


Assalamualaikum ma


Mama


Waalaikumsalam, kamu tidak pulang sayang?? Sudah malam ini.


Aku


Ma… kakak mau ngomong sesuatu.


Mama


Mau ngomong apa sayang


Aku


Sebentar ya ma


Aku berjalan keluar dari pintu. Aku duduk di kursi panjang sendirian.


Ma….


Mama


Iya sayang kenapa kamu mau ngomong apa sama mama.


Aku


Abang mengidap tumor di kepalanya ma.


Mama


Apa??? Kamu serius sayang


Aku


Iya ma, ternyata waktu abang mengeluh sakit di bagian kepalanya ternyata selama ini ada tumor yang bersarang di kepalanya ma


Mama


Ya Allah abang


Aku


Sepertinya besok pagi abang mau menjalani operasi. Karena saran dari dokter harus segera dioperasi pengangkatan tumornya kalau tidak tumornya akan menjalar.


Mama


Yasudah kamu menginap saja di sana. Kamu temani abang.


Aku


Iya ma, terima kasih ya ma. Sudah mengizinkan kakak menginap di sini untuk menemani abang. Di sini ramai kok ada mama, ayah dan kak Anti juga mama tidak usah khawatir ya


Mama


Iya sayang. Besok mama akan ke sana juga ya. Kamu besok ada jam mengajar??


Aku


Ada ma, bisa kakak minta izin gak ya ma


Mama


Iya besok mama yang minta izin saja. Mama besok ke sekolah sebentar sekalian minta izin jadwal masuk kamu. Setelah itu baru mama ke sana ya kebetulan mama besok tidak ada jadwal mengajar.


Aku


Iya ma, terima kasih banyak ya ma.


Mama


Iya sayang, sampaiin salam mama untuk abang ya.


Aku


Iya ma, nanti adek sampaikan


Aku menutup panggilan, setelah itu aku kembali ke dalam ruangan. Cekkreeek suara gagang pintu yang terbuka.


“Kamu dari mana sayang” sejak Andi membukakan matanya ia tidak melihat siapa - siapa yang menemaninya.


“Dari luar sayang, kamu sudah lama bangunnya?”tanyaku lalu aku berjalan dan duduk di sampingnya.


“Barusan sayang, terus abang lihat - lihat gak ada orang” jelasnya.


“Gak nangiskan abangnya?” aku berusaha membuatnya tertawa.


“Apa sih sayang, enggak kok abang tidak menangis”


“Yang betoi abang peungeut (benaran abang tidak bohong)?”


“Lawak sekali kamu beby, kamu habis apa di luar” tanyanya mengalihkan pembicaraan.


“Habiis, tadi mama nelpon jadi adek terima telponnya di luar karena kasian kalau sampai abang terbangun” jelasku.


“Ah sayang”


“Apa?? mau bilang aku so sweet, oh iya dong aku itu ceweknya manis banget, baik hati dan tidak sombong”

__ADS_1


“Ada ya jampok (burung hantu \= istilah untuk orang yang suka memuji dirinya sendir) jam segini” ledeknya.


“Kamu gitu kan?? sungguh aku tidak lagi mau berteman dengan kamu”


“Sungguh”


“Iya sungguh”


Drama perbucinan telah terjadi lagi ini sepertinya episode yang entah keberapa kali.


Cekkkrrreeek…. suara gagang pintu yang terbuka. Aku dan Andi melihat siapa yang datang.


“Assalamualaikum” ucap mama yang masuk dibarengi ayah dan kak Anti kemudian mereka bertiga berjalan ke arah Andi.


“Kamu bagaimana sayang” tanya mama mengelus kepalanya.


“Sudah sedikit mendingan ma, kepalanya juga sudah tidak sakit”


“Besok kamu dioperasi ya sayang, kamu maukan??” Air mata keluar dari mata mama membasahi pipinya.


Andi hanya mengangguknya pelan ia melirik ke arahku, aku juga menganggukkan kepalaku mengiyakannya.


“Kakak akan selalu di samping kamu sayang” air mata kini terlihat di matanya turun ke pipinya “kamu jangan pernah merasa sendiri dalam menghadapi ini semua ya bang” memeluk Andi.


Ayah hanya terdiam membisu, air matanya turun namun ia tidak bisa mengeluarkan sepatah kata apapun. Ia hanya bisa menatap putra kesayangannya itu.


“Baiklah” mama mengusap air matanya “besok pagi kita akan melaksanakan pengajian sebentar di sini. Sayang besok kabarin mama dan ayah adek ya” pintanya kepadaku. “Besok kita akan yasinan bersama memohon kepada Allah untuk kelancaran operasi abang”


Cekkkreek suara gagang pintu terbuka terdengar kembali


“Assalamualaikum” seru dokter Elita dan dua orang suster yang menemaninya masuk ke dalam ruangan lalu mereka bertiga berjalan mendekati ranjang Andi. “Saya mau mengkabarkan kalau besok pak Andi akan dilakukan operasi untuk jadwalnya kemungkinan besar siangnya”


“Baik dok” jawab mama


“Jadi mulai besok pagi pak Andi harus berpuasa ya” ucapnya melirik ke arah Andi yang juga sedang memperhatikannya berbicara.


“Baik dok” Andi mengangguknya.


“Saya periksa sebentar” dokter mendekati Andi memasangkan stetoskop di telingannya lalu memeriksa detak jantung Andi di bagian dadanya “tarik nafaas”


Andi menghirup nafasnya cepat


“Keluarkan”


Andi menghembuskan nafasnya pelan - pelan.


“Tarik nafasnya lagii” ucap buk dokter dengan sangat lembut.


Andi menghirup nafasnya lagi dengan cepat.


“Buang”


Andi menghembuskan nafasnya secara perlahan.


Dokter Elita memindahkan stetoskop dari dada Andi dan memindahkan dari telinganya lalu ia menggantungnya kembali di lehernya. “Sekarang saya periksa tekanan darahnya dulu ya” memasangkan tensimeter di lengan Andi. Alat itu mengukur tekanan darahnya sendiri tanpa bantuan dokter.


Beberapa menit kemudian alat yang bernama tensimeter itu menunjukkan hasilnya.


“Syukurla darahnya normal” suster memindahkan kembali alatnya dari lengan Andi.


“Baik dok”


“Kalau begitu saya permisi dulu” dokter elita dan dua suster yang menemaninya keluar meninggalkan ruangan.


“Ma… kakak pamit pulang ya, sayang Zia di rumah sudah kakak tinggalkan. Besok pagi - pagi kakak ke sini lagi ya ma”


“Iya sayang”


“Abang…. Kakak pamit ya kamu cepat sembuh” mencium dahi Andi.


“Apa sih kak, maluu itu dilihatin adek”


“Kamu takut adek cemburu sama kakak. Ya enggaklah. Kamu itu kan cuma miliknya dia. By the way sekarang saja malu - malu ya, dulu kemana saja nempel terus sama kakak. Oh apa sekarang karena sudah ada adek makanya malu - malu ya” Anti mencoba menggoda Andi yang tidak mau lagi dicium olehnya sebagai kakak.


“Gak kak… pulang gih sana kasian baby Zi”


“Ngusir ini??”


“Enggak…, kak coba dekat sini” Andi meminta kakaknya untuk lebih dekat dengannya. “Kepalanya dekat lagi kak” Anti mendekatkan kepalanya muuuuach. Andi menyium pipi kirinya kak Anti “terima kasih ya sudah menjadi kakak terbaik untuk abang, doa in abang besok ya untuk melewati ini semua” ucap Andi dalam tangisannya.


“Iya abang kamu adek satu - satunya kakak. Jadi semua kasih sayang kakak hanya untuk kamu seorang” mengusap air mata Andi “kamu semangat ya” sedikit mencubit pipi Andi yang kini telihat sedikit kurus. “Ma… ayah… adek.. kakak pamit ya” ucapnya setelah itu beranjak pergi meninggalkan ruangan.


Mama dan ayah beranjak ke sofa untuk istirahat sejenak. Sementara aku tiduran di kursi dekat ranjang Andi.


“Kamu tidur di sana sayang di sofa” menujuk ke arah sofa.


“Enggak sayang, mau di sini saja nemani kamu” aku menggenggam tangannya. “Kamu tidur terus jangan berbicara lagi”


“Iya ibu guru” Andi memejamkan matanya. Aku menarik selimut menutupi tubuhnya Andi. Setelah itu aku tertidur dalam keadaan duduk di sampingnya.


SKIP


Malam telah berganti pagi. Aku terbangun dari tidurku tepat jam 5 pagi. Aku melihat keadaan sekitar yang gelap karena semalam Andi meminta untuk dimatikan lampunya. Aku bergegas mengambil mukena lalu berjalan keluar menuju musholla.


Sampai di musholla aku masuk ke kamar mandi. Sepuluh menit kemudian aku keluar dan mengambil air wudhu. Setelahnya aku berjalan ke dalam musholla melaksanakan shalat subuh.


Lima belas menit kemudian aku telah selesai melaksanakan shalat subuh lalu aku mengangkat kedua tanganku


“Ya Allah ya Maha pengasih dan Maha penyayang berikanlah kemudahan untuk bang Andi menjalankan operasi hari ini, aku mohon ya Allah lancarkanlah segala prosesnya, aku tidak ingin ia kenapa - kenapa. Aku ingin ia kembali sehat seperti sedia kala aaaamiiiiin” aku mengusapkan kedua tanganku ke wajah.


Aku melipat kembali mukena dan sajadah lalu memasukkannya ke dalam tas mukena. Aku berjalan kembali ke dalam ruangan di tengah sejuknya suasana pagi hari itu.


“dingin banget” memeluk tubuhku sendiri.


Cekrrrek…. suara gagang pintu yang kubuka sehingga membuat ayah dan mama terbangun.


“Dari mana sayang” tanyanya kepadaku dalam keadaan setengah tidur.


“Habis shalat subuh ma di musholla”


“Ya ampun sudah subuh saja” mama bangun dengan segera lalu membangunkan ayah yang tidur di sampingnya. “Ayah kita subuhan dulu yuk” mama bangun lalu mengambil tas mukenanya lalu berjalan keluar ruangan bersama ayah.


“Sayang” panggilku lembut mengelus kepalanya.

__ADS_1


“Euuum” jawabnya dalam tidur.


“Ganteng ya kamu kalau lagi tidur begini” ucapku memperhatikan tidurnya. Andi menunjukkan senyum di bibirnya.


“Kalau dibilang ganteng sadar ya kamu”


Andi mengganggukkan kepalanya setuju dengan perkataanku matanya masih terpejam.


“Huuuuaaaaa” Andi membukakan matanya.


“Selamat pagi sayang” ucapku penuh semangat.


“Mau ke kamar mandi”


“Ngapain??”


“Mau makan nasi goreng” ucapnya asal “anterin yuk”


Aku membantunya bangun dari ranjang lalu aku memegang tiang infus dengan tangan kiriku dan tangan kananku merangkul pinggangnya. Aku menuntunnya sampai ke depan pintu kamar mandi.


“Kamu ambil handuk abang ya, abang mau mandi sedikit sudah dua hari tidak mandi lengket banget badan abang”


“Abang mau mandi?? Terus tiang infusnya??


“Kan tiang infusnya berdiri di situ sayang, abang mandinya pakai tangan kanan. Bisa… kemaren abang sudah pernah mandi” jelasnya “Iya kamu gak usah bantuin abang mandi” ledeknya.


“Ish siapa sih yang mau bantuin, gak mau lah memangnya kamu anak kecil sudah tua gitu”


“Tapi nanti saja ya sayang bantuin mandinya” godanya lagi membuat aku tertawa ngakak.


“Genit banget sih kamu. Handuk dimana bang?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.


“Di lemari sepertinya sayang”


Aku berjalan ke arah lemari, mengambil handuknya lalu berjalan kembali ke depan kamar mandi memberikan handuk di tangannya.


“Jangan ngintip ya sayang, abang mau membuka baju dan celana”


“Heh apa sih kamu, dih siapa juga yang mau mengintipnya”


“Kamulah” menunjuk ke arahku lalu menutup pintu kamar mandi.


“Dasar siabang bisa - bisanya jokes dia itu kuno banget ya kali aku mau mengintip dia mandi. Gak ada kerjaan kali aku ah” ngedumel sendiri di depan kamar mandi. Karena lelah berdiri aku berjalan ke sofa lalu mengambil handphone lalu menscroll media sosialku.


Lima belas menit kemudian Andi telah selesai mandi lalu membuka pintu dan teriak memanggilku “saayaaang” teriaknya mencariku.


“Ih kenapa teriak - teriak” aku meletakkan kembali ponselku ke dalam tas lalu berjalan mendekatinya “kenapa teriak - teriak kayak anak kecil kamu tahu gak eh anak hutan maksudnya”


“Dingin” tubuhnya bergetar kedinginan. Andi keluar hanya menggunakan celana tanpa baju.


“Kenapa gak pakai baju” tanyaku melihatnya.


“Sebentar tuntun abang dulu cepat abang dingin ini lama - lama gak pakai baju”


“Iya” aku menuntunnya dengan tangan sebelah kananku merangkul pinggangnya dan tangan sebelah kiriku memegang tiang infus. Setelah sampai di dekat ranjang Andi mengambil tas kecilnya sementara aku duduk di kursi biasa. Andi mulai memakai minyak telon di seluruh perut dan dadanya, lalu memakai deodorant di ketiaknya kemudian memakai body cream di tangan dan badannya lalu menyemprotkan parfum.


Kini Andi benar - benar sudah wangi tidak kucel seperti beberapa menit sebelumnya.


“Sayang kamu mau dioperasi loh, bukannya mau pulang ke rumah”


“Ya kali saja ada dokter yang kecantol nanti sama abang” mengedipkan matanya.


“Mulai genit ya, males ah” aku memasang wajah cemberut.


“Ada yang ngambek nih??” Ledeknya memperhatikan raut wajahku.


“Enggak…. dengar ya bapak Wanda Adriansyah jika kamu sudah menjadi milikku tetap jadi milikku


Aku tidak mau terbagi ataupun berbagi… paham kamu!!!” nada bicaraku sedikit tegas.


“Jiah kata - katanya”


“Itu bukan sekedar kata - kata sayang”


“Iya mengerti abang sayang, sayang dan cinta abang cuma untuk kamu itu semua tidak akan pernah tergantikan”


“Baguslah kalau memang seperti itu” jawabku cuek


“Sayang” panggilnya lembut


“Iya apa” aku masih menjawabnya dengan cuek.


“Abang boleh peluk kamu sebentar” pintanya


“Hmmm” aku menggangguknya.


Andi langsung memeluk tubuhku erat. Ini kedua kali nya ia memelukku. Tapi pelukan kali ini benar - benar sangat erat rasanya seperti orang itu akan pergi jauh.


“Jangan lepasin dulu ya, abang masih pengen memeluk kamu. Tolong izinkan sebentar lagi ya” ia terus memelukku erat. Aku merasakan badanku terasa hangat karena pelukannya. Air mata jatuh di pipinya Andi, Andi melepas pelukannya.


“Kok kamu nangis sih sayang” aku menyadari ia menangis.


“Abang takut abang tidak bisa bertemu kamu lagi nanti”


Deg!! Hatiku benar - benar syok mendengar perkataan yang keluar dari mulutnya Andi. Rasanya seperti jantungku tidak bisa berdetak. Air mata juga turun membasahi pipiku.


“Kamu jangan ngomong seperti itu. Yang tadi bukan pelukan terakhir kita” ucapku menangis tersedu - sedu.


“Abang tidak yakin sayang” duduk di atas ranjang. Aku mendekatinya lalu memeluknya lagi “abang gak yakin bisa berdiri di samping adek lagi”


“Sayang stop jangan ngomong seperti itu” membungkam mulutnya.


“Tapi sayang operasi itu mempertaruhkan nyawa”


“Abang mau ninggalin adek??” aku melepas pelukannya dan menatapnya. “Kamu janjikan sama adek kamu tidak akan pernah meninggalkan adek tapi kenapa sekarang malah abang ngomongnya seperti ini, kamu gak mikirin perasaan adek. Perasaan adek hancur kalau abang ngomongnya seperti itu” aku marah dan kecewa dengan perkataannya.


“Maaf sayang” kepalanya menunduk. “Abang akan berusaha melewati ini semua dan kembali lagi di samping adek” mengusap air matanya.


“Gitu dong kamu semangat sayang” aku memeluknya lagi.


“Iya sayang” mengelus kepalaku “terima kasih ya sayangku cintaku bohateku kamu benar - benar kesayanganku” melepas pelukannya dan tersenyum ke arahku.


#thank you atas kunjungannya.

__ADS_1


Semoga cerita ini dapat menambah inspirasi kalian.


Di tunggu part selanjutnya ya bye.


__ADS_2