Bapak Tentaraku

Bapak Tentaraku
Bab 84 : Andi Bakalan Pergi??


__ADS_3

Hallo guys!!


Terima kasih masih setia dengan Bapak Tentaraku.


****


“Abang cuma mau pesan ayam geprek saja” tanyaku melirik ke arah Andi.


“Iya… tidak selera makan abang, itu saja makanan untuk para cacing - cacing abang ini biar mereka tidak mendemo abang” jawabnya sambil mengelus - elus perut buncitnya tapi agak sedikit sixpack.


“Oke deh, air mineral saja ya. Tidak usah minum yang manis - manis abang, abang harus menjaga kesehatannya” aku menulis menu yang aku dan Andi pesankan di kertas menu “kak” aku memanggil waiters.


Waiters datang menghampiri lalu mengambil buku menunya kembali “silahkan ditunggu ya pak, buk” ucapnya dengan lembut lalu ia pergi membuatkan pesanan.


“Sayang” panggilku melirik ke arah Andi yang sedari tadi hanya berdiam diri “abang kenapa sih” wajah Andi benar - benar terlihat kusut seperti halnya baju yang belum diseterika.


Andi tidak menjawab pertanyaanku, ia benar - benar terlihat murung.


“Abang” panggilku lagi.


Bukannya menjawab, Andi malah mengambil amplop lalu memberinya kepadaku. “Ini, kamu baca”


Aku mengambil amplop dari tangannya lalu membuka dan membaca isinya.


Aku begitu syok dengan isi suratnya “kamu mau pergi” ucapku, tak terasa air mataku perlahan keluar “kenapa harus sekarang?”


“Abang juga bingung sayang” air mata terlihat mengalir di pipinya “abang maunya melangsungkan pernikahan dulu sama kamu sebelum abang berangkat pelatihan. Tapi semua itu tidak bisa abang lakukan karena syarat - syarat pernikahan kita sangatlah banyak yang harus dipersiapkan dan butuh waktu lama” jelas Andi dengan sesegukan. Andi mengambil tanganku lalu menggenggamnya dengan erat “kamu mau kan menunggu abang pulang, kamu mau kan sayang”


Aku menggangguknya perlahan.


“Kamu bisa menjaga komitmen kita kan, abang pergi bukan untuk meninggalkanmu tapi ini semua demi masa depan kita untuk menjadi yang lebih baik lagi”


“Jadi adek harus bagaimana abang? Jujur adek tidak sanggup kalau harus berpisah dengan abang. Tapi bagaimana dengan keadaan yang akan kita hadapi sekarang? ini tugas abang, kewajiban yang harus abang lakukan sebagai anggota tentara, jadi adek harus apa? Apa yang harus adek katakan? Mau tidak mau adek harus rela melihat abang pergi. Asalkan abang janji untuk pulang lagi dan menjemput adek” aku begitu sedih dengan kabar yang aku dapatkan hari ini, aku tidak menyangka Andi bakalan pergi meninggalkan aku walaupun hanya untuk pelatihan tapi rasanya benar - benar berat.


“Iya sayang abang janji abang bakalan pulang untuk menjemput kamu dan kita akan menikah. Kita akan wujudkan mimpi kita sayang”


“Berapa lama pelatihannya bang?” aku mengusap air mataku.

__ADS_1


“Kurang lebih dua tahun sayang” jawabnya


“Dua tahun?”


“Kamu mau kan menunggu abang selama itu? Abang kasih tahu kamu ya, bukannya abang tidak mau menikahi kamu sebelum abang pergi, ada banyak alasan yang tidak bisa abang hindari. Yang pertama karena syarat pernikahan kita yang banyak dan butuh waktu yang lama dalam pengurusannya sementara minggu depan abang sudah berangkat”


“Minggu depan? Jadi abang berangkatnya minggu depan?” mulutku menganga.


Andi mengganggukkan kepalanya “iya sayang maka dari itu abang bingung banget harus menjelaskannya ke kamu bagaimana, abang harus menjelaskan ke keluarga kamu bagaimana. Kenapa abang menunda pernikahan kita dan dalam jangka waktu yang cukup lama, sumpah abang bingung banget. Tapi sayang” Andi kembali menggenggam tanganku “abang menunda semua ini karena masa depan kita, abang ingin menjadikan kamu sebagai istri abang yang sah secara agama dan negara. Kalau bisa abang akan menunjukkan kepada dunia kalau kamu istri satu - satunya abang”


“Terima kasih ya sayang, kamu sudah berniat sedalam itu untuk aku. Semoga tercapai ya sayang” ucapku membalas genggamannya.


“Tapi nanti kalau abang pergi kamu jangan dekat dekat dengan laki - laki lain ya” mode manja dan possesifnya Andi keluar.


“Iiih..” aku mengerutkan bibirku “siapa juga yang mau dekat dengan laki - laki lain. Aku itu perempuan setia. Kamu tahukan setia itu mahal dan hanya bisa dilakukan oleh orang - orang tertentu” ucapku.


“Baguslah kalau kamu mau setia. Setia itu tahu kemana ia harus pulang” ucap Andi melepas genggamannya.


“Nah itu abang tahu” aku menepuk jidatnya, sesekali aku meniru perbuatannya.


“Siapa yang ajarin kamu begitu sayang, tidak boleh ya no no no”


“Jadi ceritanya kamu mau balas dendam ke abang gitu” Andi bersiap menggelitik pinggangku.


“Jangan sayang, banyak orang” aku berusaha mencegah ia menggelitik pinggangku.


“Jadi kalau tidak ada orang boleh ya sayang” ledeknya, ia mengedipkan matanya ke arahku. Tingkahnya benar - benar sangat genit.


“Mulai ya genitnya” aku membalas ledekannya.


“Permisi” waiters meletakkan minuman dan makanan yang telah aku dan Andi pesan sebelumnya.


“Terima kasih kak” ucapku.


“Iya silahkan dinikmati” ucapnya lalu ia pergi meninggalkan meja kami.


“Silahkan dinikmati ya cami” ucapku mengambil sendok bersiap untuk memulai menikmati makanannya selagi hangat.

__ADS_1


“Cami?? Cumi - cumi, siapa yang pesan cumi - cumi? Adek mau makan cumi - cumi kenapa adek tidak memesannya tadi” Andi menjawabnya dengan begitu polos.


“Cami itu calon suami” bisikku ke telinganya.


“Wah gila” Andi tertawa ngakak dengan bisikanku “digombalin terus akunya”


“Iya dong, biar kamunya klepek - klepek” ucapku mengunyah makanan.


“Jangan dong nanti waktu abang pelatihan di sana, bisa kesepian abang tanpa kamu sayang dan bisa kangen nanti sama adek gimana dong”


“Ya…. kalau kamu kangen tinggal di message, di telpon atau di video call lah sayang. Kan kamu punya handphone. Memangnya kamu hidup di zaman kapan sih?” Jawabku sedikit meledek.


“Iya abang tahu, tapi…. yang menjadi permasalahannya, selama di sana abang dan semua anggota tentara lainnya tidak dibolehkan memakai handphone dan kalau sampai ketahuan membawa handphone kesana pasti akan diberikan sanksi. Tahu kan sanksinya apa? bisa - bisa disuruh berendam di air kolam yang kotor atau disuruh push up seribu kali mungkin”


“Jadi?? Selama abang di sana nanti sedikit pun kita tidak bisa berkomunikasi?” Tanyaku, wajahku terlihat cemas.


“Tidak sayangku, cintaku, bohateku” Andi mencolek daguku.


“Aku gimana” menunjukkan diriku sendiri


“Iya kamu harus sabar sayang. Makanya mulai sekarang sampai minggu depan sebelum abang berangkat kamu puas - puasin ketemu sama abang” ucap Andi sedikit merayu.


“Yah kalau abang ngomong seperti itu jadi gak mau lepas sama abang”


“Nanti abang beli lem satu ya, supaya kita selalu menempel” ucap Andi sembari tertawa namun hatinya begitu sedih jika harus meninggalkan aku.


“Kenapa ya ujian yang datang kepada kita begitu berat sayang” aku meletakkan sendok di atas piring dan berhenti mengunyah setelah aku meneguk minuman “Kemaren adek harus melihat abang terbaring koma di rumah sakit, kemudian adek harus cemburu dengan dokter yang telah merawat abang dan sekarang adek harus siap ditinggal abang pelatihan. Sabar yang bagaimana lagi yang harus adek keluarkan”


“Sayang… Allah begitu cinta kepada kita. Maka dari itu Allah memberikan kita cobaan supaya senantiasa kita selalu mengingat kepada Allah. Sayang… bukankah kesabaran itu akan membuahkan hasil, percayalah sayang semua akan indah pada waktunya”


“Iya abang. Sekarang adek bisa kuat karena masih ada abang di samping. Tapi, adek tidak yakin bisa kuat jika abang sudah pergi”


“Kamu bisa sayang. Wanita yang kuat yang abang menal. Kamu ingat janji abang kan? abang akan menjemput kamu kembali”


#thank you atas kunjungannya.


Semoga cerita ini dapat menambah inspirasi kalian.

__ADS_1


Di tunggu part selanjutnya ya byeeeeee.


__ADS_2