
Hallo guys!!
Terima kasih masih setia dengan Bapak Tentaraku.
**
Kali ini aku benar - benar tidak bisa santai mengendarai motor. Tiiiiiiiittt…. Terkadang aku membunyikan klakson karena tidak sabaran dengan pengendara lain.
Lima belas menit kemudian aku sampai di parkiran rumah sakit, aku segera memarkirkan motorku. Berlari ke ruang UGD, orang\-orang di sekitar parkiran terheran melihat ke arahku. Sungguh aku tidak perduli akan hal itu.
POV
Di dalam UGD aku melihat banyak pasien yang terbaring tidak berdaya, aku melewati mereka satu persatu mencari keberadaan Andi. Deg! Aku menabrak kursi roda kakek - kakek yang didorong oleh suster.
“Maaf-maaf” aku bergeser ke kiri. Kakek itu di dorong kembali oleh suster. Aku melanjutkan pencarianku.
Akhirnya aku menemukan ranjang Andi.
“Ma gimana keadaan abang” tanyaku kepada mama yang berdiri di samping ranjang Andi, matanya masih sembab.
“Dari tadi masih begini sayang, abang belum sadarkan diri” jawabnya melirik ke arahku.
Keadaan Andi benar\-benar sangat lemas, tubuhnya terbaring kaku di atas ranjang, lengannya terdapat selang infus dan pernapasannya dibantu tabung oksigen yang berdiri tepat di sebelah kirinya, tabung itu seakan memberikan kekuatan lebih untuknya bertahan.
“Mama keluar sebentar”
“Iya ma”
Mama keluar dari ruangan. Aku menggantikan posisi mama berdiri di samping Andi. “Sayang bangun dong…” bisikku di telinganya “adek ada di sini untuk abang, abang cepetan bangun ya” air mataku sudah tak dapat dibendung, terasa mengalir begitu saja di pipiku. “Adek sayaaaang…. banget sama abang, abang bangun ya” aku terus membisikan di telinganya. “Bissmillahi”
Mataku terus memperhatikan wajahnya Andi, aku sangat berharap dia membukakan matanya. “Aku tahu kamu lelaki yang hebat sayang, aku tahu kamu kuat, kamu bangun ya sayang. Aku di sini menunggumu. Aku masih berharap kamu bisa selalu di sampingku selalu menyayangiku” menggenggam tangannya.
Air mata keluar dari mata Andi, namun ia masih dalam keadaan tidak sadarkan diri. Aku melihat air mata itu segera aku menghapusnya, aku mengelus\-ngelus rambutnya perlahan.
Andi membuka matanya perlahan, melihat langit-langit rumah sakit.
“Sayang, alhamdulillah kamu sudah sadar” melihat Andi membukakan matanya dan ia melihat ke arahku. Aku hanya melihat senyum tipis di bibirnya. Aku keluar UGD mencari keberadaan dokter dan mama.
Aku melihat mama dan ayah yang duduk di depan kursi UGD, wajah mereka terlihat sangat murung “ma ayah bang Andi sudah bangun” seruku dengan penuh semangat. Mama yanh mendengarnya langsung bangun dari tempat duduk.
“Alhamdulillah yah” merebahkan kepalanya di lengan Ayah. “Kita lihat abang sekarang yah”
“Ma adek panggilkan dokter dulu ya” aku berjalan ke tempat piket dokter. Sementara ayah dan mama berjalan masuk ke dalam UGD.
**
Andi masih terbaring lemas di atas ranjang, matanya melihat sekeliling rumah sakit. Mama dan ayah jalan mendekatinya.
“Bang” panggil mama lembut.
Andi tersenyum ke arah mama, ia belum sanggup untuk mengeluarkan sepatah kata pun dari mulutnya.
“Alhamdulillah sayang, akhirnya kamu sadar” mama memeluk Andi yang sedang berbaring.
Aku datang beriringan dengan dokter dan beberapa suster.
“Saya periksa dulu sebentar ya” ucap dokter memasang alat tetoskop di telinganya lalu memeriksa detak jantung Andi di bagian dadanya. “Alhamdulillah pak Andi sudah baik - baik saja, sekarang boleh dipindahkan ke ruang inap bisa dibantu oleh suster”
“Iya baik dok, terima kasih” ucapku. Dokter kembali ke ruangannya, sementara suster mengurus perpindahan Andi ke ruang inap.
“Bu, pak mau dipindahkan ke ruang inap biasa atau VIP” tanya suster.
“VIP saja dok”
“Ruang VIPnya mau yang sekamar sendiri atau sekamar dua orang bu” tanyanya lagi.
“Yang sendri saja sus”
“Baik” Para suster mengambil peralatan Andi mulai oksigen yang dilepaskan terlebih dahulu dari hidung Andi dan selang infus yang dipegang oleh suster satunya, dua suster lainnya mendorong ranjang Andi menuju ruangan VIP yang dimaksud.
__ADS_1
Aku, mama dan ayah berjalan di belakang mereka.
SKIP
Andi dibaringkan di ranjang lain, selang infus diletakkan di sebelah kirinya dan selang oksigen di pasang kembali di hidungnya.
“Pak, buk kalau butuh apa-apa bisa mengabari kami”
“Iya sus terima kasih banyak” ucap mama.
Para suster mendorong kembali ranjang dari UGD.
Kriiiing….. bunyi handphone di dalam tasku. Aku melihat siapa yang menelponku, aku berjalan keluar ruangan untuk mengangkat telponnya.
Via telpon
Aku
Assalamualaikum ma
Mama
Waalaikumsalam, gimana kak keadaan Andi
Aku
Alhamdulillah sudah sadar ma, tadi bang Andi sempat pingsan lama.
Mama
Tapi sekarang dia sudah gak apa-apakan
Aku
Gak ma, sekarang bang Andi sudah dipindahkan ke ruang inap
Mama
Aku
Aku nginap di sini boleh gak ma, ada mama dan ayahnya bang Andi juga, kakak mau temani bang Andi dulu
Mama
Kalau gak berduaan saja sama dia boleh, mama izinkan
Aku
Terima kasih ya, ayah kemana ma
Mama
Ayah biasalah, kalau malam mana ada di rumah
Aku
Jadi mama sendirian di rumah, baik - baik ya ma
Mama
Iya sayang, kamu juga baik - baik di sana ya. Salam buat Andi besok pulang sekolah mama ke sana.
Aku
Iya ma
Panggilan itu berakhir, aku masuk kembali ke dalam ruangan.
“Mama kalau mau istirahat dulu gak apa kok, biar adek jaga saja”
__ADS_1
“Iya yaudah mama sama ayah ke musolla bentar ya”
“Iya ma”
Mama dan ayah keluar. Aku menemani bang Andi duduk di sampingnya.
“Abang minum dulu ya” aku menyodorkan minuman untuknya, Andi menegukkan minumannya.
“Kamu makan dulu sayang?? ini ada roti”
Andi hanya menggelengkan kepalanya.
“Yaudah gak apa-apa, sebentar lagi kamu makan ya” aku memijit lengannya, kepalanya dan kakinya.
“Terima kasih sayang” Andi membuka suaranya.
“Iya sayang sama - sama” tersenyum ke arahnya. Andi menggenggam tanganku.
“Kenapa nih” menunjukkan genggaman tangannya.
“Iih apa sih dia” melepas genggamannya wajahnya terlihat memerah.
“Iih malu dia” aku tertawa lepas melihat tingkahnya.
“Ah…” menutup wajahnya dengan tangan kanannya.
“Eh by the way kamu pinter ya mijitnya” Andi mencoba menggodaku.
“Heeeiiii baru tahu kamu” teriakku perlahan.
“Iya loh buktinya pegal-pegal aku sembuh seketika, bisa nih jadi calon istri idaman”
“Kamu mau godain aku ya, sorry ya gak mempan. Sorry ya mas”
“Masak sih sayangku, cintaku, bohateku” dia terus saja mencoba menggodaku.
“Ih aku kangen loh kamu bilang sayangku, cintaku” air mataku tiba-tiba jatuh dengan sendirinya, perasaan aku jadi campur aduk “bohateku, tadi aku lama banget gak mendengar sebutan itu” isak tangisku terlihat olehnya. Aku bersandar di lengannya.
“Kok kamu nangis sih, aku gak apa-apa. Aku sudah sembuh kok kamu jangan khawatir lagi ya” mengelus kepalaku.
“Kamu jangan sakit lagi ya, aku gak mau lihat kamu kayak gini”
Andi menghapus air mataku “iya sayang, maaf ya sudah membuat kamu khawatir”
Aku menganggukkan kepalaku, menghirup ingus dan berhenti menangis.
“Cie yang khawatir banget sama aku” Andi mencoba menggodaku lagi, dia tertawa.
“Ah apa sih, aku lagi sedih ini diketawain lagi jahat banget”
“Gak deh, habisnya muka kamu itu loh, eh apa itu di muka kamu, coba sini abang lihat”
Aku mendekatkan wajahku ke hadapannya. Andi mencibit pipi kiriku dengan sangat kencang.
“Heii” teriakku kesakitan. Aku mengelus pipiku, rasanya pipiku memerah.
“Assalamualaikum…” mama membukakan pintu kamar, berjalan bersama ayah ke dekat ranjang Andi.
“Adek ke toilet dulu ya” aku berjalan ke toilet yang berada di sisi kanan ruangan.
“Kenapa adek”
“Biasa ma salah tingkah gitu” jawab Andi.
“Yaudah kamu istirahat lagi biar cepat pulang” peritah mama, merapikan selimut Andi.
“Iya ma” Andi memejamkan matanya.
#thank you atas kunjungannya.
__ADS_1
Semoga cerita ini dapat menambah inspirasi kalian.
Di tunggu part selanjutnya ya bye.