
Hallo guys!!
Terima kasih masih setia dengan Bapak Tentaraku.
*****
Andi terlihat begitu fasih dalam membaca surat - surat pendek dalam setiap rakaat shalat, ia juga begitu fasih membaca doa qunut pada rakaat kedua shalat subuh.
“Assalamuaalaikum warahmatullahi wabarakatuh” Andi menoleh ke arah kanan “Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh” lalu menoleh ke arah kiri.
Setelah Andi menoleh ke arah kiri “Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh” aku mengucap salam lalu menoleh ke arah kanan “Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh” menoleh ke arah kiri “Alhamdulillah” aku menyapukan kedua tanganku ke wajah. Aku mengulurkan tangan kananku bersalaman dengan Andi.
Andi menyambut tanganku, setelah bersalaman Andi mengelus pelan kepalaku di balik mukena dengan kanan kirinya dan kanannya bersalaman denganku lalu ia tersenyum manis ke arahku.
“Bahagia banget abang sayang, jika abang bisa menjadi imam untuk kamu. Rasanya adem gitu”
“Aaaamiiiin sayang” aku tersenyum balik ke arahnya.
Andi bangun melipatkan sajadah lalu berjalan ke ranjangnya “sayang tidak ada makanan ya abang laper banget”
Sedangkan aku melipat mukena dan sajadah lalu memasukkannya kembali ke dalam tas mukena dan meletakkan di atas lemari. “Ada sayang tapi roti, mau abang?” tanyaku berjalan menghampirinya.
“Mau… dimana, abang lapar sekali” Andi memegang perutnya, cacing di dalam perut seakan sedang berdemo besar - besaran.
“Di atas kulkas sayang, sebentar adek ambilkan”
“Terima kasih nona manis” Andi naik ke atas ranjang lalu duduk bersila di atasnya menunggu aku mengambilkan roti.
Aku berjalan ke depan kulkas, membuka pintu kulkas lalu mengambil selai dan menutupnya kembali lalu mengambil roti yang terletak di atas kulkas. Aku membawanya ke hadapan Andi “ini sayang” meletakkannya di depan Andi.
Andi membuka kertas roti, tutup botol selai lalu mengambil roti dan mengoleskan selai coklat di atasnya.
“Mama sama ayah belum kembali sayang” tanyanya merapikan selai di atas roti yang berada di genggaamnya.
Belum lagi aku menjawabnya suara ketukan pintu terdengar
“Assalamualaikum” ucap mama masuk ke dalam ruangan bersama ayah.
“Bagaimana abang, bisa kita pulang hari ini” tanya Ayah kepada anak laki - laki satu - satunya itu.
“Sudah dong yah” Andi yang sedang mengunyah roti begitu semangat menjawab pertanyaan dari ayah.
“Semangat sekali ya kalau mau pulang” ledek mama yang berdiri di sampingku.
__ADS_1
“Iya ma, soalnya abang sudah bosan tidur di ranjang ini. Abang pengennya tidur di kamar abang yang super nyaman dan wangi” jelas Andi yang ingin buru - buru pulang.
“Jadi di sini enggak nyaman abang, padahal di sini bisa dijagain sama adek” ledek mama lagi yang membuat Andi bingung untuk menjawabnya.
“Ya terus gimana, masa abang terus - terusan menginap di sini. Iya sih bisa dijagain sama adek tapi gimana dong abang bingung” wajah Andi terlihat sangat bingung dengan ledekan mamanya.
“Kalau mau dijagain sama adek ya kamu harus menginap di sini lagi, dipasang inpus lagi, dipasangin oksigen lagi dan makan makanan rumah sakit lagi atau mau di rumah di kasur lecek kamu itu palingan di jagain sama mbak - mbak di rumah. Hayyo abang mau pilih yang mana” mama terus saja menggoda Andi.
“Mama…. bagaimana kalau adek ke rumah saja merawat abang” Andi mengeluarkan ide cemerlangnya.
“Mana boleh adek menginap di rumah, nanti apa kata tetangga. Tetangga kita paling julid lo sejagat raya” ucap Ayah ikut nimbrung.
“Kalau kamu mau dijagain sama adek ya kamu cepetan sembuh, cepetan urus itu berkas - berkas nikahnya” ledek mama lagi.
“Ayah lihat mama ini, dari tadi isengin abang melulu”
Tok… tok… tok
“Assalamualaikum” kak Anti berdiri di balik pintu “wah keluarga lagi pada kumpul nih” kak Anti berjalan menghampiri kami semua.
“Yah tukang rusuh datang” ledek Andi kepada kakak kesayangannya.
“Hai sayangku” ucap kak Anti begitu heboh lalu ia memeluk Andi.
“Kak… kenapa peluk - peluk sih, malu tahu” Andi berusaha melepaskan pelukan kakaknya.
Aku menganggukkan kepalaku “iya kak masa sama kakak cemburu, kecuali abang pelukan sama cewek lain nah itu baru” aku menggepalkan tanganku, Andi menelan ludahnya ketika melihat gepalan tanganku ia mengintip di balik ketiaknya kak Anti.
“Kak pengap”
Kak Anti melepas pelukannya “kamu sudah sembuhkan?” kak Anti memegang dahi, leher dan kepalaAndi memeriksanya apa masih sakit.
“Kak… kak, abang sudah sembuh” Andi menyingkar tangan kak Anti dari wajahnya “kenapa heboh banget sih kak?, terus kenapa baru sekarang nongolnya kemaren - kemaren kemana kamu? Kenapa enggak jagain abang? Sibuk apa kamu kak Anti Antimo” Andi melemparkan pertanyaan bertubi - tubi untuk kakak tercintanya.
Kak Anti terlihat bingung untuk menjawab semua pertanyaan dari Andi, ia menggarukkan kepalanya yang sama sekali tidak gatal.
Aku berdiam diri memperhatikan keributan adik kakak yang satu ini.
“Sssst… berisik banget sih kalian berdua. Kalau sudah bertemu hebohnya masyaallah. Duduk di sofa saja yuk yah sakit kepala mama mendengar mereka berantem” ucap mama lalu pergi ke sofa bersama ayah. Ayah berjalan mengikuti mama.
“Adek belain abang dong” Andi meminta bantuan kepadaku untuk membelanya “abang dibully ini”
“Hei… anda ya yang membully saya” jawab kak Anti yang tidak mau kalah.
__ADS_1
“Adek duduk di sini ya” ucapku menarik kursi lalu duduk memperhatikan mereka.
“Mau jadi juri kamu dek?” tanya kak Anti melirik ke arahku “nanti kamu belanya kakak ya, nanti kakak kasih es krem” bisik kak Anti sedikit agak besar sampai membuat Andi mendengarnya.
“Wah istri aku itu kak, jangan diapa - apain” teriak Andi.
“Apa sih orang hutan teriak - teriak ini rumah sakit tahu enggak sih” ledek kak Anti.
“Kak… kakak boleh menyakiti aku kakak boleh membunuh aku sekalipun tapi jangan sakiti adek kak” entah drama apa lagi yang dibuat Andi dengan kakaknya. Tingkah mereka berdua benar - benar kocak kalau sudah bertemu.
*****
Sekarang jam menunjukkan pukul 10.00 wib. Di balik pintu datanglah dokter Elita dengan seorang suster yang menemaninya.
“Permisi” ucap dokter Elita, aku melihat senyum yang berbeda hari ini di wajahnya. “Saya periksa dulu ya pak” Andi berbaring di ranjangnya, dokter El ita memasangkan stetoskop di telinganya lalu mengarahkan ke bagian dadanya Andi mendengarkan detak jantungnya.
Andi sudah paham dengan perintah dokter Elita. Seperti biasanya, ia menarik napas lalu menghembuskannya kembali.
“Syukurlah keadaan bapak semakin membaik” menatap tajam mata Andi “sekarang juga bapak sudah boleh pulang” ucapnya lirikan matanya tidak pindah tetap menatap wajah Andi.
“Dek, sepertinya dokter itu dari tadi tidak berhenti menatap mata abang” kak Anti berbisik di telingaku soal apa yang ia perhatikan. Tentu saja aku tidak sedikit pun menaruh curiga, karena selama ini dokter Elita begitu baik dengan kami semua. Dia begitu ramah kepada aku, Andi dan mama. Apapun akan dokter Elita lakukan demi keselamatan Andi. Memang dokter Elita, seorang dokter muda yang sangat cantik, ramah dan baik hati. Siapapun pasti akan jatuh cinta kepadanya.
“Kamu jangan diem saja” bisik kak Anti lagi yang memperhatikan gerak gerik dokter Elita dari samping.
“Sudah lah kak, dok Elita baik kok orangnya” bisikku ke kakak Anti “lagian bang Andi tidak menatapnya balik”
“Sudah dok” kak Anti menyadarkan dokter Elita yang sedari tadi tidak memindahkan matanya melirik wajahnya Andi.
“Oh i - ya” jawabnya terbata - bata. Ya ampun ternyata pak Andi ini gantengnya luar biasa ya kalau sedekat ini, manglingin banget wajahnya. Apa aku jatuh cinta ya sama dia, lagian kan dia sudah tunangan. Alah… baru tunangan pun, suami istri saja bisa cerai apalagi cuma tunangan. Tidak ada salahnya kali ya kalau aku mencobanya, batin dokter Elita.
“Dok…” panggil Andi, ia baru sadar kalau dokter Elita memperhatikannya.
“Hah” dokter Elita tersadar dari lamunannya.
“Dokter kenapa?” Tanya Andi menatap wajahnya dokter Elita.
Pak Andi menatapku, yah jantungku, batin dokter Elita. Ia begitu salting dan melting ditatap balik oleh Andi. Padahal Andi tidak berniat apa - apa, karena menurutnya kalau berbicara dengan seseorang itu kita harus melihat ke arah wajahnya.
“Oh enggak pak” jawab dokter Elita.
“Iya kan dek” kak Anti begitu curiga dengan tingkah dokter Elita yang begitu aneh menurutnya.
#thank you atas kunjungannya.
__ADS_1
Semoga cerita ini dapat menambah inspirasi kalian.
Di tunggu part selanjutnya ya byeeeeee.