Bapak Tentaraku

Bapak Tentaraku
Bab 85 : Bersamamu


__ADS_3

Hallo guys!!


Terima kasih masih setia dengan Bapak Tentaraku.


****


Setelah selesai makan aku meletakkan sendok dan garpu dengan rapi di atas piring pertanda makanan telah habis.


"Sayang" panggilku cukup mendayu.


"Pasti ada sesuatu ini" ucap Andi melirik ke arahku yang sedang menyeruput minuman.


"Eum.... apa ya" aku menggaruk kepalaku yang sama sekali tidak gatal.


"Apa??? ngomong saja, seperti sama orang lain saja kamu ini gak berani ngomong terus. Aku kan calon suami kamu"


"Pulang dari sini, kita enggak usah pulang dulu ya sayang, adek pengen jalan - jalan sebentar" ucapku sedikit segan.


"Nah gitu dong ngomong " lagi - lagi ia menepuk jidatku.


"Kan selalu gitu kamunya. Lama - lama jidatku bisa tipis ini" aku mengelus jidatku.


"Tidak apa - apa sayang, kenang - kenangan dari abang" tertawa.


"Kenang - kenangan apaan? malah nepuk jidat aku selalu" protesku memanyunkan bibirku.


"Yasudah sayangku, cintaku, bohate gak lagi deh abang nepuk jidat kamu" ucap Andi dengan penuh kelembutan "tapi abang enggak janji ya" ucapnya lagi dengan tertawa ngakak baaam...., dia menepuk jidatku kesekian kalinya.


"Nah kan" aku memasang wajah cemburut.


"Ciee yang ngambek" Andi mencolek daguku "kamu manis sayang kalau wajahnya ngambek seperti itu. Level manisnya bertambah berjuta - juta kali lipat.


"Sorry ya aku tidak mempan dipuji" ucapku melirik ke arah Andi lalu memalingkan wajahku lagi.


"Jadi mau apa juga sayang? Mau disayang - sayang, apa mau abang kasih ini" Andi menggepal tangannya lalu menunjukkan ke arahku.


"Masa itu sih??" Protesku "aku mau es krim"


"Tumben mintanya es krim biasa mintanya bakso. Lagi lupa ya sama bakso"


"Oh iya ya bakso. Kan jadi kepengen. Tapi enggak deh aku lagi berusaha diet"


"Diet apaan?? Tidak usah diet - diet, gak suka abang kalau kamu diet abang suka kamu yang gendut ditambah pipinya yang chubby itu baru abang suka " ucap Andi lalu memandang lama wajahku.


"Bukan gitu sayang konsepnya. Kita... kalau gendut itu pasti akan dihina - hina sama orang lain"


"Siapa yang berani hina kamu, sini bilang sama abang. Biar abang pukul dia"


"Iya enggak ada. Tapi, memang iya kalau kita gendut atau tubuh kita sedikit berisi pasti kita akan dihina oleh orang lain dan kita bisa dipandang sebelah mata" jelasku lagi.


"Perduli banget sama kata orang. Kamu milik aku kan sayang? Jadi stop dengar omongan orang lain. Abang cuma ingin kamu sehat, biar kamu gendut, jelek, abang tetap akan selalu sayang sama kamu sebagaimana pun keadaan kamu. Paham kamu!" Andi memelototkan matanya.

__ADS_1


"Iya abang" jawabku sembari tersenyum.


"Yasudah kamu mau kemana lagi habis ini, tapi jangan kesorean ya pulangnya. Abang nanti malam piket"


"Piket nanti malam abang? Jaga kantor lagi dong?"


"Iya dong, kantor saja abang jaga apa lagi kamu eeeeaaaa" ucap Andi sembari nyengir kuda andalannya "yaudah bangun kita ke pantai yuk, nanti abang beliin es krim di sana"


"Aaaa malas banget aku bangunnya, bangunin dong" aku merasa berat banget untuk bangun karena kekenyangan dan rasa nyaman dari kursi yang aku duduki. Aku menyodorkan sebelah tanganku ke arah Andi. Andi menarik tanganku perlahan.


"Gini - gini, kalau sudah kenyang pasti gak mau bangun lagi. Dasar nyonya besar" menarik tanganku.


"Bukan nyonya besar tapi nyonya Andi" bangun dari kursi.


"Kalau kamu jadi nyonya Andi, terus abang jadi pembantunya gitu. Gak mau abang"


"Eh bukanlah sayang, nyonya Andi itu maksudnya istri dari tuan muda Andi. Paham dong, masa itu saja tidak paham sih"


"Iya paham, yasudah kamu ke mobil abang mau ke kasir dulu. Ini kunci mobilnya sayang" setelah memberi kunci mobil Andi berjalan ke arah kasir, sementara aku berjalan ke arah parkiran mobil.


*****


Aku membuka pintu mobil setelah menekan remote kontrol.


"Panas banget, nyalain Ac gimana sih" aku mencari tombol yang bisa menyalakan Ac "aku tidak tahu" aku mengoceh sendirian di dalam mobil.


SKIP


"Kenapa abang ketawa?" tanyaku heran karena tidak ada angin tidak ada hujan Andi tertawa melihatku.


"Kamu lucu sayang, sudah tahu panas di mobil kenapa enggak nyalain Ac" ledeknya.


"Aku tidak tahu cara menyalakannya" ucapku malu - malu, aku yakin pasti Andi bakalan menertawaiku karena kurangnya pemahamanku terhadap mobil.


"Hahah" Andi tertawa ngakak melihat ke arahku "cara hidupin Ac gini loh sayang, pertama. Lihat sini dong bapak tentara ganteng sedang menjelaskan" ucapnya begitu PD.


Aku memperhatikan Andi dengan seksama.


"Pertama kamu nyalain remote controlnya yang ini" Andi menunjukkan di remote control yang ada logo gembok terbuka "lalu kamu masuk ke dalam mobil dengan membuka pintu terlebih dahulu" ucapnya dengan nada meledek dan sedikit tertawa.


"Aku serius loh ini sayang perhatiin kamu jelasin” wajahku terlihat sangat serius memperhatikan Andi yang menjelaskan.


“Iya iya deh. Abang jelasin lagi ya nona cantik eh nyonya Andi maksudnya” mengelus lembut kepalaku “jadi setelah masuk ke dalam mobil, kamu tekan di sini” menunjukkan tombol stater “kan ini mobil matic jadi gak pakek kunci buat nyalain mesinnya seperti mobil zaman dulu gitu sayang”


“Eum…” aku mengangguk kepalaku pelan seolah paham dengan penjelasan Andi.


“Jadi…. setelah mesin mobilnya menyala, kamu tekan di sini untuk menyalakan Ac nya, paham kan sayangku”


“Oh……” jawabku dengan nada begitu panjang.


“Paham gak jangan oh saja” ledek Andi.

__ADS_1


“Paham” ucapku singkat.


“Oh iya” Andi mengingatkan sesuatu.


“Apa abang?” tanyaku melirik ke arahnya.


“Maaf ya sayang, abang belum sempat ngajarin kamu belajar mobil” ucapnya.


“Oh gampang itu, nanti kalau abang punya waktu kapan - kapan kita belajarnya. Yasudah ayolah kita ke pantai nanti keburu sore abang piket kan malam ini. Nanti kalau kamu terlambat yang jagain kantor siapa? terus kalau kantornya hilang siapa yang mau tanggung jawab?” Ucapku meledek Andi.


“Ledekin aku ya, nakal ya kamu sekarang sudah pandai ledekin aku” Andi menyalakan mesin mobilnya lalu menancap gas perlahan.


“Ya… kan kamu yang ngomong kalau kamu jagain kantor. Ingat gak abang dulu waktu pertama”


Andi menyerobot omonganku “Waktu pertama kali kulihat dirimu hadir rasa hati inginkan dirimu, hati tenang mendengar suara indah menyapa geloranya hati ini tak ku sangka” Andi bernyanyi dengan begitu merdu, sampai membuatku terpukau mendengarnya. Ini kali pertamanya Andi menunjukkan bakatnya bernyanyi di depanku dan suaranya begitu adem.


“Iiii…. Bagus banget suara abang” aku begitu kegirangan mendengar suara Andi. Suaranya begitu merdu di telingaku. “Sambung dong sayang” Andi tersenyum malu melirik ke arahku.


“Ah malu abang”


“Ayolah” aku berusaha membujuknya agar ia mau bernyanyi lagi. Aku begitu jatuh cinta dengan suaranya.


“Boleh” berdehem “tapi adek ikut nyanyi ya” Andi mengajakku berduet “kita ulang dari awal ya, abang duluan terus nanti adek sambung”


“Oke. Tapi bentar adek cari liriknya dulu di handphone” aku membuka internet di handphoneku lalu mencari lirik lagu yang dinyanyikan Andi barusan “adek enggak hafal liriknya” nyengir “ oke sudah ketemu sayang”


“Ekhem… ekhem” Andi mengambil napas lalu “Waktu pertama kali kulihat dirimu hadir” Andi melirik ke arah ku sambil tersenyum manis “rasa hati inginkan dirimu, hati tenang mendengar suara indah menyapa geloranya hati ini tak ku sangka, rasa ini tak tertahan. Hati ini selalu untukmu, adeeeek” Andi seolah - olah memberiku mikrofon.


“Terimalah lagu ini dari orang biasa, tapi cintaku padamu luar biasa. A…bang…”


“Aku tak punya bunga… aku tak punya harta yang kupunya hanyalah hati yang setia”


Aku dan Andi “tulus padamu….”


“Hari - hari berganti, kini cintapun hadir. Melihatmu memandangmu bagai bidadari” Andi melirik ke araku lagi “ lentik indah matamu, manis senyum bibirmu, apa lagi ya” Andi menyambung liriknya.


“Hitam panjang rambutmu anggung terikat, rasa ini tak tertahan. Hati ini selalu untukmu” Aku menunjuk Andi “Sambung abang….”


“Apa ey liriknya”


“Terimalah”


“Oh iya, terimalah lagu ini dari abang seorang” Andi menunjuk dirinya sendiri “tapi cintaku padamu luar biasa. Aku tak punya bunga aku tak punya harta yang kupunya hanyalah hati yang setia tulus untukmu” akhir lirik lagunya Andi menunjukkan ke arahku.


“Yeeee”  aku bertepuk tangan kegirangan, mataku memandang wajah Andi dari samping. Ya Allah bang Andi selalu saja bisa membuatku tertawa, bagaimana hatiku besok kalau ia pergi meninggalkan. Aku tahu ia hanya pergi karena menjalankan tugasnya, tapi apa aku yakin aku sanggup menjalankan ini semua, batinku. Andi fokus menyetirkan mobilnya sesekali ia melirik ke arahku…..


#thank you atas kunjungannya.


Semoga cerita ini dapat menambah inspirasi kalian.


Di tunggu part selanjutnya ya byeeeeee.

__ADS_1


__ADS_2