Bapak Tentaraku

Bapak Tentaraku
Bab 45


__ADS_3

Hallo guys!!


Terima kasih masih setia dengan Bapak Tentaraku.


******


Aku terbangun dari tidurku.


“Huuuuaaa” menguap, membuka mulut besar - besar. “Aku mau mandi mau sekolah” mencari handphone dengan mata setengah terbuka “ya ampun hari ini hari minggu ternyata, kok aku bisa lupa gini” aku terus mengoceh sendirian.


Aku berjalan ke kamar mandi membasuh wajah dengan facial wash. Setelah itu aku mengambil handphone “bang Andi apa kabar ya” aku mencari kontaknya lalu menghubunginya.


Via telpon


Aku


Assalamualaikum


Andi


Walaikumsalam, selamat pagi cek gu


Aku


Ah selamat pagi juga, gimana sayang keadaan kamu. Apa sudah mendingan


Andi


Belum sayang, apa lagi belum ada kamu hari ini di samping aku


Aku


Aciiee pagi - pagi sudah mulai ya. Bentar lagi adek ke sana ya pangeran.


Andi


Iya sayangku, cintaku, bohateku. Abang tunggu ya.


Aku


Iya sayangku, cintaku, bohateku. Pinjam bentar kata - katanya ya.


Andi


Iya boleh, jangan lupa balik in ya


Aku


Iya siap - siap, yasudah abang istirahat sana.


Panggilan berakhir. Aku meletakkan handphone di atas meja berjalan keluar kamar.


“Mama….” Panggilku mencari keberadaan mama.


“Iya…. mama di dapur, ke sini sayang” teriaknya dari dapur.


Aku berjalan dari kamarku ke dapur menghampiri mama.


“Lagi apa ma”


“Lagi berenang” jawabnya kocak.


“Mana kolamnya ma” mama sedang menggoreng gorengan. Aku mengambil gorengan yang sudah matang.


“Ya habisnya kamu lihat mama lagi goreng tempe ditanya lagi apa, ya mama jawab saja lagi berenang” jelasnya.

__ADS_1


“Mama lucu deh” mengunyah gorengan.


“Kamu ke tempat Andi lagi”


“Iya ma…, boleh kan”


“Boleh, asal jangan menginap ya. Nanti gak enak sama mamanya. Nanti mereka pikir kamu gak bisa jauh - jauh dari Andi seperti tidak punya kehidupan lain”


“Iya, kakak mandi dulu ya” aku berjalan ke kamarku, mengambil handuk lalu pergi ke kamar mandi.


Selang beberapa menit kemudian aku keluar dari kamar mandi menggantikan pakaian lalu memakai sedikit make up. “Jangan lupa pakai parfum yang banyak” aku menyemprotkan parfum dengan begitu banyak. Aku begitu cinta dengan benda yang disebut parfum. “Uhuk..ukhuk…” mabuk parfum.


Setelah selesai berdandan senatural mungkin aku keluar dari kamar mencari keberadaan mama lagi “mama kakak berangkat ya” mencium tangan mama lalu berjalan keluar rumah mengambil motor di garasi, tak lupa aku memakaikan helm di kepala, setelah itu menancap gas pelan.


SKIP


Aku telah sampai di parkiran rumah sakit, memarkirkan motor setelah itu aku berjalan ke ruangan Andi.


“Assalamualaikum” ucapku membuka pintu kamar.


“Waalaikumsalam”


Aku ingin melangkahkan kakiku masuk ke dalam kamar. Namun betapa terkejutnya aku melihat di sebelah Andi terdapat seorang wanita cantik seumurku duduk di kursi yang biasa aku duduk di samping ranjangnya. Mereka berdua terlihat sangat akrab.


“Oh maaf ganggu” aku kembali menutup pintu.


“Dek” teriak bang Andi.


“Iya” jawabku membukakan pintunya lagi “kenapa”tanyaku mengintip di balik pintu.


“Kamu masuk dulu, jangan langsung pergi” seru Andi yang terbaring di ranjang.


“Gak apa - apa aku berdiri saja”


“Iya” aku melangkahkan kakiku sangat perlahan perasaan aku rasanya campur aduk.


“Sini berdiri samping abang” tegasnya lagi “mana tangannya??” mengambil tanganku “kenalin ini Diva adik sepupunya abang dia anaknya bunda Reni adiknya mama” jelasnya sedetail - sedetailnya.


“Iya” jawabku lemas.


“Kak kenalin dong nama aku Diva Danaya” mengulurkan tangannya ke arahku.


Aku menyambut tangannya “aku Kanza”


“Oh jadi kakak yang menjadi tunangan abang Wanda” hanya Diva lah yang memanggil Andi dengan sebutan Wanda, alasan dia karena terlalu banyak orang yang memanggil dengan sebutan Andi. Maka dari itu ia lebih memilih memanggil Andi dengan sebutan Wanda. “Maaf ya kak kemaren gak hadiri acaranya, adek kemaren lagi final jadi gak bisa pulang” Ngomong tanpa malu - malu serasa sudah lama akrab denganku. “Tapi adek punya sesuatu buat kakak”


“Apa dek” aku membalas nada ngomongnya seperti dia ngomong sama aku, aku juga berusaha dekat dengan dia.


“Ini kak” mengambil sesuatu dari dalam tas lalu memberikan kepadaku sebuah kotak kecil.


“Buat abang mana” tanya Andi yang cemburu karena Diva hanya memberiku hadiah sedangkan untuknya tidak ada.


“Abang beli sendiri saja, abang kan banyak duet” ledeknya memeletkan lidahnya ke Andi.


“Eh… kak Kanza juga banyak duit tahu gak”


“Iya gak apa - apa, dia kan calon kakaknya Diva. Jadi wajarlah kalau adek kasih hadiah buat kak Kanza” jelasnya.


“Iya deh, jadi caper ini sama kak Kanza” Andi meledeknya balik.


“Eum gak juga” jawabnya.


“Kakak buka ya dek” tangan kiriku memegang kotak kecil pemberian Diva.


“Iya kak” tersenyum ke arahku.

__ADS_1


Aku membuka kotak kecil itu, ternyata isinya adalah sebuah jam tangan.


“Aaa makasih adek” aku memeluknya “cantik banget jamnya, apalagi warna hitam beuh suka banget kakak” aku terlalu senang mendapatkan sesuatu yang berwarna hitam.


“Iya kakak sama - sama. Dipakek ya kak”


“Pasti dong”


“Abang gak dikasih” memasang mukanya cemberut.


“Abang beli saja sendiri, abang kan banyak duit. Abang bagilah limpul mau jajan tadi adek lihat di depan rumah sakit ada ice boba” bukannya memberikan hadiah pertunangan kepada abang sepupunya satu - satunya malah Diva meminta duit kepada Andi.


“Dih” Andi mengerutkan bibirnya. “Itu di dompet abang ambil”


“Dimana??”


“Dimana sayang” Andi menanyaiku.


“Oh di dalam lemari kayaknya” jawabku yang mengetahui betul letak dompetnya Andi “ambil saja dek di dalam lemari”


Diva dengan sengaja mengambil dompet Andi yang ada di lemari, bukannya ia tidak memiliki uang sendiri namun ia hanya ingin menikmati uang abang kesayangannya.


“Abang dua ya” mengambil dua lembar uang pecahan seratus ribu lalu menunjukkannya ke Andi.


“Iya” jawab Andi dengan wajah datar. “Dasar anak kecil mintanya lima puluh ribu ambilnya dua ratus ribu” Diva adalah sepupu Andi yang paling kecil, sedari kecil ia sudah akrab dengan Andi bahkan waktu kecil ia sering ikut Andi kemana pun ia pergi.


Diva hanya menampakkan gigi behelnya.


“Kak” Diva memanggilku pelan.


“Kenapa dek”


“Karena kakak sudah ke sini, adek pulang ya. Jajan pun sudah ada ini” jelasnya.


“Iya dek, hati - hati ya pulangnya”


“Mas bro pulang ya” menepuk lengan Andi “thank you duitnya mas bro bisa beli boba”


“Iya lain kali gitu lagi ya”


“Iya dong jelas itu, yaudah adek pulang ya” Diva berjalan ke luar kamar.


****


“Adek” panggil Andi lembut.


“Uwan sayang” balasku dengan lembut juga.


“Kamu tinggal sendiri ya” Andi berusaha menakut - nakutiku


“Kenapa memangnya”


“Jadi kamu lah sasaran aku selanjutnya” mengedipkan matanya.


“Kamu mau mencoba godain aku” melirik tajam ke arahnya.


“Enngak”


Cekreek…… suara pintu terbuka…..


#thank you atas kunjungannya.


Semoga cerita ini dapat menambah inspirasi kalian.


Di tunggu part selanjutnya ya bye.

__ADS_1


__ADS_2