Bapak Tentaraku

Bapak Tentaraku
Bab 62 : Ternyata Pak Said Menyukai ku


__ADS_3

Hallo guys!!


Terima kasih masih setia dengan Bapak Tentaraku.


****


Aku dan beberapa guru lainnya masih duduk bersama di teras kantor, area tempat perkumpulan kami untuk sekedar berbincang - bincang masalah pelajaran, bergosip dan lainnya.


“Bu Kanza ada jam?” tanya bu Nita menghampiriku.


“Tidak ada bu, memangnya kenapa??” Tanyaku balik kepada bu Nita sebagai partner piket.


“Kalau tidak ada tolong masuk di kelas VII a ya bu, ibu Fitri tidak berhadir hari ini” bu Nita memintaku masuk menggantikan bu Fitri yang berhalangan hadir, sementara dia mempunyai jadwal mengajar pada saat itu.


“Baik bu” jawabku tanpa menolaknya, aku bergegas pergi ke kelas VII a. “Assalamualaikum” seruku memasuki ruangan.


“Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh” jawab mereka semua secara serentak.


Aku berjalan duduk di kursi guru yang berada di depan kelas “pelajaran apa sekarang” tanyaku sebagai pembukaan pembelajaran, aku bangun dari kursi lalu berdiri di depan papan tulis.


“Pelajaran agama bu” jawab beberapa siswa.


“Oke baiklah karena hari ini bu Fitri berhalangan hadir maka ibu yang akan menggantikannya ya. Sekarang coba buka buku paketnya dan buku catatan ibu minta sekarang kalian semua untuk membuat catatan di halaman 56 ya sesuai amanah dari bu Fitri” ucapku dengan nada yang sangat lembut.


“Iya bu” jawab mereka dengan kompaknya. Mereka mengambil buku catatan dan buku paket lalu menulis di catatan sesuai perintahku.


Aku berjalan dan duduk kembali di kursi guru. Semua siswa dan siswi membuat catatannya masing - masing. Suasana di kelas itu benar - benar kondusif tidak ada satupun siswa yang berbicara atau pun membuat keributan. Hatiku sangat senang jika bisa masuk di kelas yang suasananya seperti ini, rasanya cukup tenang dan adem ayem. Pemberian materi pun sepertinya akan berjalan dengan lancar.


Delapan puluh menit kemudian, bel istirahat berbunyi. Kriiiiiiiinng…….


“Baiklah anak - anak semua, catatan yang telah kalian buat, nanti minggu depan bu Fitri yang akan menjelaskan. Sekarang kalian boleh keluar istirahat”


“Baik bu”


Mereka berjalan satu persatu meninggalkan ruangan. Aku sangat jatuh cinta dengan kelas VII a ini. Rasanya aku belum pernah masuk ke kelas yang siswanya seperti itu. Semua siswa dan siswinya sangat di siplin. Semenjak aku mengajar, aku selalu mendapatkan kelas yang siswanya terlalu banyak dan membuat berbagai keributan di kelas. Kadang aku sempat menyerah dengan itu semua dan berpikir untuk mengakhirinya. Namun, aku berpikir kedua kalinya karena masuk di sekolah ini menjadi guru honerer sangatlah susah tidak segampang membalikkan telapak tangan. Masak karena siswa atau siswi yang bandel saja aku harus menyerah.


Setelah mereka semua keluar aku juga keluar menuju kantor dan bergabung dengan guru lainnya.


****


Di kantor


Bu Juli, bu Fizza, bu Dewi dan Pak Said duduk bersama. Aku berjalan ke arah mereka. Namun, ketika pak Said melihat ke arahku yang sedang berjalan ke sana, ia langsung bangun dan ingin segera pergi.


“Loh pak mau kemana??” tanyaku yang baru sampai dan melihat pak Said langsung bangun ketika aku baru saja sampai di depan mereka.


Pak Said tidak menjawab pertanyaanku ia langsung pergi begitu saja.

__ADS_1


“Pak Said kenapa sih, kok langsung bangun dan pergi begitu saja kalau aku datang”


“Kamu duduk dulu, biar kami ceritain”


“Kenapa sih” aku mengambil kursi dan duduk bersama mereka. Aku begitu penasaran dengan apa yang mau mereka sampaikan.


“Kami cerita ini semua kamu jangan kaget ya” ucap bu Fizza was - was.


“Ada apa sih” aku menjadi takut dan sangat penasaran dengan mereka.


“Jadi selama ini pak Said suka sama kamu”


“Pak Said suka sama aku?” menunjukkan diriku sendiri “kenapa pak Said bisa suka sama aku, bukankah pak Said sudah memiliki istri ya” aku begitu terkejut dengan pengakuan mereka.


“Iya jadi ceritanya, waktu pertama sekali pak Said pindah ke sini dan melihat kamu dia mengaku kalau dia jatuh cinta sama kamu, tapi…” ucapan bu Dewi terpotong.


“Tapi apa?” tanyaku yang semakin ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.


“Tapi pada saat itu dia sudah melamar wanita yang sekarang menjadi istrinya” ucap bu Dewi lagi.


“Kalau seperti itu kenapa pak Said harus suka sama aku” menunjuk diriku sendiri.


“Iya…. kata pak Said dia bingung mau memilih siapa diantara kalian berdua sementara orang tuanya terus mendesak dia untuk terus menikah dengan tunangannya dan pak Said sendiri sangat menyukai kamu” jelas bu Fizza.


Aku tersenyum dengan penjelasan mereka. Bagiku ini hanya sebuah omong kosong.


“Sebenarnya pak Said ingin menitipkan kamu ke pak Haris sebagai sahabatnya. Jadi dengan kata lain pak Said masih bisa melihat kamu dan menjaga kamu kalau kamu bisa bersama pak Haris. Cuma ya itu pak Haris yang tidak ingin membuat hubungannya dengan kamu” jelas bu Juli dengan lengkap.


“Sumpah aneh banget. Aku tidak percaya loh pak Said seperti itu”


“Jangankan kamu dek, kami saja tidak percaya. Seharusnya pak Said tidak usah berlebihan seperti itu lagian kan kamu sudah punya tunangan dan dia juga sudah punya istri”


“Makanya dek kemaren pak Said waktu menjenguk Andi sengaja ngomong seperti itu biar kalian berdua berantem”


“Untung saja ya kak, bang Andi pengertian banget orangnya, kemaren waktu aku jelasin semuanya tapi respon dia tidak seburuk yang aku pikirkan”


“Syukurlah kalau memang seperti itu dek, kakak yakin kita semua akan bisa bersama dengan orang baik”


Aku, bu Fizza, bu Juli, bu Dewi dan bu Susi sudah seperti sahabat apapun masalah dari masing - masing dari kami pasti waktu berkumpul kami akan sharing bersama dan menukarkan pendapat.


“Iya kak. Tapi aku sedikit kesal sih kak melihat sikap pak Said seperti itu sekarang yang selalu menjauh kalau ada aku bersama kalian. Seharusnya kan pak Said tidak perlu bersikap demikian. Lagian antara aku dan pak Said sudah mempunyai pasangan masing - masing kenapa dia masih bersikap seperti itu” jelasku.


“Mungkin dia cemburu kali dek sama kamu” ledek bu Fizza.


“Cemburu apanya?? Apanya yang harus dicemburui. Istri pak Said juga seorang guru kan??” Seruku yang merasa aneh.


“Iya sih tapi kamu malah bisa mendapatkan seorang tentara. Pasti pak Said berpikir kalau tunangan kamu lebih gagah dari dia dan lebih tinggi jabatannya dari dia”

__ADS_1


“Kak… aku tidak melihat seorang laki - laki itu dari jabatannya aku cuma melihat dia bagaimana cara dia mencintaiku dan kebetulan saja bang Andi seorang tentara”


“Memangnya kalau boleh tahu dimana sih kalian berdua bisa bertemu” tanya bu Juli yang ingin mengetahui cerita awalku bertemu dengan Andi.


“Iya ceritain dong kapan dan dimana ketemu sama bapak tentara ganteng itu. Jadi pengen juga ini kenalan sama bapak tentara yang ganteng seperti pak Andi” ucap bu Fizza yang masih menjomblo.


“Mau jadi ibu persit ya dek” ledek bu Juli.


“Eh diam dulu mau dengar ceritanya bu Kanza” ucap bu Dewi menyuruh bu Juli dan bu Fizza berhenti mengoceh.


“Apa sih kak” malu - malu.


“Ayolah dek” bujuk bu Juli ingin aku segera bercerita.


“Iya yaudah dengar ya” nyengir ke arah mereka “jadi beberapa waktu yang lalu aku jalan sama kakak sepupu aku makan bakso gitu kan. Jadi waktu sampai di sana suami kakak aku itu datang juga ke sana dan diajaklah bang Andi ini. Nah di situ lah aku dan bang Andi berkenalan”


“Terus dek”


“Pertamanya sih aku tidak tahu kalau bang Andi itu tentara karena dia ngomongnya ikut - ikut bang Adam di kantornya”


“Bang Adam siapa??” tanya bu Dewi


“Itu suaminya kakak sepupu itu”


“Oh, terus kapan juga tahunya dia tentara?” tanya bu Dewi lagi.


“Kemaren dia ajak ketemuan datanglah dia ke sini itu di depan pagar sana” menunjuk pagar sekolah “dia parkir mobilnya di depan itu terus aku masuk kan ke dalam mobilnya yaudah di situlah aku melihat dia pakai seragam tentara”


“Berarti dia bisa kita bilang ngetes kamu dulu gitu ya. Apa kamu bisa terima dia” ucap bu Juli memberikan kesimpulan.


“Eum tidak tahu juga sih kak”


“Iya kan bisa jadi mau melihat kamu matre apa enggak” ledek bu Fizza menggodaku.


Aku tertawa mendengar ucapan bu Fizza “ kita orang susah untuk apa sih mau bergantung di hidup orang lain”


“Iya betul dek. Tapi ya sudahlah lagian sekarang kalian kan sama - sama tahu tentang pekerjaan kalian masing - masing. Kalau tidak mana mungkin kalian bisa bertunangan seperti sekarang. Itu artinya dia benar - benar membuat hubungan yang jelas dengan kamu. Dia tidak mengajak kamu main - main dalam sebuah hubungan” jelas bu Juli. Bu Juli sudah menikah jadi dia sedikit banyak tahu akan seorang laki - laki yang serius dengan seorang wanita itu seperti apa.


“Ngerti dong, masak itu saja tidak mengerti sih” ledek bu Fizza.


Krrrrriiiiing….. tak terasa bel pulang pulang sekolah berbunyi. Semua siswa dan siswi berhamburan keluar kelas dan pulang ke rumah masing - masing. Sama halnya dengan guru - guru yang juga keluar dari kelasnya mengajar.


Aku, bu Fizza, bu Juli dan bu Dewi berjalan ke kantor utama melakukan fingerprint sebelum pulang.


#thank you atas kunjungannya.


Semoga cerita ini dapat menambah inspirasi kalian.

__ADS_1


Di tunggu part selanjutnya ya byeeeeee.


__ADS_2