Bapak Tentaraku

Bapak Tentaraku
Bab 94


__ADS_3

Hallo guys!!


Terima kasih masih setia dengan Bapak Tentaraku.


*****


Setelah dari dapur aku kembali ke ruang televisi. Aku duduk di samping Andi lalu membuka bungkusan mie, mengambil sumpit lalu menikmati mie pedasnya.


“Pedas gak sayang” tanya Andi yang sudah kepedasan, keringat begitu banyak bercucuran di wajahnya.


“Ya Allah abang kepedasan” aku melirik wajahnya “kamu minum dulu sayang” aku mengambil es jeruk yang terletak di atas meja “ini sayang” menyodorkan minumannya. Andi menyeruput minumannya sampai setengah gelas. Aku meletakkan mieku di atas meja, mengambil tissu lalu mengelap keringat Andi. “Jangan makan lagi ya sayang mienya” mengambil bungkusan mie yang dipegang Andi lalu meletakkannya di atas meja “nanti abang sakit perut, habisin dulu minumnya” Andi kembali menyeruput minumannya.


“Wah gila sayang, pedas banget level satu ini. Biasanya gak seperas ini loh” sangking kepedasannya lidah dan bibir Andi sampai memerah dan air mata bercampur dengan keringat di wajahnya.


“Hmm kamu sih sok - sok an makan mie pedas. Ujung - ujungnya nangis” ucapku sedikit meledek.


“Ish, memangnya kamu gak pedas” ucapnya dengan mode julid sampai - sampai mulutnya miring - miring.


“Aku sih enggak, sedikit pun gak berasa pedas” ucapku dengan bangga. Memang di wajahku tidak terlihat tanda - tanda kepedasan. “Sebentar ya sayang” aku berjalan ke dapur.


Lima menit kemudian, aku kembali ke ruang televisi dengan membawa segelas susu dingin.


“Abang minum ini dulu” aku menyodorkan gelas susu ke hadapannya. Andi mengambil gelas tersebut lalu meneguknya perlahan.


“Abang habisin biar enggak kepedasan lagi”


“Iya” Andi kembali meneguknya kluk… kluk… kluk “makasih sayang” ucapnya setelah menghabiskan susunya lalu menaruhkan gelas di atas meja. Kini wajah Andi kembali segar seperti biasanya “Sayang kenapa sih kita kalau makan cabe bisa kepedasan, kan kamu ibu guru pasti bisa menjawabnya dong” tanya Andi memperhatikanku.


“Eum… ya karena pedas itu kan berasal dari cabai. Jadi di cabai itu ada mengandung sebuah zat yang bernama capsaicin. Zat inilah yang memberikan rasa pedas. Sebenarnya rasa pedas itu tidak hanya dapat dirasakan di lidah loh tapi bisa di anggota tubuh yang lain”


“Jadi ada si capsaicin tadi ya sayang makanya lidah kita jadi pedas?”


“Iya tapi kan tidak hanya di lidah saja yang berasa pedasnya bisa di anggota tubuh yang lainnya. Ini contohnya” aku menunjuk bibirnya yang masih sedikit agak memerah “bibir kamu tadi kepedasan juga kan waktu makan mienya? sampai jontor begini”


“Iya sayang. Kenapa bisa seperti itu ya?” Tanyanya lagi. Andi itu kalau bertanya sesuatu pasti harus sampai ke akar - akarnya. Rasa ingin tahunya sangat sangatlah tinggi. Jadi aku harus siap apabila ia sudah mengajukan pertanyaan.


“Ya karena rasa pedas itu sebenarnya bukan rasa. Rasa yang bisa dirasakan oleh manusia di lidahnya itu cuma ada 4 macam” jelasku lagi.


“Apa bu guru” tanyanya, wajahnya begitu serius.


“Dengar ya anak - anak” jawabku sembari cengengesan “ya Allah sayang wajah kamu itu serius banget loh”


“Eh iya dong. Kan abang ingin tahu. Abang suka banget tahu belajar - belajar hal seperti ini”


“Kan kamu pernah belajar di sekolah sayang”


“Kan sudah lupa sayang”


“Kenapa dilupain, katanya suka”

__ADS_1


“Ya karena otak aku sekarang sudah penuh sama kamu. Makanya gak masuk lagi apa - apa”


“Bisa ae bapak Andi” aku mencolek dagunya.


“Buru jelasin lagi sayang. Abang lagi serius ini mendengarnya. Jadi, rasa - rasa apa yang bisa dirasakan oleh lidah manusia? Nah apa sayang” nyengir kuda.


Aku menelan ludahku “ada berapa tadi rasanya?” Tanyaku balik sebelum menjelaskannya lagi.


“Ada empat bu guru” Andi menunjukkan angka empat dengan jarinya.


“Pinter” aku mengelus pelan rambutnya. “Jadi kan sayang, ah aku malu” tiba - tiba aku merasa malu karena Andi begitu fokus menatap wajahku.


“Serius sayang”


“Iya ya” aku menghembuskan nafas dan mencoba untuk serius “di lidah manusia terdapat 4 rasa yang bisa dirasakan yang pertama ada rasa manis. Rasa manis itu terletak di bagian depan lidah. Di sini ini” aku menunjukkan lidahku. Andi menganggukkan kepalanya “lalu rasa yang kedua adalah rasa pahit. Rasa pahit ada di pangkal lidah. Tahu kan abang di mana pangkal”


“Di sini sayang” Andi mengeluarkan lidahnya “di sini kan” lalu menunjukkan pangkal lidah.


“Oke rasa yang ketiga adalah rasa asin. Rasa asin itu ada di sini sayang” aku menunjukkan di bagian lidahku “pokoknya di bagian kiri kanan dan di sini” aku menunjukkan lidahku lagi sedikit lebih ke dalam di sini terletak rasa asam. Sama juga ada di sebelah kiri dan ada di sebelah kanan. Paham sayangku”.


“Paham… paham” ucapnya sambil mangut mangut seperti orang sedang mendengar dangdutan.


“Jadi, ada gak rasa pedas?”


Andi menggeleng - gelengkan kepalanya.


“Eum pedas sayang” Andi membayangkan kalau matanya terkena cabai.


“Terus kalau kamu pegang gula terus kamu masukin ke mata. Kira - kira mata kamu bisa tidak merasakan rasa manisnya?”


“Eum” Andi mulai membayangkannya lagi “gak sayang. Wah iya ya benar yang kamu bilang. Berarti sayang, rasa asin, manis, asam dan pahit itu sama seperti cinta dan rasa sayang aku ke kamu dong. Hanya bisa dirasakan oleh kamu tidak untuk wanita lain” ucap Andi mengombalku.


“Jiaaah…. Pak Andi bisa saja” aku terlihat begitu salting di hadapannya. Aku mengambil kembali mie lalu melahapnya lagi sampai tak tersisa.


****


Kumandang azan asar telah berbunyi.


“Sayang… adek mau shalat dulu. Musollanya dimana?”


“Itu sayang sebelum sampai ke dapur. Yasudah yuk”


“Adek dulu” aku berjalan lebih cepat meninggalkan Andi. Setelah mematikan televisi Andi berjalan ke mushollah.


Setelah keluar dari kamar mandi dan hendak memakai mukena, Andi berjalan mendekatiku. Perlahan aku mundur darinya.


“Jangan shalat ya” ucapnya lalu pergi ke kamar mandi.


“Iya”

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, Andi keluar dari kamar mandi lalu berdiri di sajadah barisan paling depan sedangkan aku berdiri sebagai makmum. Ini kedua kalinya aku diimami oleh Andi.


“Allahu… akbar” ucap Andi memulai takbiratul ihram. Aku mengikuti setiap gerakan shalatnya.


SKIP


“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh” ucap Andi menoleh ke arah kanan “Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh” ucap Andi menoleh ke adah kiri.


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh” ucapku menoleh ke arah kanan lalu “Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh” ucapku menoleh ke adah kiri.


Aku dan Andi mengangkat kedua tanganku sembari memohon kepada Allah.


Setelahnya aku mengulurkan tangan kananku mencium tangan Andi, lalu Andi mengelus kepalaku perlahan. Aku tak bisa berhenti tersenyum - senyum.


“Kenapa sayang kok senyum - senyum sih” ucap Andi sedikit meledekku.


“Enggak, senang saja bisa diimami shalat sama abang”


“Inshallah, setelah kita menikah kita akan selalu seperti ini kok sayang. Jadi, tunggu abang pulang ya jangan nakal di sini” mencolek hidungku yang mancungnya tertunda.


“Siapa juga yang nakal. Aku itu orangnya setia. Tau kan setia itu mahal dan cuma bisa dilakukan oleh orang - orang tertentu”


“Iya abang percaya kok sama kamu, percaya banget”


“Gitu dong, yang terpenting adalah kamu sehat - sehat di sana. Bisa mengikuti pelatihannya dengan aman dan cepat pulang lagi ke sini”


“Terima kasih ya sayang atas kepercayaannya dan doa - doa dari kamu”


Aku melipat kembali mukena dan sajadah lalu meletakkannya di atas rak mukena.


“Sayang sudah jam 5 ini, adek pulang ya sudah kesorean banget”


“Abang antar ya”


“Gak usah abang, adek kan bawa motor”


“Baiklah, hati - hati ya bawa motornya jangan ngebut - ngebut” ucap Andi, perasaannya sudah mulai tidak enak.


“Iya aman” aku berjalan ke pintu utama disusuli Andi dari belakang. “Adek pamit ya” aku kembali mencium tangannya.


“Hati - hati ya sayang”


“Oke” aku tersenyum manis ke arahnya. Aku mengambil motor, memasangkan helm di kepalaku lalu menancap gas perlahan.


#thank you atas kunjungannya.


Semoga cerita ini dapat menambah inspirasi kalian.


Di tunggu part selanjutnya ya byeeeeee.

__ADS_1


__ADS_2