Bapak Tentaraku

Bapak Tentaraku
Bab 98 : Kanza Sadar


__ADS_3

Hallo guys!!


Terima kasih masih setia dengan Bapak Tentaraku.


Andi membuka pintu ruanganku secara perlahan. Ia berjalan lalu duduk kembali di kursi di dekat ranjangku.


“Sudah pagi ya” ucap mama yang baru bangun “yah kita shalat subuh dulu” mama membangunkan ayah. Ayah membuka matanya lalu berdiri dan berjalan keluar dari ruangan.


“Mama dan ayah ke musholla dulu ya” ucap mama berpamitan dengan Andi.


“Iya ma” jawab Andi dengan lembut kepada calon mama mertuanya.


“Sayang…” Andi menggenggam tanganku “sekarang sudah pagi, kamu bangun ya. Abang masih di sini menunggu kamu. Kamu bangun ya sayang. Abang sedih tidak bisa melihat kamu tertawa, abang sangat merindukan kamu. Kamu bangun dong sayang” Andi masih saja mengajakku berbicara, ia sangat berharap aku segera bangun dan membukakan mataku.


Jari - jemariku mulai bergerak perlahan. Andi menyadari pergerakan itu.


“Sayang… sayang” ia memperhatikan wajahku. Perlahan aku membukakan mataku.


“Alhamdulillah ya Allah akhirnya kamu sadar” Andi terlihat begitu senang, penantiannya tidak sia - sia.


Aku melihat sekeliling ruangan lalu melihat ke arah Andi yang tersenyum manis menatapku.


“A.. abang” ucapku dengan suara serak.


“Iya sayang… kenapa? Kamu merasa sakit? Dimana sayang sakitnya?”


Aku hanya menggelengkan kepalaku.


“Aku haus” ucapku singkat.


Andi mengambil botol minuman lalu memberikannya kepadaku. Aku menenguk minuman dari tangan Andi. Setelah itu, Andi meletakkan kembali botol minumannya di atas meja.


Andi menatap wajahku lama. Terima kasih ya Allah engkau telah mengabulkan doa hamba, hamba masih diberi kesempatan untuk bisa menatap wajah wanita yang sangat hamba cintai ini, batinnya.


“Kamu istirahat lagi ya sayang. Kamu tiduran saja lagi, sebentar lagi dokter masuk memeriksa kamu”


Aku menganggukkan kepalaku lalu memejamkan mataku.


***


Mama dan ayah telah kembali dari musholla.


“Assalamualaikum” ucap mama dan ayah memasuki ruangan.


Andi melihat ke arah pintu dengan wajahnya yang terlihat begitu bahagia.


“Ma.. ayah, adek sudah sadar” ucap Andi sontak membuat ayah dan mama bahagia.


Ayah dan mama berjalan mendekati ranjangku.

__ADS_1


“Sayang…” mama mengelus kepalaku. Aku membukakan mataku. Aku melihat ke arah mama dan ayah. “Kamu sudah sadar sayang, alhamdulillah ya Allah” mama terlihat begitu bahagia, wajah bahagia juga terpancar dari wajahnya ayah yang berdiri di samping Andi.


“Ada yang sakit kak, yang mana yang sakit?” Tanya mama menatapku.


Aku hanya menggelengkan kepalaku. Untuk berbicara rasanya masih sangat berat. Saat ini hanya anggukan dan gelengen kepala sebagai bentuk jawaban dariku.


“Yasudah kamu tidur lagi saja ya” ayah menyuruhku untuk kembali tidur. Aku menuruti perintah ayah. Aku kembali memejamkan kepalaku.


“Kamu gak ke kantor bang?” tanya mama melirik Andi.


“Gak ma, Andi di sini saja temani adek. Karena adek segalanya buat Andi. Jadi, Andi tidak ingin kemana - mana dulu meninggalkan dia”


Ya Allah anak ini begitu tulus menyayangi putri hamba, saya tidak salah memilih dia untuk menjadi menantu saya, batin ayah. Hati ayah begitu terenyuh mendengar omongan Andi.


“Kalau mama dan ayah mau pulang dulu boleh kok.” Melirik ayah dan mama “Adek kan ada Andi yang  berjaga di sini”


“Bagaimana yah?” mama menunggu jawaban dari ayah.


“Boleh juga ma, kita pulang saja dulu”


“Iya ayah, kak… mama dan ayah pulang dulu sebentar ya kamu baik - baik ya sayang, ada abang yang menjaga kamu” bisik mama di telingaku. “Mama pamit ya” mama dan ayah berjalan keluar meninggalkan ruangan.


****


Tok…tok…tok, suara ketukan pintu, Andi melihat ke arah pintu melihat orang yang datang.


“Alhamdulillah sudah dok, tadi pagi” ucap Andi lalu berjalan mundur ke belakang menjauhi ranjangku memberikan luang waktu untuk dokter dan suster memeriksa keadaanku.


“Alhamdulillah, syukurlah kalau begitu. Sus tolong periksa tekanan darahnya” perintahnya kepada salah satu suster.


Suster mengambil alat tensi darah, lalu memakaikannya di lenganku. Aku masih tertidur pulas. Alat tensinya mulai bekerja.


“Darahnya 80 dok” ucap suster setelah melihat hasil dari alatnya.


“Baik” dokter memasangkan stetoskop di telinganya lalu mendengar detak jantungku. “Detak jantungnya normal” ia melepas kembali stetoskop dari telinganya lalu mengambil senter kecil lalu menyenternya ke dalam kedua mataku.


Setelah rangkaian proses pemeriksaannya selesai “alhamdulillah pak keadaan pasien sudah membaik, luka - lukanya pun tidak terlalu dalam hanya diperlukan proses penyembuhannya saja beberapa hari ke depan. Untuk besok pasiennya sudah boleh pulang. Hari ini biarkan di sini saja dulu untuk mendapatkan penanganan intensif” ucap dokter menjelaskan perihal kondisiku.


“Baik dok terima kasih banyak”


Dokter dan suster keluar meninggalkan ruangan,


Andi kembali mendekati ranjang dimana aku berbaring, ia menarik kursi lalu duduk di atasnya. Aku masih saja memejamkan mataku, sehingga membuat Andi ikutan tertidur di kursi, ia merebahkan kepalanya di samping lenganku.


****


Hari menunjukkan pukul 12.00, aku membukakan mataku lalu melihat sekeliling, terakhir aku melihat Andi yang masih tertidur pulas. Aku mengelus pelan rambutnya.


“Terima kasih ya sayang, kamu siap siaga selalu di sampingku, menemaniku dalam keadaan apapun. Terims kasih ya sayang, kamu begitu menyayangiku”

__ADS_1


Andi terbangun setelah mendengar perkataanku.


“Ngomong apa sih sayang” Andi menatap wajahku sangat dekat kira - kira 2 cm yang membuat jantungku berdegub kencang. Perlahan ia menyingkirkan wajahnya dari hadapanku. “Kamu tidak perlu mengucapkan terima kasih kepada abang, ini semua bentuk rasa cinta dan sayang abang untuk kamu. Seharusnya bukan ini saja yang kamu terima, kamu bisa mendapatkan lebih dari ini. Tapi hanya ini yang bisa abang berikan saat ini. Abang juga minta maaf karena abang tidak bisa menjaga kamu dengan baik” air mata keluar mengalir di kedua pipinya “maafin abang tidak bisa menjaga kamu, sehingga kamu bisa mengalami kecelakaan seperti ini” menundukkan kepalanya.


“Sayang… ini bukan salah kamu kok” aku menggenggam tangannya “Ini semua salah adek karena adek kurang berhati - hati dalam mengendarai motor. Kamu jangan menyalahkan diri kamu ya”


“Ia sayang, tapi tetap saja abang ya salah” lagi - lagi Andi menyalahkan dirinya karena kurangnya penjagaan dia untuk menjaga aku. “Abang janji abang akan lebih ketat menjaga kamu, bila perlu 24 jam”


“Boleh, asal kamu selesaikan dulu pelatihan kamu setelah itu kita menikah, bisa deh abang menjaga adek 24 jam bahkan lebih” ucapku menatapnya.


“Ciiiie yang mau cepat - cepat nikah”


“Iya dong, biar cepatan terus serumah sama kamu”


“Jadi serumah saja ini maunya adek, tidak sekamar juga?” ucap Andi mencoba menggodaku.


“Issh… jelas dong. Kita bakalan serumah, sekamar seranjang, se apalagi ya. Eum setubuh”


“Setubuh, wah gimana tuh?” Ucap Andi yang otaknya mulai travelling, ia terlihat senyum - senyum tidak jelas.


“Setubuh itu bukan anuan ya. Abang pikirannya pasti sudah kemana - mana tuh” ledekku “setubuh itu artinya kita seraga, sepemikiran apapun yang dilakukan harus bareng - bareng, harus bersama gitu” jelasku mengenai maksudku.


“Eum melakukan apapun bareng - bareng? Bersama? Termasuk mandi gitu?”


“Abaaaang… sumpah ya pikirannya. Iya ya nanti kita mandi bareng. Bila perlu adek mandiin abang, puas abang” aku membalas menggodanya.


“Ah… jadi tidak sabar saya” ucap Andi cengengesan.


“Abang sini dekatkan kepalanya sebentar”


“Kenapa? Kenapa sayang, mau dicium abangnya ya?”


“Iya… makanya sini dekatin dulu”


Andi mendekatkan kepalanya ke hadapanku baaaam aku menepuk jidatnya.


“Kok gitu” wajah Andi terlihat cemberut “gak abang maafin ya, dosa tahu?”


“Biarin sekali - kali”


“Hom hom, abang ngambek”


“Ngambek saja sana” balasku menyueki Andi.


#thank you atas kunjungannya.


Semoga cerita ini dapat menambah inspirasi kalian.


Di tunggu part selanjutnya ya byeeeeee.

__ADS_1


__ADS_2