Bapak Tentaraku

Bapak Tentaraku
Bab 86


__ADS_3

Hallo guys!!


Terima kasih masih setia dengan Bapak Tentaraku.


******


Aku begitu bahagia bisa bernyanyi bareng Andi. “Wah… adek baru tahu loh kalau abang itu pandai bernyanyi dan suara abang merdu banget” ucapku memuji Andi.


“Haha iya dong Wanda Andriansyah gitu loh, apa sih yang tidak bisa dilakukan” jawab Andi memuji dirinya sendiri.


“Pantang dipuji sedikit pun langsung naik itu bahunya. Yasudah kamu boleh lah pandai bernyanyi kalau mengaji bisa gak?” Aku menantang Andi untuk mengaji di hadapanku.


“Kamu nantangin abang?? oke abang terima tantangannya” Andi dan aku berjabatan tangan, Andi menyetujui tantanganku. “Kamu dengerin ya”


“Hmmm….” Aku menganggukkan kepalaku bersiap mendengar lantunan ayat suci Al Quran yang akan dibacakan oleh Andi.


“Bismillahi rahmani rahim…..” Andi mulai membacanya dengan menggunakan irama qari “Allaahu Laailaaha illa huwal hayyul qayyuum. Laa ta'khudzuhu sinatuw walaa nauum. Lahuu maa fissamaawaati wamaa fil ardhi. Mangdzalladzii yasyfa'u 'indahuu illai bi idznih. Ya'lamu maa baina aiydiihim wamaa kholfahum walaa yukhiithuuna bisyayin min 'ilmihii illaa bimaa syaaa a. wasi'a kursiyyuhus samaawaati wal ardho. Walaa yauduhuu khifdhuhumaa wa huwal'aliyyul 'adhiim” lantunannya begitu lembut terdengar di telingaku, seluruh makharijul hurufnya benar dibacakan begitu juga dengan tajwidnya dan panjang pendeknya dari setiap huruf.


Aku mengacungkan kedua jempol tanganku “luar biasa abang, cocok banget jadi seorang imam”


“Aaaaamiiiiiin” Andi begitu lantang mengaminkan ucapanku “semoga sayang, abang bisa menjadi imam yang baik untuk kamu, semoga abang bisa menjadi kepala keluarga yang baik untuk keluarga kecil kita nantinya”


“Inshaallah abang, kalau imamnya saja seperti ini apalagi makmumnya”


SKIP


Akhirnya perjalanan ke pantai telah sampai, Andi memarkirkan mobilnya di parkiran lalu membuka pintu mobil dan melangkahkan kakinya keluar. Begitu juga dengan aku, aku membuka pintu mobil sebelah kiri lalu mengambil tas dan melangkah keluar.


“Adek pakai jaket abang ya” aku melihat jaket di jok belakang.


“Iya sayang ambil saja, tapi jaketnya bau abang itu”


“Iii kan gak apa - apa, wangi tahu bau abang. Adek suka. Bikin rasa kangen itu sembuh total deh” ucapku cengar - cengir. Aku berdiri di sebelah pintu lalu memakai jaketnya.


“Kalau suka bau abang, kenapa gak cium abang langsung” ucapnya dengan genit dan mengedipkan matanya.


“Heeeiiii belum sah ya tolong ya bapak Andi, gak boleh cium - cium. Nanti setelah sah, bebas deh” aku mengangkat alisku dan mengedipkan mata ke arahnya “kamu mau cium aku dimana dan kapan saja” ucapku dengan genit dan sedikit menggodanya.


“Ternyata kamu lebih genit ya” Andi mencolek daguku.

__ADS_1


“Enggak ya aku enggak genit” ucapku sambil tertawa “ya sudah ayo ah” mengalihkan pembicaraan.


“Ayo kemana??” Tanyanya.


“Ke pantailah”


“Aku kira….”


“Jangan pikir yang macam - macam ah”


“Siapa??” Andi tertawa ngakak. Tangan kanannya mengambil tanganku lalu menggandengnya, langkahku beriringan dengan langkah kakinya.


Di perjalanan menuju tempat yang adem di pantai. Tak sengaja aku melihat warung bakso yang membuat seluruh jiwa ragaku terfokus ke sana.


“Sayang ke sana yuk, mau bakso” rengekku.


“Ayo” tanpa membantahnya, Andi langsung mengiyakan ajakanku. Aku tersenyum manis menatapnya.


****


“Mau duduk di mana sayang” tanya Andi kepadaku.


“Di sana saja yuk sayang, viewnya bagus” aku menunjuk sebuah meja yang berdekatan dengan bibir pantai.


“Adem ya kan sayang?” ucapku menikmati angin sepoi - sepoi yang berhembus dari pantai.


“Iya sayang, apalagi ada kamu selalu di samping abang makin indah hari - hari abang” ucap Andi sedikit merayu.


“Biasa saja si bapak ah”


Penjaga warung menghampiri kami “mau pesan apa pak, buk” tanyanya lalu meletakkan buku menu.


“Bakso telur ada pak?” Tanyaku tanpa melihat terlebih dahulu buku menunya.


“Ada” jawabnya singkat.


“Saya mau satu ya pak, Abang mau mie apa?” Tanyaku kepada Andi yang sibuk membuka buku menunya melihat - lihat menu yang disediakan.


“Saya mie ayam ya pak, tapi jangan pakai sayur” Andi menutup buku menunya “minumnya apa sayang” tanya Andi kepadaku.

__ADS_1


“Es jeruk saja pak”


“Iya sama ya pak, tambah air mineral dua ya pak”


“Oke baiklah, silahkan di tunggu sebentar ya” penjaga warung mengambil buku menu, lalu pergi meninggalkan kami.


*****


“Sayang” aku mengambil tangan Andi lalu menggenggamnya dengan erat, badan dan wajahku berpaling ke arahnya dan mataku menatap matanya. “Nanti kalau kamu pergi pelatihan aku gimana ya? bagaimana ya hari - hari aku tanpa kamu?”


“Sayang” Andi membalas genggaman tanganku “abang pergi bukan untuk meninggalkanmu, walaupun raga abang tidak ada di samping kamu tapi percayalah seluruh hati abang ada bersama kamu” ucap Andi menenangkanku.


“Aku sudah pernah ditinggalkan oleh orang yang aku sayang”


“Please kamu jangan bahas mantan kamu lagi di depan aku” ucap Andi sedikit mengeraskan suaranya. Ia bahkan melepas genggaman tanganku “abang sudah mengambil kamu dari rasa keterpurukan itu, abang sudah mengembalikan senyum manis di bibir kamu. Jadi tolong jangan ingat lagi perlakuan dia yang dia berikan untuk kamu. Dan kamu perlu ingat, abang pergi untuk masa depan kita bukan pergi bersama wanita lain dan itu tidak akan pernah terjadi” jelas Andi menatap wajahku.


“Maksud adek enggak gitu. Adek cuma gak mau semua itu terjadi lagi. Dan kemaren adek baru saja merasa sangat terpuruk”


“Terpuruk karena si gam (cowok) itu ??”


“Bukan” aku menggeleng - gelengkan kepalaku “aku terpuruk dan sedih karena kamu terbaring koma di rumah sakit, apa kamu tahu rasa sakit aku seperti apa melihat kamu terbaring tak berdaya, tubuh kamu terbujur kaku di ranjang rumah sakit?” air mataku perlahan keluar mengalir di kedua pipiku.


Hati Andi begitu terenyuh mendengar omonganku. Sedalam itu dia mencintaiku, batinnya.


“Maafin abang ya sayang, karena telah membuat kamu sedih” Andi menyenderkan kepalaku di bahunya. “Sekarang abang jadi bingung sayang, apa abang tidak usah melanjutkan saja pelatihannya” Andi kini menjadi ragu dengan apa yang harus ia lakukan. Ia semakin bingung untuk memilih pelatihan dengan harus meninggalkan aku dan membuatku terluka karena kepergiannya.


“Gak sayang” aku menghapus air mataku, mencoba menenangkan diriku. “Kamu harus tetap melanjutkan pelatihannya, inshaallah adek kuat menjalani ini semua. Seperti kamu bilang kan, semua ini kamu lakukan untuk masa depan kita berdua dan keluarga kecil kita nantinya. Jadi mau tidak mau, adek harus mengikhlaskan kepergian kamu. Walaupun adek belum tahu, setelah kamu pergi nantinya hati adek harus bagaimana”


“Abang akan pergi jika kamu mengizinkan” ucap Andi menyerahkan keputusannya kepadaku “abang tidak mau meninggalkan kamu dan membuat kamu bersedih. Sungguh abang tidak mau hal itu terjadi”


“Sayang…. Aku sudah terbiasa dengan kehadiran kamu setiap harinya di hidup aku. Jadi bagaimana mungkin aku tidak sedih jika kamu pergi meninggalkan aku. Ia adek tahu kamu cuma pergi karena menjalankan tugas. Tapi rasa berat di hati itu kan tetap ada sayang. Abang jangan ragu ya, adek mengizinkan abang pergi. Adek akan berusaha sekuat hati adek menjalankan ini semua ya” aku tersenyum menatapnya dan memberinya semangat. Bahwa semua ini harus tetap dijalankannya.


“Baiklah sayang, kalau memang itu keputusan dari kamu abang akan menjalankan ini semua. Setelah selesai dari sana, abang akan langsung pulang menjemput kamu dan abang akan memenuhi semua janji - janji abang. Kamu tunggu abang pulang ya sayang, jangan nakal kamu” Andi mencolek hidungku memberikan aku senyuman termanis yang ia punya.


“Iya sayang adek akan selalu menunggu abang pulang”


“Terima kasih sayang” Andi mencium tanganku.


#thank you atas kunjungannya.

__ADS_1


Semoga cerita ini dapat menambah inspirasi kalian.


Di tunggu part selanjutnya ya byeeeeee.


__ADS_2