Bara Api Dendam CEO Arogan

Bara Api Dendam CEO Arogan
Alexa pingsan


__ADS_3

Alexa menutup mulutnya dengan telapak tangan, seraya berlari menuju westafel. dia benar-benar pusing dengan rasa mual yang teramat sangat. yang menggerogoti leher dan perutnya, seakan-akan diaduk-aduk.


"Wooek...work." sekujur tubuh Alexa terasa lemas, bahkan dia bisa melihat banyak manik bintang kecil-kecil berputar diatas kepalanya.


"Alexa, kamu kenapa?"


Devan tiba-tiba sudah berdiri dibelakang Alexa, dengan tatapan kawathir dan panik. seketika tangan kekarnya membantu mengusap pundak Alexa.


"Aku...aku ngak papa kok, woek." berusaha untuk bersikap tenang, seraya menahan rasa mual dan pusing.


"Woek." Alexa kembali muntah, keringat dingin membanjiri wajah cantik nya.


"Ngak papa gimana? ini kamu sudah muntah berkali-kali. pokoknya sekarang periksa ke Dokter." ucap Devan, dia dengan telaten membantu menuntun langkah Alexa menuju tempat tidur mereka.


Alexa merasa pandangannya berkunang-kunang, bahkan disekelilingnya seakan ikut berputar-putar. hingga semua terlihat gelap, Alexa sukses pingsan dipangkuan Devan.


"Xa, kamu kenapa ayo bangunlah Xa." ucap Devan dan panik dan segera mengangkat dan membaringkan Alexa. setelah itu dia segera berjalan keluar.

__ADS_1


Setelah Devan keluar kamar, Alexa tersadar sambil melirik keseliking kamar yang terlihat kosong.


"Barusan aku pingsan, mungkin Devan yang sudah mengendongku ke tempat tidur." senyum tipis mengembang dibibir Alexa, dia yakin sebentar lagi Devan akan mencintai nya.


Ceklek, handle pintu dibuka dari luar. nampak Devan membawa segelas teh hangat.


"Syukurlah kamu sudah sadar, barusan aku buatkan teh hangat. minumlah agar tubuh mu kembali segar." Devan duduk di sisi ranjang.


"Terimakasih Dev." ucap Alexa, namun dia hanya memegangi saja teh hangat tersebut. tanpa berniat untuk meminum nya.


"Kenapa ngak diminum?"


"Baiklah aku akan minta pelayan segera membuat kanya untuk mu." Devan kembali mengambil teh hangat buatannya barusan.


"Dev maafkan aku, biasanya aku memang menyukai minum teh hangat, tapi tiba-tiba aku merasa pusing dan mual kembali saat mencium aroma teh ini." ucap Alexa merasa bersalah.


"Tidak masalah, aku memaklumi kondisi mu." ucap Dev berjalan keluar kamar.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, Dev kembali dengan segelas jus lemon. Alexa terlihat senang dan langsung meminumnya. tubuh nya menjadi sedikit lebih baik setelah minum jus lemon yang biasanya kurang disukai Alexa karena rasa asamnya.


"Sekarang lanjutkan istrahat mu, nanti setelah kondisi mu lebih baik lagi. aku akan mengantar mu ke dokter."


"Sebaiknya kita tidak perlu ke dokter, mungkin aku cuma masuk angin biasa." ucap Alexa yang paling takut dengan kata-kata dokter dengan serangkaian peralatan medis nya, terutama jarum suntik. yang merupakan benda yang paling menyeramkan bagi Alexa.


Tidak lama, Alexa kembali berusaha menyeret langkah menuju westafel. dia kembali memuntahkan jus lemon yang baru hitungan menit berada dalam perutnya.


"Alexa, aku tidak tega melihat seperti ini. bahkan kamu terlihat sangat lemas."


Alexa tidak menjawab, dia memejamkan mata berusaha mengendalikan rasa mual. dalam hatinya Alexa merasa senang mendapatkan perhatian dari Dev, dia ikhlas menerima kondisi nya yang sedang tidak baik-baik.


Devan mengambil minyak kayu putih, lalu memijat punggung Alexa yang kembali berbaring di ranjang.


"Alexa, please tolong dengar perkataan ku kali ini saja. aku tidak tega melihat mu yang muntah terus, kita harus kerumah sakit agar kamu bisa dirawat dan di infus." bujuk Dev.


"Tapi aku masih kuat."

__ADS_1


Alexa tidak mau berterus-terang jika dia sangat takut dengan jarum.


__ADS_2