
Seolah memiki kontak bathin dengan anak-anaknya, Jack juga merasakan gelisah malam ini. bahkan dia tidak bisa memejamkan matanya barang sepicingpun. seolah-olah ada yang terjadi diluar kendali nya, namun Jack tidak mengetahui apa penyebabnya.
Ruangan kamar mewah Jack full AC, tapi dia tetap merasa gerah keringat dingin terus membasahi wajah dan tubuhnya, yang membuat nya benar-benar tidak nyaman. seumur-umur ini baru pertama kali di rasakan Jack. dia membuka pakaiannya, berjalan keluar kamar menuju balkon berharap bisa menemukan kenyamanan.
"Ada apa dengan ku, padahal aku merasa dalam kondisi baik-baik saja." bathin Jack heran.
"Aku harus menghubungi Robert, sapa tahu dia bisa membantu ku, agar keluar dari kegelisahan tak menentu ini."
Jack tidak peduli, jika tindakan nya ini akan menganggu tidur asisten nya. panggilan ketiga baru tersambung dengan Robert yang mengangkat dengan suara serak.
"Hallo tuan, apa anda belum tidur jam segini?" jawab Robert dari seberang sana sambil berusaha menahan matanya yang ngantuk karena dihubungi larut malam begini.
"Belum sama sekali, saya terus gelisah dan serba salah. bahkan aku belum juga menemukan posisi yang nyaman ketika duduk, berdiri, berjalan maupun mencoba untuk memejamkan mata." ucap Jack.
"Lalu apa yang bisa saya lakukan untuk membantumu, tuan?"
__ADS_1
"Entahlah, coba kamu pikir apa yang harus saya lakukan?"
"Menurut saya, sebaiknya tuan mencoba mencari sesuatu yang menurut tuan lebih baik." Robert mencoba mencarikan solusi, meski saat ini otaknya juga buntu.
Jack memutuskan panggilan nya karena tidak mendapatkan solusi yang tepat, dia melamun di balkon menatap bintang yang bercahaya terang benderang malam ini. namun Jack belum juga menemukan ketenangan.
"Aku harus pergi, tapi kemana?"
Jack menyambar kunci mobilnya, mengelilingi pusat kota ditengah malam menjelang pagi, seperti ada yang hilang dan ingin dia temukan Kembali, tapi apa...?? sekedar untuk mendapatkan ketenangan. bahkan dia rasanya ingin menagis tanpa sebab yang jelas. tanpa sadar langkah Jack terhenti disebuah apartemen milik Elmira.
"Aaaaaaaggh.... perasaan ini benar-benar menyiksaku."
"Kenapa aku bisa sampai ketempat ini?" bathin Jack. perlahan dia menaiki tempat tidur Elmira, berbaring dengan selimut tebal yang biasanya dikenakan oleh Elmira, hal ini ampuh membuat nya merasa nyaman dan tenang. serasa sesuatu yang berat sudah terlepas dari raganya, bahkan Jack sudah mampu memejamkan matanya hingga tertidur dengan damai hingga mentari bersinar terang pun Jack tidak mengetahui nya, saking pulasnya tidur.
Dalam mimpinya, Jack bertemu dengan sepasang bocah yang terus mengikutinya, dan selaku memanggilnya dengan sebutan daddy...,
__ADS_1
"Siapa kalian? kenapa terus mengikuti ku?" tanya Jack penasaran.
"Daddy, kami ini anak-anak mu."
"Tidak, aku belum memiliki anak."
Tolak Jack ingin menghindar, namun kedua bola mata sikembar seketika membuat hatinya luluh, seiring perasaan sayang. refleks Jack mengangkat Kedua nya dalam pangkuannya. hingga dia terjaga dari mimpi indahnya tersebut.
"Mimpi yang aneh." gumam Jack.
Dia tidak tahu, jika seseorang gadis malang tengah berjuang keras melahirkan benih yang dia tabur. dan menghasilkan sepasang anak kembar yang lucu dan menggemaskan.
Seandainya Jack dan orang tuanya mengetahui hal itu, entah bagaimana nasip Elmira dan anak-anak nya, bisa jadi kedua orang tua Jack yang sangat mengharapkan hadirnya cucu, akan mengambil dari Elmira.
Atau malah sebaliknya, mereka akan menjadikan Elmira sebagai menantu. menggeser posisi Mona yang akan menjadi menantu idaman selama ini.
__ADS_1