
Hari ini Ellena dan teman-temannya sangat sibuk, karena banyaknya orderan bunga yang datang ke toko mereka, begitu juga dengan manager Berliana. dia tidak mengetahui jika Jack anak dari pemilik toko bunga terbesar di negara ini akan datang berkunjung. begitu juga dengan asisten Jason, setelah memutuskan untuk pensiun, dia juga memilih menetap dikampung halamannya bersama istri tercinta. sehingga tidak mengabari madam Jane jika Jack pergi ke Amerika.
Jack yang baru sampai dengan penerbangan khusus, menatap bangunan megah toko bunga milik maminya sambil tersenyum. dia teringat adik perempuan nya Ellena. yang sangat menyukai Bunga-bunga, sehingga mami sengaja memiliki banyak toko bunga untuk sekedar menyenangkan hati putri nya.
"Tidak ada yang berubah, masih seperti beberapa tahun silam." gumam Jack turun dari mobilnya, melangkah masuk. tidak lupa dia mengenakan kaca mata hitam dengan penampilan sederhana, sehingga tidak seorangpun yang mengira jika dia adalah Jack, dan mengaggap nya sebagai pelanggan biasa.
Jack mengedarkan pandangannya keseliking arah taman yang lumayan luas, mencari bunga yang pernah ditanam oleh tangan Ellena sendiri. namun tanpa sengaja pandangan nya menangkap sosok cantik yang sangat dikenalinya, raut wajah, ekspresi dan gayanya berbicara.
"Benarkah dia, Elmira?"
Jack mempertajam penglihatannya, memperhatikan Elmira yang tertawa bahagia menata bunga-bunga kedalam bucket bersama teman-teman nya.
"Selamat datang tuan, ada yang bisa kami bantu?" ucap salah seorang pelayan menghampiri Jack.
Jack masih terdiam, larut dalam pikirannya sendiri. mengabaikan sapaan pelayan barusan.
__ADS_1
"Tuan, apa ada yang bisa kami bantu?" pelayan sedikit mengeraskan nada suaranya, sehingga Jack tersadar dari lamunannya.
"I..iiiya, saya mau bertemu dengan nona Berliana. katakan jika Jack datang ketempat ini." jawab Jack, kemudian dia kembali melirik kearah Elimira duduk barusan, namun sudah tidak ada lagi gadis tersebut.
"Hilang, kemana perginya gadis itu?"
"Tidak....aku tidak mungkin salah liat, ini sudah kali keduanya aku melihat wanita itu di negara ini." bathin Jack.
"Ahhhh... tidak mungkin dia, apa aku kembali berhalusinasi. karena aku seringkali melihatnya ditempat yang tidak mungkin dia berada." memijid pelipisnya yang terasa berdenyut-denyut, bayangan Elmira kembali melintas membuat Jack semakin tersiksa.
"Maaf tuan Jack, kami tidak mengetahui kedatangan anda. sehingga kami tidak sempat menyambut kedatangan anda dengan baik. kebetulan toko kita sedang banyak orderan masuk. jadi sedikit sibuk." ucap Berliana.
"Tidak masalah, aku datang karena mami menginginkan bunga yang pernah ditanam Ellena dulunya. tolong awetkan untuk aku bawa pulang."
"Baiklah tuan, mohon menunggu sebentar. saya akan segera menyiapkan untuk anda."
__ADS_1
"Terimakasih."
Setelah Berliana berlalu, Jack menyandarkan punggungnya disandaran sofa. memejamkan mata. meremas kepalanya yang bertambah sakit, semula dia berfikir akan puas setelah menyakiti Elmira, namun nyatanya berbanding terbalik dengan harapan Jack. sudah beberapa bulan berlalu namun dia masih belum bisa melupakan sosok Elmira. semakin dia paksaan Jack semakin tersiksa.
Pernah Jack mencoba mencari Elmira, namun usahanya selalu gagal. seperti ada seseorang terdekat nya yang mencoba melindungi gadis itu, hingga Jack menyerah. baginya Elmira sudah tidak berguna lagi dan dendam nya sudah terbalaskan.
"Dia hanya gadis miskin, tidak mungkin bisa bisa memasuki kapal pesiar, dan bekerja di toko bunga ini. apalagi sampai ke negara yang sangat jauh. dia tidak akan sanggup bertahan dan tinggal disini. jika bukan dia, lalu siapa yang barusan aku lihat?"
"Apakah aku merasa bersalah? tidak....dia pantas menerima ini...."
"Kamu jahat Jack, kamu sudah menyiksa gadis tidak berdosa..."
Berbagai pertanyaan membuat Jack pusing, refleks dia berteriak keras.
"Tidak...kkkkkkk..."
__ADS_1