Bara Api Dendam CEO Arogan

Bara Api Dendam CEO Arogan
Papskey


__ADS_3

Kejar-kejaran pun terjadi, Jack berhasil melumpuhkan beberapa orang anggota Alexi, sehingga tinggal tiga orang lagi yang masih berusaha mengejar mereka berdua.


Sedangkan Alexi masih berusaha untuk memberikan pertolongan pada adiknya, Mona. dengan membalut lukanya.


"Bertahanlah Mona, kakak akan membawamu segera kerumah sakit." ucap Alexi berusaha mengangkat tubuh adiknya.


"Ja...ja...ngan kak, per...cuma aku hi..i..dup jika tidak ada Jack disisiku." ucap Mona yang mulai kewalahan untuk bernafas.


"Jack..Jack lagi, cobalah untuk melupakan laki-laki itu, Mona."


"Kak berjanji lah padaku, jika kamu tidak akan menyakiti dan membunuh Jack."


"Tidak Mona, Jack harus mati. dia harus menebus kesalahannya yang telah membuat mu seperti ini. kalau dia selamat pun. dia pasti tidak akan membiarkan kakak bebas begitu saja termasuk dirimu. apa kamu ingin mendekam di penjara lagi dengan waktu yang lebih lama. karena sekarang Jack sudah mendapatkan bukti-bukti baru kejahatan kita selama ini."


"A...ku ingin men...ebus kesalahan ki...kiita, aku ikhlas men..jalani semua itu kak."

__ADS_1


"Aku tidak mau masuk penjara, bagaimana pun Jack harus mati." ucap Alexi dengan penuh kemarahan. melihat hal itu, Mona perlahan menarik pistol yang tersimpan dipinggangnya Alexi.


"Mona, kamu mau apa dengan senjata ini?"


"Kita orang-orang jahat kak, kita tidak pantas hidup karena keluarga kita sedari dulu mengidap gangguan jiwa yang parah, aku tidak ingin menyakiti orang lain lagi karena penyakit kita." ucap Mona lalu mengarahkannya pada tubuh Alexi yang tidak menyangka adik nya bakal serius dengan ucapan nya sendiri.


"Doooor.... doooor...dorrr."


Tubuh Alexi ambruk seketika, darah segar mengalir karena tembakan dari jarak dekat yang mengenai dada dan perutnya sebanyak tiga kali.


"Ka...kamu....tega mem...membunuh kakak dek, gara-gara laki-laki itu."


Mona berusaha menggapai tangan kakaknya, mereka berpegang tangan sambil memejamkan mata dengan kedamaian.


*****

__ADS_1


Ditengah hutan, masih terjadi kejar-kejaran, keringat bercucuran ditubuh Jack dan Elmira. dengan Nafas ngos-ngosan Jack melirik kebelakang, sudah tidak nampak lagi orang-orang Alexi yang mengikuti mereka dari belakang.


"Syukurlah, mereka sudah tidak mengejar kita lagi Pap... Papskey." Elmira yang masih ngos-ngosan berusaha memanggil suaminya dengan sebutan kesayangannya meskipun terbata- bata.


"Iya momskey sayang, kita harus bersemangat agar bisa keluar dari tempat ini."


Mereka sudah terlalu jauh berjalan, sehingga tidak mengetahui lagi arah jalan keluar dari pinggang gunung ini.


"Sayang, aku sangat capek, kedua kaki tidak mampu lagi untuk berjalan lebih jauh lagi."


"Baiklah kita istrahat saja dulu disini, sampai tenaga kita kembali pulih." Jack duduk dan menarik Elmira agar duduk didepan nya, kemudian dia memeluk Elmira hangat dari belakang, dia ingin melindungi istri nya dari kemungkinan buruk yang bisa saja datang menyerang mereka berdua.


Rasa capek dan letih, membuat mereka tertidur pulas. mengabaikan suara-suara binatang yang terdengar menakutkan. tanpa sadar mereka tertidur cukup lama, hingga melewati dinginnya malam sambil berpelukan dan bersandar pada sebuah batu besar.


Suara-suara burung yang saling berkicau indah, membuat Elmira terbangun. Elmira mengucek matanya. dia menatap sayang wajah suaminya yang terdapat banyak sekali bekas pukulan sehingga terlihat lembam dan membiru. Jack masih tertidur pulas bersandar pada batu, dengkuran halus terdengar di sudut bibirnya.

__ADS_1


"Papskey, kamu berjuang begitu keras dan membiarkan dirimu terluka, agar selalu bisa melindungi ku. aku mencintaimu dan ingin selalu bersamamu melewati ini semua sayang." dengan perlahan Elmira mencium hangat bibir Jack, kemudian dia bersandar pada batu besar agar berganti posisi dengan Jack. dia merebahkan kepala Jack diatas pahanya agar suaminya bisa tidur dengan leluasa.


"Papskey pasti capek, tidur dengan posisi seperti ini semalaman."


__ADS_2