Benang Merah Takdir

Benang Merah Takdir
10. Bab 10


__ADS_3

"Lihat! Mereka aja baru kenal udah pacaran. Kita kapan?" tanya Samuel.


Alenka seketika memutar bola matanya. Umur sudah hampir kepala tiga, masih aja bertingkah seperti anak-anak. Alenka tetap diam, dia tidak menghiraukan Samuel lagi.


"Gimana perhiasannya? Kira-kira jadi kapan?" tanya Samuel.


"Kan sesuai kontrak sebulan lagi. Jadi harap tunggu saja." jawab Alenka.


"Sekarang kamu tinggal dimana sih Al?" Samuel masih sangat penasaran.


Alenka kembali diam. Selain masalah pekerjaan. Alenka tidak mau menjawab pertanyaan Samuel. Ia kembali menikmati makanannya.


"Nenek kangen sama kamu." kata Samuel lagi.


Alenka membeku sejenak. Nenek yang Samuel maksud adalah nenek Samuel yang dulu sangat mendukung hubungan mereka berdua. Nenek itu juga sangat menyukai Alenka. Menurut neneknya Samuel, hanya Alenka yang mampu membuat Samuel bahagia.


"Salam untuk nenek." katanya pelan.


"Tapi aku belum bilang kalau aku ketemu kamu. Aku takut nenek akan memaksa bertemu kamu. Sementara kamu kan masih belum mau balikan sama aku." tutur Samuel.


"Apa hubungannya coba?" Alenka kembali memutar bola matanya.


"Ada dong. Iya kalau kamu mau ketemu nenek, kalau nggak?" Alenka kembali hanya diam.


Memang ada beberapa hal yang membuat Alenka enggan bertemu dengan neneknya Samuel. Pertama, karena dia tidak mau membuat nenek Samuel kecewa kepadanya. Dulu ia berjanji akan menjaga Samuel. Alasan kedua, nenek Samuel pasti akan memaksa mereka untuk balikan. Sementara Alenka masih belum memiliki keinginan tersebut.


Lebih baik tidak berhubungan dengan Samuel sama sekali setelah insiden itu. Alenka tidak mau membuat orang-orang disekitarnya menanggung akibatnya.


"Nenek sering tanya, kenapa kamu sudah tidak menjenguk nenek lagi."


"Saya udah kenyang. Saya mau balik ke kantor." Alenka sengaja memotong momen nostalgia yang diciptakan oleh Samuel. Ia tidak mau terjebak di dalam masa lalunya.


"Al," Samuel dengan cepat menahan tangan Alenka.


"Sampai detik ini aku belum bisa lupain kamu. Belum bisa lupain semua tentang kamu. Hati ini hanya ada kamu." kata Samuel menahan tangan Alenka.


Lagi, lagi Alenka hanya membeku. Setelah itu dia menarik tangannya. Lalu pergi meninggalkan tempat tersebut.


"Kak aku duluan!" katanya berpamitan dengan Maya.


"Aku balik kantor dulu!" kata Maya menyusul Alenka yang sudah berlari terlebih dahulu.

__ADS_1


Begitu Maya pergi. Yoga mendekati Samuel yang masih mematung. "Kenapa? Ditolak?" tanya Yoga sembari menepuk pundak Samuel.


Samuel diam. Dia terus memperhatikan Alenka yang semakin jauh. "Bayar makanan ini!" kata Samuel.


"Loh kok? Oh ya oke, karena aku lagi seneng, jadi aku akan bayar semua. Ah, akhirnya aku udah nggak jomblo.." kata Yoga pamer.


Samuel dan Yoga tidak jadi ke Future Design. Mereka memutuskan untuk kembali ke kantor. Alasan mereka ke Future Design memang hanya ingin bertemu dengan Alenka dan Maya.


Sepanjang perjalanan, Samuel hanya diam sembari menggigit kuku ibu jarinya. Sementara Yoga yang mengemudi merasa aneh dengan Samuel. "Kamu ditolak?" tanya Yoga lagi.


"Dia memang nolak aku terus." jawab Samuel.


"Sam, jujur, kamu masih cinta sama dia? Dia pacar pertama kamu kan?" tanya Yoga penasaran. Sekian lama berteman, belum pernah sama sekali Samuel cerita mengenai masalah pribadinya.


Samuel terdiam. Entah itu cinta atau ambisi ingin balas dendam. Yang jelas, sampai detik ini, nama Alenka masih bersemayam di dalam hatinya. Kenangan indah bersama Alenka juga masih teringat jelas di benaknya.


"Terus gimana pernikahan kamu?" lanjut Yoga.


Lagi lagi Samuel hanya diam. Banyak sekali sepertinya yang dia pikirkan. "Aku akan dapatkan dia, lalu akan aku tinggalin. Agar dia juga merasakan apa yang aku rasakan." ucap Samuel.


"Tapi itu terlalu kejam." kata Yoga.


"Dia yang memulai. Kenapa dia putusin aku begitu saja? Kenapa dia nggak kasih penjelasan apa-apa? Kenapa mengingkari janjinya?" Samuel tak bisa mengendalikan amarahnya.


"Tidak ada pilihan. Aku akan tetap menikah, aku deketin dia hanya untuk balas dendam." sahut Samuel dengan yakin.


"Apa kamu mulai suka dengan calon istri kamu?"


"Meskipun aku belum memiliki perasaan apapun. Aku akan tetap nikahi dia." jawab Samuel.


Yoga terdiam. Dia tak sepemikiran dengan Samuel. Yoga takut jika Samuel justru akan terjerat oleh masa lalu. Karena ia melihat jika Samuel masih mencintai mantan pacarnya itu.


****


"Al, kamu kenapa sih?" tanya Maya saat mengejar Alenka.


"Jujur, kamu punya hubungan dengan pak Samuel?" Alenka menghentikan langkahnya. Mungkin sudah saatnya dia jujur.


"Dia mantan pacarku kak." Maya membulatkan matanya. Namun, melihat sorot mata Samuela dan juga Alenka. Maya sudah menebak jika mereka memiliki hubungan special.


"Pak Samuel mantan pacar-em.." Alenka dengan cepat menutup mulut Maya.

__ADS_1


"Jangan keras-keras!" pintanya.


Maya mengangguk-anggukan kepalanya. "Pak Samuel mantan pacar kamu?" ia kembali bertanya tapi dengan sangat pelan.


Alenka menganggukan kepalanya. Wajahnya nampak sedih seperti dia takut membahas hubungan itu.


Maya bisa menebak jika mereka putus dengan tidak baik. "Kenapa putus?" tanya Maya.


"Kepo.." jawab Alenka lalu berlari meninggalkan Maya dengan menjulurkan lidahnya.


"Eh, ni anak.." Maya mengejarnya lagi.


Saat mereka sedang menunggu lift. Tiba-tiba Andreas datang bersama dengan seorang wanita. Tentu saja itu membuat Maya dan Alenka membulatkan matanya.


"Itu cewek yang kemarin datang." bisik Maya.


"Oh.."


"May, siapin berkas yang aku minta tadi. Serahkan ke Alenka, biar dia pergi ke kantor pak Samuel. Ada beberapa dokumen yang perlu tanda tangan pak Samuel." perintah Andreas.


"Loh pak? Kenapa nggak kak Maya aja?" protes Alenka.


"Kalau Maya yang pergi, hasilnya akan berbeda."


"Tapi kak Maya baru saja ja-hap.." Maya dengan cepat menutup mulut Alenka.


"Iya pak, nanti Alenka yang akan ke kantor pak Samuel." sahut Maya.


"Ya udah. Kalian mau naik lift lain, atau bareng aku?" tanya Andreas.


"Kita lift lain aja pak." jawab Alenka dan Maya. Mereka tidak mau mengganggu bos-nya bersama wanita itu. Apalagi tatapan ganas dari wanita itu membuat Alenka dan Maya menjadi tidak nyaman.


"Ya udah."


"Have fun ya bos. Teriaknya jangan kenceng-kenceng!" ledek Alenka sambil tertawa. Sementara Maya mendorong kepala Alenka yang suka ngomong sembarang itu. Namun, ia juga ikut tertawa.


Begitu lift tertutup. Keluarlah jiwa ghibah mereka. "Kak, lihat nggak tatapan wanita tadi? Anjr*t ngeri banget." ucap Alenka.


"Iya. Aku juga lihat. Dikira kita mau godain bos kali ya.." jawab Maya dengan kesal juga.


"Kemarin waktu datang juga sinis banget mukanya. Heran, kenapa bos suka sih? Padahal yang lain banyak." gerutu Maya.

__ADS_1


Memang, bukan hanya satu dua wanita yang datang mencari Andreas. Dari yang biasa sampai yang cantik, yang ramah dan judes.


Maya yang bisa menilai karena dia yang sering bertemu wanita-wanita itu. Karena memang dia adalah sekretaris Andreas, dimana semua orang datang harus bertemunya terlebih dulu.


__ADS_2