
Kini Erlangga dan Rangga beserta anak buah mereka sudah tiba di sebuah hutan di pinggiran kota. Pantas saja tempat ini merupakan tempat persembunyian yang cukup bisa mengelabui lawan bahkan kepolisian.
Tapi hal tersebut, tidak akan membuat seorang Erlangga Bramasta menyerah. Pengalaman di dunia bawah sudah sangat mengajarinya berhadapan dengan orang jahat, apalagi licik dan kejam seperti Tuan Jack.
" Laporkan kondisi terkini di dekat villa Tuan Jack!" titah Erlangga.
" Penjagaannya sama seperti hari sebelumnya tuan muda, tapi kita harus berhati-hati karena mungkin saja ada banyak jebakan di dekat villa !"
" Erlangga sepertinya kita harus punya umpan, agar mereka terkecoh ", sela Rangga yang datang membawa banyak senapan.
" Apa kakak punya ide?"
" Kita lihat bagaimana seekor anjing pelacak bisa meneror mereka?"
" Anjing pelacak? ide mu boleh juga, caranya?"
" Sini aku bisikkan !"
" Baiklah, nanti aku juga akan melepas beberapa burung pengintai yang akan mengawasi dari udara."
Saat ini , anjing pelacak yang sudah disiapkan oleh Rangga baru saja dikeluarkan dari kandangnya.
" Peter, sudah lama kau tidak memangsa, jadi hari ini aku serahkan padamu !"
Guk ... Guk ... Guk.
" Anak pintar."
Anjing pelacak yang bernama Peter itu pun langsung berlari ke arah para pengawal yang berjaga di pinggir villa.
" Sejak kapan disini ada anjing? Hey ... kau yang disana, cepat usir anjing itu jangan sampai Tuan Jack marah !"
Ketika salah satu anak buah Tuan Jack mencoba mendekati Peter.
Anjing tersebut langsung menyerang dan menggigit anak buah Tuan Jack.
Keriuhan pun terjadi diantara para anak buah Tuan Jack, bahkan kini terdengar bunyi pistol dan senapan hanya demi membuat seekor anjing menyerah dan mati.
" Ada apa ini?"
" Lapor tuan, di depan para pengawal sedang menangkap seekor anjing yang tadi menggigit anak buah kita !"
" Ck ... tinggal tembak saja anjing tersebut kenapa kalian tidak bisa !"
" Maaf Tuan Juan, sepertinya anjing tersebut sangat terlatih, jadi kami sedikit kewalahan."
" Pokoknya aku tidak mau tahu, kalian harus membunuh anjing tersebut."
Beberapa pengawal Erlangga saat ini sedang menyusup dari arah belakang Villa. Mereka secara diam dan senyap sudah membunuh para penjaga, bahkan setengah dari mereka menyamar sebagai pengawal Tuan Jack.
" Tuan muda, misi Peter berhasil?"
" Anjing peliharaanku, sangat bisa diandalkan bukan!"
__ADS_1
" Bagaimana dengan para pengawal yang sudah menyelinap? Apa mereka sudah masuk ke dalam?"
" Sudah Tuan muda, mereka sudah bersiap dan hanya tingga menunggu komando dari anda !"
" Lempar bom dari atas villa !"
" Siap 86."
Duar ...
" Tuan Besar cepatlah keluar, markas kita diserang !"
" Apa kenapa bisa? Kau yang aku percayakan bertugas menjaga markas kenapa bisa kacau dan mereka bisa masuk hah ...!"
Akibat bom tersebut, kondisi villa yang menjadi markas Jack , hampir porak poranda.
Banyak anak buah Jack yang sudah tergeletak tak bernyawa, kini ia dan Juan sedang mencari jalan rahasia agar bisa kabur.
Sayangnya, Erlangga dan Rangga sudah menunggu mereka di depan jalan rahasia itu.
Betapa terkejutnya Tuan Jack dan Juan, mereka berdua sudah masuk ke dalam perangkap. Bahkan pengawal yang ia kira dipijaknya ternyata adalah pengawal dari Erlangga yang menyergapnya dengan menodongkan pistol.
" Tangkap mereka dan masukan ke penjara bawah Tanah !"
Namun saat ingin dibawa, ternyata gelagat Jack yang menyembunyikan pistol di belakang punggungnya sudah terbaca oleh asisten Erlangga. Hingga timah panas pun menerjang tangan kanannya.
Dor ... Dor.
" Apa kau bodoh paman angkat, kau jangan banyak tingkah selagi nyawamu ada di tanganku."
" Kurang ajar kau Erlangga ! Seharusnya dulu kau mati saja !"
" Tidak semudah itu bedebah !" teriak Erlangga dengan mata penuh amarah.
Kini di rumah sakit tempat Yura dirawat. Bunda Anisa dan Daddy Alex sudah mendapatkan kabar bahwa Tuan Jack sudah tertangkap.
" Syukurlah, aku serahkan kepadamu sayang, kejahatannya sungguh tidak bisa aku maafkan lagi."
" Percayakan pada Erlangga dan Rangga sayang. Mereka tahu apa yang harus dilakukan!"
Kondisi Juan sang tangan kiri Jack sudah bersimbah darah karena disiksa dengan kejam, bahkan tubuhnya dilemparkan ke kandang singa.
Sedangkan Tuan Jack, ia diberikan racun pelumpuh saraf, bahkan luka cambukan hampir di sekujur tubuhnya berdarah. Inilah yang dimaksud oleh Erlangga, dengan cari membunuh musuh dengan perlahan tapi menyiksa.
" Tuan muda, kami tinggal menunggu perintah anda !"
" Bunuh dia!"
Algojo yang bertugas menjadi sang eksekutor akhirnya melakukan tugasnya dengan rapi.
" Ahh ... Auk, aku kalah ", ucapan terkhir Tuan Jack sebelum ia meninggal.
Erlangga dan Rangga yang menyaksikannya dari layar monitor, sangat senang.
__ADS_1
Kini mayat tersebut menjadi santapan para hena liar yang dipelihara oleh Erlangga.
" Inilah akhirnya, sekarang beristirahatlah disana kau sudah mendapat balasan yang setimpal dengan kejahatan yang sudah kau lakukan selama ini."
Berita kematian Tuan Jack pun, sudah didengar oleh Nolan. Bahkan Nolan pun tersenyum bahagia.
" Ibu kau dengar, sekarang Daddy akan menyusul mu disana. Dia pantas mendapatkannya. I u tenang saja, aku akan melanjutkan hidupku dengan bahagia bersama Paman Heri yang menjagaku dari kecil ", ujar Nolan sambil menatap bintang dimalam hari.
" Tak baik bagimu, melamun di balkon seperti ini nak? Besok kau harus belajar bisnis dengan dosen yang telah paman panggilkan."
" Iya paman, aku tahu."
Dua Minggu berlalu setelah kematian Tuan Jack.
Kini di kamar ranap Yura, seperti biasanya Erlangga sangat setiap menjaga sang istri. Menghiasi kamar sang istri dengan bunga bahkan menyulap kamar tersebut agar ia bisa mendampingi Yura, walaupun masih ada banyak alat kehidupan yang masih dipasang di tubuh Yura yang koma.
" Sayang, cepatlah bangun hmmm ... tinggal 3 bulan lagi waktunya kau melahirkan mereka di dunia ini. Aku sangat mencintaimu sayang , jangan lama bermimpi, aku selalu menunggumu untuk membuka mata."
Di dalam bawah sadar Yura. Kini ia berada di dunia yang indah dimana ia melihat seorang kakek tua yang duduk di bawah pohon.
" Cucu menantu, kembalilah ke duniamu. Belum saatnya kau disini !"
" Kakek, apa maksudmu? Apa kau kenal aku?"
" Tentu saja aku mengenalmu, kau adalah istri dari Erlangga cucuku. Tentu saja aku mengenalmu, biarpun aku sudah tiada sejak lama."
Deg.
" Ahh ...", rasa sakit tiba-tiba menyerang kepala Yura.
" Pulanglah nak, jangan lupakan calon cicitku yang berada di dalam perutmu. Mereka berjuang untuk hidup dan terlahir ke dunia, tentu saja kau sebagai bundanya harus berjuang hidup."
" Kakek, aku ..."
" Hidupmu masih panjang, kebahagiaanmu akan segera menantimu nak, ayo bukalah pintu itu."
" Baiklah kek, sampai jumpa."
Saat Yura membuka pintu tersebut, kilauan cahaya putih menyergap masuk, hingga ia mendengar suara Erlangga.
" Sayang, ayo pegang tanganku !"
Saat Yura berhasil menggenggam tangan Erlangga.
Alat bantu yang selama ini menopang Yura kian berbunyi mendadak, bahkan Erlangga yang tertidur didekat Yura terbangun dan segera memanggil dokter.
Tit ... Tit ... Tit.
" Sayang, bangunlah jangan menakuti aku lagi, buka matamu !"
Para tim medis pun segera berlari ke kamar rawat inap Yura.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1