
"Baiklah girls, rencana kali ini kita akan membuat si ular hijau pergi jauh dari hadapan Kak Rangga."
"Sini mendekat lah kalian! dan akan gue kasih tau tugas kalian dalam rencana ini." jelas Diah
"Nah apa kalian sudah mengerti ?"
" Sudah ", jawab Yura, Kinara beserta Mila dengan kompak.
"Pokoknya kalau plan A gagal, kita masih ada plan B yang lebih sadis ."
Sebelum meluncur ke Pradipta Grup. Sejak pagi tadi Kinara sudah bekerja sama dengan asisten suaminya. Sebagai mata-mata jika ada si ular hijau datang.
Notice pesan di handphonenya Kinara pun berbunyi dan dia sudah dapat kabar dari asisten Rangga.
" Kata Pak Hasan, sekarang si ular hijau sudah sampai di lobi kantor !"
" Kalau begitu kita segera berpencar ke tempat masing-masing."
Saat ini Mila sedang menyamar sebagai office girl di kantor Rangga. Ia berubah menjadi petugas kebersihan. Saat target sudah terlihat. Mila pun sudah melicinkan lantai yang akan dilewati oleh si ular hijau.
" Aku rasa segini sudah cukup ", ujar Mila sambil bersembunyi di dekat pilar yang ada di lobi kantor.
Yang di sebut ular hijau adalah Michelle dia seorang pengusaha muda di PT Angkasa yang bergerak di bidang furniture.
Sebuah perusahaan furniture yang baru berkembang dan lagi gencar menjalin kerja sama dengan perusahaan besar seperti Pradipta Grup. Tentu saja dalam memuluskan setiap meeting dan mendapatkan kontrak kerja sama dengan perusahaan lain. Michelle selalu menggunakan cara halus hingga cara ekstrim agar para koleganya tunduk dengannya. Maka kali ini yang ia targetkan adalah Rangga Pradipta.
Mila sedang melihat si ular hijau dan asistennya akan melangkah menuju jebakan yang ia rancang.
Di balik pilar Mila pun berhitung mundur , " tiga ... dua ... satu ." sambil menutup kedua telinganya
" Aah ... bruk ... bruk !"
Michelle dan asistennya pun terjatuh akibat terpeleset karena lantai yang licin.
" Aduh pinggangku", keluh Michelle sambil melihat ternyata hak sepatunya juga ikutan patah.
" Nona, biar saya bantu ", sela sang asisten Michelle.
" Cepat bantu aku berdiri, ini sangat memalukan sampai dilihat orang banyak."
Begitulah tabiat seorang Michelle terkadang kepada bawahan yang sudah menolongnya pun ia maki tanpa perasaan bersalah apalagi mengucapkan terima kasih.
Kini Michelle telah duduk di salah satu sofa yang ada di lobi. Ia masih menunggu asistennya membawakan sepatu baru.
Mila pun memberi kabar kepada 3 temannya tersebut.
Sementara itu di dalam ruangan , Rangga terlihat cemas, khawatir dan kesal lantaran istri tercinta tidak membalas chat maupun mengangkat telponnya sejak tadi.
" Sayang kau dimana?"
Bahkan 4 bodyguard yang menjaga sang istri pun tak juga memberi kabar.
__ADS_1
Coba kalau tidak ada rekan bisnis yang penting dan sudah lama bekerja sama dengan Pradipta Grup. Maka detik ini juga ia akan pergi mencari Kinara sampai ketemu. Hari ini Rangga diagendakan meeting dengan 4 perusahaan yang berbeda. Sekarang tinggal lagi 1 perusahaan yang mendapatkan rekomendasi dari koleganya sebelumnya. Yang meminta seorang Rangga bisa memberi kesempatan lagi.
Tok ... tok ... tok.
" Tuan, direktur dari PT Angkasa sudah datang dan ingin bertemu dengan anda."
" Persilahkan dia masuk !"
Saat memasuki ruangan dimana Rangga masih memeriksa banyak berkas di meja. Michelle pun tak kuasa terpesona dengan ketampanan CEO muda Pradipta Grup tersebut.
" Tuan Rangga ", sapa Michelle.
" Telat 15 menit, silahkan duduk ! Apa yang ingin kau persentasi kan kepadaku ?"
Mendapatkan tanggapan dingin dan terkesan acuh, yang tidak sesuai dengan harapan Michelle.
Segera ia menyuruh sang asisten memaparkan produk yang ingin perusahaan mereka tawarkan.
Sedangkan Rangga hanya melihat tanpa berminat, sedangkan asistennya Pak Hasan sudah mengirim pesan kepada istri sang bos.
" Apa kalian tidak salah menawarkan barang seperti ini kepada perusahaan ku, brak ... !" interupsi Rangga sampai menggebrak meja.
Asisten Michelle pun mendadak terkejut dan takut, sedangkan Michelle yang ditolak mentah-mentah tak semudah itu menyerah.
Ia melancarkan banyak rayuan kepada Rangga, sungguh wanita murahan. Rangga pun tidak bergeming sedikitpun karena di matanya hanya Kinara yang bisa membuatnya tunduk.
Sedangkan Pak Hasan, banyak melafalkan doa agar nanti bukan dia yang akan menjadi sasaran empuk kemarahan bosnya.
Tok ... tok ... tok.
" Oops ... Maaf sayang aku kira , kau tidak sibuk ", ucap Kinara yang datang bersama dengan Diah.
" Kenapa teleponku tidak diangkat yang? Ayo kesini duduk !"
Kinara pun duduk dipangkuan sang suami yang masih betah duduk di kursi kebesarannya, sedangkan Pak Hasan berpindah tempat, sekarang ia berdiri dibelakang Diah yang duduk di sofa.
Melihat ada pengacau yang datang, Michelle pun menutup presentasinya.
" Sekian presentasi dari kami tuan Rangga, jika ada yang tidak berkenan mohon tuan bersedia memberi masukan kepada perusahaan kami !"
Erlangga tak menjawab pertanyaan Michelle, tetapi dia mengeratkan tangannya di pinggang sang istri dan mengecup sang istri secara live dihadapan koleganya.
" Hmm ... Hmmm."
" Kak ", ucap sang istri.
" Apa?"
" Itu ditanya sama kolegamu?"
" Sayang kau saja ya yang mewakili aku!" jelas Rangga yang sudah badmood.
__ADS_1
Mendengar ucapan Rangga. Michelle pun menahan emosi, berasa dipermalukan apalagi dia hampir membuka pakaiannya demi menggoda Rangga.
" Bagaimana nyonya?" tanya Michelle dengan terpaksa
" Aku tidak setuju, sebaiknya anda memperbaiki dari sudut itu, dan tambahkan beberapa kelebihan dan kekurangannya, agar saat kita bekerja sama dan memajang produk anda para konsumen bisa menikmatinya tanpa dirugikan."
Penjelasan yang telah dikatakan oleh Kinara, adalah hal yang wajar di dunia bisnis. Tentu saja Rangga sangat bangga dengan jawaban sang istri.
Kinara pun bangkit dari pangkuan Rangga dan kini menghampiri Diah untuk membuka kotak bekal makanan yang telah ibu mertuanya buat dalam porsi banyak.
" Pertemuan ini kita akhiri saja !" ucap Rangga dengan tegas.
" Tapi tuan, apa tidak bisa anda pertimbangkan lagi ?"
" Tidak, keputusan ku sudah final. Kau lihat apa yang istriku katakan bukan ."
Sedangkan Kinara dengan senyum mengejek menertawakan Michelle. Kinara pun menyuruh si ular hijau untuk ikut makan siang bersamanya di dalam ruangan Rangga.
Awalnya Rangga ingin protes, tapi melihat mata istrinya yang kian memancarkan tatapan menusuk, ia pun patuh untuk diam dan menurut kepada Kinara.
" Mari nona, silahkan ikut makan bersama kami !" Maafkan perkataan suamiku yang sedikit cuek kepada anda.
" Tidak nyonya, apa yang nyonya jelaskan kepada saya itu memang benar, ada beberapa aspek yg kurang dalam presentasi kami tadi. Terima kasih anda telah bersedia memberi masukan."
Mau tidak mau, akhirnya Michelle ikut makan siang bersama Rangga di ruang CEO tersebut.
Saat ia menyantap nasi goreng dan meminum orange jus. Perutnya langsung sakit, dan dia juga kelepasan membuang angin. Sungguh membuat udara dalam ruangan bau. Tidak hanya itu saja, Diah sudah memberikan bubuk gatal pada sofa yang telah diduduki oleh Michelle.
Michelle yang awalnya duduk, kini berlari terbirit-birit ke pintu keluar karena sekujur badannya gatal, ditambah perutnya sakit melilit. Sungguh seumur hidupnya hari ini adalah hari kesialan bagi Michelle.
Kinara dan Diah pun, tertawa lepas melihat rencana mereka berhasil dengan halus tanpa kekerasan.
Sebetulnya Rangga sudah curiga dengan gerak gerik Kinara yang sedikit agresif duduk dalam pangkuan Rangga, bahkan kali ini sang istri turun tangan langsung mengusir para ular hijau.
" Sayang, apa kau sudah puas bermainnya?"
" Puas 70 % tapi 30 % masih ..."
" Masih apa yang ."
" Masih perlu yang tindakan ekstrim ", jawab Kinara sambil melanjutkan melahap makanan , hingga Rangga yang membersihkan sisa makanan di bibir istrinya dengan telaten.
Kemudian datanglah Mila dan Yura. Bergabung dengan sang istri memakan 3 kotak bekal yang sudah disiapkan oleh Ibu Hani.
" Menghadapi istri yang hamil, memang sangat memerlukan kesabaran yang tinggi", batin Rangga.
Sedangkan Pak Hasan, juga ikut makan bersama atasannya.
Yang paling mencolok adalah kondisi Michelle yang turun dari lift dengan sekujur tubuh penuh bercak merah akibat gatal, dan sakit melilit di dalam perutnya yang menyiksa. Dia segera masuk ke dalam mobil untuk menuju ke rumah sakit.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1