Benang Merah Takdir

Benang Merah Takdir
Bab 76


__ADS_3

" Makasih ya yang, aku bisa tahan emosi menghadapi orang sepertinya."


" Apa kakak mau cerita tentang kak Helmi?"


" Nanti saja setelah kita sampai dirumah, nah sekarang aku akan mengenalkan mu kepada para manager dan karyawan kafe ini."


"Gian, apa semua sudah berkumpul semua?"


" Sudah bos besar."


" Selamat malam, saya ingin memberi pengumuman penting untuk kalian semua. Perkenalkan ini Kinara Pradipta, istri saya. Mulai hari ini kafe ini dibawah tanggung jawabnya."


" Salam kenal ya semua, saya Kinara senang bisa bertemu dan semoga kita bisa bekerjasama dengan baik "


" Siap nyonya bos."


"Nah sekian pengumuman ini, silahkan kalian kembali untuk bekerja !"


" Gian, mungkin nanti istri saya yang akan kesini palingan 4 kali dalam sebulan, kami akan pulang dulu."


" Iya bos, nanti akan saya sampaikan kepada pegawai yang lainnya juga."


" Ayo sayang kita pulang, besok kamu masih ada kegiatan ospek kan?"


" Iya kak "


Perjalanan selama 40 menit, ternyata membuat Kinara yang sudah lelah sejak tadi, tidak sanggup membuka mata. Bahkan ia pun tertidur disebelah sang suami sambil bersandar di bahu Rangga.


" Tuan muda kita sudah sampai!"


" Ya."


Melihat istrinya sudah terlelap dan mungkin sudah pergi ke alam mimpi, ia pun mengurungkan niat nya untuk membangunkan sang istri. Rangga pun menggendong Kinara masuk ke kamarnya dan merebahkannya di atas ranjang. Sedangkan Rangga kemudian mandi sebentar dan menyusul sang istri untuk tidur.


" Semoga mimpi indah sayang, cup."


Hari ini adalah hari terakhir ospek bagi Yura, Kinara, Mila dan Diah.


Tapi semenjak pagi hari, Meta sudah merencanakan sesuatu hal jahat yang sudah ia rencanakan bersama dengan Nolan.


Nolan adalah sepupu jauh dari Meta, tapi semenjak Meta tahu bahwa Nolan mencintai Yura. Makanya dia bertekad bekerja sama untuk mendapatkan apa yang ia idamkan selama ini.


" Lo yakin dengan rencana lo ini Meta?" tanya Nolan di seberang telpon.


" Tentu saja, pokoknya lo harus bantu gue, kan yang untung juga Lo akhirnya."


" Baiklah, gue harap lo nggak akan mencelakai Yura."


" Percaya deh sama gue, mumpung hari ini terakhir kalian ospek, itu lebih memudahkan gue untuk menjebaknya", jelas Meta.


Sementara itu, Erlangga sejak pagi sudah membangunkan Yura. Tapi tumben pagi ini Yura bergelung di bawah selimut dan berat meninggalkan ranjang untuk mandi.


" Sayang apa kau sedang sakit? Tapi dahimu tidak terasa panas."

__ADS_1


" Nggak tau , tapi yang sini peluk aku pokoknya kamu harus nemenin aku 24 jam !"


" Apa?" bukannya hari ini kita harus ke kampus yang, kan kamu harus ikut ospek untuk hari terakhir."


" Nggak mau, aku maunya kamu", jelas Yura dengan linangan air mata.


" Ya Tuhan, dia lagi mau datang bulan atau gimana? Kalau nggak ikutin apa yang dia mau, nanti nggak dapat jatah. Tapi kalau 24 jam di rumah, nanti siapa yang akan handel kerjaan ku !" gusar Erlangga.


" Kenapa kak, kamu nggak mau menemaniku ?'


" Bukan begitu sayang, baiklah aku akan menemani kamu tapi kita mandi dulu ya sayang", rayu Erlangga dengan perlahan.


" Gendong !"


Yura pun mandi bersama dengan suaminya, bahkan mereka berdua habis melakukan kegiatan panas yang entah berapa ronde mereka lalui bersama.


Sikap aneh sang istri jelas, membuat Erlangga kalang kabut. Karena sikap Yura seperti mempunyai 2 kepribadian sebentar nangis dan manja, setelah itu berubah tegas dan mandiri.


Saat berada di ruang makan, Yura langsung menutup hidungnya. " Bunda jauhkan cumi balado itu, baunya aku nggak suka !"


" Tapi nak ini kan makanan kesukaanmu."


" Tapi aku nggak suka Bun !" kemudian Yura menuju ke kamar mandi dan muntah.


Bunda yang melihat gelagat menantunya yang mirip saat ia hamil dulu. Tidak berani menebak jika tidak di cek dan diperiksa.


Sedangkan Erlangga , dia dengan telaten dan tanpa jijik membantu Yura di kamar mandi dan juga memangku sang istri agar mau makan, biarpun cuma beberapa sendok.


" Tidak usah kak, mungkin aku hanya masuk angin. Entar saja akan pulih."


Bunda Anisa pun melirik Erlangga dan mengisyaratkan putranya agar mengikuti semua keinginan Yura.


" Baiklah sayang, ayo kita ke kampus !"


Setelah Erlangga membantu Yura masuk ke dalam mobil, ia pun berbalik untuk mengambil tas kampus mereka berdua.


" Erlangga tunggu !"


" Ada apa Bun?"


Bunda pun berbisik di telinga Erlangga, dan jelas hal yang disampaikan oleh Bunda Anisa perlu sebuah bukti konkret untuk membenarkan dugaannya.


" Kalau itu benar, aku harus ekstra menjaga Yura di kampus Bun."


" Semangatnya calon Daddy."


" Kalau begitu aku ke kampus dulu dengan Yura."


" Hati-hati ya kalian."


Sesampainya di kampus, Erlangga pun menemani Yura sebelum temannya datang.


" Nanti jika ada sesuatu yang kau inginkan, segera telpon aku ya sayang!"

__ADS_1


" Iya"


" Yura, kenapa mukamu agak lemas?" tanya Kinara yang diantar oleh Rangga.


" Kayaknya aku masuk angin deh kak, tadi saja muntah di rumah."


" Sayang aku ke fakultas dulu, kamu sama Yura ke Aula kampus !"


" Iya yang."


" Aku tinggal dulu ya sayang, kan sudah ada kakak ipar yang menemanimu, nanti kita bertemu lagi di aula ! Kinara aku titip Yura ya !"


" Kau tenang saja, ada aku yang menemaninya."


Setelah Erlangga pergi, datanglah Diah dan Mila yang banyak membawa minuman dan makanan di kedua tangannya.


" Mila, gue boleh kan minta burger yang ada di plastik?"


" Boleh kok, kebetulan gue beli banyak, Kak Kinara juga ayo makan ! Masih ada waktu lagi 20 menit sebelum kita masuk !"


" Iya, makasih ya Mila."


Saat mereka berempat makan, ada yang aneh terjadi dengan Yura. Porsi makannya berlipat ganda bahkan mereka bertiga yang melihatnya sampai bergidik ngeri.


" Ra, memangnya tadi lo belum sarapannya? Apa masih kurang, ini lo boleh makan kentang gue ?" tanya Diah.


" Ini enak sekali, kalian beli dimana sih ?"


" Oh tadi gue dibeliin sama kak Malik Ra, sebelum jemput gue."


" Besok-besok aku mau titip sama Kak Malik."


" I-iya Ra, asalkan lo suka makanannya. Kami pun suka ya kan Mila, Kinara ?"


" Betul banget, kami juga suka", imbuh Kinara.


Sebetulnya banyak sekali, pertanyaan yang berseliweran dibenak mereka. Tapi mereka menahannya agar mood Yura tidak rusak.


"Apa kau sudah kenyang Ra?"


" Sudah, aduh perutku begah."


Saat berlangsungnya agenda ospek terakhir.


Meta dengan liciknya berpura-pura terjatuh di hadapan Erlangga. Tentu saja secara reflek ia langsung memeluk Meta. Hal itu di foto oleh Nolan dan mengirimkannya kepada Yura.


" Maafkan aku, tidak sengaja ", ucap Meta dengan raut muka memelas.


" Lain kali hati-hati !" balas Erlangga dan pergi menuju aula.


" Lihat saja kalian akan bertengkar hebat karena hal ini !"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2