Benang Merah Takdir

Benang Merah Takdir
Bab 84


__ADS_3

Mendengar tangis pilu Nolan, dari luar pintu kamarnya. Paman Heri mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam kamar Nolan. Bagi Paman Heri, Nolan sudah dianggapnya sebagai keponakan sendiri. Dia tau kisah pilu yang dialami oleh Nolan sejak kecil, bahkan ayah kandungnya pun tak sudi untuk mengurusnya. Kalau tidak berkat kebaikan Tuan Besar, mungkin Nolan akan hidup gelandangan di jalan.


" Menangis lah nak, beban mu dari kecil sangatlah berat, apalagi kau hanya anak dari seorang istri sirih ", ucap Paman Heri dengan lirih dan ia pun berbalik ke ruang tamu. Dimana ada David yang termenung duduk disana.


" Apa Nolan sudah tidur Heri?"


" Mungkin nanti dia akan tidur, jika ia sudah capek menangis."


" Kasian sekali dia, untung kau mendampinginya Heri."


" Ya kau benar David, mungkin karena kebaikan Tuan Besar dari dulu. Biarpun Tuan Jack adalah sepupu angkat dari Nona Besar Anisa. Tapi Tuan Besar tetap menganggapnya keluarga. Sangat disayangkan Tuan Jack bisa berbuat hal keji dan kejam seperti itu."


" Kau benar, aku termasuk orang yang telah dibuangnya jika tidak berguna, bahkan hidupku harus menanggung karma yang telah aku perbuat dulu."


" Kau tau David, Tuhan sayang sama kita, sehingga beliau menguji kita dengan banyak cobaan hidup. Berpikirlah positif dan lanjutkan hidup ke depan agar lebih baik."


" Iya, kini kita hanya punya Nolan , Heri. Putriku Meta sudah tiada. Dengan adanya kau dan Nolan, setidaknya hidupku kelak tidak akan kesepian lagi."


" Sudahlah, cukup kau meminum minuman beralkohol itu, ingat semakin bertambah tua, kau harus menjaga kesehatan !"


" Hahaha, terima kasih atas support nya selama ini, aku tidak pernah menyangka bahwa aku bisa bertemu denganmu lagi setelah peristiwa tragis itu."


" Mungkin ini yang namanya takdir."


Sementara di kediaman Bramasta, sejak kejadian yang menimpa Erlangga dan Yura. Pengawal yang biasanya mengawal mereka , yang dulu hanya 4 orang sekarang menjadi 10 orang. Bahkan nggak tanggung-tanggung sniper handal pun bergerak menjadi pengawal bayangan.


" Sayang, apa bekal mu ke kampus sudah lengkap?"


" Sudah kak, tapi nanti kalau lihat penjual ubi rebus aku mau beli."


" Iya yang."


Tidak terasa usia kehamilan Yura menginjak 5 bulan. Aktivitas kampus juga bisa ia lakukan dengan lancar, tidak seperti di awal kehamilan yang mual , muntah bahkan ngidamnya merepotkan banyak orang.


Lain halnya dengan Mila, sejak insiden dia ditembak oleh kakak senior dikampus. Perlakuan Malik sangat protektif terhadap tunangannya. Maklumlah dia tidak mau kehilangan Mila, biarpun mereka berdua dijodohkan.


Sesampainya Yura di kampus, ia seperti biasa diantar oleh suaminya sampai ke kelas.


Hingga jam mata kuliah ke dua pun berakhir, kini Yura sedang ingin makan di kantin bersama temannya di fakultas management bisnis.


" Wah ... bumil makin hari makin cantik saja sih ."


" Terima kasih atas pujiannya, aunty Diah. Loh Mila kok lesu gitu sih ?"


" Ra, kamu nggak tau ya kemarin dia ditembak sama senior, akibatnya sekarang Kak Malik lebih protektif sama dia ", jelas Kinara.


" Mila, itu tandanya Kak Malik sangat mencintaimu, dia protektif karena ingin melindungi miliknya dari orang lain, kan dia tidak mengekang mu juga kan?"


" Iya Ra, sampai sejauh ini Kak Malik tidak pernah mengekang ku."

__ADS_1


" Nah jadi apa yang kau pikirkan lagi? Apa karena sikapnya padamu yang over peduli atau bagaimana? Kalau kau risih coba bicarakanlah berdua, saling terbuka. Pasti itu akan lebih baik untuk hubungan kalian kedepannya."


" Ra, kau semakin bijak dan dewasa dalam berpikir", ucap Kinara.


" Aku mempelajari dari mu dan Kak Rangga, kak !"


" Mari kita ke kantin sekarang, lagian mata kuliah kita sudah berakhir, atau kalian mau kita pergi jalan-jalan keluar ?"


" Ide mu sungguh cemerlang, Diah. Aku ijin sama suamiku dulu ."


Setelah mengantongi ijin dari para suami dan pacar mereka. Akhirnya empat wanita ini pun sangat bersemangat untuk pergi jalan-jalan. Apalagi kalau mereka akan pergi ke mall terlebih dahulu.


" Mila, ko harus bersemangat jangan sia-siakan ijin dari Kak Malik, apalagi tadi lo sudah dikasih credit card."


" Tentu saja, kapan lagi coba diijinkan pakai ini."


" Itu tandanya hubungan kalian berdua serius, buat menyenangkan kamu, tumbenan kak Malik menyerahkan credit card nya."


" Tapi ingat jangan over shopping entar", gelak Yura.


" Tentu saja, aku bukanlah wanita matre, yang hobinya menghabiskan uang pacar."


" Let's go girls, shopping time !"


Dua bumil sedang melihat ke toko pernak pernik bayi, sedangkan Mila dan Diah sedang ke pergi ke salah satu butik yang menjual baju kasual dan dress kekinian.


" Kak, ingat kata Ibu jangan dulu membeli baju untuk baby sebelum lahir, lebih baik jika kehamilan kita menginjak 8 bulan."


" Diah, menurut lo ini cocok nggak buat gue?"


" Cocok banget, coba saja ke ruang ganti !"


" Oke, gue kesana duluan, lo masih ingin memilih yang lain apa ikut bersama gue ?"


" Gue masih ingin melihat blouse yang di etalase disebelah sana, lo duluan saja mencoba."


Saat ingin keluar dari toko perlengkapan bayi. Yura pun di telepon oleh Erlangga.


" Sayang, kau tidak lupakan untuk makan? Ini sudah siang !"


" Iya kak, ini kami akan ke restoran di dalam mall untuk makan."


" Nanti kalau sudah selesai, kamu telpon kakak ya !"


" Ya."


Klik.


" Apa yang dikatakan oleh Erlangga Ra?"

__ADS_1


" Hehehe ... sepertinya kita lupa makan deh kak, kan sekarang sudah jam 13.00, pantesan aku di telepon."


" Astaga, saking asyiknya kita melihat baju bayi, aku pun juga lupa."


Yura dan Kinara kemudian menemui Mila dan Diah yang sudah selesai berbelanja.


" Kalian berdua benar-benar kalap hari ini."


" Tentu saja, sudah lama kan kita nggak shopping bersama."


" Ngomong-ngomong di mall ini, ada tempat makan yang enak nggak sih ?" tanya Kinara.


" Kita coba jalan saja ke arah sana, siapa tau Nemu yang enak." sahut Mila.


Akhirnya mereka berempat menjatuhkan pilihan ke food court masakan Padang.


" Gila, kalian berdua beneran akan makan sebanyak ini", kaget Diah.


" Iya", seru Kinara dan Yura bersama.


" Kompak sekali bumil, tapi yang mentraktir hari ini siapa?"


" Aku saja", sahut Yura.


" Makasih Ra."


Mereka berempat pun makan dengan lahap, hingga tidak terasa, waktu sudah menginjak sore.


" Kami berdua balik duluan ya, Ra dan Kinara !"


" Hati-hati ya Mila dan Diah ."


Dua bumil itu pun menjadi sosok yang banyak diperhatikan oleh orang-orang yang berlalu lalang di depan mall.


" Ra sepertinya kita harus mencari tempat duduk?"


" Baiklah kak, kakiku sudah pegal kalau lama berdiri."


" Ya jelaslah kita berdua lagi bawa mereka."


Sambil menunggu jemputan datang, para pengawal yang berjaga mengawasi Kinara dan Yura. Akhirnya mereka berempat menampakkan diri.


" Nyonya muda, apa kalian berdua ingin pergi ke spa sebentar ?"


" Ide kalian bagus juga, ayo kalian ikut dengan kami kesana !" titah Yura.


" Aku dan Dani yang akan berjaga disini Nyonya Muda, silahkan anda dan nyonya Kinara bersama dengan Ishi dan Naya ke spa."


" Baiklah, kami pergi dulu."

__ADS_1


Sedangkan dari 30 menit yang lalu, Erlangga sudah memberi titah untuk pengawal istrinya agar membuat istri dan kakak iparnya sepuasnya bersenang-senang di mall. Karena ia harus menolong Rangga dengan cepat.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2